SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
HARI PERTAMA AKILA


__ADS_3

Pagi ini menjadi hari pertama Akila masuk kerja. Setelah bangun pukul lima, mandi lalu menunaikan ibadah, Akila bersiap-siap untuk memulai harinya dengan hati berdebar dan harapan penuh cemas.


Kemeja putih dan rok span pendek warna hitam, sudah ia kenakan. Walau tidak ada aturan pakaian yang harus ia pakai, tapi biasanya setelan ini mewakili para calon karyawan sebelum benar-benar menyandang status karyawan tetap.


Moga hari ini adalah hari yang penuh kebaikan dan kemudahan serta hari keberuntungan untukku! Amin...!


Demikian doa Akila dalam hati.


Mess karyawan letaknya di samping sebelah kiri gedung utama perkantoran PT MAKMUR SENTOSA. Agak menjolok tersembunyi memang. Tapi ternyata bangunan mess lumayan besar berderet berlantai tiga sehingga cukup banyak pula karyawan yang menjadi penghuni mess di sana.


Tidak seperti hari kemarin, pagi ini terlihat suasana mess jauh lebih ramai. Satu persatu para penghuninya mulai keluar untuk bekerja di gedung utama yang menjulang tinggi di sebelahnya.


Akila juga sudah bersiap dan keluar dari kamar messnya. Ia mengunci pintu lalu berdiri sesaat dengan hati melafadkan doa-doa, semoga hari ini adalah awal kerja yang baik baginya.


Dengan langkah mantap sedikit gemetar, Akila menelusuri trotoar teras mess hendak menuju lobi gedung utama perkantoran.


Di depan gedung berjejer banyak tukang dagangan yang menjajakan usahanya mencari pelanggan.


Mirip sekolahan! Tapi makanan yang dijual rata-rata makanan elit dan berkelas. Sama sekali tak mirip jajanan sekolahan.


Akila tertarik dengan suara lantang yang sangat ia kenal dari speaker toa sebuah mobil bak terbuka.


"Tahu bulat, digoreng dadakan, gurih-gurih enyoi! Tahu bulat digoreng dadakan, gurih-gurih enyoi!"


Gadis berusia 18 tahun itu berbelok arah untuk membeli sarapan paginya.


"Mang, lima ribu aja ya!?" katanya memesan tahu goreng pada sang penjual.


Semoga bisa mengganjal perut yang lapar sampai nanti siang jam makan datang! Aku lupa tanya, kalo kerja di pabrik biasa dapat jatah rangsum makan siang! Bagaimana dengan kerja di kantoran ya? Biasanya makan siang beli sendiri ya? gumam hati kecil Akila kebingungan.


Ia cemas, uang yang bundanya berikan untuk tinggal di ibukota hanyalah tiga ratus ribu saja. Itu pun urunan dari Bunda Anne, Dian dan Reihan kakak pantinya yang sudah bekerja. Sedangkan gaji dan pekerjaannya masih belum tahu kepastiannya. Untuk meminta bantuan Bu Widia, Akila sungkan dan merasa terlalu berlebihan jadinya.


"Selamat pagi, Mbak! Saya mau tanya, ruang kantor Pak CEO Georgino Gunawan di lantai berapa ya, Mbak?" tanya Akila pada karyawati operator yang duduk di sebelah meja resepsionist.


"Apa Mbak ada janji sebelumnya?" tanya sang karyawati.


"Belum. Tapi saya dapat pesan, supaya langsung saja ke ruangan kantor Pak CEO. Begitu kata bu Widia!"


"Sebentar ya? Saya coba konfirmasi dulu sama sekretaris beliau! Oiya, Mbak dalam rangka apa ingin menemui Pak CEO?'


"Saya, karyawan baru. Dan ini, CV saya!"


"Ooh...! Pelamar kerja, toh!" kata sang karyawati dengan wajah agak sinis kini. Senyuman manisnya langsung hilang seketika mendengar jawaban Akila.


Akila belum begitu mengerti dunia pekerjaan yang sesungguhnya. Meskipun pernah beberapa kali mendapatkan tawaran kerja lapangan, tapi untuk menjadi karyawan kantoran, ini adalah pengalaman pertamanya.


Selama menjadi sales promotion girl freelance di beberapa merek dagangan yang ia promosikan, Akila selalu mendapatkan respon ramah dari supervisor maupun atasannya. Jadi ia kira, ia akan mendapatkan rekan kerja atupun atasan yang sama baiknya seperti pada saat itu. Padahal..., dunia perkantoran jauh lebih keras dan kejam persaingannya.

__ADS_1


Agak lama Akila menunggu kabar dari Mbak operator yang menyuruhnya duduk di pojokan tangga.


Ia sampai kesal dan menengok jam ditangannya berkali-kali karena belum juga mendapat kepastian, sampai tiba-tiba...


Treeet... treeet...


...[Akila, kamu sudah ditempatkan Gege dimana?]...


Widia kembali menelpon Akila. Menanyakan divisi mana yang dia tempati.


"Bu Widia! Maaf, Akila masih menunggu pak CEO! Sepertinya masih dalam perjalanan menuju kantor!"


...[Apa? Gege sudah berangkat ke kantor sejak setengah jam lalu! Coba kamu ke kantor pak Topan! Biar dia yang antar!]...


"Iya, bu, baik! Terima kasih, bu Wid!"


Baru saja Akila hendak berdiri dari duduknya. Tiba-tiba seseorang menabrak tubuh mungilnya.


Bruk


Akila jatuh terduduk. Map berisi CV lamaran pekerjaannya jatuh berserakan. Demikian pula tas kecilnya yang berisi bungkusan tahu bulat terbuka kancing pengaitnya. Hingga terburai isinya berhamburan di lantai.


Mbak karyawati operator terkejut melihat keadaan Akila. Ia langsung berlari mendekat dengan kepala menunduk dan mulut mengucapkan kalimat permohonan maaf.


"Maaf, Pak CEO III. Maaf, atas ketidaknyamanannya! Hei kamu, ngapain kamu duduk di pojokan tangga! Mengganggu saja!"


"Lanjutkan pekerjaan! Saya tidak apa-apa!" ucap Surya Abdi dengan lembut pada karyawati itu.


Karyawati itu hanya bisa memperhatikan mereka dari tempat kerjanya di balik meja resepsionis lobi kantor yang besar.


Ada pandangan iri dan ketidaksukaan terpancar dari sorot matanya yang tajam.


Surya membantu Akila yang sibuk membenahi berkas lamaran kerjanya serta tahu bulat yang bergelindingan di bawah tangga.


"Maaf..., saya tidak sengaja menabrak Nona!" tuturnya dengan tangan ikutan sibuk memunguti tahu bulat yang rencananya akan Akila makan disela-sela pekerjaan jikalau ia lapar.



Ya Tuhaan, tampannya cowok ini! Apa ia pak CEO yang bu Widia katakan? Ya ampun, CEOnya masih sangat muda! Tampan pula! Pekik hati kecil Akila terkesima.



"Saya yang ceroboh, maaf! Saya duduk di bawah tangga dan mengganggu pengguna tangga!" balas Akila dengan menundukkan kepala beberapa kali.


Seketika Surya terkejut melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Gambar foto yang ikut terjatuh dari tas kecil milik Akila.


"Ini,... foto kamu?" tanyanya menyelidik.

__ADS_1


Akila tertawa pelan. Wajahnya memerah dan mengangguk.


Surya melihat foto milik Akila sekali lagi.


"Ini benar-benar gambar foto kepunyaanmu?"


"Iya, Pak! Bayi yang dipangku kakak saya itu adalah saya! Hehehe..."


"Kakak? Ini..., foto kakak kamu? Siapa namanya?" Surya Abdi benar-benar dalam kondisi menginterview Akila.


"Kak Satria. Dia kakak kandung saya! Tapi,... kami..., lost contac sejak saya bayi!"


"Kamu, kamu karyawan disini? Baru? Atau... karyawan magang?"


Akila kelabakan. Agak kebingungan juga ia, mau menjawab apa.


"Hm..., apa Bapak CEO Georgino Gunawan?" Akila malah balik tanya.


"Saya, Surya Abdi, sepupu CEO Georgino Gunawan. Kamu?"


Akila menelan salivanya. Ia menatap wajah tampan Surya kemudian menunduk dan kembali memandang malu-malu.


"Saya Akila! Saya datang dari kota A atas mandat Ibu Widia Hapsari. Saya disuruh beliau untuk langsung menghadap pak CEO Georgino Gunawan, Pak!"


"Nenek? Jadi..., kamu, karyawan yang masuk perusahaan ini lewat jalur khusus dari Nenek? Hm...! Oke, ayo ikuti aku!"


Mbak Karyawati yang tadi memperhatikan Akila dan Surya semakin penasaran dan mulai kasak-kusuk pada rekan yang disebelahnya.


"Eh, Tut! Kamu ngerasa anak magang itu mencurigakan gak?" tanyanya pada teman disampingnya.


"Kenapa?"


"Koq bisa-bisanya dia mau melamar pekerjaan tapi langsung berhubungan dengan CEO Georgino?"


"Iya juga sih! Agak aneh! Biasanya khan lewat divisi personalia dulu, gak langsung minta menghadap pak Gege. Begitu prosedur yang seharusnya!"


"Nah khan? Apalagi anak itu masih sangat muda sekali! Aneh aja rasanya, kalau dia bisa menembus perusahaan ini langsung kepada pemilik perusahaannya!"


"Jangan-jangan!... Hihihi!"


"Heh? Kenapa? Tut? Koq kamu malah ketawa gitu sih?"


"Jangan-jangan kemarin boss CEO dugem malmingan di club malam. Ketemu itu sugar baby, diajaklah kerja di perusahaannya sebagai bayaran keperawanannya! Hehehe..."


"Yassalam, Tut! Halusinasimu membagongkan sekali! Ish!"


Bisik-bisik itu memblurb di area lobi pintu utama Gedung Wisma Perkantoran PT MAKMUR SENTOSA.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2