
Pukul dua belas malam Deva keluar dari kamar Gege. Hatinya gamang, fikirannya kacau. Gege benar-benar membuat otak Deva seolah tak bisa bekerja dengan baik. Bingung dengan tingkah laku Tuan Muda yang menyewanya sebagai istri kontrak.
Dengan hati dongkol, Deva tidur di kamar Ericko bersama suster baru yang Gege sewa dari yayasan penyalur babysitter.
Bi Fani masih libur, sedangkan hari ini Devana wajib hadir ke gedung wisma perusahaan kakek Gege untuk menyaksikan pelantikan suami kontraknya.
Esok hari Gege mulai bekerja dan akan pulang kantor sore hari. Otomatis semua waktunya akan lebih banyak di kantor ketimbang di rumah.
Kedua sepupunya juga mendapatkan tugas yang sama. Wajib ngantor setiap hari, tak lagi sebebas hari-hari lalu.
"Sayang! Tidak buatkan sarapan untuk Gege?" Widia nyelonong masuk ke kamar Gege, karena melihat pintu kamar Gege sedikit terbuka.
Widia dan Gege saling berpandangan.
"Kamu sendirian? Mana Deva?"
"Tadi subuh Ericko menangis minta di peluk Deva, Nek!" kata Gege, tentu saja bohong. Ia tak ingin sang Nenek curiga berfikir macam-macam tentang keadaan mereka yang tidur secara terpisah.
"Oh begitu, ya? Ya udah, Nenek ke kamar Ericko dulu ya?"
Gege membantu sang nenek dengan mendorong kursi rodanya ke arah kamar Ericko.
"Tak perlu diantar, Ge! Biar nenek jalan sendiri!"
"Tak apa, Nek! Gege sudah selesai, sekalian ingin lihat wajah putra kesayangan. Apa sudah bangun atau belum."
"Oh gitu..! Hehehe..."
Nenek gemas melihat Ericko yang baru saja bangun tidur.
"Hai, Sayang! Oalaa, anak tampan! Baru bangun tetap tampan!" puji sang Nenek membuat Deva menoleh ke arah Nenek dengan wajah senang. Ia segera berdiri dan membantu Gege menggantikannya mendorong kursi roda Widia.
"Kenapa itu disudut mata kiri Ericko?" tanya Gege pada suster Titi.
"Kemarin Aden jatuh terjungkal, Tuan! Kena ujung meja belajar, jadi tergores dan berdarah sedikit." Jawaban suster Titi tidak memuaskan Gege.
Ia mendekati Ericko, mengecup sebelah mata bocah imut yang terpasang plester penutup luka.
"Muacht, jagoannya Papa anak paling pintar sedunia!"
Deva memalingkan wajahnya. Ada rasa kesal menggondol di hati. Gege sedang berakting lagi.
"Tolong jangan lengah menjaga putra saya, sus!"
"Baik, Tuan! Maaf, kemarin saya kurang waspada!"
"Lain kali lebih sigap lagi!"
__ADS_1
"Iya, Tuan!"
Gege menatap kembali Ericko. Ia tersenyum, melihat senyuman putra Devana yang menggemaskan.
Ingatannya menerawang, mengingat masa-masa kecilnya yang menakutkan dulu. Gege berusaha mengingat nama adik bayi yang dulu membuatnya benci bayi setengah mati. Tetapi hanya membuat Gege sakit kepala, hingga tanpa sadar berteriak memegangi kepalanya yang seperti mau pecah.
"Aaarrrghh! Aaarrrggghh!!!"
Awalnya Devana mengira Gege hanyalah akting. Ternyata, Gege semakin berteriak keras. Membuat semua yang ada di situ cemas dan khawatir. Bahkan Ericko sampai ikut menangis histeris, melihat Gege yang tampak begitu kesakitan.
Untung saja, Indra dan Nani belum berangkat ke kantor. Hari ini mereka berencana pindah kerja ke kantor anak cabang yang lokasinya berada di pinggir kota.
"Gege! Gege!"
"Nani, cepat telepon dokter Rusli! Kabari kalau kita akan datang ke kliniknya setengah jam lagi!"
Mama Gege segera mengambil ponsel dan melakukan panggilan suara.
Deva bingung dan gugup. Ia hanya bisa menatap sedih Georgino Gunawan yang masih teriak histeris karena kesakitan.
"Deva, sebaiknya jangan ikut! Biar Gege, kami saja yang urus!"
Devana hanya mengangguk dengan wajah kebingungan. Kedua mertuanya seperti tak menginginkan dirinya mengurus sang suami.
Seperti membuka luka lama.
Dulu, Chandra mendapatkan perlakuan istimewa juga dari kedua orangtuanya. Dan lagi-lagi seperti de javu, kini Gege juga seperti halnya Chandra. Dan Deva seolah merasakan ada sesuatu yang Papa dan Mama Gege sembunyikan. Sama seperti dulu Papa dan Mama Chandra menutupi penyakit Chandra.
Tuhan!... Apa yang sedang Engkau rencanakan untukku ini? Meskipun Gege hanyalah suami bohongan karena hanya nikah kontrak, tetapi rasa sakit dihati ini nyaris sama seperti saat Chandra menjelang meninggal dunia!
Deva bergegas keluar paviliunnya. Mengejar kendaraan yang dikemudikan Indra membawa Gege ke rumah sakit.
"Papa, Papaaa!..."
"Deva, ada apa?"
"Izinkan Deva ikut Kak Gege! Jangan biarkan Deva sendirian dalam ketidakpastian ini!"
"Deva, kami akan membawa Gege ke klinik rumah sakit. Nanti kami akan kabari segera!"
"Deva ikut, Ma! Hik hiks... pokoknya Deva mau ikut!" pinta Deva memohon dengan airmata berlinang di pipi.
"Ya sudah, ayo naik, Deva!"
Deva senang. Ibu Mertuanya akhirnya luluh dan mengajaknya turut serta.
Ia duduk di samping Gege. Dengan satu tangan memijat pelan kepala pria itu dan satu tangannya lagi memegangi jemari Gege yang basah.
Georgino tak lagi berteriak-teriak kesakitan. Tetapi kini diam dengan kedua mata tertutup. Wajahnya pucat, kedua telapak tangannya basah.
__ADS_1
Devana mengusap peluh Gege di keningnya yang sebesar biji jagung.
Ia mulai terisak, bayangan saat-saat Chandra hendak meninggal dunia seolah menari-nari di kelopak matanya.
"Yang, Yang...! Hik hiks...! Bertahanlah, Yang! Demi aku juga Ericko! Hik hiks! Jangan tinggalkan kami, Yang! Kalau kamu pergi..., bagaimana dengan nasib aku dan Coco nanti, Yang!"
Air mata Devana semakin berderai jatuh, tak terbendung. Kini Nani pun sampai terhanyut dengan ucapan-ucapan lirih Deva yang menyayat hati.
"Gege akan baik-baik saja, Deva! Jangan khawatir, Sayang! Doakan Gege segera sehat dan normal kembali seperti sedia kala!" ucap Nani mengembalikan kesadaran Deva kembali.
Ia berusaha tegar. Menghapus airmatanya berkali-kali, namun lelehannya seolah tak mau berhenti.
"Dev!" Suara Gege memanggilnya pelan.
"Iya, Kak!?"
"Aku..., hanya sakit kepala, Dev! Jangan khawatirkan Aku!"
"Hik hik hiks...huaaa..." Deva tak sanggup menahan kesedihannya. Ia memeluk erat tubuh Gege. Mengusap pelan raut wajah pria yang masih memejamkan matanya sembari meringis menahan rasa sakit di kepala yang tak tertahankan.
"Janji, jangan tinggalin aku dan Coco! Hik hiks..."
"Iya, Deva! Selama aku masih hidup, kalian berdua adalah tanggung jawabku!"
Gege mengucapkan kalimat yang makin membuat Deva ambyar. Tangisnya makin pecah. Kali ini bahkan Gege pun ikut menangis mengenang kesedihan masa kecilnya dahulu.
Terbayang semua teriakan Ayah kandung, tangisan keras adik bayi, kemudian berganti pula teriakan hardikan Ayah tirinya. Semua silih berganti seolah menekan jiwa raga Satria alias Gege hingga lemas semua tulang persendiannya.
Banjir airmata, isak tangis kesedihan yang sejatinya baik Gege maupun Deva sedang menyesali nasib buruk mereka sendiri. Nasib buruk yang sangat ingin mereka ganti dengan nasib baik yang berlimpah kasih sayang.
Keduanya semakin rapat berpelukan sembari menangis bersamaan. Hingga seperempat jam, barulah keduanya tersadar dan perlahan diam dengan menghapus sisa air mata di pipi.
Gege sendiri merasakan sakit di kepalanya perlahan hilang. Ini adalah kali pertama penyakit misteriusnya itu sembuh dengan sendirinya.
Biasanya ia harus opname sehari sampai dua hari dengan suntikan obat penenang dan bantuan cairan infus vitamin minimal sebotol penuh.
Kini, ia hanya merasa kaku di bagian tengkuk. Dan biasanya berangsur-angsur hilang setelah ia berendam air hangat di bathtub.
Gege dan Deva saling pandang dengan tatapan malu. Kedua mata mereka sembab, karena habis menangis. Jari jemari pun masih saling bertautan hingga terdengar celetukan Indra yang membuat Deva termangu.
"Apa kalian kini benar-benar dalam keadaan saling jatuh cinta?"
Gege dan Deva sama-sama diam. Tak ada yang berani menjawab selain perlahan melepaskan pegangan tangan masing-masing.
Apa maksudnya Papa Indra? Kenapa bertanya pertanyaan aneh seperti itu?
Devana hanya bisa bertanya dalam hati.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1