SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Kemesraan Widia dan Gunawan


__ADS_3

"Widia! Kenalkan... ini Gunawan Wicaksono, calon tunanganmu!"


Widia muda menerima uluran tangan Gunawan dan menjabat erat genggaman telapak tangannya yang hangat.


"Handsome khan?" goda Maminya kala itu membuat Widia tersipu.


"Mami!" jawabnya pelan.


Sejak saat itu, hubungan bilateral antar perusahaan kedua orangtua mereka diperkuat dengan pernikahan Gunawan dan Widia.


Mereka menerima perjodohan itu tanpa banyak tanya apalagi penolakan yang frontal.


Gunawan tampan, Widia juga cantik. Keduanya memilih untuk menerima perjodohan yang kedua orangtua mereka lakukan.


Seperti halnya membesarkan perusahaan, pernikahan mereka anggap juga merupakan keuntungan. Tak perlu merasa sakit hati karena percintaan yang kandas. Cinta keduanya tumbuh perlahan setelah menikah dan tinggal bersama.


Melahirkan satu persatu keturunan yang tampan dan cantik-cantik, kehidupan ekonomi yang tercukupi bahkan melebihi pasangan suami istri lainnya di luar sana. Apalagi yang mereka cari.


Tidak ada kerikil besar dalam perjalanan hidup keduanya selama ini. Mulus, seperti jalan tol yang baru dicor.


Satu persatu, putra-putri mereka tumbuh besar dengan kasih sayang berlimpah dan diurus oleh orang yang berbeda.


Widia yang terlahir putri orang kaya terbiasa hidup enak dan tak banyak beban fikiran.


Walaupun melahirkan empat orang anak dari pernikahannya dengan Gunawan, ia tetap bisa merawat tubuh serta kecantikannya yang luar biasa. Semua anaknya dirawat dan diurus para nany yang setia serta siaga 24 jam menjaganya.


Tetapi setelah Widia melahirkan Lisa, putri bungsunya. Ia mulai merasakan ada kelainan di dalam organ tubuhnya.


Dadanya seringkali sesak ketika bangun tidur di pagi hari. Pernafasannya tak selega hari-hari lalu, bahkan kadang ia merasa tak enak hingga keluarkan keringat dingin sebesar biji jagung. Begitu pula ketika ia sedang menjalankan kewajibannya melayani sang Suami. Nyaris gagal memberi Gunawan kenikmatan.


Bibirnya selalu membiru ketika udara sekitar mulai terasa dingin. Membuat Widia ketakutan sendiri pada kesehatannya yang mulai menurun.


Pengobatan rutin selama beberapa minggu menghasilkan diagnosa dokter spesialis yang membuatnya terpuruk. Jantungnya bermasalah.


Ia ingin kembali normal. Suami serta anak-anaknya masih membutuhkannya. Dokter-dokter hebat pun ia sambangi untuk mengobati penyakit jantung yang dideritanya.


Hingga dokter menyarankan Widia untuk operasi bypass jantungnya di negara fatherland, Jerman.


Demi umur yang panjang, Widia akhirnya mendapatkan kesempatan berobat ke negeri nun jauh disana itu.


Ditinggalkannya Gunawan untuk dua bulan kedepan, demi hidupnya yang akan bertambah tahun demi tahun.

__ADS_1


Cintanya pada Gunawan membuatnya ingin kembali sehat.


Selama ini ia merasa sangat sedih, tak mampu mengimbangi kebutuhan biologis sang suami yang sedang berada di fase hot-hotnya karena terkendala jantungnya yang tidak sehat.


"Tante Widia!... Tante..."


"Claudia!..."


"Tante...! Maafkan aku! Maaf, beribu-ribu maaf... aku mengecewakanmu!"


"Pergi kau dari sini! Pergilah! Aku tidak ingin merusak kuku cantikku dengan mencakar wajahmu yang terlihat lugu itu! Pergi!!!"


"Aku salah! Aku salah! Tapi apakah anakku juga berhak kau hakimi juga? Dia tidak tahu apa-apa Tante! Kumohon...! Kumohon padamu, Tante Widia! Om Gun berhak mengetahuinya! Serapat apapun Tante menutupinya, suatu hari nanti... semuanya akan terbongkar dan Tante akan jadi terdakwanya!"


"Tidak! Tidak!... Bukan aku terdakwanya, tapi kau, Claudia! Kau... dan Gunawan!"


"Tapi tetap mereka akan menghakimimu secara moriil!!! Hahaha... ! Hahaha..., Tanteku tersayang! Maafkan aku, cinta Om Gun hanyalah untukku! Dia tidak mencintaimu sepenuh hati. Dia hanyalah menuruti orangtuanya saja dan bersedia menikahimu!"


"Tidak! Kau salah, Claudia! Gunawan mencintaiku! Gunawan selama ini setia padaku! Sampai kau datang! Kau adalah anak set*n!!!"


"Tante...! Sebelum Om Gun benar-benar membencimu! Katakanlah apa yang telah kau perbuat padaku! Katakanlah semuanya pada suamimu yang begitu mencintaiku, Tante!"


"Tidak! Tidaaak!!!"


Widia tersentak. Matanya membelalak.


Wajah Gunawan ada tepat dihadapannya.


Grep.


Dipeluknya tubuh pria tua yang mulai ringkih itu erat. Tangisnya pecah. Mimpi buruknya bertemu Claudia seperti nyata.


"Mas Gun! Hik hik hiks..."


"Kamu mimpi buruk ya, Wid?" tanya Gunawan lembut. Ia membalas pelukan sang istri dengan hangat. Istri yang selalu setia menemaninya dalam suka maupun duka. Yang selalu berada disampingnya meskipun dirinya dalam keadaan terpuruk dan terluka.


"Tidak apa-apa...! Itu hanyalah mimpi, Sayang! Apalagi mimpi di siang bolong begini. Hehehe...! Sini, sini...! Jangan kamu risaukan! Ada aku sekarang bersamamu, Widia Sayang!"


Tangis Widia semakin terdengar lirih.


Kata-kata mesra Gunawan justru semakin membuatnya lebih tersiksa.

__ADS_1


Mas Gun! Apakah kau cinta padaku? Apa hanya pasrah karena takut durhaka pada kedua orangtuamu, lalu kau mau dinikahkan denganku oleh mereka? Mas Gun...! Aku ini, benar-benar sayang dan cinta kamu. Sejak pertama bertemu, bahkan sampai kini pun. Cintaku satu, hanyalah untukmu seorang! Aku tak mau kehilanganmu! Aku mencintaimu, Mas Gunawan!


Widia menangis sedih di dada Gunawan yang tak lagi bidang seperti dulu.


Doanya dalam hati, Gunawan akan selalu ada merengkuh tubuhnya terus seperti ini. Ia ingin menua bersama, bahkan sampai mati.


"Sudah nangisnya? Untung Ericko sudah kukembalikan pada Devana. Andaikan cucu buyut kita itu lihat Nenek Buyutnya menangis seperti ini, pasti akan tertawa keras sekali!" goda Gunawan membuat Widia menghentikan isak tangisnya.


Malu juga hatinya.


Tuhan memberinya umur panjang, hidup bersama Gunawan. Sampai usianya 73 tahun kini dan Gunawan 78 tahun. Bahkan Tuhan juga memberinya kesempatan melihat putra dari cucu pertamanya. Ini adalah anugerah terindah Tuhan yang Widia dapatkan.


"Mas!"


"Ya?"


"Aku mau pergi ke suatu tempat. Boleh ya?"


"Kemana?" tanya Gunawan lembut.


"Ada tempat yang sangat ingin kudatangi sebelum aku mati!" jawab Widia tetapi langsung ditutup bibir mungilnya oleh Gunawan.


"Jangan bilang seperti itu! Mau kucium bibir imutmu itu, hah? Sini, sini!" goda Gunawan membuat Widia tersenyum meskipun kedua matanya sembab.


"Aku minta izin pergi dengan Utami dan Jenal keluar kota. Boleh ya?"


"Pergilah, Sayang! Kamu boleh lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Ambillah waktu me time mu sendiri! Pergilah dengan teman-teman yang membuatmu senang!"


"Kamu, nanti gimana?"


"Aku khan sudah pensiun. Kantorku sekarang di halaman belakang rumah kita. Alat tulisku adalah garpu penggaruk tanah dan juga cangkul kecil untuk menandatangani tanamanku. Hehehe...! Aku gak akan kemana-mana! Kalau kau sudah pulang, cari aku di rumah kaca! Oke?"


"Terima kasih, Mas!"


Widia mengelus pipi Gunawan yang sudah banyak kerutan, tapi masih menampakkan ketampanan.


"Kamu masih begitu tampan, Mas!" pujinya dengan suara pelan.


"Hahaha..., Widia-ku Sayang! Kamu ini sedang meledek aku ya? Pipiku sudah kemong, karena gigiku yang nyaris copot seluruhnya. Kulitku juga melember, akan bahaya bisa terbang kalau ada angin besar. Tubuhku semakin peyot, ringkih dan rapuh. Bahkan tak lagi sanggup menggendongmu seperti dulu. Apalagi yang membuatku tampan? Hm...? Kamu mau aku menggodamu di atas ranjang? Mau, Widia? Hm?"


Widia menahan tawanya sembari menepuk-nepuk bahu sang suami mesra.

__ADS_1


Begitulah Gunawan. Walaupun usianya sudah lumayan tua, tapi untuk urusan rayu merayu ia adalah jagonya. Pantas jika kelihaiannya meluluhkan hati wanita menurun pada anak cucunya.


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2