
Kevin terus saja memeluk Kirana, penjelasan yang dia dapat dari sang istri tadi sungguh membuatnya merinding. Belum juga lihat wujud asli poci dan miss K udah ketakutan sendiri begitu.
Kevin masih belum bisa memejamkan matanya, mengingat ada hantu yang naksir padanya.
"Hih, serem," gumamnya. Kirana pun membuka matanya dan melirik kearah sang suami yang terlihat sangat cute mana kala ketakutan.
"Mas, kenapa?" tanya Kirana.
"Nggak Bun, Mas serem aja," jawab Kevin.
"Serem kenapa?"
"Masak ada hantu yang suka sama Mas, aneh-aneh aja Bunda ni."
Kirana tertawa pelan, "Nggak pa-pa sayang, udah bobo, lagian dia juga udah pulang ke tempat asalnya hemm," jawab Kirana, dia pun memiringkan tubuhnya dan mencium kening suaminya.
"Bunda akan selalu melindunginu dari hal-hal yang bersifat tak kasat mata sayang. Insya Allah Bunda akan jaga kalian seperti amanat yang kakak berikan pada Bunda. Bunda akan mencintai kalian juga heemm. Sekarang pejamkan mata Mas, tidurlah. Bunda ga mau Mas sakit gara-gara kurang tidur," ucap Kirana. Kembali wanita cantik ini tersenyum dan mengecup bibir sang suami.
Entah kenapa Kevin sangat suka diperlakukan seperti itu. Kirana memperlakukannya seperti Sena, begitu lembut dan istimewa. Kevin tersenyum dan membalas mengecup bibir sang pemilik hati.
"Bangunin kalau adzan ya Bun,"
"Siap ... sekarang tidurlah," pinta Kirana.
Kevin pun menurut, dia pun memejamkan matanya. Kevin percaya bahwa Kirana akan menjaganya dari mahluk mahluk yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.
***
Di sisi lain ada Delondikejutkan dengan keberanian Lusi menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan Kevin dan keluarganya.
Kali ini Lusi tak main-main. Dia menyewa penembak jitu untuk menghabisi mereka.
Entah sadar atau tidak, nyatanya saat ini Lusi sudah membayar pria itu. Bukan Delon namanya kalau tidak bisa bertindak cepet. Dia dan anak buahnya pun langsung mengejar pria yang disinyalir sebagai orang bayaran Lusi.
"Cari info tentang pria itu!" ucap Delon memerintah anak buahnya.
__ADS_1
"Siap Bos," jawabnya.
Anak buah Delon mulai mengotak atik laptopnya dan mulai mencari nama dan pekerjaan orang suruhan Lusi. Lusi sangat ceroboh sehingga anak buah Delon bisa mengetahui nomer ponsel orang suruhannya. Dari sanalah mereka mulai melacak data diri sang penembak.
"Bos ...!"
"Hemm,"
"Namanya Khoirul Pratama, menurut data, sang penembak jitu ini adalah anggota kepolisian yang masih aktif," jawab anak buah Delon.
"Cari tahu tentang keluarganya, barang kali dia mempunyai desakan ekonomi yang membuat nekat," ucap Delon lagi. Meskipun dia belum lama bergelut dengan dunia intel tapi Delon sudah banyak belajar. Bahwasannya tidak semua penjahat itu adalah jahat. Bisa saja dia terpaksa.
"Ini Bos, di media sosialnya terlihat anaknya sakit. Seperinya sakitnya sangat serius. Mungkin dia membutuhkan dana untuk ini," jawab anak buah Delon lagi.
"Yang penting dapatkan dia sebelum dia melakukan tindakan kejinya!" perintah Delon lagi. Anak buahnya pun bertindak cepat. Mereka segera mencari keberadaan pria yang mereka curigai.
Keesokan harinya ....
Kirana sudah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Dia ingat benar suaminya tak jadi makan semalam. Pasti suaminya akan lapar jika bangun tidur nanti.
Pria ini terlihat cute dan menggemaskan saat terlelap. Pipi cacatnya (lesung pipit) kadang-kadang juga muncul saat dia tak sadarkan diri.
"Pantesan kak Rani sangat mencintaimu Mas, la kamu ganteng maksimal gini," ucap Kirana sambil menciumi pipi sang suami. Kirana teringat bagaimana pertama kali mereka bertemu. Kevin sangat dingin dan menyebalkan. Galak dan tak tahu aturan. Tapi tetep tampan.
Kirana tersenyum sendiri jika mengingat kebodohannya. Jatuh cinta pada pria yang dibencinya.
Ingatan ketika pertama kali mereka bercinta juga muncul. Rasa malu dan canggung menjalar keseluruh tubuhnya, meski pada akhirnya dia pasrah dan rela menyerahkan mahkotanya pada sang suami.
Kehormatan yang dia jaga selama 19 tahun dengan suka rela dia serahkan pada pria yang menikahinya dengan sedikit tipu muslihat ini.
"Dasar penipu,"gumam Kirana. Kini dia menyadarinya bahwa sebenarnya Kevin menipunya. Tapi tipuan Kevin sungguh manis jika diingat.
"Pemaksa!" umpat Kirana gemas. Kirana mengecup lagi bibir pria yang membuatnya berfikiran liar ini. Sayangnya lamunan dan fantasi nakal yang ada di otak Kirana seketika buyar mana kala dia mendengar ponsel suaminya berdering.
"Hallo ...!" sabut Kirana.
__ADS_1
"Hallo Bu, ini Delon. Pak Dokter ada?" tanya Delon.
"Bapak masih tidur, ada yang bisa saya bantu," jawab Kirana.
"Bu ... tolong sampaikan pada Bapak, bahwa untuk beberapa hari kedepan jangan keluar rumah dulu. Ini kabar yang sedikit mengejutkan kalian, bahwa Lusi menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi kalian. Tolong untuk sementara tutup semua jendela, gorden dan cepat hubungi saya jika ada hal yang mencurigakan," ucap Delon menjelaskan.
Kirana tak percaya bahwa Lusi akan senekat ini.
"Maaf Pak Delon, bukankah suami saya sudah memberi peringatan padanya?" tanya Kirana.
"Sudah Bu, tapi Bu Lusi terlalu terobsesi dengan Pak Dokter. Makanya dia tak memakai akal sehatnya," jawab Delon.
"Ya Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini," gumam Kirana.
"Tenangkan Ibu ya, buat suasana senyaman mungkin. Saya dan tim akan segera menemukan orang suruhan Bu Lusi agar dia tak mengerjakan perintah wanita itu. Yang penting kalian tetao waspada," tambah Delon.
"Baik Pak, saya akan segera memberitahu suami saya," balas Kirana.
"Baik Bu, hanya itu yang hendak saya sampaikan. Tolong hubungi kami jika ada hal yang menurut Ibu dan bapak mencurigakan," tambah Delon, kemudian Delon pun meminta ijin untuk mengakhiri panggilannya.
Kirana terdiam tak menyangka bahwa dia akan mendengar kabar yang menakutkan. Kenapa Lusi yang dulu dikenalnya sangat baik bisa berubah sedrastis itu hanya kerena cinta.
"Ya Tuhan Bu Lusi, apa yang membuatmu jadi seperti ini. Di mana ketulusanmu dulu," gumam Kirana.
Kirana tak mau menunda waktu lagi, dia pun membangunkan Kevin dan menceritakan apa yang Delon sampaikan tadi.
"Kenapa dia senekat itu ya Bun," ucap Kevin.
"Nggak tahu Mas, dulu Bu Lusi ga seperti itu loh," ucap Kirana.
"Mas juga tahu, coba nanti Mas tanya sahabat dekatnya. Mungkinkah Lusi punya masalah kejiwaan lain," balas Kevin.
Kirana diam dia tak tahu harus ngomong apa. Yang dia tahu saat ini Lusi sangat berbeda. Lusi yangdia kenal dulu tak seperti Lusi yang sekarang.
"Kata Pak Delon, kita jangan kemana mana dulu Mas," ucap Kirana menyampaikan pesan Delon.
__ADS_1
"Iya Bun lebih baik menjaga dari pada mengobati. Tapi Mas masih ga habis pikir," ucap Kevin sambil mengusap kasatlr air mukanya.
Bersambung...