
"Bun siniin tiketnya, biar asiatenku nanti yang ambil bagasinya," pinta Kevin, Rana pun memberikan tiketnya pada Kevin, karena disitulah nomer resi bagasi tertera.
Kevin mengajak anak dan ibu asuh anaknya ini keluar area bandara menuju lobi, Kevin masih setia menggendong putrinya kesana kemari mencari orang yang akan menjemputnya.
"Bun, mana orang yang mau jemput kalian?" tanya Kevin, Rana kembali merasa tak nyaman dengan panggilan itu.
"Pak, nama saya Kirana bapak bisa panggil saya Kiran atau Rana, jangan bun bun nanti dikira orang saya istri bapak," ucap Kirana pelan, Kevin tersenyum nakal mendengar ucapan Kirana.
"Loh, anak saya boleh panggil situ bunda kok bapaknya ga boleh," jawab Kevin malah menggodanya, Rana hanya diam tak menjawab.Ternyata, disamping galak pria pemarah ini juga konyol.
Orang suruhan Lusi yang hendak menjemput Kirana pun menghubinginya lewat panggilan telpon.
"Assalamualaikum," sapa Kirana.
"Waalaikumsalam, mbak Kiran dimana ya, saya sudah dipintu kedatangan ini," ucapnya.
"Saya di depan konter xxx pakek kemeja marun pak, hijab hitam," jawab Rana.
"Oh, iya mbak saya lihat mbak tunggu ya," jawabnya orang itu pun berlari kecil mendekati Kirana.
"Mbak Kiran ya!" sapanya.
"Iya saya pak," jawab Kirana.
"Mari mbak, lah mana bagasinya?" tanya lagi.
"Masih didalem pak diambil sama asiaten bapak ini," ucap Rana.
"Bapak kasih tau alamat mereka aja pak, nanti saya antar mereka kealamat tujuan," ucap Kevin, dia benar benar tak mau kehilangan moment kebersamaan mereka, bahkan Kevin berencana mengajak mereka liburan jika mau.
"Ga usah pak, kami sama bapak ini aja," ucap Rana.
"Plis," balas Kevin memohon.
Tiba tiba ada sedikit rasa iba dihati Kirana, dia jadi tak tega jika harus memisahkan bapak anak ini.
"Baiklah pak, kami ikut bapak ini aja," ucap Kirana memutuskan.
Orang suruhan Lusi pun memberikan alamat seharusnya dia mengantar Rana pada supir sewaan Kevin, Kevin tersenyum bahagia karena Rana memberinya ijin berlama lama bersama putrinya.
"Makasih bunda," goda Kevin lagi.
"Tau ah," gerutu Rana, Kevin malah tersenyum mendengar jawaban Rana.
__ADS_1
.......
Didalam mobil..
Kevin duduk dibelakang bersama Rana dan Sena, Sena duduk manis dipangkuan papinya, meski mulutnya masih diam tapi Sena terlihat nyaman dipelukan papinya.
"Mbak ini kan masih siang, ikut ke Villa ku ya, sebentar aja," pinta Kevin, huffff ini ni dikasih hati minta jantung ya ini.
"Baiklah, asal sebelum magrib bapak udah anterin kami ketempat tinggal kami," jawab Rana menawarkan.
"Baik bunda, laksanakan," jawab Kevin, entah kenapa membuat Rana marah memberikan kepuasan batin tersendiri buatnya.
"Adek mau maem apa?" tanya Kevin sambil mencium kening dan juga pipi harum putrinya.
"Ga mau om!"
"Loh kenapa, ga laper putri papi ni heemmm," ucap Kevin berusaha merayu dan mendapatkan hati Sena.
"Adek habis maem kue sebelum masuk pesawat pak, biasanya adek makanya agak siangan," jawab Rana.
"Ooo, oke deh nanti kalau Sena laper bilang papi ya, nanti papi beliin oke," ucap Kevin lagi, Sena menjawabnya dengan anggukan.
Kevin meminta asistenya untuk merubah semua jadwalnya, Kevin tak ingin waktunya yang singkat ini akan tersita dengan pekerjaannya, dia juga ingin menghabiskan waktunya untuk putri semata wayangnya.
Mobil yang membawa mereka dari bandara tadi pun sampai di villa yang dimaksud Kevin, Vila itu tidak besar tapi terasa nyaman karena disisi kanan kirinya masih ada banyak sawah sawah rasanya sangat adem dan nyaman sekali, ditambah sebelum masuk ke villa terdengar gemricik air yang bersumber dari belakan villa.
"Kita masuk ya dek, mari bun," ajak Kevin, Ya Tuhan kapan sih dia bakalan berhenti pangil aku bun bun, dasar batin Rana mulai kesal.
Rana pun mengikuti saja langkah pri menyebalkan ini, saat masuk diarea villa terdapat kolam ikan yang berisi banyak jenis ikan, membuat Sena kegirangan.
"Bunda lihat fish (ikan)," ucapnya.
"Mana dek,"
"Itu," jawabnya bersemangat.
"Papi Sena mau lihat," ucapnya lagi, Kevin sangat bahagia ahirnya Sena mau memanggilnya papi meskipun mungkin Sena tak sengaja, tapi itu sangat mampu membuat Kevin bahagia.
Kevin pun menurunkan Sena dari gendonganya, dengan langkah kegirangan Sena pun langasung pergi ke dekat kolam itu dan menyaksikan indahnyabikan ikan itu.
"Bund, putriku memanggilku papi tadi, bunda dengar ga?" tanya Kevin pada Kirana, Kirana kembali merasa iba pada duda anak satu ini, Kirana pyn menjawabnya dengan senyumanya.
"Bunda lihat itu ada yang besar bunda," ucap Sena kembali bersemangat.
__ADS_1
"Iya sayanh, bagus ya," balas Rana agar Sena merasa senang.
"Adek mau!"
"Mau papi,"
"Rumah kita yang di Semarang juga ada banyak lo, papi juga punya kura kura, ada kelinci, Sena mau ga pulang kesana sama papi?" pancing Kevin, ini ma mengambil kesempatan dalam kesempitan ini batin Rana sambil melirik Kevin.
Rana menciutkan matanya pada Kevin seolah olah menabuh gederang perang pada pria menyebalkan ini.
"Mau papi tapi ajak bunda juga ya," jawab Sena memberi penawaran.
"Loh ya iya, pokoknya kita bawa bunda kamu ini kemana pun kita pergi," jawab Kevin, dih siapa situ mau bawa bawa saya, kembali Rana menggerutu dalam hatinya, ingin rasanya Rana menjawab setiap ucapan Kevin, tapi kembali lagi Rana tak ingin membuat putrinya kecewa karena saat ini kebahagiaan Sena adalah prioritasnya.
"Udah masuk yuk, panas ni," ajak Kevin sambil mengelus rambut putrinya.
"Sena mau satu boleh papi?" tanya Sena.
"Boleh sayang, nanti tempat tinggal Sena nanti papi beliin aquarium kecil ya buat Sena, nanti kita isi ikan yang cantik cantik, Sena mau," wah Kevin sudah mulai berhasil mengambil hati putrinya, Rana tak tau harus sedih atau senang untuk ini, ah biarlah semua berjalan sesuai kehendakmu Tuhan, aku tau Sena hanya titipan sementaraMu tapi aku sangat mencintainya Tuhan, aku tak akan snggup jika berpisah dengan nya, batin Rana lagi.
"Mau papi, promise," ucap Sena sambil memberikam kelingkingnya pada papinya.
"Promise sayang nya papi, tapi cium dulu dong," pinta Kevin, Sena pun menurut dia pun mencium pipi papinya. Ya Tuhan terimakasih atas kesempatan indah ini, aku berjanji akan membuat putriku bahagia Tuhan, batin Kevin bahagia.
Kevin membawa masuk Sena dan Rana masuk kedalam Vila yang indah itu, semua perabot sangat indah dna terlihat mewah.
Kevin meminta salah satu asisten yang menjaga Vila ini untuk memasak makan siang untuk mereka, sambil menunggu Kevin pun mengajak Sena dan Rana berbincang bincang.
Sena terlihat beberapa kali menguap,"Adek ngantuk?" tanya Rana, "Iya bunda," jawab nya lugu.
"Bobok kamar papi mau?" tanya Kevin, Sena menggeleng karena dia tau tak bisa tidur tanpa Rana, Kevin pun beranjak dari duduknya mengambilkan bantal dna selimut tipis dikamarnya.
"Sini," ucap Rana, dia pun memberikan pahanya sebagai bantalan untuk putrinya, tak lama terdengar suara nafas teratur Sena, pertanda dia sudah terlelap.
"Dia udah bobo ya bun?" tanya Kevin sambil memberikan bantal pada Rana, Rana pun menerimanya.
Kevin membantu Rana mengurus putri kecilnya, dia juga memakaikan selimut untuk Sena.
"Makasih banyak ya bun kamu udah mau jagain Sena, dan mau maafin aku juga," ucap Kevin.
"Bisa ga sih berhenti panggil bun bun, aku bukan bundamu Ya Allah," jawab Rana ketus, "Lagian aku belum maafin kamu, siapa bilang aku maafin," tambah Rana masih dengan nada ketusnya.
"Baiklah aku akan berusaha sampai kamu maafin aku bun," ucap Kevin lagi.
__ADS_1
"Dengar ya bapak dokter yang terhormat, nama saya Kirana, jadi bapak bisa panggil saya apa aja suka suka bapak asal ga bun bun terus, ga enak pak didengernya," ucap Kirana seperti memohon, Kevin tak perduli dia malah makin gencar memanggilnya bunda.
Bersambung...