SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Dipaksa Menerima


__ADS_3

Kevin meminta pekerjanya untuk membawa barang barang anak dan juga ibu asuhnya kekamar yang biasa Sena dan Kirana tempati.


Kevin juga meminta asisten rumah tangganya untuk membatu Sena, sedangkan dia membopong Kirana yang terluka dan membawa keruang kerjanya.


"Bik, tolong bantu Sena dan tamani dia, aku obati dulu bundanya," pinta Kevin.


"Baik den," jawab Bik Asih asisten rumah tangga Kevin yang masih terjaga.


Kirana masih belum berani protes, dia hanya diam dan mencengkeram bajunya yang kehilangan kancing kancingnya tadi.


Kevin menaruh Kirana disofa ruang kerjanya, Kirana diam tak bersuara. Hanya matanya yang terus mengikuti kemana arah Kevin melangkahkan kakinya. Walaupun dia merasakan sakit disuku kan lututnya Kirana tak berani mengeluh.


"Mana yang sakit," tanya Kevin.


Kirana menunjuk kearah lutut dan sikunya.


Kevin menggulung celana piyama Kirana, Kirana hendak melarangnya tapi Kevin menatapnya dengan tajam.


"Kamu ga usah ngeres, disini aku berperan sebagai dokter. Bukan pria biasa. Habis ini kamu juga harus bayar jas aku mengerti...Menjengkelkan sekali!" umpat Kevin.


Ini orang kenapa sih marah marah mulu dah. Aku yang ga tau masalahnya apa jadi bawa bawa, batin Kirana.


Kevin melaksanakan tugasnya dengan baik meskipun sesekali dia mengomel jika Kirana mengaduh.


Kirana merapikan rambut panjangnya yang berantakan, sedangkan tangan satunya masih mencengkeram bajunya.


Kevin menatap mesra wanita cantik yang ada didepanya. Membuat Kirana salah tingkah.


"Bapak jangan lihatin saya kayak gitu pak, saya takut," ucap Kirana.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Kita bukan mahrom bapak!"


"Baiklah besok kita menikah biar kamu jadi mahromku," jawab Kevin enteng. Kirana menatap heran kearah Kevin.


"Bapak ini kenapa, berantem ama pacar saya diikut ikutin, sekarang becanda mau halalin saya. Bapak ga sakit kan?" tanya Kirana sambil menepelkan telapak tanganya kekening Kevin.

__ADS_1


Kevin merasa Kirana sangat berani, dia pun kembali menatap wajah Kirana dengan tatapan mautnya.


.


Kirana sangat merinding kali ini dia pun memilih beranjak dari duduknya.


"Duduk," pinta Kevin. Kirana hanya menoleh malas kearah Kevin sayangnya Kirana tak menurut membuat emosi Kevin datang lagi. Kevin meraih perut Kirana dan memaksanya duduk dipangkuanya.


"Kirana aku bilang duduk, atau mau aku cium kamu," ancam Kevin.


Nyali Kirana kembali menciut, pria ini kenapa dari tadi semaunya sendiri.


"Iya, pak iya duduk tapi sendiri ya Bapak Dokter yang baik," rayu Kirana, agar Kevin tak semakin arogan padanya.


"Baik, duduk sendiri sana, awas kabur," ancam Kevin.


"Enggak Bapak, macam mana saya mau kabur kaki pincang gini," balas Kirana. Kevin tersenyum manis. Kirana juga membalas senyuman itu. Syukurlah udah ga marah.


"Gitu kan tampan kalau senyum, dari pada marah marah ga jelas gitu," goda Kirana, mereka saling melirik dan melempar senyum malu malu.


"Kalau ga marah, kalau marah serem takut Rana," jawab Kirana. Kevin pun kembali tersenyum malu. Kevin menghela nafas dalam dalam dan melanjutkan lagi perkataanya. Dia tak perduli jika Kirana menilainya arogan dan memaksa yang jelas dia sudah yakin dengan keinginan hatinya sekarang.


"Apa kamu sayang sama Sena?" tanya Kevin, Kirana tertawa licik. Lirikan kembali Kirana berikan pada Kevin. Dan hap seolah Kevin tanggap dia pun menangkap lirikan menggemaskan itu dengan senang hati.


"Ngapain kamu tertawa seperti itu, aku tanya serius, jawab aja. Jangan mencoba memancing amarahku Kirana," ucap Kevin mukanya kembali ke mode serius. Ya Tuhan kenapa lagi pria aneh ini. Sebentar marah sebentar senyum sebentar kembali marah lagi. Ya Allah kuatke atiku batin Rana.


"Sayang," jawab Kirana jujur.


"Bagus, besok kita menikah!" ucap Kevin. tentu saja ucapan Kevin membuat Kirana terkejut.


"Bapak ini kenapa sih, Pak seharusnya yang nikah sama bapak itu pacar Bapak lah bukan saya gimana sih," Kirana sudah kehilangan kesabaranya juga kali ini. Dia pun memilih melawan keinginan Kevin yang menurutnya tak masuk akal ini.


"Berarti kamu siap berpisah dengan Sena, karena aku ga mau tinggal serumah dengan wanita yang bukan mahrom ku dan juga aku mau bersama anaku. Aku tak mau berpisah lagi darinya," ucap Kevin setengah mengancam Kirana.


"Bapak ga bisa ambil Sena semau Bapak sendiri, dia anak saya Bapak. Lagian Bapak kan udah kasih Sena kesaya. Saya ada buktinya bahkan Sena juga sudah saya daftarkan ke kartu keluarga saya," jawab Korana tegas. Kirana tak mau mengalah kali ini. Dia menilai Kevin sangat keterlaluan.


"Sepertinya kamu lupa nona, kalau masalah itu sangat mudah bagiku untuk menyelesaikanya. Kamu lupa sedang berhadapan dengan siapa ha," ucap Kevin sampil mengukung tubuh kecil Kirana.

__ADS_1


"Bapak jauhin tubuh Bapak kalau enggak saya teriak ni," ancam Kirana sambil menahan dada Kevin.


Kevin berdiri kemudian dia pun tertawa. " Eh, kamu tu kecil kerempeng , dada doang yang gede kamu pikir aku nafsu sama kamu. Enggak ya, ga usah kepedean," ucap Kevin gugup sambil tertawa menurupi apa yang dia rasakan.


Kirana sedikit merasa lega jika benar Kevin memang tak nafsu padanya.


"Baguslah, jika Bapak ga nafsu sama saya huuf leganya," gumam Kirana, Kevin tersenyum lagi melihat tingkah lugu wanita yang kini sedang dia permainkan.


"Gimana, kamu hanya punya dua pilihan menikah denganku dengan bayaran kamu masih bisa dekat dengan Sena atau...pergi dari kami tanpa membawa Sena yang artinya hubunganmu dengan Sena end sampai disini," ucap Kevin kembali mengancam Kirana.


"Bapak tega sekali sih sama saya, Bapak jahat tau ga. Saya baru 19 tahun Bapak. Masak harus menikah. Pernikahan kan ga main main Pak, Rana mau sekali seumur hidup. Rana ingin menikah dengan pria yang Rana cinta. Bukan dalam keadaan terpaksa seperti ini," jawab Kirana. Matanya berkaca kaca seolah memohon belas kasihan Kevin. Sayangnya Kevin tak perduli menurutnya ini adalah moment yang pas untuk memiliki Kirana dan Sena.


"Kamu pikir dengan memelas seperti itu aku akan kasihan, heh... tidak akan nona. Aku hitung sampai tiga kalau kamu ga jawab berarti kamu siap kehilangan Sena," ancam Kevin lagi. Kirana menatap penuh kebencian pada Kevin.


"Bapak jahat tau ga!" teriak Kirana.


"Sa-tu, du- a, ti...!" ucap Kevin terbata bata.


"Oke oke...(Kirana diam sejenak, menelan ludah dan menghapus air matanya) saya akan menikah sama Bapak, tapi dengan satu syarat," jawab Kirana dengan tenang.


Kevin mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Kirana. Kirana malas dengan ini dia pun menjauhkan wajahnya.


"Apa itu aku mau dengar syaratmu?" tanya Kevin.


"Bapak ga memaksakan hak bapak selagi saya belum siap," pinta Kirana kembali dia melirik marah pada Kevin.


"Tidak masalah, tujuan kita menikah hanya Sena. Kita nikmati saja prosesnya, bahkan kamu tidur sekamar dengan Sena pun aku tak akan larang," jawab Kevin, coba aja batin Kevin licik.


"Sungguh!" jawab Kirana antusias, setidaknya dia merasa aman jika tidur dengan Sena.


"Iya anak kecil, kamu pikir aku tukang boong. Melihatmu aja aku ga nafsu apa lagi ngajakin kamu wik wik, gedein dulu tu PD biar suamimu ini nafsu," jawab Kevin sambil bercanda dan mengacak rambut Kirana, dia sengaja tenang agar Kirana tak menyadari kemodusanya.


"Baiklah, jangan pegang pegang Bapak kita belum halal," ucap Kirana sambil menepis tangan Kevin.


Kevin hanya tersenyum melihat keluguan Kirana. Meski gugup dan takut Kirana tetap berusaha iklas dengan jalan hidupnya demi Sena demi janjianya pada Rani dan juga kedua orang tua Kevin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2