
Devana dan Geogino alias Satria berbagi kasur lantai yang cukup pas-pasan untuk dua tubuh orang. Sebelum mereka rebahan, Deva lebih dulu membersihkannya dengan sapu lidi yang menggantung di dinding bilik.
Untung saja bantalnya ada dua. Sehingga mereka tak harus berbagi.
Hanya selimutnya saja yang satu lembar. Membuat Gege mengalah, menyerahkannya untuk dipakai Devana.
Tapi ternyata semakin larut, cuaca semakin dingin. Gege bergemerutuk menggigil sampai tubuhnya mengkerut kedinginan. Walau begitu, ia berusaha menahan hawa dingin itu dengan merapatkan jas yang dipakainya.
Hawa dingin juga membuat Deva ingin ke toilet.
"Kak!"
"Hm?"
"Kak, boleh minta tolong?"
"Apa, Dev?"
"Anterin ke belakang, please! Mau pipis, tak tahan aku!" pinta Deva mengiba.
Gege bangkit dari tidurnya. Ia berdiri perlahan, mengambil lampu pelita berisi minyak tanah yang menyala kecil tapi cukup membantu pencahayaannya.
"Ayo, Dev! Awas, hati-hati kaki tersandung tulang lantai bambunya!" nasehat Gege membuat Deva mengangguk.
Agak malu-malu ia memegangi bagian belakang jas Gege. Rasa takutnya sungguh membuat halusinasinya akan sosok hantu seperti berada di belakangnya.
"Kak Gege,... Jangan cepat-cepat jalannya!" bisiknya merapat ke tubuh Gege.
"Sini, kamu jalan di depan!" anjur Gege lembut.
"Lebih takut lagi kalau jalan di depan!"
Gege tertawa kecil mendengar penolakan Deva yang lucu.
"Hehehe..., terus gimana? Jalan di belakang takut. Jalan di depan lebih takut lagi. Lah, aneh!?"
"Ish, malah diketawain!"
"Hehehe..., ayo sini! Aku gandeng sini!"
Deva merasa pipinya panas. Tubuh Gege merapat. Memberinya rasa nyaman dan hangat lewat rangkulan tangannya yang kekar.
Perlahan kaki Dev menuruni anak tangga menuju dapur.
"Ka-kamar mandinya di luar?" pekik Deva pelan.
"Iya. Letaknya di belakang luar rumah panggung ini! Ayo!"
Gege membuka pintu kayu yang hanya di slot dengan sebilah bambu saja dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang lampu pelita.
Rumah yang sangat sederhana sekali.
Krieeet...
Angin semilir menyapa wajah dan tubuh keduanya.
"Kak..."
"Sini, masuk dalam pelukanku!"
Entah mengapa, kalimat yang Gege keluarkan membuat jantung Devana berdebar makin kencang. Nada dan intonasinya mirip lagu "BERCINTA" nya Aura Kasih.
Devana berusaha menahan tawanya.
"Kenapa?" tanya Gege membuatnya tergagap.
"Ti-tidak! Hehehe..."
"Ayo masuk!"
Devana terkesiap. Ia lagi-lagi dilema antara keinginan untuk buang air kecil tapi keadaan toiletnya yang gelap dan kusam.
"Kak..., takut!" gumamnya dengan suara pelan.
Gege mencoba melihat ke dalamnya.
__ADS_1
Ada lubang WC rapi walaupun tembok kiri kanannya berlumut tebal.
Seember air penuh bahkan luber sebab pipa kecilnya terus menerus mengeluarkan air yang mengucur kecil.
Gege memeriksa airnya. Ia mengambil segayung, mengendus lalu mencoba berkumur-kumur.
"Airnya bersih, Dev! Bahkan segar sekali walaupun dingin. Sepertinya air dari perbukitan sekitar!" kata Gege.
"Tapi takut...,"
"Ya sudah. Pipis, pintunya jangan ditutup. Aku akan menghadap ke arah sana. Jangan khawatir aku intip! Ini lampu pelitanya bisa kamu taruh di samping WC, biar kelihatan ambil gayung airnya!"
Deva tersenyum malu.
Ia mengikuti arahan Gege.
Dengan sedikit gugup dan terburu-buru Deva menyelesaikan keinginannya buang air kecil.
"Andaikan ada aliran listrik sebagai penerangan, ini rumah panggung yang lumayan juga ya?" gumam Gege berusaha mengalihkan imajinasinya.
Bagaimana tidak ber imajinasi ketika telinganya samar mendengar suara air mengalir deras dari tubuh Devana.
Sebagai lelaki normal, tentu saja hatinya tergelitik dan ada sesuatu yang bangkit.
Hadeuh! Kenapa Imin susah dikondisikan sih?!? Gerutu hati kecil Gege.
Ia sedikit sibuk membetulkan 'adik kecil'nya yang terjepit sakit di bagian depan celana bahannya.
"Kak!"
Deva menarik bagian belakang jas Gege.
"Sudah?"
"Mi-minta tolong!"
"Kenapa, Dev?"
"Kancing celanaku jebol, hiks! Aduuuh memalukan sekali ish! Butuh gesper kak Gege biar tak melorot!"
"Ya ampun!"
Untung saja ini malam hari dan keadaan gelap gulita. Sehingga tidak bisa terlihat secara nyata bagaimana merahnya wajah keduanya.
Gege menuruti Deva. Ia mengeluarkan ikat pinggangnya, lalu memberikannya pada Devana.
Keduanya tersenyum malu.
"Udah?"
"Iya."
"Ayo, Deva jalan duluan!"
Kuk kuk kuk
Kuk kuk kuk
Kikkikkikiikik
Deva melonjak kaget. Ia memeluk tubuh Gege erat sekali.
"Itu suara burung hantu, Dev!"
"Koq suaranya mirip..."
"Mereka pasangan, sedang bercinta sepertinya!" jawaban Gege membuat Devana memukul dadanya pelan.
"Ish! Malah becanda!"
"Beneran itu! Bukan bercanda! Tanya deh, Mbah Google! Hehehe..."
Devana menatap wajah Gege yang tampak begitu indah terkena sinar bulan yang temaram.
"Ayo, cuacanya semakin dingin! Nanti kamu masuk angin!"
__ADS_1
Gege menuntun Deva masuk kembali ke dalam rumah.
Pria itu sangat baik juga begitu siaga menjaga Deva dari segala hal yang membahayakan. Bahkan ketika bahu Deva hampir menabrak kayu tiang penyangga yang agak menonjol, ia langsung menutupi dengan tangannya. Berharap Deva tak terluka.
Perlakuan manis yang tidak pakai ucapan itu justru semakin membuat Deva merasa tersanjung.
Keharuan menyeruak dihatinya. Ada sisi yang muncul dari dalam jiwanya. Ia butuh sosok yang mampu menjaga lahir batinnya seperti Georgino Gunawan.
Kini Deva yang merasa imajinasinya terlalu tinggi. Ia menutupi separuh wajah bagian bawahnya karena tersadar akan haluannya.
Mereka kini telah kembali ke kamar.
Deva melihat jam tangannya sepintas. Pukul 01 dini hari.
Ia hanya menghela nafas lalu kembali merebahkan tubuhnya yang mulai terasa dingin karena air kamar mandi yang begitu menyecap.
Kruuuuk
Perutnya lapar. Bahkan bersuara sampai ke telinganya.
"Lapar ya?" tanya Gege membuat Deva terkekeh.
"Sepertinya ada roti sandwich di tas kerjaku, deh!"
Deva terpana. Tas kerja Gege bagaikan kantong ajaib Doraemon di matanya. Dan sangat ia syukuri karena ada dua belah sandwich isi sosis dan sayuran serta dua kotak susu Hilo.
"Berkat bekal yang selalu Mama Nani buat untukku, kita tak jadi kelaparan!"
Deva tertawa. Hampir saja mulutnya bablas ingin meledek, "Macam anak TK saja!"
Untungnya otak jernihnya melarang, karena kalimat ledekan itu tidak pada tempatnya. Karena justru harusnya ia berterima kasih sekali dan bersyukur, perut laparnya kini bisa terisi lagi.
Mereka makan dengan khikmad sekali. Tanpa suara karena menikmati makanan yang sangat membantu.
Setelah selesai menyantap sandwich dan sekotak kecil susu Hilo, keduanya mulai mengantuk dan perlahan tidur dengan tubuh menghadap ke langit-langit.
..........
Entah bagaimana ceritanya, Deva terbangun dengan tubuh memeluk erat Gege dan tangan Gege pun ada di atas dadanya.
Matahari sepertinya sudah menaik, karena ada bias sinar dan rasa yang hangat menerobos dinding bilik.
Pantas saja, semalam dingin sekali! Rumah panggung ini benar-benar mendapat tekanan udara dan angin yang bisa masuk lewat pori-pori anyaman bilik bambu yang hanya selapis ini! Gumam Deva dalam hati.
Gege masih tertidur. Wajahnya terlihat polos sekali dengan mata terpejam.
Deva kembali melihat jam tangannya. Pukul 08.32 WIB. Ia terkesiap, ini pertama kalinya ia bangun sesiang ini.
"Kak, Kak! Sudah siang!"
Gege menggeliat, terlihat imut sekali.
Devana langsung salfok pada sesuatu yang menonjol dibagian tengah agak kebawah tubuh Gege. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang berdiri tegak tapi terjepit di dalamnya.
Hiks, Dev...! Kenapa tengok yang itu sih? Bikin matamu ternoda saja!
Deva mengalihkan pandangannya ke wajah Gege.
Seketika ia tak bisa menahan tawanya.
Kedua lubang hidung Gege menghitam. Membuat Devana terkekeh lepas.
"Kakak! Lihat lubang hidungmu! Hitam semua! Hihihi..."
"Hm...!?"
Gege mengucek-ucek matanya. Ia menatap wajah manis di hadapannya. Seperti mimpi, wajah Devana menyambut paginya dengan senyum ceria. Tetapi...
Kini Gege juga tertawa.
Kedua lubang hidung Devana juga tampak hitam.
"Lubang hidungmu juga hitam, Dev! Hahaha..."
Keduanya akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Menertawakan diri sendiri yang menghitam lubang hidungnya karena akibat dari lampu pelita minyak tanah yang menemani malam mereka.
__ADS_1
Dalam kesusahan, pasti ada kesenangan. Devana dan Gege Satria merasa bersyukur, betapa mereka terhibur oleh lelucon lama yang sebenarnya biasa saja tapi mereka anggap kegembiraan yang menceriakan.
...๐TO BE CONTINUE...