SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Terpaksa Menikah


__ADS_3

Semalam Lusi menerima kabar buruk tentang kondisi kesehatan maminya. Sayangnya dia tak mendapatkan tiket untuk segera terbang ke Surabaya.


Untungnya Kirana dan Kevin ada di Surabaya, bahkan Aldo pun ikut. Karena kemarin dia ada undangan mengisi kelas disalah satu Universitas Kedokteran di Surabaya.


Sesuai persetujuan seluruh keluarga Kevin merekomendasikan sahabatnya untuk membantu menangani kondisi kesehatan maminya Lusi. Karena hanya Aldo lah yang saat ini bisa menangani penyakit maminya Lusi sebagai Dokter specialis Paru.


Aldo sudah ada di samping pasiennya. Maminya Lusi ngotot tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia hanya mau di rumah saja dan bertemu dengan Lusi yang saat ini ada dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya.


"Vin, denyut nadinya melemah. Tekanan darahnya juga," bisik Aldo ditelinga Kevin. Kevin memeriksa lagi kembali memastikan ucapan sahabatnya.


Papinya Lusi hanya bisa pasrah, dia pun bingung karena istrinya kekeh tak mau ke rumah sakit.


"Pi ... Usi mana?" tanya Luluk (maminya Lusi).


"Putri kita sedang diperjalanan Mi, sabar ya,"jawab Pak Rudi (papinya Lusi). Sambil mengelus dada sang istri, terlihat nafasnya mulai susah dan tersegal.


Mereka berempat was was menunggu kedatangan Lusi. Dan semua tersenyum bahagia mana kala Lusi datang dengan selamat. Tetapi keanehan terjadi di sini karena Lusi tak datang sendiri melainkan bersama kedua orang tua Aldo.


"Mami ..." panggil Lusi pelan. Dia pun langsung menangis dan menciumi pipi tirus ibunya. Bu Luluk tersenyum mana kala melihat kedatangan Lusi.


Bu Dewi pun mendekati maminya Lusi.


"Bu, ibu sakit apa?"tanya Bu Dewi sambil memegang tangan dingin Bu Luluk. Bu Luluk hanya menatap Bu Dewi dan mengelus dadanya.


"Siapa?" tanya Bu Luluk pada Bu Dewi.


"Saya Mamanya Dokter Aldo," jawab Bu Dewi.


"Oh .." jawab Bu Luluk. Kembali tatapan itu mengarah pada Lusi yang kini menangis di sampingnya.


"Menikah ya ...!" pinta Bu Luluk tiba tiba.


"Menikah sama siapa Mi, kan Mami tahu Lusi nggak punya pacar. Mami sembuh dulu ya, nanti Lusi pasti menikah dengan siapapun yang Mami kehendaki. Lusi janji," jawab Lusi sungguh-sungguh.


Seketika Bu Dewi punya ide brilian, "Eh ... siapa bilang putrimu nggak ada pacar Jeng, jangan bohong kamu Lusi. Anakmu dengan Putraku berpacaran Jeng. Nikahkan saja mereka sekarang Jeng, boleh nggak," saut Bu Dewi, Bu Dewi benar benar tak mau kecolongan soal ini.


Pak Ilham juga tak mau kalah. "Jadi gini Pak Bu, tujuan kami kemari selain menjengguk ibu, kami juga ingin melamar Lusi untuk putra kami. Mereka sudah lama pacaran cuma disuruh nikah masih bialngnya nanti nanti. Mumpung sekarang semuanya berkumpul, bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka sekarang. Biar nggak menggelak terus akan hubungan mereka. Kan juga direstui, tapi masih mau kucing kucingan kayak ABG saja," tambah Pak Ilham. Raut wajahnya begitu serius mustahil jika pak Ilham bohong pikir Papinya Lusi.

__ADS_1


Aldo dan Lusi saling menatap, mereka hendak mengelak tapi Bu Luluk kembali drop.


"Menikah ya .." pinta Bu Luluk lagi. Lusi tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Maminya.


"Mami sembuh dulu, nanti Lusi menikah,"jawab Lusi.


"Tu kan jeng, saya bilang juga apa putrimu dengan putraku ini sama sama keras kepala. Udah pada umur mau nunggu apa lagi. Kamu setuju kan Jeng kalau anakmu tak jadiin mantu. Kami datang jauh jauh dari Bali lo Jeng mau nglamar anak kamu buat Putraku. Putraku bagus to Jeng, Dokter lagi. Boleh yo," bujuk Bu Dewi . Aldo hanya diam karena Pak Ilham tak memberinya kesempatan untuk menjawab.


"Boleh jeng, saya setuju. Menikah ya," jawab Bu Luluk. Lusi mengangguk tanda setuju. Inilah yang Bu Luluk mau. Dia akan pergi dengan tenang jika Lusi sudah ada yang menjaga.


"Bagaimana Pak Besan kalau kita nikahkan saja mereka sekarang. Secara agama dulu nggak pa-pa," tawar Pak Ilham pada Pak Rudi selaku wali Lusi.


"Ya monggo Pak Besan kalau mereka sudah sama sama mau," jawab Pak Rudi pasrah.


Nasib Lusi dan Aldo seperti telur di ujung tanduk. Mau bagaimanapun tetap tak bisa memilih.


"Kevin!" panggil Pak Ilham.


"Saya Om," jawab Kevin.


"Kau panggil Ustadz yang ada dilingkungan ini kemari sekarang. Biar dia yang menikahkan Lusi dan Al sekarang," pinta Pak Ilham.


Senyum mengembang di bibir Bu LuLuk dan Bu Dewi.


"Kiran, kamu bantu Mbakmu ganti baju dikamarnya. Kevin temani Al. Mari Pak Besan kita persiapkan semuanya di ruang tamu, penghulu sudah diperjalanan," ajak Pak Rudi. Pak ilham, Kevin dan Aldo pun melangkah menuju ruang tamu.


Bu Dewi ditemani perawat Bu Luluk tetap setia menjaga Bu Luluk di kamarnya.


***


Di sisi lain, Lusi menangis di kamarnya. Dia bingung, kejadian ini seperti mimpi buruk baginya.


"Mbak, percayalah ini memang rencana Tuhan," ucap Kirana.


"Kamu nggak tahu Ran gimana pedesnya mulut Aldo. Dia pasti akan terus menghujatku. Pasti dia akan menuduh kalau ini rencanaku," ucap Lusi dalam tangisnya.


"Kiran nggak tahu harus ngomong apa Mbak, tapi Kiran yakin Pak Al bisa jaga Mbak Lusi nantinya," jawab Kirana mencoba menghibur Lusi. Tak lama Kevin pun mengetuk pintu dan bertanya apakah Lusi sudah siap.

__ADS_1


"Gimana Bun, mempelai wanita sudah siap belum?" tanya Kevin.


"Sebentar Mas, Mbak Lusi perlu menyiapkan mentalnya dulu," jawab Kirana.


"Lus, kamu nggak pa-pa?" tanya Kevin. Lusi hanya menggeleng meski dia ingin protes.


"Percayalah Al pria yang baik," ucap Kevin. Lusi tersenyum kecut. Tak ada waktu lagi, Lusi pun terpaksa menjalani pernikahan yang tak dia kehendaki ini.


Di ruang tamu sudah ada Aldo yang sudah siap di depan penghulu. Di samping kanan kirinya ada kedua orang tua mempelai. Lusi diminta duduk di samping Aldo. Dan Pak Penghulu pun mulai membuka suaranya.


"Apa semuanya siap?" tanya Pak Penghulu.


"Siap Pak," jawab semua serempak.


"Jika semua sudah siap dan udah setuju, saya bisa langsung memulainya ya!" tambah Pak Penghulu. Aldo dan Lusi saling melirik sekilas, debaran jantung keduanya sangat susah diartikan.


"Siap Pak, langsung saja dimulai Pak," ucap Pak Ilham semangat.


"Baiklah ... Saudara Aldo Yudistira bin Ilham Lakmana apakah engkau bersedia mengambil tanggung jawab lahir dan batin atas saudari Lusiana Syafara binti Rudi Hartono?" tanya Pak Penghulu.


"Saya siap Pak," jawab Aldo tanpa ragu.


"Baiklah kalau Lusi sendiri bagaimana, iklas jadi makmum saudara Aldo seumur hidup?" tanya Pak Penghulu pada Lusi.


"Insya Allah Pak," jawab Lusi pelan. Pak Penghulu pun mulai membacakan semua keperluan akad nikah ini. Mulai dari saksi, wali, mas kawin dan mempelai. Semua sudah siap, dia pun meminta Aldo untuk menjabat tanggannya.


"Mari saudara Aldo, kita laksanakan proses wajibnya!" ajak Pak penghulu sambil mengulurkan tangannya.


Aldo pun menyambut uluran pria yang akan menikahkan dirinya dan Lusi.


"Baik ... Saudara Aldo Yudistira bin Ilham Lasmana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Lusiana Syafara binti Rudi Hartono dengan mas kawin berupa uang sebesar tiga juta rupiah dibayar tunai," ucap Pak Penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Lusiana Syafara binti Rudi Hartono dengan mas kawin tersebut tunai," jawab Aldo. Seolah sudah terbiasa menyebut nama itu, Aldo pun berhasil melakukannya dengan baik.


"Bagaimana saksi Sah?" tanya Pak Penghulu.


"Sah!" jawab mereka serempak.

__ADS_1


Pak Penghulu pun membacakan doa seusai akad seperti biasa. Lusi meneteskan air matanya ketika mencium tangan orang taunya. Rasanya seperti mimpi tapi ini beneran terjadi. Hal yang paling dihindarinya kini terjadi begitu saja di depan matanya. Sungguh ini bukan yang Lusi mau, hingga detik ini.


Bersambung..


__ADS_2