
Rapat Para Pemegang Saham dilakukan mundur seperempat jam, mengingat semua orang yang berkepentingan baru datang karena terjebak macet.
"Hari demi hari jalanan ibukota semakin semrawut. Membuatku selalu pusing kepala dan mutar-mutar mencari jalan alternatif!" cerita salah satu pengusaha yang memiliki beberapa belas persen di PT MAKMUR SENTOSA.
"Lagu lama! Dari tahun ke tahun makin ruwet bin rudet!" jawab satunya yang duduk di sebelah kiri.
"Baik, Bapak-Bapak Dewan yang terhormat. Kami langsung saja, untuk mempersingkat waktu."
Gege mengkode Surya membagikan makalah penawaran kerja sama dari perusahaan Anton Lee pada seluruh anggota rapat.
Walau tadi ia sempat nyaris gontok-gontokan dengan Anton, tetapi Gege harus profesional.
Masalah pekerjaan tak boleh dicampuradukkan dengan urusan pribadinya yang memanas dengan sepupu almarhum suami dari Devana.
Apalagi tadi Anton mendatangi kantornya secara resmi disaksikan Surya dan Demian.
"Saya setuju!"
"Saya juga!"
"Selagi perjanjian kerjasama ini membawa keuntungan besar buat perusahaan kita, kenapa tidak. Asalkan perjanjian ini didasari poin-poin yang jelas!"
"Ya sudah, kita bisa ambil tender ini! Teken kontrak, Gege!" Demian semangat mendengar para pemegang saham yang lain menyetujui ajakan kerjasama Anton Lee Sukoharjo.
"Tapi,... apa kita tidak terlalu terburu-buru untuk membuat produk baru? Sedang produk kita yang masih baru launching bulan lalu, belum begitu stabil fluktuasinya! Permintaan barang diluar kota masih belum bagus grafiknya!" ujar Gege.
Sebenarnya Gege meragukan ajakan Anton. Kemungkinan besar pria itu justru seperti hendak menjebaknya dan membuat nama baik serta perusahaan keluarganya rusak. Itu feeling Georgino.
"Saya rasa, tak ada salahnya juga kita ambil langkah kerjasama!" Indra bersuara. Tio dan Glen yang sedari tadi diam saja, langsung menoleh pada abang iparnya itu.
"Apa tidak terlalu cepat langkah kita, Pa?" tanya Gege membuat semua diam menunggu jawaban Indra.
"Dilihat dari nama baik dan juga harga saham serta PT SWARA CIPTA, sepertinya kita tidak bisa menilainya sebelah mata. Apalagi, mengingat pertemanan Kakek Gunawan dan pak Sukoharjo dimasa lalu. Bahkan di tahun 2002 sempat booming kolaborasi bisnis makanan ringan atas nama kedua perusahaan ini. Jadi, boleh juga!"
__ADS_1
"Itu khan dulu, Mas! Jaman Papa dan Pak Sukoharjo. Sekarang yang pegang kendali adalah Georgino dan cucu Pak Sukoharjo. Jujur saya agak..."
Semua menoleh pada Rendy Urban, salah satu pemilik saham yang juga adalah menantu Gunawan, adik ipar Indra.
"Ya, memang. Kinerja Georgino belum bisa kita lihat. Walaupun ini sudah hari ke-lima puluh jabatannya. Tetapi melihat kemampuan Anton Lee, beberapa tahun ke belakang, perusahaan Sukoharjo justru kini kembali maju berkat kerja kerasnya. Saya sudah melihat sendiri sepak terjangnya di beberapa elemen bisnis. Bukan hanya multimedia dan manufaktur saja. Semoga Gege bisa belajar banyak dari Anton Lee kedepannya atas kerjasama yang akan dilakukan ini!"
Semua mengangguk kecuali Rendy.
Gege merasakan ada aura dingin dari tatapan Rendy padanya. Seperti... ada binar kebencian terselubung membuat Gege merinding.
Ada apa dengan Om Rendy? Beberapa waktu belakangan ini sepertinya beliau terlihat aneh!
Rapat ditutup dengan kesepakatan kerjasama dengan perusahaan Anton Lee disetujui Para Pemegang Saham yang lain.
Georgino sendiri tak terlalu banyak menyela juga mengiyakan. Dalam perusahaan keputusannya tak bisa mutlak. Ada pemegang saham lain yang suaranya juga harus didengar dirapat. Apalagi jika itu sudah jadi suara terbanyak. Dan dia tak mampu mengubah kesepakatan suara mayoritas.
Padahal dalam hati ia sangat tidak ingin bekerjasama dengan Anton Lee. Terlalu berisiko untuk dirinya dan Devana juga.
"Pa! Ada yang ingin Gege sampaikan!"
Gege mengangguk.
Mereka pulang ke rumah Indra yang ada di pinggir kota.
Sebelumnya Gege sudah menchat Devana. Ia mengabarkan kalau akan pulang malam karena masih ada kesibukan.
Devana yang membaca pesan singkat Gege agak kecewa. Karena dia juga mulai resah dan ingin berbagi cerita pada Georgino tentang keadaannya yang mulai menegangkan.
Mau tak mau Devana akan menunggu sang Suami kontraknya malam nanti untuk mengadukan permasalahannya yang pelik.
"Gege...!"
"Apa kabar, Ma? Maaf..., Gege belum sempat ajak Devana menyambangi rumah ini dihari libur."
__ADS_1
"Hehehe...! Sesekali, ajaklah Devana dan Ericko berlibur dan sowan ke rumah ini. Ini juga rumahmu, Nak!" jawab Nani membuat Gege tersipu.
Secara sadar ia mengetahui kalau hubungannya dengan Devana hanyalah terikat kontrak saja. Kontrak nikah. Makanya Gege malu ketika Mama angkatnya meminta dirinya membawa serta istri kontraknya itu ke rumah ini.
"Ge! Duduklah! Papa mau ngobrol hal yang serius!"
"Apa, Pa?"
"Sepertinya Nenekmu sudah mengetahui kondisi pernikahan kontrak kalian! Nenek kaget karena kabar itu telah sampai ditelinganya. Bahkan Kakekmu bilang, sebelum Nenek anfal... beliau menyuruhku untuk meminta Gege menceraikan Devana!"
Gege termenung. Seperti dugaannya. Nenek jadi sakit parah seperti ini pasti ada hubungannya dengan dirinya serta Devana.
Bahkan Nenek sampai tak mau Ia dan Devana mengunjunginya di kamar pribadinya.
"Hhh...!"
"Perjanjian kontrak kalian bisa segera diakhiri! Dan kalau bisa, katakan itu dihadapan Nenek. Biar hatinya tenang, dan kesehatannya kembali pulih. Lagipula Kakek juga sudah mengalihkan berkas dokumen pentingnya atas nama kita semua! Setelah itu, baru plan B akan Papa lakukan!"
Gege menelan saliva.
Perjanjian nikahnya dengan Devana hanya enam bulan. Tapi ternyata baru tiga bulan semua bisa segera ia akhiri.
Tapi kenapa terasa berat rasanya untuk menyudahi hubungan kerjasamanya dengan Devana? Mengapa?
Gege diam. Ia menatap jauh ke depan. Pandangannya kosong meskipun kepalanya mengangguk mengiyakan ucapan Sang Papa.
Devana sedang ada masalah juga. Apa aku akan tega melepasnya dan membiarkan Ericko diambil paksa keluarga almarhum suaminya? Tapi..., jika aku meneruskan pernikahan ini, justru akan menarik Devana semakin dalam kerumitan ini.
Gege mengeraskan rahangnya.
Ucapan Papanya benar. Ia harus memikirkan kondisi kesehatan Neneknya juga. Itu lebih utama untuk saat ini.
Gege pamit pulang pada kedua orangtuanya. Kembali ke paviliun Gunawan. Berencana mengajak Devana diskusi soal perjanjian mereka yang akan segera berakhir.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...