
Zahira menatap iba pada sekujur tubuh yang tergolek lemah di atas ranjang tidur mewahnya.
Kamar yang indah. Tetapi barang dan perabotannya berserakan dimana-mana memenuhi lantai, karena dihancurkan sang pemiliknya.
Jonathan yang berdiri disampingnya pun ikut terpana menatap tubuh ringkih Demian.
Nyaris Zahira tersedak karena kaget melihat kedua mata Demian yang tiba-tiba terbuka dan langsung terbelalak.
"Siapa kau? Siapa yang mempebolehkan kalian masuk kedalam kamarku? Keluar!" hardiknya dengan suara keras.
"Siapa juga yang mau masuk kandang macan seperti ini!" timpal Jo membuat Zahira menoleh pada putra semata wayangnya itu.
"Siapa kau, bocah tengil? Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke sini?"
Demian melotot ke arah Jonathan.
"Kami juga tak akan mau masuk kalau tak dipaksa! Ish, dasar manusia tak berguna. Bisanya menyusahkan orang tua saja!" tukas Jo lagi.
"Apa kau bilang???"
Demian bangkit dari ranjangnya. Berdiri dengan tubuh agak sempoyongan hendak berjalan ke arah Jonathan.
Zahira tak tinggal diam. Kini ia maju ke depan dan menarik tubuh putranya ke belakang.
"Kami kemari karena Papa Mamamu yang meminta. Mereka bahkan sampai bersujud agar kami bersedia menjengukmu yang sedang putus asa. Mereka sangat khawatir padamu. Itu sebabnya, sampai menjatuhkan harga diri pun terpaksa mereka lakukan demi kamu anaknya. Sama seperti aku juga. Jangan sakiti putraku. Karena jika sampai itu terjadi, aku pasti akan membalasnya berpuluh-puluh kali lipat!"
Perkataan Zahira yang tenang tapi mengandung tekanan luar biasa itu membuat Demian jatuh terduduk di atas lantai marmer kamarnya.
"Ayo, Jo! Kita sudah menjalankan amanah kedua orangtuanya. Mari kita pulang!"
Demian hanya terdiam dengan mata nanar menatap punggung Zahira dan Jo sampai menghilang di balik pintu kamarnya.
Seketika ia berteriak histeris. Meraung dan menangis sambil memukul-mukulkan lantai dengan tinjunya.
Hatinya merapuh. Jiwanya melemah.
Sedari kecil ia selalu merasa terintimidasi dan tertekan oleh keluarga terutama kedua orangtuanya sendiri.
Cepret cepret cepret
"Kenapa sih kamu tak bisa seperti si Gege? Yang selalu dipuji Kakek dan Nenekmu karena berkelakuan baik! Atau setidaknya seperti si Surya? Yang meskipun bandel tapi justru kebandelannya itu menggemaskan mereka! Kenapa kamu bahkan tak mampu membuat Kakekmu senang bila berada disekitarmu!"
Cepret cepret
"Ampun, Mamaaa! Ampuuun!!! Ampuuun huaaa hik hik hiks! Ampuuun!!!"
__ADS_1
"Rasakan! Makanya jadi anak itu harus menurut pada orang tua! Malah cari masalah!"
Demian kecil, selalu dihardik dan dipukuli Elli karena tidak pernah becus mengambil hati Gunawan dan Widia.
Sementara Glen justru semakin membuat panas suasana dengan cibirannya tanpa niatan membela apalagi menolong putra sulungnya.
Teringat ketika Demian tanpa sengaja merusak cangklong rokok Kakeknya, hadiah kiriman dari sahabat Gunawan yang ada di Australia.
Elli memukuli Demian dengan sapu plastik sampai patah gagangnya.
Paha dan punggungnya biru lebam bahkan sampai beberapa hari memar membuat jalannya jadi agak pincang.
Demian selalu mendapatkan pukulan dan cacian dari kedua orangtuanya jika dirinya tidak bisa mencapai hasil yang mereka inginkan.
Nabila-lah yang selalu menghiburnya. Menguatkan diri Demian kalau dirinya tak seceroboh itu. Itu hanyalah kenakalan anak-anak pada umumnya. Kata Nabila kala itu.
Nabila pula yang mengobati luka lecet dipunggungnya. Dengan mengolesi salep yang dibeli di apotik pinggir jalan sebrang gedung sekolah SMP mereka.
Entah mengapa, Demian merasa dirinya selalu bermasalah. Kakek, Nenek juga kedua orangtuanya bahkan Gege pun seolah tak suka bermain bersamanya.
Di sekolah Demian sering buat masalah. Niatnya ingin mendapatkan perhatian Elli dan Glen, juga Kakek Neneknya. Tapi ternyata justru malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Mereka justru mencap Demian pecicilan. Si pembuat onar. Dan suka rusuh, merusak nama baik keluarga.
Untungnya sang Kakek yang seorang konglomerat selalu berusaha menjadi donatur tertinggi di sekolahnya sehingga tertutupi kenakalan Demian lewat kebaikan Gunawan.
Tiada lagi Nabila kecil yang selalu bertanya, "Kamu kenapa nangis? Kenapa itu kaki kamu?"
Tak ada lagi Nabila yang suka menghibur sambil mengobati luka-lukanya akibat pukulan demi pukulan Mamanya.
Membuat Demian shock dan ingin sekali mengakhiri hidupnya yang penuh kegetiran.
Walaupun Nabila membuatnya bingung, kesal dan menjadi orang jahat dimata Zahira serta Jonathan, namun Demian tetap berpendapat, Nabila adalah malaikat pelindungnya.
Kini Nabila benar-benar telah tiada, seperti runtuh rasanya bumi bagi Demian.
...........
"Dem! Dem...! Demian!"
Sesosok wajah manis yang begitu ia rindukan membelai rambutnya. Demian terperangah.
Harum aroma bunga magnolia kesukaan gadis itu menghipnotis indera penciuman Demian.
"Nabila..."
__ADS_1
"Dem! Bangkitlah, Dem! Kamu tidak sendiri, Sayang!" katanya lagi dengan tutur kata yang halus lembut menggetarkan jiwa.
"Nabila...! Aku merindukanmu, Nabi! Hik hik hiks!"
"Aku selalu ada disampingmu, Dem!"
"Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku, please Nabi! Aku membutuhkanmu! Hik hik hiks..."
"Demian...! Jangan seperti ini, jangan Sayang! Aku tak terima melihat kau hancurkan dirimu sendiri! Jangan seperti ini, Dem! Bangkitlah! Masa depanmu masih panjang! Jangan pernah berfikir tak ada yang menyayangimu! Kami semua menyayangimu, Demian!"
"Kamu..., kamu meninggalkan aku, Nabi! Aku terpuruk sendirian! Hik hiks..."
Demian menangis dipangkuan Nabila. Tangisannya pecah, terdengar lirih dan menyayat hati.
Ia curahkan semua kesedihan serta kegetiran hidupnya di pelukan hangat Nabila.
"Lihatlah keluar! Banyak sekali orang yang jauh lebih susah hidupnya darimu, Sayang! Kembalilah pada dirimu yang dulu. Yang kuat dan tegar, bahkan ketika tidak ada aku disampingmu. Kau adalah pribadi yang hebat, Dem!"
"Aku pria buruk. Aku seperti memiliki kutukan sejak lahir. Aku pria gagal! Aku gagal menyuntingmu! Aku gagal dalam percintaan. Aku juga gagal dalam karier! Aku pria menjijikkan! Bahkan kau pun pergi meninggalkan aku dengan sejuta kenangan yang menyakitkan!"
"Kau tidak gagal, Dem! Kau justru pria perkasa yang membuatku makin mencintaimu. Kau adalah pujaanku, selamanya. Sampai akhirku, hanya kau seorang yang selalu aku rindukan!"
Demian semakin terpuruk dalam kesedihan.
Ucapan demi ucapan Nabila semakin membuatnya tak mampu move on dan menatap lagi dunia.
Dunia yang kejam. Dunia yang beringas. Yang selalu mencecar dan menuntutnya macam-macam. Membuat hidupnya selalu naas. Mengenaskan.
"Pejamkan matamu! Cup (Nabila mengecup keningnya penuh kasih) Tuhan selalu ada bersamamu, Dem! Tuhan ingin kamu selalu mengingat-Nya. Bersyukur atas apa yang telah Tuhan beri selama ini. Itu saja, tugasmu! Jangan fikirkan kesedihan karena kamu belum bisa memberi yang terbaik pada semuanya. Itu hanyalah proses, Dem! Itu hanyalah formalitas saja. Tapi di sini... Di dasar hatimu yang terdalam. Tunjukkan pada Tuhan, kalau kau sudah melakukan yang terbaik selama ini! Tuhan selalu melihatmu, seperti aku kini...yang selalu memantaumu dari kejauhan. Berharap kamu bahagia, menjalani hidup dengan rasa syukur dan pasrah pada-Nya!"
Demian menatap bola mata Nabila yang bersinar indah.
"Kamu mau kemana, Nabi?"
"Perjalananku sudah selesai di dunia ini. Ada tempat lain yang jadi tujuanku kini, Dem! Tempat dimana aku harus mempertanggung jawabkan kelakuanku di dunia. Selamat tinggal, Demian! Aku cinta kamu!"
"Nabi! Nabi...! Jangan pergi, Nabila!!!"
Demian berteriak sampai suaranya parau.
Nabila dijemput cahaya putih yang menyilaukan. Demian berusaha mengejarnya. Berlarian ke luar kamar bahkan sampai ke luar rumah.
Hanya rinaian hujan gerimis yang menyambut tubuhnya yang ringkih setelah berminggu-minggu tak terawat.
"Nabilaaa!!!"
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...