SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Seperti Gulungan Benang Yang Kusut


__ADS_3

"Indra! Sebelum Mamamu terserang stroke dan anfal jantungnya, beliau mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti!"


Seketika Indra dan Nani membisu menatap nanar wajah Gunawan Wicaksono.


"Apa kata Mama, Pa?"


"Aku harus menyampaikannya, karena Mamaku selalu menangis meratap memohon setiap kali kami bertemu. Tapi aku tak tahu maksudnya. Dia bilang, Kau dan Nani harus menceraikan Devana dari Georgino. Itu katanya! Tapi aku tidak mengerti kenapa Widia sampai bisa berkata seperti itu. Padahal selama ini dia begitu menyayangi Devana juga Ericko, cicit pertama kami!"


Indra menelan saliva. Nani menunduk dengan tangan dingin dan basah.


Sepertinya dugaan mas Indra benar. Mama Widia telah mengetahui persekongkolan nikah kontrak yang Gege lakukan bersama Devana! Gumam hati Nani resah.


"Apa kalian mengetahui kira-kira apa yang menyebabkan Mamamu jadi seperti itu pada hubungan rumah tangga putra kalian?"


"Kami, akan mencoba mencari tahu, Pa! Apa Mama tidak bisa berobat ke dokter spesialis saraf yang lebih profesional dan terkenal kehebatannya, Pa?"


"Mamamu sudah tua, Indra! Semua dokter terhebat sekalipun, semua mengangkat tangan. Dan hanya mukjizat serta keajaiban Tuhan saja yang bisa menyembuhkannya!"


Indra, Nani dan Gunawan saling terpekur diam. Mereka tak berani berkata apapun. Hanya duduk dengan perasaan dan fikiran bercabang.


...............


Di kota yang berbeda.


Tiara telah mengantongi cukup banyak bukti. Walau hanya mengorek keterangan dari dua bocah perempuan berusia delapan dan tiga belas tahun, ia lumayan terpuaskan.


Bunda Anne tak sempat ia temui. Tetapi ia bisa menginterogasi dua adik angkat Devana dan Akila dengan cukup waktu.


Sepucuk amplop Tiara titipkan sebagai uang donasi untuk diberikan kepada bunda Anne jikalau pulang nanti.


"Terima kasih, Kak!"


"Sama-sama. Tolong sampaikan salam Kakak ya, buat Bunda! Baik-baik ya kalian. Jangan bikin susah Bunda! Dan semoga selalu sehat semua!"


"Aamiin! Makasih, Kak Tiara!"


Interaksi yang manis. Tapi Tiara menang banyak.


Hatinya dipenuhi dengan keinginan untuk cepat sampai ke paviliunnya dan bertemu kedua orangtua serta adiknya.


Bukti yang ia dapatkan sangat mengejutkan. Bahkan justru bukti yang ingin ia cari dari Georgino malah menghilang dan tak mendapat jawaban. Tetapi bukti baru mengarah pada sesuatu yang bersinggungan juga dengan Georgino, Sang CEO pilihan Kakek.


"Andai semua orang tahu siapa Devana sebenarnya. Akankah semuanya masih tetap ramah dan lembut pada perempuan sok polos itu? Ck! Aku benar-benar akan membawa berita besar ini!" kata Tiara pada dirinya sendiri dalam perjalanan pulang.


Sementara Surya Abdi mencoba kelihaiannya dalam menggoda Akila. Ia menchat gadis muda itu untuk makan siang bersama.


Tak sulit baginya, seperti biasa.


Akila kini duduk di hadapannya dengan bola mata bulat bersinar membesar.


Makanan pesanan Surya Abdi satu persatu datang dan dihidangkan sang pelayan.


Makanan super makan yang tak pernah Akila makan sebelumnya.


Setengah jam yang lalu, Akila sempat galau. Ia sejujurnya tak ingin mengambil kesempatan makan ditraktir boss CEO III.

__ADS_1


Akila yakin, sebentar lagi dirinya akan tenar dan terkenal karena makan siang bersama Surya. Tapi mengingat uang sakunya yang tinggal seratus ribu saja, mau tak mau Akila menerima ajakan sang wakil CEO itu.


Bodo amat pandangan orang! Yang penting aku cuma makan siang saja. Dan kalau dia macam-macam, bisa kulaporkan pada CEO Georgino! Aman khan? Hhh... Ternyata hidup di kota besar apalagi jantung negara ini tidaklah mudah. Butuh pengorbanan dan modal luar biasa! Hiks...! Aku gak punya uang buat pegangan! Sementara untuk menchat bu Widia, malu rasanya. Tapi, kenapa beliau tak menelponku seperti biasa ya? Ini sudah hari keenam beliau tak online hapenya.


Alika hanya bisa bergumam dalam hati.


Kini ia tak terlalu risaukan omongan orang. Perutnya yang lapar, lebih penting.


Buat apa memikirkan busa sabun deterjen kalau itu tak mampu mencuci otak mereka yang kotor penuh iri dengki.


Biar saja mereka naik pitam. Kebakaran jenggot dan kasak-kusuk semakin tak karuan. Yang penting Ia kerja dengan benar dan tidak salah langkah dalam melakukan pekerjaan. Itu nasehat bunda Anne yang selalu diingat Akila.


"Mari makan! Itadakimasu!"


"Hah?!? Itadaki...apa?"


"Hahaha..., bahasa wong Tegal itu, Kil!"


"Jyaaa! Hahaha...! Boss CEO III bisa aja! Pantes itu bawa-bawa daki si ita segala!"


Tersedak Akila karena tertawa lebar.


Matanya melotot dan wajahnya memerah.


Surya langsung menepuk-nepuk pundak Akila dengan sigap hingga memberinya minum air putih.


"Uhuk uhuk! Uhuk!"


"Pelan-pelan makannya Nona! Hehehe..."


"Uhuk! Kila pikir ini bukan sambal. Pedasnya, hiks...naudzubillah! Huaaa..."


Merah padam wajah Akila. Terlihat jelas kenorakannya di mata Wakil CEO itu menurutnya.



Akila hanya bisa menepuk dahinya dan memejamkan mata. Tentu saja Surya jadi tergelak melihat tingkah lucunya.


Ini cewek sudahlah imut, lucu dan tak jaim pula orangnya! Sangat menyenangkan jika selalu bersamanya. Suasana hatiku jadi ceria.


Tiba-tiba...


Treeet... treeet... treeet


...Tiara is calling...


Surya Abdi memberi kode pada Akila, kalau ia pamit sebentar untuk mengangkat telepon.


"Hallo, Tiara? Sudah sampai mana kamu?"


...[Surya! Aku sudah di rumah. Dan mau tau gak hasil penyelidikanku? Hehehe...penasaran dong!]...


"Hei! Ada apa? Aku pulang pukul limaan. Ada rapat sebentar dengan para pemegang saham pukul tiga sore ini. Bagaimana? Betulan kah Gege adalah penghuni yayasan panti disana?


...[Hahaha... Bukan! Gege tidak terdeteksi pernah tinggal di sana. Berarti fix, Gege bukan dari panti itu. Tapi,... ternyata... penghuni terlama panti itu adalah, jeng jeng...]...

__ADS_1


"Wei kutu kupret! Cepetan ish! Aku sedang maksi bersama Alika! Anak baru yang masuk lewat jalur khusus Nenek kita! Aku juga sedang dalam misi mencari keterangan dari gadis polos itu!"


...[Hahaha...! Okey, jangan kaget ya?! Kau tahu, Sur? Ternyata... Akila itu masuk lewat jalur khusus dari Nenek melalui Devana!]...


"Devana? Istrinya Gege? Apa...mereka saling kenal? Maksudmu apa?"


...[Devana adalah anak yatim piatu terlama di yayasan itu! Dan Devana, memang sudah menikah. Tapi bukan dengan Georgino Gunawan!]...


"Hah?!? Apa kamu bilang???"


...[Suaminya baru saja meninggal dunia. Dia dan anaknya rupanya diusir oleh pihak keluarga suaminya. Dan... kini tinggal di Ibukota untuk bekerja. Itu kabar yang adik pantinya ceritakan padaku!]...


Surya menarik nafas yang sempat terlupa beberapa detik barusan.


Semua prediksinya jauh dan ternyata bahkan sangat unbreakable. Tak terjangkau dari daya fikirnya.


Semula ia mengira Gege anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Om Indra dan Tante Nani. Ia hanyalah sedang berperan sebagai anak kandung demi untuk mendapatkan warisan harta Kakeknya yang lumayan besar.


Ternyata...


...[Hei, Surya! Surya Abdi! Apa kamu masih mendengarku?]...


"Ya. Ya sudah, nanti malam aku akan menemuimu di paviliun!"


...[Okay]...


Klik.


Surya Abdi mematikan ponselnya. Lalu kembali masuk ke dalam restoran Jepang.


"Akila! Apa kamu sudah bertemu Kakak kandungmu?" tanya Surya pada gadis imut yang tengah makan dengan lahap itu.


Akila menggeleng.


"Belum, Boss!"


"Sekiranya kamu bertemu, lantas mau apa?"


"Ya ga mau apa-apa juga sih! Cuma mau... Kakak saya tahu kalau saya masih hidup. Mungkin selama ini Dia mengira saya sudah tiada dari dunia ini! Mungkin pula dia tak pernah memikirkan mencari saya. Tapi saya selalu berdoa pada Tuhan yang Maha Esa, semoga kami ditertemukan kembali dalam kebaikan. Seperti begitu doa almarhumah Ibu saya untuk kami berdua!"


Akila kini dalam kondisi begitu serius. Ia sampai menghentikan makannya yang lahap karena banyaknya menu makanan istimewa yang Surya pesan.


Mengapa gadis ini terlihat sangat anggun, kuat dan percaya diri? Apakah Akila sama sekali tidak tahu dan tidak ikut terlibat persekongkolan ini?


"Akila!"


"Ya, Boss?"


"Apa kamu sudah pernah bertemu istrinya Gege?"


"Istri pak Boss CEO Georgino? Belumlah. Hehehe...! Sama pak Boss CEO saja baru tadi Saya ketemu beliau! Ternyata, orang yang pernah saya temui di tiga tahun lalu! Hehehe...! Lucu juga ya, kalau diingat !?"


Akila tersenyum sendirian.


Sementara Surya Abdi menatapnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Mirisnya. Gadis ini benar-benar tidak tahu kalau Kakak pantinya adalah istri dari CEO Georgino Gunawan! Hhh...


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2