
Malam pun datang, Lusi meminta Rana yang membawa mobilnya awalnya Rana menolak karena belum hafal jalanan yang ada ditempat tinggal barunya ini, tapi Lusi memaksanya agar Rana terbiasa dengan lingkungan barunya.
"Kearah mana kita bu?" tanya Rana tetap konsentrasi dengan jalanan yang ada didepanya.
"Kiri Ran, oia ntar kalian pulang sendiri ya aku ada janji lain," ucap Lusi sambil tersenyum mencurigakan.
"Roman romanya bu bos kita udah punya ehem ehem ini," goda Rana.
"Dih, apaan sih temen Rana temen," jawabnya.
"Lebih juga ga papa ga ada yang marah kok," balas Rana.
Lusi tersenyum kembali, Sena yang tak mengerti arah obrolan mereka hanya diam sambil memperhatikan jalanan.
"Aku ga tau Ran, rasanya berat melepaskan bayangan mas Rio, tapi pria ini juga berharga untuku," jawab Lusi sedikit mau terbuka atas kehidupan pribadinya.
"Emang bapak kemana bu?" tanya Rana.
"Ran coba kamu panggil aku mbak aja, biar enak didengarnya, jangan terlalu formal lah kan kita udah lama bareng," ucap Lusi.
"Jangan atu bu bos, kalau saya panggil ibu mbak nanti ga ada jarak diantara kita," balas Rana.
"Ya ga papa," jawab Lusi dengan muka sedikit murung, Rana bisa menagkap bahwa bosnya kesepian selama ini.
"Baiklah bu, saya akan memanggil anda dengan sebutan mbak biar kita terkesan seperti sahabat," goda Rana dengan senyuman manisnya.
"Gitu dong, kan aku enak curhatnya," balas Lusi, mereka pun saling melempar senyum.
"Maaf ni mbak saya agak kepo, mbak tau kan saya belum pernah terlibat dengan pria, apakah mereka rumit?" tanya Rana, pertanyaan lugu ini justru membuat Lusi tertawa.
"Jangan tertawa dong," pinta Rana pelan.
"Oke, aku akan jelaskan sedikit tentang mahluk berjenis laki laki ini Rana, rata rata mereka itu punya ego yang tinggi jadi kita harus sedikit ngalah, mereka baik jika cintanya untuk kita jika tidak maka sebaliknya, maksudku pria yang ada ikatan dengan kita, terus apa lagi ya, aku pernah gagal Rana jadi aku juga masih bingung soal mereka, kalau aku paham kemungkinan aku juga masih bareng sama mas Rio," ucap Lusi lagi membuka sedikit demi sedikit kehidupan pribadinya.
__ADS_1
"Mas Rio, siapa itu?" tanya Rana.
"Mantan suamiku Ran, dulu aku sudah pernah menikah, kami dijodohkan sayangnya pernikahan kami hanya bertahan tiga tahun, dia menceraikan aku karena aku gagal menjaga putri kami," ucapnya, Rana tau Lusi sangat sedih ketika menceritakan ini tapi inilah kenyataan yang harus dia hadapi.
"Maaf mbak kalau aku membuatmu sedih, pantesan banyak mainan dirumah apakah ibu mainan anak mbak, apa dia cewek?" tanya Rana lagi.
"Iya Ran, anaku cewek dia meninggal karena sakit, usianya masih kecil saat itu dia baru enam bulan Ran waktu itu, seperti biasa aku ada event penting dan mantan suamiku juga ga dirumah saat anaku sakit, hanya ada babysitternya waktu itu aku juga ga bisa nyalahin penjaga anaku, harusnya aku ga ninggalin dia saat sakit harusnya aku merawatnya dan tak mementingkan egoku," ucapnya tenang, Rana tau dibalik ketengan wanita disampingnya ini terdapat luka yang sangat dalam, buktinya dia memilih sendiri selama hampir empat tahun terahir ini.
"Sabar ya bu, mungkin Allah lebih sayang sama Adek, apakah karena masalah itu mas Rio ninggalin mbak?" tanya Rana lagi, duh Ran kamu ini.
"Iya Ran, dia ninggalin aku gara gara aku ga becus jagain putrinya, dia menceraikan aku setelah empat puluh hari kepergian putrinya, dalam waktu sekejap aku kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam kehidupanku Ran," jawabnya pelan tak terasa air mata wanita ini pun menetes mengekpresikan betapa perih hati yang dia rasakan.
"Sabar ya mbak anggap aja kalian ga jodoh, toh sekarang mbak sudah ketemu someone lagi kan?" goda Rana agar Lusi sedikit lupa akan lukanya.
"Doakan ya Ran, semoga yang ini bisa langgeng, aku bisa jagain semuanya dengan baik," ucap Lusi.
"Pasti mbak, Rana akan doakan yang terbaik untuk mbak," jawabnya.
Tempat janji temu mereka pun sudah dekat, Rana memarkirkam mobil yang dibawanya dengan sempurnya.
"Wao tempatnya romantis banget," celetuk Rana.
"Dih, romantis konon, kayak udah pernah aja!" balas Lusi.
"Belum hehehehe," Rana membalas ucapan Lusi dengan candaan khasnya.
Lusi pun mengajak Rana dan Sena masuk ketempat yang sudah direservasi oleh klienya, terlihat disana klienya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat malam," sapa Lusi.
"Malam," jawab sepasang kekasih itu dan dua orang perempuan paruh baya yang nemenin mereka, mungkin itu orang tua mereka batin Rana.
Meeting pun dimulai, dengan tenang dan bahasa yang mudah dimengerti Rana pun mempresentasikan karyanya, bersyukurnya mereka pun menerima dua desain yang dibuat oleh Rana.
__ADS_1
"Kami pilih yang ini untuk akad nikahnya ya mbak, terus yang ini untuk resepsinya," ucapnya.
"Untuk sragam keluarga kami juga bisa buatkan loh," ucap Lusi.
"Benarkah, sekalian aja kalau gitu ya mom, dari pada repot," ucap calon pengantin perempuan, usul dia pun diterima baik oleh orang tuanya.
Lusi menilai Rana memang sangat pandai mengambil hati klien, itu sebabnya dia sangat sayang pada kariawan satu ini.
Meeting pun selesai, order yang mereka terima pun lumayan, bahkan Sena pun berhasil mendapatkan job sebagai flower girl dipernikahan besar ini.
"Alhamdulilah Ran, kamu emang best," puji Lusi sambil memberikam dua jempol untuk Rana.
"Makasih mbak kita kan kerjanya bareng, jadi jempol juga untuk mbak" jawab Rana merendah.
"Bukan hanya desain kamu yang laku Ran, anakmu juga laku hahahaha," canda Lusi lagi.
Rana hanya membalas candaan itu dengan senyuman manisnya.
Rana merapikan kertas kertas dan laptopnya, Lusi menilai Rana semakin profesional sekarang, bahkan Lusi berniat meminta nya untuk mendalami ilmu desainya dengan sekolah fashion yang nanti akan dia rekomendasikan.
Ditengah acara makan mereka Lusi mendapat panggilan telpon dari Kevin.
Lusi: "Hay sayang,"
Kevin: "Dimana sayang?"
Lusi: "Lagi makan dicafe potret kita, ayang lagi dimana jadi kan ketemuan?"
Kevin:" Jadi dong, ini aku juga udah kelar meetingnya, eh Kok kebetulan sekali aku juga lagi dicafe ini, tapi kok ga lihat kamu?"
Lusi: "Aku dilantai dua, kamu dilantai berapa?"
Kevin:" Aku dibawah kamu sayang, tunggu disitu biar aku aja yang naik," jawab Kevin, duh senengnya kalian, Rana bisa melihat kebahagiaan Lusi sekarang, bahkan dalam hatinya dia mendoakan yang terbaik untuk wanita baik yang telah banyak membantunya ini.
__ADS_1
Bagaimana ya kira kira reaksi mereka ketika dipertemukan, akankah Kevin jujur soal jati dirinya ataukah dia akan menyembunyikanya, kita cari jawabanya dipart selanjutnya..
Bersambung