
Devana hanya bisa termenung mendengarkan penjelasan Anton Lee dihadapan Demian.
Mereka duduk bertiga di ruang utama paviliun mendiang Gunawan, dengan obrolan serius.
Anton Lee mengajak Devana ikut dengannya kembali ke kota K.
"Saya sangat keberatan dengan ajakan Bung Anton! Maaf, saat ini... untuk izin dan keselamatan Devana serta Ericko ada di tangan saya. Saya yang bertanggung jawab atas keadaan putri bungsu dan cucu pertama almarhum Kakak Saya!"
"Saya mengerti maksud Anda, Bro! Tapi lusa adalah seratus hari kepergian sepupu saya, Chandra Putra Lee Sukoharjo. Almarhum Papa Kandung Ericko Putra Lee Sukoharjo."
Devana hanya bisa menatap kosong wajah Anton.
"Aku tidak akan memaksamu, Dev! Tapi..., apa kamu tidak ingin memberikan penghormatan terakhir pada mendiang Chandra? Setidaknya, datang hanya untuk beberapa jam menemui para kerabat yang begitu baik datang dari jauh memberi perhatian."
Perkataan Anton tenang, tetapi mampu membuat tubuh Devana langsung tegang.
Bagaimana mungkin aku melupakan hari esok? Hari ke-seratus hari kepergian almarhum suamiku? Mengapa aku begitu cueknya dan sibuk memikirkan serta mengurus diriku sendiri tanpa mengingat Kak Chandra? Ya Tuhan...! Istri macam apa aku ini?
Devana menunduk.
"Besok ya, seratus hari Kak Chandra?"
"Iya."
"Aku akan berkemas merapikan pakaian dan juga keperluan Ericko!"
"Deva? Apa kamu akan ikut Bung Anton?"
Demian kaget. Ia tak menyangka jika wanita yang sedang dipepetnya itu bisa begitu mudah mengambil kesempatan dengan ikut orang yang bisa jadi membahayakan keselamatan jiwanya.
"Jangan khawatir, Bro Demian! Ericko adalah keponakan saya,"
"Aku ikut!" kata Demian membuat Anton dan Deva terkejut.
"Tidak apa-apa, Kak! Ini acara keluarga. Dan kupastikan sore hari kami sudah kembali ke rumah ini!" tukas Devana menenangkan hati Demian yang gundah.
"Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan peristiwa penculikan yang nyaris merenggut nyawamu beberapa hari lalu, Devana?" ujar Demian panik.
"Apa? Devana diculik? Kapan?" Anton setengah teriak karena kaget.
Baik Demian maupun Devana menyikapi pertanyaannya dengan diam. Demian lupa, itu adalah masalah intern keluarga mereka yang tidak boleh sembarang diungkap pada orang lain. Akhirnya ia hanya bisa mengalihkan omongannya dengan memaksa untuk bisa ikut.
"Kak! Deva mohon, biar Deva sama Ericko saja ya? Tidak akan ada kejadian seperti waktu itu, pasti! Deva yakin, kami akan baik-baik saja!"
"Apakah Bung mengkhawatirkan keselamatan Deva dan Ericko bila berada di sekitarku?"
__ADS_1
"Ya!" jawab Demian tegas.
"Bukankah justru Devana sangat berbahaya berada ditengah-tengah keluarga aslinya yang seluruhnya adalah anak dari istri pertama Pak Gunawan Wicaksono sedangkan Deva adalah anak selingkuhannya?"
Demian menatap Anton tak berkedip.
Ternyata Anton Lee telah mengetahui status Devana. Kemungkinan kisah keluarga mereka telah bocor tersebar luas dikalangan para pengusaha.
Bahkan kini fikiran Demian juga mulai terbuka dan waswas. Bisa jadi kedua orangtua serta tante dan omnya-lah justru yang tak menginginkan keberadaan Devana setelah tahu kenyataannya.
Devana dan Ericko akhirnya hanya bisa dipandanginya hingga masuk kendaraan Anton Lee dan menghilang di balik gerbang besar paviliun istana mendiang Kakeknya.
Demian langsung ke kamar untuk mengambil kunci kontak motornya. Ia ingin menanyakan kembali perihal penculikan Devana dan Akila pada orangtuanya. Tetapi sebelumnya ia juga ingin memata-matai keadaan keluarga Sukoharjo.
Hatinya diliputi rasa penasaran yang besar.
Bagaimana sampai Devana pergi dari keluarga kaya yang dulu adalah rekan kerja Kakeknya itu. Bahkan sampai bisa melakukan perjanjian nikah kontrak bersama Georgino Gunawan yang ternyata adalah Gege palsu.
Delapan belas tahun Demian merasa dibohongi mentah-mentah oleh Satria yang menyamar sebagai Georgino. Itu sangat menyakitkan. Dan wajar saja jika Papa, Mama serta Om-Om dan Tantenya yang lain marah besar. Apalagi Satria bahkan bertingkah seperti cucu kesayangan Tuan Besar yang selalu disanjung dan dipuja. Dirinya merasa seringkali Kakek serta Neneknya bandingkan dengan si penipu ulung itu.
...••••••••...
Di mess perusahaan, Gege alias Satria sedang menunggu adiknya berganti pakaian. Ia mengajak Akila pergi di minggu pagi ini untuk nyekar makam Mama mereka.
Sepanjang perjalanan Akila bercerita dengan semangat dan ceria. Berbanding terbalik dengan Gege/Satria yang justru lebih pendiam dan hanya tersenyum merespon cerita-cerita Akila.
"Kak!"
"Kenapa? Koq kayaknya lagi ada masalah ya?" tebak Akila membuat Gege menggeleng cepat.
"Gak, ga ada masalah koq!"
"Dari tadi Kakak cuma senyum-senyum. Biasanya responnya lebih, tapi kali ini...! Mmm boleh tebak? Lagi menggalau ya?"
"Apa sih, adik bayi? Tau apa kamu, hm?!?"
Gege mengusap kepala Akila lembut.
"Kakak,... apakah kalian beneran cuma nikah kontrak? Apakah tidak ada perasaan diantara kalian? Apa..., Kakak punya pacar? Dan boleh gak aku kenalan sama pacar Kakak? Apakah gadis itu sebaik kak Devana? Atau punya kelebihan yang lain sampai membuat Kakak tak bergeming dan tak punya niat untuk mendekati kak Devana secara nyata? Apa..., karena kak Devana janda satu anak? Apa,"
Cekiiit...
Gege menghentikan mobilnya secara mendadak. Lalu memarkir di sebuah danau kecil yang sepi.
Akila yang terkejut, pucat pias melihat sang kakak. Seperti orang yang kalap, Gege keluar dari mobil dan memantik korek gasnya, menyulut rokok kretek serta menghisapnya dalam-dalam.
Hempasan asapnya seolah lebih menenangkan perasaan hati Gege yang galau. Tepat seperti tebakan adik kandungnya.
Cukup lama Akila terdiam. Menenangkan hatinya yang gugup gemetar melihat kelabilan emosi sang kakak. Tak lama kemudian ia ikutan keluar. Dan berdiri mematung menemani Gege yang melamun sambil menghisap rokok itu.
"Bolehkah aku jatuh cinta pada manusia berhati malaikat itu, Akila?"
__ADS_1
Akila terperangah. Ia menoleh pada wajah kakaknya yang tenang namun misterius sekali ucapannya.
"Kenapa? Siapa yang melarang orang jatuh cinta? Kak Deva janda, bukan istri orang. Dan dia single juga!"
"Tapi status kami sekarang berbeda, Akila!"
"Maksud Kakak?"
"Siapa dia kini, siapa aku kini. Apa perlu penjelasan dariku?"
Akila tersenyum. Ternyata tebakannya benar.
"Kenapa Kakak sangat sulit mengungkapkan perasaan yang ada dihati Kakak? Ungkapkan, Kak...! Jangan sampai menyesal dikemudian hari!"
"Hhh...! Justru aku takut, takut menyesal jika mengungkapkan isi hati ini!"
"Kukira kakak adalah cowok gentle ternyata cupu juga! Hadeuh payah! Gini amat ya, punya Kakak yang ternyata pengecut!" ledek Akila membuat Gege menyeringai sambil menangkap batang leher Akila pura-pura melakukan kekerasan.
"Tahu apa kamu, adik bayi, soal cinta?"
"Hahaha...! Tau banyak lah! Yang pasti, percintaanku gak sedramatis Kakak. Walau mirisnya kurang lebih sama, karena status dan strata. Tapi yang pasti, Akila pernah mendapatkan cinta indah walau ditentang kedua orangtuanya. Setidaknya, pernah memiliki-lah! Hahaha..."
"Cuma pernah memiliki, itu tragis, Akilaaa!!! Hiks..."
Gege melempar rokok kreteknya ke arah danau.
"Kakak, jangan buang sampah sembarangan! Merusak pemandangan alam!" sungut Akila.
"Maaf! Maaf, adik bayi!"
Kedua kakak beradik itu saling bergandengan tangan dan tertawa lepas.
"Perlu bantuan? Butuh dukungan? (Akila menepuk dadanya) Serahkan, biar Mak Comblang ini yang bergerak!"
"Gak, gak perlu! Jangan ikut campur urusan percintaanku! Janji, adik bayi? Aku gak suka kalau perjuangan cintaku mendapatkan bala bantuan. Kesannya, justru gak gentle sama sekali!"
"Hilih! Kapan berjuangnya? Mana gerakannya? Cuma memantau, itu bukan gerakan. Hadeuh, ngeselin deh punya Kakak model begini! Tar kalo kak Devana diambil orang, baru nyesel. Frustasi, patah hati, sakit hati,... awas sampai bunuh diri!"
"Yassalam...! Punya adik koq ngeselin ya dari masih bayi? Tau gini kupites waktu masih imut dulu!"
"Hyaaa!!! Nyesel deh, ternyata Kakakku menyebalkan parah!"
Keributan demi keributan lucu menghiasi perjalanan mereka menuju peristirahatan terakhir Sang Mama yang terkabul doanya.
Keduanya dipertemukan kembali dalam kebaikan.
Tuhan telah membuka jalan untuk kedua insan ini kembali fighting menjalani hidup kedepan.
Langit memang tak selalu biru, matahari tak selamanya cerah. Tetapi silih berganti mewarnai hari. Bahkan siang dan malam berganti tanpa kenal lelah meski keadaannya tak selalu sama.
...💌TO BE CONTINUE...
__ADS_1