
Gege hanya bisa keluar dari kamarnya, menelusuri anak tangga satu demi satu. Turun ke lantai dasar, kemudian keluar menuju taman belakang.
Sebuah kolam ikan di tengah rerimbunan pohon bunga mawar warna-warni, menjadi tempat Gege merenung dan mengembalikan kembali moodnya yang tadi anjlok.
Maaf, Deva...! Aku masih belum bisa menceritakan kejujuran masa laluku. Selain itu memang rahasia yang harus kujaga, bahkan sampai Papa Indra dan Mama Nani tiada. Begitu pinta mereka!
Gege menunduk.
Menarik nafasnya yang terasa berat. Seperti ada dua batu besar yang menghimpit. Sesak dan sakit di ulu hati.
Matanya perlahan mulai berkabut.
Seperti slice film yang diputar ulang kembali, ia nyaris saja meninggalkan keluarga ini untuk selamanya tiga tahun yang lalu.
"Gege, please...! Jangan tinggalkan Papa Mama! Jangan, pernah ingin pergi dari kami! Kami hanya memilikimu seorang, Gege! Kami tidak punya siapa-siapa!"
Masih jelas di pelupuk matanya, bagaimana Indra memohonnya untuk tidak pergi. Setelah memori ingatannya kembali utuh dan mengingat masa lalu yang terlupa selama 15 tahun lamanya.
Nani, yang selama ini dianggap seperti Ibu kandungnya sendiri bahkan sampai bersujud di ujung kakinya. Memohon untuk tetap tinggal dan menjalani kehidupan yang sudah mereka sepakati 15 tahun lalu.
"Mama...! Nama saya adalah Satria. Bukan Georgino Gunawan. Selama ini saya justru memanfaatkan Mama dan Papa demi untuk bisa hidup nyaman. Dengan berlindung memakai identitas putra kalian yang kini sudah menjadi malaikat suci karena meninggal di usianya yang baru lima tahun."
Nani menangis meraung-raung. Membuat Indra ikut menggelosorkan tubuhnya sembari memeluk tubuh sang istri.
"Kamulah putraku! Kamulah Gege kami! Georgino Gunawan! Yang kulahirkan 25 tahun lalu, Sayang! Jangan bilang Gege sudah tiada! Jangan katakan kalimat yang sangat Mama dan Papamu takuti selama ini! Jangan, Gege!!!"
Tangisan sedih Nani membuat 'Satria' ikut menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dan mereka menangis histeris, berpelukan bertiga.
"Aku ini hanyalah anak pungut kalian! Hik hiks...! Yang kalian tolong 15 tahun lalu. Yang hampir saja mati dipukuli Ayah tiri yang begitu membenciku! Hik hiks... Huaaa... Aaarrghh..."
Sakit kepala kembali menyerang Gege 'Satria' hingga ia berteriak-teriak tak tahan.
__ADS_1
"Jangan ingat-ingat itu! Jangan kamu ingat masa itu, Sayang! Ingatlah, kami ada bersamamu, Nak! Kamilah kedua orangtuamu, Gege! Hik hiks..."
Setelah tangisan yang memilukan itu di paviliun yang ditempati mereka selama 15 tahun, Gege masuk rumah sakit. Tentunya dengan rahasia yang di jaga ketat oleh Indra dan Nani dari Gunawan-Widia serta putri dan menantu yang lainnya.
Satria yang menggantikan kedudukan Gege meminta izin untuk rehat sejenak dan pergi dari istana besar kediaman Gunawan Wicaksono dengan alasan ingin melanjutkan kuliah S2 ke Negara Singapura.
Padahal itu hanyalah pembohongan publik saja. Itu hanyalah akal-akalan Indra, Nani serta Satria saja.
Indra membangun kerajaan bisnis kecilnya dibidang percetakan di kota K untuk diurus oleh Satria. Dengan alasan usaha itu harus berbuah manis beruntung besar sehingga Satria bisa mengembalikan jasa-jasa yang Indra Nani berikan padanya selama 15 tahun.
Sebenarnya pasutri itu tidak ada niatan meminta balas budi. Itu hanyalah akal-akalan agar sang putra angkatnya masih tetap bersinggungan dengan mereka meskipun tinggal berjauhan.
Hingga akhirnya, Sartria yang menjadi Gege pun luluh kembali hatinya. Papa Mama memang membutuhkan dirinya karena selalu mendapatkan tekanan dari keluarga mereka yang borju dan terbiasa hidup enak ongkang-ongkang kaki.
'Gege' mendengar sendiri bagaimana rencana busuk ketiga suami para tantenya yang tak lain adalah adik kandung papa angkatnya itu.
Satria tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Indra dan Nani. Merekalah yang selama ini menyayangi serta mengurusnya dengan sangat baik juga penuh kasih sayang.
Kakek Gunawan dan Nenek Widia pun sangat menyayanginya walaupun kenyataannya dia telah menipu keadaan dengan mengambil identitas asli sang cucu yang sebenarnya telah meninggal dunia diusia balita.
Terlahir sebagai anak tunggal dari kedua orangtua yang masih sangat muda bernama Anas dan Malika. Hingga rumah tangga mereka mengalami kehancuran karena sifat keduanya yang masih kekanak-kanakan. Mereka bercerai ketika Satria berumur empat tahun.
Anas pergi meninggalkan rumah warisan orangtua Malika. Meninggalkan Satria tanpa ada keinginan membawanya turut serta.
Satria hanya tinggal berdua dengan sang Ibu.
Diusianya delapan tahun, Ibunya menikah lagi dengan pria bujangan bernama Burhan. Sayangnya sang Ibu ternyata kembali salah memilih pasangan. Suami keduanya hanyalah seorang pria yang hanya mencintai dirinya sendiri serta uang sang istri.
Ibunya yang bekerja setiap hari sementara suami barunya hanya makan, tidur dan main saja kerjaannya.
Hingga Tuhan memberikan cobaan baru, Malika hamil.
__ADS_1
Sejak saat itulah neraka itu nyata di dunia bagi Satria.
Ayah tirinya mulai berlaku kasar padanya sampai berani memukuli tubuh ringkihnya. Apalagi setelah adik bayinya lahir.
Ibunya sering sakit-sakitan setelah melahirkan. Bahkan sampai tak bisa bangkit dari tempat tidur. Otomatis dia harus mengurus sang bayi sendirian.
Seorang bocah laki-laki berumur sembilan tahun lebih, mengurus bayi perempuan yang baru satu bulan. Bahkan pup, muntahan gumoh serta cairan ingus yang keluar dari sang adik harus pula ia bersihkan.
Ayah tirinya tak peduli. Bahkan jarang pulang ke rumah kecuali minta uang dengan paksa pada Ibu kandungnya.
Burhan sering melampiaskan amarah kekesalannya pada Satria. Tubuhnya sudah terbiasa mendapati pukulan demi pukulan Ayah tirinya yang jauh lebih biadab dari Ayah kandungnya.
Satria kecil setiap saat harus menyaksikan tragedi demi tragedi. Begitu juga ketika ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, Malika dipukuli oleh Burhan meskipun sudah jatuh tersungkur.
Hingga klimaksnya, Satria mengangkat batu besar dan memukulkannya ke arah kepala belakang Burhan.
Pria jahat itu langsung jatuh tak sadarkan diri dengan kepala bercucuran darah.
Malika yang melihat suaminya dihabisi putra pertamanya langsung menyuruh Satria pergi. Satria harus kabur sejauh mungkin demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Bocah sepuluh tahun kurang itu langsung berlari secepat kilat. Terlebih ketika dirinya tak mendapati Burhan bernafas meskipun tengah jatuh pingsan.
Beratus-ratus meter Satria berlari melintasi perkebunan singkong, sawah dan juga sungai yang berarus deras, demi melarikan diri dan tak ingin ditangkap Polisi karena melakukan pembunuhan.
Hingga tiba-tiba mobil yang dikendarai Indra nyaris menabraknya.
Itulah awal perkenalan Satria dengan pasangan suami istri Indra dan Nani.
Setelah terjatuh ke aspal dengan rasa kaget serta ketakutan yang super besar, Satria sampai lupa ingatan. Ia memang sering dihajar dibagian kepala dan juga pelipis kirinya oleh Burhan. Sehingga kemungkinan cidera gegar otak memang sudah dideritanya cukup lama.
Sampai puncaknya ketakutan Satria membawanya pada penyakit amnesia total karena tekanan trauma psikologis serta depresi berat.
__ADS_1
Bahkan Satria baru sadar kembali pada identitas dan jati diri aslinya setelah 15 tahun kemudian. Diusianya yang ke-25 tahun.
๐TO BE CONTINUE