SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
MUSIBAH


__ADS_3

Pukul tiga sore, Georgino kembali ke Ibukota. Pak sopir terlihat sedikit panik wajahnya ditengah perjalanan menuju Ibukota.


"Kenapa Pak?" tanya Gege merasakan ada yang tidak beres dengan mobil yang ditumpanginya.


"Rem blong! Mesin seperti ada yang mengotak-atik, Boss!" lapornya dengan suara gugup agak terbata-bata.


Keringat dingin perlahan mengucur di keningnya yang berkerut cemas.


"Apa lajunya bisa diakali untuk memperlambat kecepatan?" tanya Gege membuat pak sopir mencoba mengakali sesuai arahan sang CEO.


"Agak susah, Boss!"


Gege terdiam. Mereka saling menahan nafas mendapati situasi yang mulai tak terkendali.


Ia hanya bisa diam menatap tajam ke depan, kearah jalanan kota kecil nan sepi.


Pak Andi, sopir yang menyetir mulai semakin panik karena jalanan makin melebar dan pengguna jalan makin banyak.


Agak was-was sedangkan kecepatan kendaraan mereka saat ini sudah mencapai batas normal umum 60km/jam. Tetapi karena rem blong dan mesin mengalami ketidakstabilan, tentu menyusahkan untuk kendaraan berjalan dengan normal.


Gege semakin fokus menatap ke depan. Begitu pula sopirnya yang seolah lupa bernafas. Sesekali ia menukik bermanuver ke kanan dan ke kiri menghindari kendaraan roda dua yang ada di sebelah kanan dan juga yang menyalib dari sebelah kiri.


Hingga...


Cekiiiit... BRAK! GUBRAK GUBRAK GUBRAK!!!


Wusss...!!!


Kecelakaan lalu lintas tidak dapat mereka hindarkan. Mobil pajero milik Gege terguling beberapa kali setelah menabrak mobil bak yang membawa kayu gelondongan dari arah berlawanan.


Suasana seketika ramai orang ditempat kejadian. Mereka adalah warga sekitar dan juga para pengguna jalan yang menepi sekedar ingin tahu keadaan serta kondisi korban.


Gege sendiri kondisinya tak sadarkan diri, dengan dahi berlumuran darah terbentur benda tumpul yang melayang kena kepalanya ketika mobil berguling beberapa kali.


Keadaan Pak Andi juga tak lebih baik dari Gege. Ia juga pingsan dan separuh wajahnya terkena serpihan kaca jendela mobil yang pecah berhamburan setelah berbenturan keras dengan mobil dugul pembawa kayu.

__ADS_1


Hampir setengah jam, ambulan dan pihak kepolisian baru tiba di tempat kejadian perkara.


Gege dan Pak Andi akhirnya mendapatkan penanganan serius dengan dibawa ke rumah sakit umum daerah setempat.


Kabar kecelakaan Gege langsung diterima keluarga besar Gunawan via telepon dari pihak kepolisian yang menangani.


Indra dan Nani seketika panik.


Begitu juga Gunawan serta Widia.


Tapi yang paling shock adalah Devana. Baru kemarin ia dan Gege saling membuka diri, menceritakan kisah hidup mereka berdua yang selama ini tertutup rapat.


Indra langsung mendatangi rumah sakit Serang tempat Gege dan pak Andi dirawat.


Ia langsung menemui kepala rumah sakit setempat untuk mendapatkan persetujuan memindahkan Gege ke wilayah Ibukota saat itu juga. Dan negosiasinya berhasil. Gege kemudian dibawa ke RS Swasta Elite Ibukota malam itu juga untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius.


Sementara itu di kantor pusat keesokan hari ramai terdengar berita CEO Georgino yang kecelakaan lalu lintas.


Demian dan Surya Abdi kini mau tak mau harus menghandle semua pekerjaan yang biasanya ditangani Gege.


Tio dan Glen bahkan sampai mendatangi kantor pusat, karena Gege kecelakaan dan Indra sibuk mengurus putra semata wayangnya itu.


"Siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan lalin yang Gege alami?" tanya Tio tegang.


"Hei, apa maksudmu Tio? Kau pikir aku ini gila ya, bergerak secepat itu? Sudah pasti aku tak sefrontal itu walau niatku memang menghabisi anak itu!" jawab Glen membuat Demian menghela nafas.


"Pa, please deh! Kenapa kalian ini bisa segegabah ini? Kalian menyabotase mobil Gege? Kalian sengaja menyebabkan Gege celaka? Atau bahkan..., ingin Gege mati?"


"Dem! Aku juga punya otak. Baru seminggu Gege pegang jabatan! Mana mungkin Aku melakukan pekerjaan rendah itu saat ini? Aku akan lakukan itu setelah keadaan perusahaan stabil, bukan sekarang disaat semua orang masih meragukan kinerja dan kemampuan si Gege!"


Tio, Surya Abdi juga Demian hanya bisa saling pandang.


"Mungkin ini murni kecelakaan!" timpal Surya.


"Iya. Kita ga boleh terlalu tegang begini! Seolah kita adalah tersangka yang menyebabkan Gege kena musibah!"

__ADS_1


"Kau yang ribut semalam di telepon khan?" umpat Tio pada Glen. Mereka berdua memang punya banyak rencana untuk menurunkan Gege dari tahta. Dengan menekan putra-putra mereka berdua sebagai Wakil CEO, Tio serta Glen merasa yakin kalau Gege akan lengser dan hanya menjabat dalam waktu beberapa bulan saja dengan menyatukan kekuatan diantara mereka yang tak menyetujui Gege jadi CEO.


"Gege menyimpan banyak kebohongan! Ericko bukan putra kandungnya. Aku juga yakin, Devana bukan istri yang sebenarnya. Semoga CEO itu koma untuk jangka waktu yang lama. Jadi kalian bisa memegang stempel tanda tangannya dan mudah meng-ACC kontrak kerja yang kita lakukan! Hehehe..."


Glen memang sangat akrab dengan Tio. Seakrab Demian dengan Surya Abdi.


Tetapi baik Demian juga Surya Abdi memiliki pemikiran sendiri yang mereka simpan di fikiran masing-masing.


Seperti Demian, yang memang memiliki kecurigaan sedari awal tentang hubungan Devana dan Georgino yang ia rasa janggal.


Surya Abdi pun melihat sisi lain dari Georgino yang sangat misterius baginya.


Bertemu untuk pertama kalinya, ketika Georgino masuk istana Gunawan ketika berumur 10 tahun dan Surya serta Demian 8 tahun.


Surya masih sangat ingat, bagaimana keadaan Gege yang tak mirip dengan anak-anak orang kaya pada umumnya.


Gege memang tampan sedari kecil, tapi tubuhnya kurus dan kulitnya agak hitam. Gege kecil sangat pendiam dan selalu mengenakan pakaian panjang. Baju lengan panjang dan celana juga selalu panjang.


Surya ingat, ia pernah mencoba menarik tangan Gege kala itu. Ia penasaran, seperti ada yang Gege sembunyikan pada tubuhnya.


Dan..., Surya melihat tangan Gege banyak bekas luka yang cukup mengerikan di pangkal lengannya. Tapi baru saja ia hendak bertanya perihal luka yang Gege miliki, sepupunya itu tiba-tiba teriak histeris membuat Surya ketakutan. Gege sakit kepala sampai berguling-guling di lantai. Meraung-raung seperti orang yang kurang sehat akal fikirannya sampai Om dan Tantenya membawa Gege ke rumah sakit.


Surya juga masih mengingat, Gege memang sering bolak-balik di rawat di rumah sakit. Itu sebabnya, Gege dipindahkan sekolahnya dari sekolah Surya dan Demian. Kata om Indra, untuk memudahkan Gege pulih daru trauma.


Tapi Surya tak pernah tahu, Gege memiliki trauma apa. Setiap kali ia mencoba bertanya, Om dan Tantenya hanya tersenyum saja.


Surya dan Demian juga tsk pernah bisa akrab dengan Georgino Gunawan. Karena sepupunya itu pendiam parah. Jarang bicara apalagi bercanda pada mereka. Gege lebih suka tertawa dan jadi pendengar setia celotehan ngasal mereka. Tak pernah jadi pusat perhatian lewat perkataan apalagi tingkah konyol seperti Surya maupun Demian.


Itu sebabnya sang Nenek lebih sering menjuluki Demian dan Surya pecicilan karena tak sekalem dan se-cool Georgino Gunawan.


Surya Abdi kembali teringat pada gambar foto yang jatuh dari tas milik Akila tadi pagi.


Itu... adalah foto Georgino Gunawan dimasa kecil.


Surya masih sangat ingat dengan jelas seperti apa wajah Gege dikala itu. Kurus tinggi, kulit agak gelap. Dan, gambar foto yang Akila akui sebagai Satria kakak kandungnya benar-benar Surya yakini kalau itu adalah Gege. Dari luka-luka parut yang masih memerah di tangan kanan dan kiri anak lelaki di foto itu.

__ADS_1


Hhh...


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2