
"Mas Hadi?"
Anne senang melihat kedatangan Hadi kembali setelah hampir setengah tahun tak pernah datang lagi berkunjung.
"Apa kabarmu, Anne?"
"Baik, Mas ! Mas Hadi sendiri bagaimana kabarnya?"
"Seperti yang terlihat, Anne!" jawabnya santai. Keduanya saling berjabat tangan.
"Senang melihatmu sehat. Masuk, Mas! Aku buatkan dulu minuman, ya?"
"Terima kasih, An!"
Hadi berjalan perlahan memasuki rumah yayasan yang Anne bangun 22 tahun lalu. Masih bangunan yang sama walaupun ada sedikit renovasi ruang tambahan di sampingnya.
"Bagaimana kabar anak-anak?" tanyanya pada Anne yang terlihat sibuk mengaduk larutan gula dan teh.
"Alhamdulillah baik semuanya, Mas!"
"Yang masih sekolah tinggal berapa orang? Sepertinya kamu harus mulai menolak tambahan anak lagi karena sudah terlalu banyak, Anne!"
"Hehehe...! Begitu ya harusnya. Yang masih sekolah SMA dua orang, SMP tiga, SD ada lima. Empat Paud dan dua lagi masih batita. Hehehe..."
"Waduh? Kukira tinggal sedikit lagi, ternyata makin banyak ya?"
"Hehehe...Iya. Aku gak tega nolak mereka ketika pertama kali datang ke rumah ini, Mas! Kupikir, semoga bisa jadi ladang amal ibadahku di akhirat nanti!"
"Hm..., tapi dunia juga butuh uang. Terus, uang untuk sekolah mereka bagaimana?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, rezeki kami masih Allah lancarkan. Ada saja orang baik yang mau berbagi dengan kami. Dan anak-anak semua disini sangat baik. Mau menolong Bundanya dengan meringankan beban dari cari uang tambahan sepulang sekolah mereka. Sebenarnya aku sedih, Mas! Tapi mau bagaimana lagi!"
"Iya. Itu yang kadang jadi pikiranku juga, An!"
"Syukurlah, kakak-kakak mereka yang sudah bekerja juga sering membantuku meringankan beban! Ardian, Akila, juga Kalila sering menyisihkan uang dari gaji untuk adik-adik mereka."
"Termasuk Devana?" celetuk Hadi ingin tahu.
"Devana...!" Netra Anne langsung berkabut mendengar Hadi menyebut nama Devana.
"Mas! Apa Mas pernah melihat putri pertamaku itu? Atau, pernah sekali jumpa deva?"
Pertanyaan Anne membuatnya terbelalak. Ternyata Anne sudah mengetahui keadaan Devana yang sebenarnya.
"Ada apa dengan Devana?" tanyanya pura-pura tak tahu.
Hadi menatap wajah Anne yang terlihat cemas.
Ingin sekali ia mengatakan yang sesungguhnya. Anne sudah seperti saudara bagi Hadi, setelah pertemanannya yang tanpa sengaja terjalin berkat perintah Widia pada Hadi untuk mengawasi Devana putri Gunawan.
"Apa Deva sama sekali tak memberimu kabar?"
"Sejak menikah, anak itu seolah menjauh dariku dan menutupi permasalahan hidupnya. Hapenya kadang tak aktif beberapa minggu, dan baru menjawab japrianku dengan langsung menelpon. Itupun hanya sebentar."
"Apa dia sedang ada masalah?"
"Aku rasa seperti itu, Mas! Tapi dia tidak pernah mau memberitahuku soal keadaannya. Aku pernah ingin menyambangi rumah keluarga suaminya, tapi dilarang Deva dengan alasan masih sibuk dan lain-lain alasannya! Sejak Deva melahirkan, ia makin jarang mengirim kabar. Walaupun Chandra rutin mengirimi kami transferan setiap bulan, tapi jujur aku bingung. Terlebih setelah itu nomor kontak Deva tak lagi aktif!"
Hadi hanya bisa menghela nafas. Salivanya terasa pahit mendengar ucapan demi ucapan Anne.
__ADS_1
Ingin Hadi mengatakan kalau baru saja beberapa hari lalu ia berjumpa Devana dalam keadaan baik dengan suami kontraknya.
Hadi mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya. bingung, pusing dan tak tahu lagi harus berbuat apa.
Hanya doa saja semoga Deva dan Anne dapat segera bertemu serta saling melepas rindu.
Teringat wajah Deva yang berurai airmata mengungkapkan kerinduannya pada Bunda Anne tapi terkendala masalah yang sedang dihadapinya.
Padahal masalah Deva sebenarnya masih akan terus bertambah di depannya. Karena kisah hidup aslinya jauh lebih menggegerkan dari kisah perjanjian nikah kontraknya dengan Georgino Gunawan.
Entah apa yang akan terjadi jika Devana sampai mengetahui jati dirinya yang asli. Entah bagaimana pula tanggapan Gunawan jika mengetahui kalau ia memiliki putri dari hubungan terlarangnya dengan putri adik iparnya itu.
Sungguh kenyataan yang rumit dimengerti.
Hadi meneguk teh manis buatan Anne sampai habis tak bersisa.
Kebingungannya tak dapat terhapus meski telah minum satu gelas penuh air teh manis suguhan Anne.
"Ini sedikit uang untuk anak-anak! Aku pamit, ya Anne! Semoga Devana cepat kembali dan kalian bisa segera melepas rindu. Aku hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kalian semua!"
Ia pamit dengan banyak doa. Fikirannya kembali menerawang pada pertanyaan Demian tentang nama yayasan panti asuhan milik Anne.
Hadi mengatakan kalau yayasan itu kini sudah tidak ada lagi. Ibu Anne sudah pindah dari kota A sejak Devana menikah dengan Georgino. Begitu jawabannya.
Lagi-lagi Hadi harus terlibat dengan lingkaram kebohongan yang membelitnya dengan dosa-dosa.
Kini ia hanya bisa pasrah pada Tuhan saja. Hendak seperti apa jalan ceritanya. Meskipun rumit, tapi hidup harus tetap ia jalani. Dan kesulitan harus mampu ia atasi.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1