
Kevin menepati janjinya mengantarkan Rana dan Sena ketempat tinggal baru mereka, dari depan tampak sebuah ruko berlantai tiga milik Jesicca Colletion.
"Kalian tinggal disini nanti?" tanya Kevin.
"Iya pak, tapi kami tinggal dibelakang ruko ini, tu ada gang yang bisa kita lewati, mobil bisa masuk lorong itu," jawab Rana sambil menunjuk lorong dimana mereka harus lewat.
"Oke, oia Ran sekolah Sena gimana nanti?" tanya Kevin.
"Sudah Rana siapkan pak, adek juga udah daftar kok tinggal masuk," jawab Rana.
"Lalu kamu ngatur waktunya gimana, kalau kamu kerja, ada yang ngasuh atau?" tanya Kevin lagi.
"Pagi sebelum kerja saya antar dulu pak, kalau jam pulang saja jemput, biasanya kalau dirumah atau lagi ga bimbel Sena ikut saya dibutik," jawab Rana.
"Lalu lesnya?" tanya Kevin lagi.
"Kalau pas tinggal di Surabaya kan bimbelnya sebelahan sama butik," jawab Rana.
"Ooo, kalau disini jauh kayaknya Ran," ucap Kevin.
"Bener pak, coba nanti Rana sambil nanya nanya deh tempat belajar yang bagus buat adek," jawab Rana menjelaskan apa yang mungkin Kevin ingin ketahui agar Kevin tak khawatir.
"Ran, aku ga tau gimana caranya aku berterimakasih sama kamu," ucap Kevin sambil melanjukan mobilnya pelan menuju gang yang Rana maksud.
"Bapak doain Rana aja biar sehat terus, biar bisa tetep bareng dan jagain Sena," ucap Rana.
Kevin hanya tersenyum mendengar jawaban Rana, Kevin membantu Rana mengeluarkan koper koper mereka dari bagasi, komplek yang akan mereka tempati lumayan besar, orang tua Lusi sepertinya mendesain tempat tinggal ini seperti kos kosan agar kariawan yang tinggal disini memiliki privasi sendiri sendiri, diarea itu juga terlihat ada satu bangunan yang cukup besar mungkin disitulah ruangan produksi.
"Kalian kebagian ruangan yang nomer berapa Ran?" tanya Kevin.
"A2 pak, sepertinya yang itu," tunjuk Rana.
"Oo, itu oke," jawab Kevin.
Penghuni komplek ini sepertinya sudah berada diruangan mereka masing masing, soalnya kerlihat sepi hanya ada suara tv yang menyala dibeberapa ruangan, saling bersautan.
"Disini brisik Ran, nanti kalau kalian ga nyaman tinggal divila aja Ran," tawar Kevin.
"Kalau Sena betah disini kami disini aja ya pak, bukan apa apa bapak pria saya wanita takutnya nanti menimbulkan fitnah," jawab Rana, Kevin menatap tak percaya pada gadis yang mengasuh putrinya dia sungguh dewasa bahkan untuk urusan tatakrama pun dia sampai sedetail itu.
__ADS_1
"Ya kan saya ga selalu disini Ran," jawab Kevin.
"Saya tau itu, pokoknya enggak bapak," jawab Rana mantap, Kevin tak bisa memaksa dia pun berusaha mengerti jalan fikiran Kirana.
"Bunda," panggil Sena.
"Iya sayang apa," jawab Rana.
Seperti biasa Sena tak menjawab, hanya menatap kosong kearah sesuatu yang dia lihat.
Rana pun ikut menatap dimana mata Sena menuju, Rana langsung membacakan doa untuk putrinya untuk putrinya ketika tau apa itu, Rana mengusap muka gadis cilik itu, agar Sena tak melihat lagi sesuatu yang aneh menurutnya.
Kevin kembali bingung dengan apa yang dilihatnya," Adek kenapa Ran?" tanya Kevin.
"Ada yang mau kenalan sama Adek pak, cuma serem," ucap Rana sembari berbisik.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin dengan muka serius.
Rana diam sejenak dia langsung ingat pasti Kevin tak percaya soal ini, "Saya ga ada maksud apa apa pak, ga usah difikirkan," jawab Rana kemudian mengangkat tubuh Sena dan menggendongnya, terlihat Sena menyembunyikan wajahnya di leher bunda sambungnya.
Kevin teringat ucapan supir pribadinya waktu itu, bahwa Rana dan Sena mempunyai keistimewaan yang sama, entah percaya apa tidak itulah kenyataanya.
Pak supir itu benar sepertinya, kini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa putrinya mempunyai sebuah ikatan yang tak bisa dijabarkan dengan logika.
"Oke," jawab Kevin meski tak tau alasanya apa tapi dia terlihat hanya menurut.
"Assalamualaikum semuanya," batin Rana, dia hanya diam membuat Kevin kembali heran, disamping mulutnya dian matanya juga terpejam, Rana diam terpaku.
Kevin masih setia menunggu apa yang dilakukan Rana, dia ingin bertanya tapi takut Rana tersinggung.
"Ran," ucap Kevin sambil menggoyang lengan Rana, Rana sedikit terkejut.
"Kamu ingusan tu," tunjuk Kevin.
"Oh maaf maaf," Rana segera mengambil tisu ditasnya dan mengelapnya.
"Dek udah jangan takut, dia udah pergi heemmm," ucap Rana sambil mengelus ramput panjang Sena.
Kevin masih berusaha mencerna apa yang disaksikanya, Sena mengangkat kepalanya dan melihat disekeliingnya.
__ADS_1
"Suda pergi ya bunda?" tanya Sena.
"Udah sayang," jawabnya.
"Serem ya bunda hih takut Sena," ucapnya lugu, Rana hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya.
"Turun ya, kan udah ga ada sayang," pinta Rana, Sena pun tersenyum dan menyetujuinya," Oke," jawab Sena.
Sepertinya Lusi sudah mengutus orang untuk membersihkan tempat ini, terlihat sudah bersih wangi dan tak ada satupun debu yang kelihatan.
"Ran, apakah yang kalian rasakan itu nyata?" tanya Kevin berusaha mencari jawaban apa yang dia pikirkan.
"Nyata lah pak, kami berdua ga gila seperti yang pernah bapak ucapkan, ini memang tak bisa dijelaskan secara medis tapi kami memang bisa merasakan energi itu, mereka ada kok, nyata juga bagi kami yang peka ini, mungkin bapak ga bisa percaya sama saya karena bapak ga bisa kan membuktikanya, tapi kalau sama Sena bapak percaya ga," ucap Rana panjang lebar, jujur aja saat ini dia senang karena bisa mengeluarkan unek unek yang ada di hatinya.
Kevin menatap bingung kearah keduanya, ini sungguh tak bisa diterima dengan akal sehatnya.
"Aku butuh bukti Ran," ucap Kevin setengah penasaran, dia juga terlihat sangat hati hati soal ini, dia takut Rana akan tersinggung.
"Tapi tidak sekarang pak, nanti kalau kita udah terbiasa bareng bapak akan bisa merasakanya sendiri tentang apa yang saya ucapkan, karena saya tak bisa mempertanggung jawabkanya kalau bapak sendiri tak percaya," jawab Rana gemas.
Rana membuka pintu kamar yang akan dia tempati, disana terdapat satu lemari dan ranjang berukuran sedang, cukuplah kalau buat dia dan Sena, kamar mandi bersebelahan dengan dapurnya.
Tidak apa lah kecil yang penting nyaman!!
Diruang tamu masih ada Kevin dan Sena yang memeluk boneka Marsya favoritnya.
"Adek tadi lihat apaan sih?" bisik Kevin.
"Kata bunda itu uwok (Genderuwo) papi," jawab Sena.
"Uwok apaan?" tanya Kevin penasaran, Rana yang mendengar percakapan mereka pun membantu Sena menjawab
"Uwok itu genderuwo pak," jawab Rana.
"Hah, seriusan Ran," ucapnya dengan muka tegang.
"Biasa aja kali pak ga usah tegang gitu, toh saya yang nglihat santai santai aja," jawab Rana sambil tersenyum menggoda, Kevin masih berusaha mencerna apa yang dikatakan wanita yang mengasuh putrinya, ada perasaan lain yang tumbuh dihatinya antara percaya dan tidak, antara kagum dan aneh, antara ahh Kevin masih belum bisa menerima ini.
Kevin masih duduk termenung dikursi kayu ruangan ini, Rana membiarkan pria itu bermain dengan pikiranya sendiri, dia memilih merawat Sena dikamarnya, Rana menyiapkan baju tidur untuk Sena dan membantunya bersiap untuk tidur, Rana tidak menutup pintu kamar itu hingga Kevin melihat sendiri bagaimana Rana memperlakukan putrinya.
__ADS_1
Terlepas dari hal yang tak masuk akal tadi, tumbuh rasa kagum dihatinya ketika dia menyaksikan lagi kasih sayang yang diberikan Rana untuk putrinya.
Bersambung...