SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Masa Lalu Geoegino Gunawan


__ADS_3

Georgino Gunawan pulang setelah 1x24 jam berada dalam ruangan rawat inap klinik rumah sakit dokter Rusli.


Ia pulang pukul delapan pagi dan langsung berangkat ke kantor pusatnya di wisma gedung perkantoran PT MAKMUR SENTOSA karena hari ini ada banyak surat serta dokumen penting yang harus ia tandatangani.


Beberapa diantaranya telah dihandle oleh Demian kemarin, karena ketidak-hadiran Gege ke kantor di hari pertama.


"Apa Kakak tidak bisa mengambil cuti sehari lagi untuk istirahat di rumah?" protes Deva yang sudah sangat mirip istri asli bagi Gege.


"Tidak bisa, Deva! Tanggung jawabku sangat besar dan berat untuk kuabaikan begitu saja! Nanti siang kita makan bersama. Tunggu aku di restoran junkfood American Warteg jam satu siang ini! Oke? Aku kerja dulu!"


Deva tak bisa berkata apa-apa lagi selain memperhatikan tubuh Gege turun dari mobil yang mengantar mereka keluar dari klinik rumah sakit.


Kemarin ia akhirnya mengambil keputusan untuk tetap bertahan di sisi Georgino dengan satu syarat, urusan surat nikah dan lain sebagainya harus Gege dan para pengacaranya benahi.


Deva juga minta untuk Gege mengantarnya mengunjungi ibu asuhnya di kota A hari minggu ini.


Hatinya belum tenang. Ia ingin menceritakan semuanya pada bunda Anne. Sehingga beban hidupnya yang berat juga diketahui sang bunda.


Dev teringat perkataan pak Hadi yang mengatakan kalau bunda Anne-lah orang yang seharusnya paling tahu keadaan dirinya. Bukan Gege atau siapapun itu.


"Pak Kiwil, tolong antar istri saya sampai masuk gerbang paviliun ya?" pesannya pada pak Supir yang bernama Kiwil.


"Baik, Tuan!"


Gege masuk ke dalam gedung perkantoran lewat aula lobi pintu utama.


Semua karyawan menanti kinerjanya di hari pertama. Namun kambuh sakit kepalanya sehingga ia gagal memperlihatkan kemampuannya memimpin perusahaan.


"Selamat pagi, Pak CEO!"


"Selamat pagi!"


"Selamat pagi, Pak Georgino!"


"Pagi!"


Semua karyawan mengucapkan salam hormat pada Gege. Tak ada yang tahu kalau kemarin ia sempat dirawat di klinik rumah sakit kecuali keluarga inti.


"Gege! Kamu sudah baikan?"


Surya Abdi ternyata sudah berada di kantor lebih dahulu beberapa menit lalu. Ia langsung menghampiri sang sepupu yang baru saja datang. Mereka jalan beriringan menuju ruangan Gege yang letaknya bersebelahan dengan ruang kantor Surya serta Demian.


"Aku baik-baik saja, Surya!"

__ADS_1


"Syukurlah! Kemarin Demian sudah menandatangani kontrak kerja joint venture dengan PT Prima Abadi dalam pemesanan mesin-mesin pabrik yang direset ulang untuk pabrik di kota D. Sudah di ACC om Indra juga!"


"Thanks, bro! Terima kasih banyak atas kerjasamanya!"


Demian yang baru saja tiba dan masuk ruang kantor tersenyum tipis melihat Gege dan Surya saling menepukkan satu telapak tangan kanan.


"Ada apaan sih, pagi-pagi heboh banget!"


"Aku senang, kinerja kalian lumayan hebat dan bisa diandalkan!" jawab Gege.


"Hm..., syukurlah jika tak mengecewakan!" timpal Demian.


"Sebenarnya kalau saja kita-kita ini dikasih kesempatan, ya bisa-bisa aja! Toh kita tinggal meneruskan kerjaan yang sudah ada. Hanya masalahnya, selama ini selalu dihandle oleh orang yang dirasa lebih kompeten dan pengalaman!"


Gege tahu, Demian sedang menyindir Papa dan Mamanya. Tapi ia tak mau cepat emosi juga naik darah. Seperti Papa angkatnya kata, perlahan semua orang di rumah ini akan menunjukkan kepribadiannya masing-masing. Topeng mereka akan semakin terbuka. Dan terlihat mana yang tulus dan mana yang akal bulus.


Ini hari pertamanya kerja.


Dibandingkan Demian dan Surya Abdi, secara keseluruhan Georgino adalah orang awam yang baru tahu selak-beluk perusahaan karena baru pertama kali berkecimpung. Selama ini ia selalu menolak jika Kakek menyuruhnya dan memberi mandat datang ke kantor meskipun sekedar sowan atau menemuinya di wisma gedung PT MAKMUR SENTOSA.


Dulu Gege selalu merasa kalau ia bukanlah bagian dari keluarga ini. Ia tak punya kapasitas untuk ikut campur didalamnya walau hanya seujung kuku.


Tetapi melihat Papa Mamanya yang bekerja keras sementara Tante-Tante dan para Om-nya hanya sibuk party pengusaha muda, seminar sana-sini tapi nol hasil dan tak diimbangi dengan kehadiran juga loyalitas pada perusahaan Gunawan yang justru menyokong kehidupan mereka sehari, Gege geram juga.


Begitu juga Papa Mamanya. Bahkan tak ada waktu untuk menemaninya yang kesepian di rumah sampai ia dewasa.


Satu hal yang membuat Gege kesal, perlakuan para Tantenya yang kurang menjaga sikap dan terkesan memandang Mamanya sebelah mata. Padahal Mamanya adalah istri dari kakak pertama mereka. Tapi karena kasta Mama Nani rendah dan dari golongan ekonomi lemah, mereka tak berniat menghormati Mamanya. Hingga suatu ketika,...


"Naniii...! Naniii!"


"Naniii! Gege, dimana Mamamu?"


"Ada di dapur, Tante!"


Gege hanya mematung melihat kedua tantenya itu masuk paviliun mereka tanpa permisi.


Kala itu usianya masih sekitar 14-15 tahunan.


Ellie dan Fifie mendatangi Mamanya yang sedang memasak di dapur.


"Heh! Kenapa pencairan cek Mas Glen dan Rendy gak di ACC kak Indra?'


"Kamu kira kami ini pengemis, harus selalu meminta-minta belas kasih dari kak Indra? Atau jangan-jangan kamu yang sering jadi kompor buat kak Indra untuk mengurangi jatah pengeluaran kami, ya?"

__ADS_1


Gege terkejut. Ellie mendorong Mamanya sampai terpojok.


"Mama!" pekiknya kala itu.


"Apa Gege Kesayangan Tante Ellie? Kami hanya mengobrol santai koq! Hehehe..."


Gege segera menjaga Nani dari perlakuan kasar adik-adik iparnya. Ia kini sudah berani untuk melawan, setelah sekian lama hanya diam dan mengamati dari kejauhan bagaimana para putri-putri Gunawan Wicaksono memperlakukan Mama Angkatnya.


"Mama baik-baik saja khan?" tanyanya pelan.


"Iya Gege! Terima kasih sudah menjaga Mama!"


Gege tahu, Nani tidak sedang baik-baik saja. Ia juga tahu, Nani bukanlah istri yang suka mengadu keadaannya yang tertekan pada sang suami.


Nani mirip seseorang yang selalu ingin ia ingat, siapa dan apa hubungannya dengan Gege kala itu.


Setiap kali Gege memaksakan otaknya untuk berfikir, rasa sakit di kepala menyerangnya tanpa ampun. Hingga ia seringkali berteriak kesakitan sampai di cap menderita gangguan mental bipolar oleh ketiga Tante dan Omnya.


Kakek Gunawan bahkan sempat menyuruh Papa Angkatnya untuk pergi berobat ke luar negeri. Tapi ditolak Indra dengan halus karena Gege sedang rutin pengobatannya.


Ingatan Gege pulih normal tepat ketika usianya menginjak 25 tahun.


Seorang Sales Promotion Girl minuman kesehatan mendatanginya yang sedang duduk di taman setelah berlari berputar mengelilingi taman kompleks perumahan.


"Mas...! Selamat pagi, saya mau promosi boleh? Ini ada produk baru minuman isotonik kesehatan yang sangat menyegarkan. Dan sangat membantu mengembalikan cairan tubuh yang hilang setelah jogging keliling taman. Minuman ini sangat berkhasiat untuk menjaga kebugaran tubuh karena didalamnya terdapat zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita seperti air, larutan gula asli, karbohidrat dan elektrolit serta zat osmolaritas yang sangat baik juga mudah diserap tubuh. Dengan minum pcari sweat, Mas akan merasa segar kembali dan lebih bugar!"


Georgino menatap wajah SPG lapangan yang sangat imut itu.


"Hei, berapa usiamu? Apakah kamu sudah cukup umur untuk bekerja sebagai SPG lapangan?" tanya Gege dengan nada menyelidik.


Ia sama sekali tak mementingkan semua tutur kata gadis imut dihadapannya. Namun dandanan menor serta pembawaan genit tak mampu menutupi kalau gadis yang sedang mempresentasikan dagangannya itu masih sangat muda usianya.



"Saya bermaksud menawarkan produk yang saya jual, Mas! Bukannya pertanyaan tentang berapa usia Saya! Ish, Mas ini orang Depnaker ya? Memang Mas mau jadi sugar daddy saya kalo saya nganggur alias gak kerja!"


Gadis itu malah melontarkan jawaban yang tak Gege sangka.


"Kepo banget tanya-tanya umur! Mentang-mentang udah dewasa, lantas seenaknya age shaming! Mas ganteng, tapi sori...saya gak minat karena Kakak saya paling ganteng se-dunia!"


"Hei! Koq kamu nyolot! Aku khan cuma tanya umur! Aku cuma prihatin dan khawatir kamu ini dimanfaatin oleh boss besarmu di perusahaan karena usiamu sepertinya masih dibawah umur! Jangan-jangan kamu ini masih bau kencur dan masih SMP, ya? Dandananmu gak pantas seperti itu!Hei..., hei! Kenapa kabur?!"


Gadis imut itu berlari kencang, membuat Gege pun refleks mengejar.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2