SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Rani Adalah Ibu Kandung Sena


__ADS_3

Kirana hampir stres memikirkan teka teki hidupnya. Pertanyaan tentang keberadaan ibu dan juga kakak kandungnya selalu menghantuinya. Belum lagi keinginan aneh Sena yang minta adek, ditambah lagi kekonyolan duda satu anak itu yang suka mempermainkan emosinya.


"Dasar pria gila," umpat Kirana kesal.


Mengotak atik laptop dan sesekali mencoret coret kertas gambarnya.


Sena sudah terlelap saat ini tapi mata Kirana masih saja terjaga, ingin rasanya dia bercerita kegundaha hati nya ini dengan Rani. Sayangnya Rani sudah beberapa hari ini tak datang padanya.


"Kemana lagi tu si Rani, kebiasaan dah kalau dibutuhin ga nongol," gerutu Kirana, Rani hanya tertawa mendengar gerutuan Kirana. Sebenarnya Rani ada saat ini dibelakang Rana hanya saja dia jahil dan juga suka bermain main.


"Hah, bagaimana ini ! bagaimana jika Sena seriusan minta adek, caranya kasih tau dia gimana ya?" jujur saja membuat putri cantiknya ini kecewa adalah hal terberat buat Rana. Tapi ga mungkin juga dituruti bisa dihajar aku sama bu Lusi nanti batin Rana.


Rani kembali menertawakan kegalauan sahabatnya, "Bikin adek ma gampang buk," saut Rani sambil menyatukan kedua tanganya seperti orang yang sedang berciuman.


Kirana pun memanyunkan bibirnya sebal.


"Kemana aja kamu, aku cariin juga galau ni. Giliran dibutuhin aja ga pernah nongol!" omel Kirana lagi.


"Heran dah sekarang hobi banget ngomel," balas Rani sambil duduk di ujung meja kerja Kirana.


"Hah, apa yang harus aku jawab pada Sena Rani kalau dia maksa minta adek, apa aku beli aja ya ke panti," ucap Kirana sambil menjatuhkan kepalanya ke meja kerjanya.


"Bikin aja sih sendiri apa susahnya!" ternyata Rani tak kalah somplak dengan Kevin.


"Dasar hantu gila, aku ama dia ga ada ikatan halal masak ya mau begituan, gila aja ogah aku masuk neraka," ucap Kirana, astaga polos sekali pikiranya.


"Ya minta aja dihalalin dulu, apa susahnya!" balas Rani, ingin rasanya Rana melempari sahabatnya dengan sesuatu tapi percuma toh ga akan kena ini.


"Enak aja, nikah kan harus ada cinta. Ih ga mau aku kalau nikah sama orang yang ga cinta sama aku. Menderita buk menderita," jawab Rana, Rani hanya tertawa mendengar keinginan lugu Kirana.


"Rani, boleh ga nanya?" tanya Rana.

__ADS_1


"Nanya apa saudariku!"


"Dih saudari ogah aku jadi saudari hantu," jawab Rana bergidik ngeri.


"Dih ogah tapi dicariin dikangenin gimana sih, ga boleh nanya kalau gitu," balas Rani tak kalah sengit.


"Iya iya kita saudara hehehe, mirip lagi kitanya kamu qorin nya aku ya?" celetuk Rana.


"Dih bukan lah!" Rani berkilah.


"La kok kita mirip!" balas Rana, Rani tak mau melanjutkan pembicaraan mereka sepertinya dia takut akan terpancing oleh Rana.


Rani diam, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang berat dia pun berjalan melayang kearah Sena dan duduk termenung disana.


Disinilah kecurigaan Rana kembali hadir, mungkinkah benar bahwa dia adalah Denada. Ibu kandung Sena.


"Rani kamu suka ya ama Sena?" tanya Rana sambil berbaring disamping Sena. Rani mengangguk matanya terlihat sedih wajahnya terus saja menunduk. Terlihat jelas bahwa wanita gaib ini menyembunyikan kesedihan yang mendalam.


"Apa kamu marah padaku Ran jika aku jujur, masih maukah kamu bersahabat denganku?" tanya Rani, Kirana pun bangkit dari pembaringanya sesaat setelah mendengar pertanyaan Rani yang mengarah pada teka teki yang sedang dia coba cari jawabanya.


"Tentu saja tidak sahabatku, kenapa aku harus marah. Apakah kamu Denada?" tanya Kirana serius.


Rani menundukan kepalanya lagi, lama lama bayangan Rani terlihat samar "Rani jangan pergi dulu jawab dulu aku Rani," teriak Kirana.


Rani berdiri tepat dihadapan Kirana, dengan senyum manisnya dia berkata "Titip putriku ya Ran, tolong jagain dia katakan padanya bahwa ibunya sangat menyayanginya. Katakan pada suamiku bahwa aku tak pernah menghianatinya aku dijebak Ran, mereka memberiku obat perangsang sehingga aku tak sadar saat mereka mengilirku. Katakan padanya aku mencintainya. Aku pergi ya Rana terimakasih banyak sahabatku." ucap Rani sambil terus menatap Rana dan Sena bergantian. Meski masih banyak pertanyaan yang masih menganjal di pikiran Kirana tapi jawaban Rani membuatnya puas, walau jujur dia sangat sangat sangat terkejut.


Cahaya putih telah membawa sahabat gaibnya itu pergi, apakah dia masih bertahan disini karena tak tega meninggalkan putrinya. Bahkan masih belum rela berpisah dengan cintanya.


"Astaga, Ya Tuhan apa ini! (Kirana menyibak rambut yang menutupi separo wajahnya, Kirana sangat shock dengan ini) hah hah apakah aku bermimpi," Keringat dingin mengucur begitu saja dipelipisnya bahkan keningnya juga ikut ikutan mengeluarkan keringat dingin.


"Jadi benar bahwa Rani adalah Denada, kenapa nama mereka berbeda. Rani kamu belum menjelaskan ini. Kenapa kamu pergi sebelum menjelaskan ini." Kirana bertambah stres memikirkan ini.

__ADS_1


Teka teki yang dia pikirkan sedari tadi terjawab sudah, tetapi malah timbul berbagai pertanyaan dibenaknya yang lebih rumit dan tak tau pada siapa dia harus bertanya.


"Rani inikah alasanmu terus mengikutiku, kamu ingin aku menjaga putrimu. Baiklah aku akan menjaganya tapi bagaimana aku menjelaskan ini pada suamimu. Akankah dia percaya denganku," gumam Kirana.


Kirana mengelus rambut panjang Sena, bukan hanya Pak Yosan dan Bu Risma yang menitipkan Sena padanya. Bahkan ibu kandung dari gadis cilik ini juga mempercayakan Sena dipundaknya.


"Bunda akan jagain kamu dek, mami mu sayang banget ternyata sama kamu!" ucap Kirana sambil mengecup kening gadis cilik yang telah mengikat batinya ini.


.....


Malam ini Kevin sangat bahagia bagaimana tidak dipangkuanya kini ada wanita yang bisa membuat bahagia.


Mereka saling bercanda ria, bercerita tentang hari hari yang mereka lalui saat tidak bersama.


Kevin menatap mesra kewajah oriental Lusi, Lusi pun membalas tatapan mata itu dengan mesranya.


Mereka saling melempar senyum dan mengisaratkan bahwa mereka sama sama siap membuktikan cinta yang hadir diantara mereka.


Kevin sangat berani kali ini, dia pun melahap habis bibir kekasihnya. Kevin seperti singa kelaparan yang haus akan kenikmatin.


Mereka saling mengecup dan mel"mat penuh gairah, bahkan tangan Kevin pun mulai nakal. menjelajah kesana kemari. Tak dipungkiri bahwa Lusi juga menginginkan ini. Saat Kevin hendak membuka kancing bajunya saat itu juga Lusi tersadar bahwa didadanya ada bekas kenakalan mantan suaminya. Kalau Kevin tau bisa habis dia.


"Wait honey," ucap Lusi sambil memegang tangan Kevin.


"Kenapa sayang bukankah kita sama sama ingin," ucap Kevin suaranya terdengar serak pertanda gairah sudah berada dipuncaknya. Bahkan Lusi juga merasakan dibawah tempat duduknya sekarang ada sesuatu yang mengganjal.


"Aku tau sayang tapi belum waktunya!" ucap Lusi berusaha menutupi kebohonganya.


"Kamu menyiksaku honey," ucap Kevin, Lusi hanya tertawa senang. Tak dipungkiri bahwa pria dewasa ini sangat mendambakan sentuhan wanita tapi dia belum sadar bahwa apa yang dilakukanya sangat berbahaya bagi masa depannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2