SUAMIKU MANTAN IPARKU

SUAMIKU MANTAN IPARKU
Meski Berat


__ADS_3

Hari mulai sore, baby Vio pun bangun dari tidurnya. Lusi menawarkan diri untuk membantu Aldo merawat baby Vio. Dengan telaten dan penuh kasih kasayang Lusi memandikan dan merawat bayi mungil itu.


Viola juga terlihat bahagia dan menggemaskan. Dia tak rewel sama sekali, ditambah Lusi juga pandai, dia terus mengajak Viola berbicara.


"Al, nggak ada salahnya dicoba. Lusi wanita baik kok," desak Kevin.


"Nggak semudah itu Vin. Kamu tahu aku sangat mencintai Vivian. Rasanya berat Vin melupakannya," jawab Aldo.


"Ya aku tahu, tapi babymu membutuhkan ibu. Dan aku rasa kandidat terbaik adalah sahabat istriku. Kamu lihat sendiri kan, betapa Lusi sangat meyayangi putrimu. Dia tulus Al, tanpa mengenalmu dia begitu antusis dengan putrimu. Ayolah jangan egois, ingatlah! putrimu adalah wanita. Dan wanita membutuhkan wanita juga Al. Kita dokter, sedikit banyak kan kita sudah dibekali dengan ilmu psikologi," ucap Kevin mengingatkan.


"Aku jalani aja lah Vin. Kalau kami memang ditakdirkan berjodoh ya nggak mungkin juga aku nolak," jawab Aldo. Kevin tersenyum, dia tahu Aldo pasti sudah termakan bujukannya.


***


Dikamar Sena, Lusi masih saja merawat Vio dengan sangat teliti. Bahkan dia memotong kuku-kuku gadis mungil itu. Membersihkan teinganya juga. Ya Tuhan seharian ini Lusi terlihat sangat happy. Lusi sepertinya sudah menemukan obat paling mujarap untuk jiwanya.


Bahkan Lusi rela membatalkan semua janjinya hari ini demi bermain dengan Viola.


Sayangnya hari sudah sangat sore, waktunya Aldo membawa Viola pulang. Aldo meminta tolong pada Kirana untuk membantunya meminta Viola dari Lusi.


Entah kenapa ada sedikit rasa tak tega di hati Aldo untuk memisahkan mereka. Beberapa kali Aldo melihat Lusi mencium putrinya. Ada kesedihan yang Aldo lihat di mata Lusi. Tapi bagaimana mereka memang harus berpisah.

__ADS_1


"Kapan-kapan main sama Onty lagi ya Dek. Hemm," kembali Lusi mencium pipi gembil baby Vio sebelum meyerahkannyavpada papi Al.


"Nanti kalau Onty kangen Vio, Onty main aja ke rumah Vio," ucap Aldo menawarkan.


"Boleh Onty main ke rumah Vio. Beran serius?" tanya Lusi antusias.


"Boleh Onty," jawab Aldo. Lusi dan Aldo saling melempar senyum.


Kirana, Kevin dan Lusi pun mengantarkan Vio dan Aldo masuk kedalam mobil mereka. Vio ditempatkan dikursi khusus untuknya. Lusi pun tak tinggal diam. Dengan telaten dia juga membantu Aldo menyiapkan Viola.


Aldo membunyikan klaksonnya kala dia sudah mulai menginjak gas mobilnya untuk melaju meninggalkan kediaman sahabatnya.


Tinggallah sekarang Lusi yang termenung. Dia adalah wanita yang tak pandai menyembunyikan rasanya.


"Enggak lah Vin, aku sama bapaknya nggak ada hubungan apapun. Kita hanya sebatas tahu saja. Bagaimana nanti tanggapan keluarga pak Al kalau misalnya aku ujuk ujuk datang cuma mau ketemu Vio. Bisa jadi fitnah nanti," jawab Lusi tegas.


"Ya udah kalau kamu kangen Vio bilang aja ama Kirana. Nanti biar Al anter kesini," ucap Kevin. Lusi pun tersenyum dan menyetujui usul Kevin.


***


Di perjalanan pulang, Aldo mulai tak konsentrasi. Beberapa kalia Aldo mengingat perkataan Kevin. Untuk move on dari sang mantan istri. Dan mulai membuka lembaran baru demi sang buah hati.

__ADS_1


Aldo melirik sekilas putrinya yang duduk termenung di kursi khusus untuknya.


"Apakah Papi harus melupakan mami untukmu Dek, apa adek mau punya mami nak?" tanya Aldo pada bayi nya.


Baby Vio hanya menatap ke arah papinya. Kemudian dia pun bermain sendiri.


Aldo resah, Aldo gundah. Tapi ucapan Kevin sungguh ada benarnya. Kenapa nggak dicoba.


Aldo adalah muslim yang taat. Kenapa dia tak mencoba bertanya pada Tuhan dan meminta petunjuk. Aldo mulai menyakinkan hatinya bahwasannya dia harus move on demi putrinya.


***


Di sisi lain ada Lusi yang termenung di meja kerjanya. Dia malas melakukan apapun. Yang dia lakukan saat ini hanya membuka galeri di ponselnya dan menatap foto gadis cilik yang mulai bisa mengambil alih hatinya.


Tanpa memikirkan ayah sang gadis cilik, Lusi berkhayal bisa memiliki putri secantik Viola.


Ingin rasanya Lusi menghubungi Aldo dan menanyakan apakah gadis cilik itu menangis. Apakah dia baik baik saja. Apakah Viola merindukannya, seperti dia yang kini sedang merindukan senyum dan tawa Viola.


Lusi berdiri di balik jendela kamarnya. Perasaannya begitu gelisah. Dia mengingat kembali perjalanan cintanya dengan Rio. Dia teramat sangat mencintai pria itu kala itu. Bahkan dia rela melakukan apapun yang diucapkan Rio.Tapi apa balasannya, dia dihina disakiti bahkan hampir dibunuh oleh Rio.


Sejenak Lusi ragu jika harus jatuh cinta lagi pada pria. Tapi Viola sungguh mampu mengalihkan dunianya. Sejenak dia mengingat ucapan Kevin, kalau mau anaknya harus mau bapaknya bukan. Yang itu artinya, jika dia mau meiliki Vio maka dia harus bisa menerima Aldo. Dan itu tak mungkin batin Lusi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2