
"Apakah kau tidak ingin tahu siapa keluargamu dan dimana mereka?" Tio menyeringai.
Gege alias Satria menatap wajah Papanya Surya Abdi itu dengan pandangan kosong.
"Terima kasih kalau Om Tio sudah bersusah payah mencarikan keluargaku juga!"
"Jangan panggil aku Om! Aku bukan Om-mu! Dan, gadis yang ada di sana itu adalah adik kandungmu. Akila."
Gege mengeratkan rahangnya.
Ia tak pedulikan ucapan yang Tio lontarkan, dan terus melangkah hendak keluar ruangan.
"Tidakkah kau memiliki simpati pada adikmu itu? Yang kau tinggalkan dengan ibu kandungmu setelah kau membunuh bapaknya. Merekalah yang harus menggantikanmu meringkuk di penjara selama lima tahun! Apa kau punya ingatan tentang itu? Tentang Malika, ibumu yang harus membawa serta bayi mungil berusia satu tahun dalam tahanan karena berusaha menutupi perbuatanmu pada Bapak kandung Akila!"
Gege diam.
Begitu pula Akila.
Kedua kakak beradik itu berusaha mencerna semua perkataan Tio.
"Kau ingin bilang sesuatu, Satria? Kau sudah ingat siapa dirimu? Hm?"
Satria seperti membatu. Ia mematung lama sementara Akila berurai air mata.
Akila menerjang Tio.
"Pak Tio tahu darimana kisah hidupku?" tanyanya dengan emosi tingkat tinggi.
"Tanyalah pada Satria kakakmu sendiri. Dia adalah pria yang mematung di sana itu! Tanya padanya, Akila! Apa yang telah dia perbuat pada Bapak Kandungmu dan menjadikanmu anak yatim!"
Akila menangis keras sembari memukul-mukul dada Tio.
Surya Abdi segera menangkap tubuh imut itu kedalam dekapannya.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!!! Kakakku orang baik! Kakakku bukan pembunuh Bapak! Bapakku lah yang jahat! Dia selalu memukuli Ibuku! Bahkan Kakak telah Bapak jual kepada orang lain hingga kami terpisah belasan tahun lalu! Hik hiks...! Bukan seperti itu cerita kenyataannya!"
"Ibumu melindunginya, Akila! Sebenarnya Satria-lah yang memukul kepala belakang Bapakmu dengan batu ulekan! Dan kakakku yang paling baik sedunia itu kemudian kabur, lari dari rumah! Kemudian Polisi Pamong Praja datang, dan Ibumu mengakui kalau dia yang telah membunuh Bapakmu!"
"Aaa... bohong! Bohong!!! Pak Tio bohooong!!!"
"Semua ucapan pria tua benar, Akila!"
Gege membalikkan tubuhnya.
Matanya dingin menatap Tio. Bibirnya bergetar.
"Hahaha...! Dengar sendiri Akila?"
Akila menoleh pada Gege. Kini ia berusaha melepaskan diri dari Surya Abdi. Gadis itu melesat ke arah Gege. Lalu terdiam mematung menatap wajah Gege dengan raut wajah penuh kesedihan.
__ADS_1
"Kakak..."
Gege hanya memandang Akila. Lagi-lagi tatapannya kosong. Jiwanya seolah melayang tak ada di raga.
"Benarkah kamu adalah kakakku? Kakak Satria?"
Tiara mengambil sesuatu. Selembar foto diri Georgino Gunawan palsu di umur sepuluh tahun. Adik Surya Abdi itu menyodorkannya pada Akila.
"Iya. Ini kakakku, Kak Satria yang selama 14 tahun aku dan Mama cari-cari!" gumam Akila dengan mata kembali merebak mengalirkan anak sungai kecil di pipi kiri dan kanannya.
Ia segera menangkap tubuh tegap Gege. Tangis keduanya pecah. Tangisan memilukan bagi siapapun yang berada di ruangan itu.
Akila dan Gege saling berangkulan melepas rindu.
Tentu saja tidak sesuai dengan prediksi Tio. Ia inginkan perpecahan, bukan seperti acara Tali Kasih yang pernah booming di tahun 2000 an di acara televisi.
Gege menghapus airmata Akila.
"Kamu sudah besar adik bayiku!" ujarnya lirih pada Akila.
Tangisan di tengah senyum sumringahnya membuat Akila memukul-mukul bahu kakak kandungnya sambil berseloroh, "Kemana saja kau, Kak selama ini? Aku mencarimu kemana-mana? Bahkan dua foto kecil kita selalu kubawa kemana pun, supaya aku bisa bertemu denganmu. Hik hik hiks... Tapi foto itu kini hilang bersama tasku sewaktu tadi pagi kami diculik orang-orang sinting!"
"Hiks...! Maaf, adik bayiku! Maaf...! Maafkan Kakakmu yang jahat ini! Kakak kehilangan Mama dan Kamu. Kakak sama sekali tak memiliki memori kenangan itu sampai umur kakak 25 tahun sejak kejadian itu! Maaf...! Maafkan kakak yang seperti menumbalkan Mama dan juga kamu!"
"Mama kita sudah tiada, Kak! Aku dirawat bunda Anne. Bunda yang sama yang merawat kak Deva. Kami tinggal di yayasan yang sama sampai dewasa! Hik hik hiks..."
Gege dan Akila justru terlihat begitu akrab satu sama lain. Seperti tidak pernah terjadi kesalahfahaman besar diantara mereka sebelumnya.
Akila, yang Tio prediksi akan marah dan menjadi sekutunya dalam menghancurkan Indra-Gege ternyata justru merangkul erat Gege.
Sungguh mengecewakan hati Tio.
Sangat berbeda dengan suasana hati sang putra yang terlihat semakin terpukau dengan kebesaran hati Akila yang luar biasa.
"Akila! Kamu hebat! Kamu bahkan tidak membenci Gege!" seru Surya tanpa sadar dengan kedua bola mata berbinar.
Disitulah Tio dan Lisa bisa melihat binar kekaguman Surya Abdi yang semakin berkembang indah menjadi cinta. Mereka melihat kesungguhan hati sang putra yang tertambat pada gadis imut penuh pesona.
Tio menarik tubuh Surya agar menjauh dari kakak beradik yang begitu ia benci.
"Terima kasih, Pak Tio! Akhirnya kami bisa bertemu kembali setelah 17 tahun terpisah karena suatu keadaan!"
Akila menyatukan dua telapak tangannya, lalu mengangguk hormat pada Tio.
"Kau tidak benci Satria yang telah membuatmu menjadi anak yatim, Akila?" tanya Tio penasaran.
"Mama kami adalah perempuan yang sangat baik. Mama selalu memberi saya wejangan-wejangan yang tak kan pernah saya lupakan seumur hidup, bahwa saya sedari lahir diurus kakak sampai usia setahun karena Mama yang sakit-sakitan. Mama bahkan mengabadikan foto kecil kami. Walaupun hanya dua lembar foto, tapi mampu mengungkapkan banyak cerita, bahwa kak Satria sebenarnya sangat menyayangi saya. Dari caranya menggendong saya, dari tatapan matanya memandang saya,... saya bisa merasakan...betapa kakak saya menyayangi saya lahir dan batin!"
Fifie tanpa sadar terisak.
__ADS_1
Ia menatap Indra. Kakak lelakinya yang seringkali ia susahkan.
Indra selalu sabar menjaganya di masa kecil. Indra tak pernah marah meskipun tas atau buku pelajaran sekolahnya Fifie rusak. Fifie suka sekali menggambar orang dengan tubuh segaris, tangan dan kaki segaris di sudut bawah di setiap lembar buku sekolahnya.
Indra sampai pernah menghajar wajah temannya ketika berani mengolok-olok kalau gambar Fifie seperti gambar anak idiot.
Fifie perlahan mendekat pada Indra. Ia merangkul tubuh kakaknya itu.
Akila adalah gadis yang hebat yang mampu membuka fikiran kenangan masa kecil beberapa orang menjadi terbuka.
Saudara sampai kapanpun tetap saudara. Didikan orang tua, yang selalu menginginkan tali persaudaraan antar keluarga selalu terjaga dan semakin erat walaupun banyaknya cobaan menerpa. Bahkan meskipun telah memiliki masing-masing keluarga.
Darah lebih kental daripada air.
Sudah selayaknya ikatan saudara tidak boleh diputus begitu saja hanya karena kesalahfahaman.
Fifie menangis dalam pelukan hangat Indra yang mengusap-usap lembut pucuk rambutnya dalam diam.
Lisa yang melihat keakraban kakak-kakaknya itu pun seperti agak mengiri dan berjalan perlahan menghampiri.
"Sini, adikku!" ucap Indra lirih.
"Mas! Hik hiks... Mama Papa kita telah tiada, Mas!"
Lisa terisak. Mereka kini berpelukan bertiga. Hanya Ellie yang menangis seorang diri. Demian yang melihat kesedihan itu berinisiatif menuntun sang Mama menghampiri kakak laki-lakinya itu.
"Sini, Ellie adikku!"
Elllie seketika pecah tangis.
Suara lembut Indra menyadarkan bahwa kakaknya itu juga menyayanginya. Sama seperti menyayangi Fifie dan juga Lisa.
Selama ini ia seringkali merasa Indra kurang menyayanginya. Hanya karena beberapa kali Ellie selalu kehabisan makanan yang Indra beli dari sekolah. Ellie seringkali hanya bisa menjilati sisa-sisa jajanan Indra.
Walaupun mereka anak orang kaya, tetapi tetap ada momen-momen disaat sang kakak pulang sekolah dengan membawa makanan jajananke rumah. Lalu adik-adiknya mengelilingi ingin makanan sang kakak. Ellie selalu kebagian sedikit karena Lisa dan Fifie lebih dahulu mendapatkan porsi lebih. Dan itu bukan sekali, sampai beberapa kali seperti itu. Memori kenangan itu tertanam terus diingatan Ellie bahkan sampai kini.
Teringat Indra kecil yang hanya memberinya hadiah ciuman di pipi sembari berkata, "Nanti besok Mas belikan kalian seorang satu deh! Biar adil!"
Tapi ternyata, kadang jatah hadiah jajanannya seringkali di makan lagi oleh Lisa. Si bungsu yang sangat suka sekali makan.
Ellie menangis dalam pelukan sang Kakak mengingat masa-masa kecil mereka.
"Kita ini harus akur! Papa Mama sudah tenang si Surganya Allah!"
Semua menangis mendengar ucapan Indra.
Bahkan Tio, Glen dan juga Rendy sendiri. Sesekali menyusut air mata yang jatuh di pipi. Berusaha tetap bersikap jantan tak ingin terlihat cengeng.
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1