
Kevin memarkirkan mobilnya tepat di belakang butik milik kekasihnya. atau lebih tepatnya didepan rumah yang Kirana dan Sena tempati.
Sebelum ini Kevin sudah mengirim pesan pada Lusi dia akan datang. Kevin terkejut saat masuk kedalam ruangan yang biasa dipakai Lusi untuk tidur.
Lusi terlihat tidak seperti biasanya, mukanya memerah menatap Kevin dengan tatapan tajam.
"Hay, kenapa ada apa kok kelihatanya marah gitu?" tanya Kevin, Lusi masih diam.
"Ada apa sayang kenapa kamu marah gini ada masalah kah?" tanya Kevin lagi, bukan jawaban dari mulut yang diterima oleh Kevin tapi sebuah tamparan keras dipipinya.
"Dasar penghianat, aku membencimu Kevin!!" teriak Lusi. Tentu saja Kevin terkejut dengan apa yang diucapkan calon istrinya.
"Penghianat...apa makaudmu?" tanya Kevin lagi.
"Lihat ini," ucap Lusi sambil memberikan amplop coklat yang berisi foto foto dirinya bersama Kirana.
__ADS_1
Disana ada foto saat mereka dibandara, saat Kevin mengecup kening Kirana. Bahkan ada foto saat mereka jalan jalan dan tidur bersama kala itu.
"Aku bisa jelasin ini Lusi, kamu salah paham ini ga seperti yang kamu kira," ucap Kevin.
"Apa kamu bilang ga seperti yang aku kira, aku tidak menyangka Kevin kamu tega sekali. Apa kelebihan wanita itu dibanding denganku. Dia hanya pekerjaku Kevin... pekerjaku kamu dengar. Dia tak punya kelebihan apapun dibanding aku, bahkan tanpaku wanita itu ga akan bisa makan. Tega kamu Kevin... tega!!" teriak Lusi. Apa yang barusan diucapkan Lusi seakan menusuk jantung Kevin.
"Jaga bicaramu Lus, kamu ga tau apa apa tentang kami," jawab Kevin masih berusaha sabar.
"Tidak tau apa apa tentang kalian heh, kalian tau ini adalah penghinaan terbesar dalam hidupku. Kekasihku main hati dengan bahwahanku. Yang benar saja kamu bilang ga ada apa apa . Ini buktinya Kevin bahkan aku juga punya video saat kalian jalan jaln di taman waktu itu. Lihat caramu menatapnya kamu bilang ga ada rasa ama dia hah bulshit Kevin. Kalian penghianat Kevin, penghianat. Berapa kali kalian tidur bareng hah. Kepalanya aja pakek hijab sok alim ga tau nya mau juga dibayar...Berapa kamu bayar dia?" Lusi sepertinya tak mampu lagi menahan amarahnya.
Disisi lain Kevin tak menyangka bahwa Lusi wanita yang dicintainya ini sanggup merendahkan orang lain hanya sekedar melihat sesuatu yanh belum tentu kebenaranya.
Lusi menatap tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Jadi Sena adalah...?" tanya Lusi.
__ADS_1
"Ya, seperti yang kamu pikirkan Lusi. Sena adalah putri kandungku yang pernah aku ingkari. Dan dengan cintanya Kirana gadis yang kamu rendahkan itu yang mengasuhnya," jawab Kevin lagi. Kekecewaan yang Kevin rasakan tampak jelas disana.
"Maafkan Aku Vin, aku ga tau soal ini," ucap Lusi melemah sambil memegang tangan Kevin.
"Maaf Lus ternyata aku salah memilih, kamu bukan wanita yang terbaik untukmu. Kamu tak bisa percaya penuh padaku hanya berbekal sebuah foto yang belum tentu kebenaranya. Kamu meragukan ketulusanku Lus. Sebaiknya, sebelum semua ini menjadi tak terkendali alangkah baiknya kita ahiri saja sampai disini. Kamu tidak mengenalku Lusi, maafkan aku," ucapan Kevin sambil berbalik hendak meninggalkan ruangan Lusi, tentu saja membuat Lusi shock.
Lusi menyadari bahwa saat ini dia melakukan kesalahan yang fatal.
"Vin maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu," ucap Lusi sambil memohon. Kevin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lusi sambil tersenyum sinis.
"Tidak Lus, kamu telah menyakiti perasaanku. Harusnya tadi kamu tanya baik baik. Aku bisa jelasin duduk permasalahanya tanpa kamu harus menyinggung masalah etika dan moral. Aku memang pria brengsek yang tak begitu paham soal Agama, tapi tidak dengan Kirana. Aku akan membawa anak dan juga adekku bersamaku. Aku bisa kok memberi mereka makan tanpa mengemis padamu. Toh aku pikir Kirana kerja sama kamu kan, bukan meminta minta kan . Aku harap kamu ga melakukan hal bodoh seperti ini lagi Lus," jawab Kevin kemudian dia pun kembali berbalik hendak pergi.
Dengan cepat Lusi menghadang Kevin.
"Vin jangan pergi, aku mencintaimu," ucap Lusi.
__ADS_1
"Kalau kamu memcintaiku harusnya kamu memahamiku dan percaya padaku. Andai kamu ragupun bertanyalah yang baik." jawab Kevin. Kali ini Kevin tak perduli lagi dia pun memilih meninggalkan rumah Lusi.
Bersambung...