SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Bunda Jangan Pergi


__ADS_3

"Sena maem ya?" tawar Rana, dia tau Sena pasti laper Sena tak mau dia hanya menggeleng.


"Tante tau Sena geli kan ama makanan, sekarang tante jamin Sena ga bakalan geli lagi, mau tante suapin?" bujuk Rana, Sena pun mengangguk.


"Bu, boleh minta makan buat Sena?" tanya Rana.


"Tentu saja boleh, bik tolong siapin makan buat putri cantik kita bibik," pinta Risma pada bik Sumi pengasuh Sena, Risma terlihat sangat senang dengan ini.


"Baik Nya," jawab bik Sumi, bik Sumi pun segera kedapur dan mengambilkan Sena makan, Rana masih membacakan beberapa surat pendek di ubun ubun Sena, dia membacanya memang sangat pelan tapi Risma dan juga Yosan mendengarnya dengan sangat baik.


"Nak Rana terimakasih banyak ya, bapak ga tau gimana caranya membalas jasa kamu," ucap pak Yosan.


"Tidak perlu pak, saya hanya minta doa nya saja semoga saya selalu sehat dan bisa melewati jalan kehidupan saya yang tak biasa ini dengan baik," ucap Rana sambil bergurau.


"Kalau bapak boleh tau usia kamu berapa sekarang nak Rana?" Risma.


"Saya baru mau 18 tahun bu, bulan kemarin baru ikutan kejar paket soalnya Rana sempat putus sekolah," jawab Rana.


"Kamu masih muda sekali, ngomong ngomong kenapa putus sekolah?" tanya Risma lagi.


"Ga ada biaya bu, soalnya Ayah dipanggil yang mahakuasa," jawab Rana apa adanya.


"Ya Allah, kami turut berduka cita nak, yang sabar ya iklaskan," ucap bu Risma lagi.


"Saya sudah iklas bu, Insya Allah," jawab Rana lagi.


"Sekarang kamu masih kerja direstauran itu?" tanya Risma.


"Udah enggak bu saya dipecat, soalnya saya bikin rugi restauran saya mecahin piring piring mahal mereka," jawab Rana.


"Loh kok bisa, kamu jatuh," Risma semakin kepo.


"Benar bu saya jatuh dijahilin sama yang jahilin Sena waktu direstauran itu," jawab Rana.


"Si pocong?" celetuk Yosan.


"Iya pak," jawab Rana sambil sedikit tertawa.


"Bapak penasaran deh itu penghuni asli sini apa kiriman ya Rana?" tanya pak Yosan.


"Kiriman pak cuma dia salah sasaran," jawab Rana.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Sebenernya itu bukan ditujukan pada keluarga ini pak bu," jawab Rana.


"Ooo, tapi dia ga bakalan balik kan?" tanya Risma, wajarlah pasti ada rasa was was dihatinya.


"Insya Allah ga bu, tapi kalau misalnya anak cantik ini ketakutan atau apa mohon bapak ibu mengerti karena dia memang melihat sesuatu yang tak semua orang bisa melihatnya, Sena termasuk manusia pilihan bu," ucap Rana menjelaskan apa yang sebenernya dia ketahui.


"Ya Tuhan kasihan sekali, maafkan oma maafkan opa ya dek opa sama oma ga tau sayang," ucap pak Yosan sambil mengelus rambut cucunya.


"Apakah kita perlu obat itu lagi nak?" tanya Risma pada Rana.


"Obat apa bu?" tanya Rana sambil mengerutkan dahinya.


"Jujur saja setiap kali dia histeris kami selalu memberinya obat penenang," ucap Risma.


"Astaga (Rana terkejut dan menatap gadis cilik yang ada dipelukan nya), kasihan sekali dia bu, saya mohon jangan kasih lagi obat itu bu Ya Tuhan nak," ucap Rana sambil memeluk gadis cantik dipangkuannya.


Bik Sumi datang membawakan makanan untuk Sena, dengan senang hati Rana menerima piring itu dan mengatur posisi duduk mereka.


"Oke, kita baca doa maem dulu yuk," ucap Rana sambil mengajari Sena membaca doa makan, dengan masih terbata bata Sena pun mengikuti apa yang Rana ucapkan.


"Oke, pinter ya besok besok kalau mau maem mau minum apa aja harus baca doa ya, paling tidak Sena harus berucap basmallah oke," ucap Rana, Sena mengangguk tanda mengerti.


"Ini apa sayang?" tanya Rana.


"Nasi," jawab Sena lugu.


"Sayul,"


"Oke, kalau yang ini tau ga?" tanya Rana lagi, Sena menatap Rana sambil tersenyum tapi dia hanya menggeleng.


"Ini namanya naget sayang, enak loh tante suapin ya," ucap Rana, Sena tersenyum dan mengangguk, Rana mulai memberikan suapan, dengan senang nya Sena menerima suapan nasi itu dari Rana, pak Yosan dan bu Risma pun tersenyum melihat interaksi dua anak manusia itu.


Sena makan dengan lahap nya, Sena sama sekali tak menolak suapan dari Rana bahkan dia minta nambah lagi naget nya membuat bik Sumi dan bu Risma meneteskan air mata mereka.


"Enak sayang?" tanya Rana.


"Enak bunda," jawab Sena, Rana dan ketiga orang yang ada disitu saling menatap.


"Oh," ucap Rana karena terkejut dengan apa yang barusan dia dengar.


"Ayo maemnya sudah habis kita baca doa juga sehabis makan supaya apa?" tanya Rana, Sena menggeleng.


"Supaya makanan yang masuk ketubuh kita jadi berkah, bisa bikin Sena sehat cepet besar mau sekolah ga?" tanya Rana.

__ADS_1


"Mau bunda," jawab Sena, sekali lagi Rana tak salah dengar gadis cantik ini memang memanggilnya bunda, Risma terseyum.


"Apa nak Rana keberatan jika Sena memanggil mu dengan sebutan bunda?" tanya Risma.


"Tak apa bu kalau saya, asal tak ada yang tersinggung," jawab Rana sambil memberikan senyuman manisnya pada Sena.


Selesai makan Sena mulai menguap pertanda dia ngantuk, "Sena bobo bunda ya," pinta Sena.


"Boleh, tapi nanti kalau Sena bobo bunda pulang ya nak, nanti kapan kapan bunda main lagi," ucap Rana.


"Ga mau, Sena mau bunda," sepertinya anak ini benar benar nyaman bersama Rana, usia Rana memang sangat muda tapi jika keibuannya sungguh nyata bisa dirasakan oleh orang orang yang ada disekitarnya.


"Kalau ga keberatan maukah nak Rana menginap disini semalam saja?" tanya bu Risma.


"Baiklah bu," jawab Rana tanpa berfikir panjang.


Bik Sumi pun mengantar Rana yang sedang menggendong Sena ke kamar anak cantik itu.


Rana membantu Sena menggosok gigi dan membersihkan tubuh kurus anak itu, Sena sangat senang melakukan ini, biasanya Sena teriak teriak jika di ajak masuk kamar mandi.


Bik Sumi membatu Rana menyiapkan kebutuhan Sena, dengan telaten Rana merawat anak cantik ini, Sena menjadi harum dan siap berbaring.


Bik Sumi meneteskan air matanya lagi, "Kenapa bik?" tanya Rana.


"Biasanya non Sena ga pernah mau masuk kamar mandi non kalau malam, dia selalu teriak teriak," ucap bik Sumi.


"Wajar bik, di kamar mandi Sena ada miss Key bik (kuntilanak)," ucap Rana.


"Miss Key itu apa non?" tanya bik Sumi.


"Sini aku bisikin bik, ada kuntilanak disana," bisik Rana.


"Hah, non Rana serius?" tanya Bik Sumi, tak dipungkiri bahwa saat ini bik Sumi merinding.


"Dek, dikamar mandi tadi ada siapa?" tanya Rana.


"Tante seyem( serem)," jawab Sena.


"Takut ga?" tanya Rana.


"Enggak ada bunda," jawab Sena.


"Ohh, ga takut karena ada bunda?" tanya bik Sumi, Sena mengangguk dan mulai memejamkan mata nya karena beberapa kali dia menguap.

__ADS_1


Bik Sumi mengelar karpet yang biasa dia gunakan untuk tidur menemani Sena, karena Sena sudah terlelap Rana pun ikutan merebahkan dirinya dikarpet disamping bik Sumi.


Bersambung....


__ADS_2