
Beberapa pasang mata menatap kepada Surya dan Akila.
"Turunin, Kak!" bisik Akila dengan suara sedikit tercekik karena rasa malu yang menyeruak.
Surya hanya tersenyum, lalu menuruti permintaan Akila yang baru beberapa belas menit menyandang titel 'SANG KEKASIH'.
"Silakan, Mas Boss! Tempatnya sudah kami siapkan!"
Seorang waitres menghampiri mereka dan menunjukkan arah tempat yang sudah Surya pesan.
Akila hanya mengikuti langkah Surya. Tetapi pria itu segera menoleh dan berkata, "Lady first, please!"
Meleleh hati Akila mendapati tingkah Surya yang teramat manis.
Sadar Akila, sadar! Cowok ini sudah terbiasa berlaku semanis itu pada gadis-gadis! Jangan ge'eran jadi perempuan! Ish! Bisa-bisanya kau langsung terpesona menyerah kalah. Kalau fikiranmu lemah karena cinta, dibawa ke ranjang kenistaan pun kau pasti bakalan menurut saja. Padahal belum tentu cowok ini sungguh-sungguh ingin menikahimu! Jaga dirimu baik-baik! Ingat-ingat pesan Bunda Anne!
Akila menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Sayang? Kepalanya sakit?"
Surya menempelkan punggung tangannya di atas dahi Akila.
Ya Tuhan! Please, jauhkanlah aku dari godaan syeitan yang terkutuk ini!
"Tangannya coba! Jangan *****'an! Ish!"
Akila menepis jemari indah Surya yang kembali tergelak ceria.
"Dinda jangan marah-marah! Takut nanti cepat tua! Kanda setia orangnya! Tak kan pernah mendua! Hahaha...!"
Surya kembali tertawa setelah menggoda Akila dengan senandungnya yang ternyata enak terdengar di telinga.
Tiba-tiba lampu ruangan yang Surya dan Akila masuki padam.
Tak lama terdengar suara lantunan musik indah dan suara merdu sang penyanyinya.
Dari jutaan bintang (dari jutaan bintang)
Dinda paling gemerlapan (Dinda paling gemerlapan)
Dari segenap wanita
Dindalah yang paling menawan
Dinda, Kanda pergi hanya seketika cuma
Ini kan semua demi masa depan kita
Tiba-tiba lilin menyala dan terbentuklah gambar hati di lantai ruangan yang beraroma bunga mawar dengan wangi semerbak menyeruak.
Ya Tuhan! So sweet!
Akila menoleh pada Surya.
Pria itu tersenyum manis dan mengulurkan tangan kanannya meraih jemari Akila.
Akila menurut.
__ADS_1
Mereka berjalan perlahan ke tengah ruangan.
Alunan musik berhenti, dan berganti dengan suara dentingan piano berkolaborasi dengan gesekan biola yang indah manis mempesona.
Sayup-sayup Akila bila membaca nada-nada alunan musiknya.
Lagu 'A Thousand Years' milik Christina Perri tanpa lirik mengiringi gerakan tarian lembut Akila dan Surya.
Serasa ingin meledak jantung gadis itu karena debarannya. Surya benar-benar membuatnya seperti Tuan Putri Cinderella di arena pesta dansa.
Sayangnya, ia merasa salah kostum. Tapi tak mengurangi keharuan hatinya diperhatikan begitu istimewa oleh Surya Abdi. Hingga bibirnya yang kelu hanya diam membisu. Terlalu sulit untuk berucap kata.
Musik selesai, Surya menarik kursi dan mempersilakan Akila duduk.
Apakah begini rasanya jadi pacar Tuan Muda Surya Abdi? Seperti mimpi!
"Kak Surya sudah begitu profesional memperlakukan wanita seperti ratu, ya?!" kata Akila membuat Surya menunduk.
"Sebenarnya, justru inilah yang pertama kali setelah sekian lama!"
Akila tercengang. Matanya menelisik tak percaya.
Surya Abdi tampak tenang walaupun tatapan Akila yang tajam seolah menembus wajahnya.
Bahkan pria itu dengan santai mengambilkan Akila sedikit makanan ke piring sajinya.
"Kenapa?"
"Aku tak percaya!" tukas Akila.
Surya tersenyum. Wajahnya terlihat sedih.
Akila menatap serius Surya. Menunggunya menceritakan kisah cintanya pada Akila.
"Gadis itu..., dimana sekarang?" tanya Akila. Gemas menunggu Surya cerita, tetapi tak kunjung bersuara.
"Sudah menikah dan sudah punya anak juga!"
Akila menghela nafas.
"Kekasih hati kak Surya sudah menikah?"
Surya mengangguk.
"Makanlah dulu, Akila! Kamu pasti lapar karena belum sarapan! Ini sudah pukul setengah sembilan. Dan sayangnya tak ada tukang tahu bulat di sekitar sini!"
Akila menutup mulutnya yang terkekeh keras mengingat pertemuan awal mereka yang memunguti tahu bulat yang berceceran di lantai.
"Kak,"
"Hm? Makan dulu!"
Akila tersenyum malu.
Ada juga momen di kala ia diam dan menurut karena tingkah lakunya yang salah dan Surya Abdi benar.
Dalam hubungan memang harus seimbang. Harus balance untuk kestabilan rumah tangga.
__ADS_1
Aih? Mengapa aku jadi mikirin rumah tangga?
Akila kembali tersipu dengan pipi yang merona.
"Hayo, mikirin apa tuh?"
Akila kaget, malunya bertambah. Ternyata Surya Abdi sedang memperhatikannya diam-diam.
"Hehehe...! Hanya berfikir, jatuh cinta itu indah ya? Tapi..., aku ga berani berfikir jauh. Mana mungkin kak Surya serius denganku dan mau menikah denganku!"
"Apa kamu mau hubungan kita ini langsung ke jenjang pernikahan? Okay, fine! Hari ini juga aku akan datangi Gege, minta izin dia. Aku akan lamar adiknya segera!"
"Eh? Masa' ah? Beneran? Cuma omdo kali'!?"
"Apa itu omdo?"
"Omong doang! Kakak pasti cuma omong doang!" jawab Akila santai.
Tapi tidak dengan Surya. Ia langsung mengambil ponselnya dalam saku jas seminya.
Menekan panggilan ke nomor pribadi Gege dan...
"Hallo, Gege? Boleh ga aku datang ke kantormu siang ini? Ada yang ingin aku sampaikan pada Gege. Soal hubunganku dengan Ak,"
Akila segera merebut ponsel Surya. Dan mengambil alih pembicaraan.
"Kak, lanjut aja kerjanya Kak! Iya. Kila memang lagi sama kak Surya! Hehehe..., ga ada apa-apa koq! Ga. Ga terlalu penting. Iya, maaf, Kak! Selamat bekerja, Assalamualaikum!"
Klik.
Akila mendelik pada Surya yang tetap tenang menyantap makanan di piring sajinya yang tinggal sedikit lagi.
"Jangan gitu ish, Kak!" pinta Akila mencoba jalan tengah.
"Dengar Sayang, menikah denganmu itu adalah tujuan akhirku! Jika kamu menantangku, justru aku semakin bersemangat, Akila Sayang!"
Akila menatap kedua bola mata Surya yang berbinar penuh kesungguhan.
Kini hatinya benar-benar menghangat dan luluh mendengar ucapan Surya.
"Boleh Kila tahu, apa yang buat kak Surya cinta Akila?" tanyanya ingin tahu sekali.
"Gadis cantik, manis, polos, berbudi dan juga memiliki hati seluas samudra. Di mana lagi aku bisa mendapatkannya? Aku sudah menemukannya. Dan aku tidak akan mundur walau selangkah pun! Aku akan perjuangkan cintaku ini demi mendapatkannya. Dan gadis itu adalah kamu! Akila Salsabila!"
Merona pipi Akila. Riak-riak di kedua bola matanya berpendar warna-warni. Semakin membuat Surya Andi jatuh hati dan makin ingin menyelami.
"Sekarang saatnya kita bekerja sama menyatukan Gege dan Devana!"
Netra Akila makin berbinar. Ia mengangguk, semangat sekali.
"Izinkan aku ambil bagian sebagai sutradara dan produser, okay?!"
"Siap, Boss! Hehehe..."
Akila tak menolak genggaman erat kedua tangan Surya yang hangat meremas jari jemarinya.
Tuhan! Terima kasih untuk kebahagiaan ini! Doa Akila dalam hati.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...