
Kak Chandra! Aku datang, Kak! Ini putra kita, Ericko Tersayang Kita. Kak! Andaikan kau ada di sini bersama kami, pasti kamu pun akan bahagia sama seperti kita! Papa Mama telah merubah pola fikirnya. Mereka telah menerimaku dan juga Ericko sebagai bagian dari keluarga mereka! Terima kasih, Kak! Akhirnya kini aku dan Coco bisa bernafas lega. Mereka mengakui Coco sebagai cucu mereka!
Devana terpekur menatapi nisan makam yang bertuliskan nama sang suami. Air matanya jatuh berderai. Sementara Ericko sedang terlelap dalam dekapannya. Dan Anton Lee siaga di sebelahnya.
Acara seratus hari kematian sang suami baru saja selesai. Devana berinisiatif menuangkan air doa di atas pusara Chandra.
"Kakak! Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan jadi perempuan yang lebih kuat lagi kedepannya. Ericko adalah putra kita satu-satunya! Akan kurawat dan pastinya kujaga sekuat tenaga. Walau harus bertaruh nyawa, hanya Ericko-lah harta berharga kita satu-satunya, Kak! Tunggu aku di syurga, kelak kita pasti akan Tuhan persatukan lagi!" ucapnya lirih namun pasti.
Setelah berziarah ke makam Chandra, Devana meminta Anton untuk segera mengantarnya pulang ke paviliun Gunawan.
"Deva, bisakah kita merawat dan mengurus Ericko bersama?"
Pertanyaan Anton Lee langsung Devana tolak.
"Maaf, Kak Anton! Saya akan besarkan putra saya sendiri. Jangan khawatir, walaupun usia saya baru akan 23 tahun. Tapi saya cukup percaya diri akan mampu membimbing putra saya seorang diri. Mohon maaf sebelumnya. Bukan maksud Saya terlalu pede dan menolak tawaran baik Kak Anton. Tapi, biarkan kami hidup tenang tanpa adanya gangguan. Saya tidak ingin yang lain! Hanya ingin ketenangan saja! Sekali lagi terima kasih! Dan ini, sertifikat-sertifikat untuk Ericko, Saya kembalikan pada Kak Anton saja! Saya percaya, Kak Anton bisa mengelolanya sampai nanti Ericko dewasa!"
Devana telah mengambil sikap tegas. Ia menolak tawaran Anton Lee untuk masa depannya dan Ericko Putra saat ini.
Bukan sombong karena dirinya kini telah berstatus anak orang kaya. Tetapi penerimaan tulus kedua orangtua almarhum Chandra sudah lebih dari cukup baginya.
Devana lelah dan ingin cepat pulang. Hanya itu keinginannya saat ini.
"Berarti tidak ada kesempatan kita untuk bekerja sama meskipun dalam bisnis?" tanya Anton minta penegasan.
"Mungkin lain kali, Kak! Saat ini, ada yang ingin saya lakukan!"
"Baiklah! Saya tidak bisa memaksamu, Dev!"
Anton Lee akhirnya menyerah kalah. Ia hanya bisa mendoakan kebaikan untuk hidup Devana serta Ericko Putra kedepannya. Namun sebelum Devana turun dari mobil di gerbang paviliun Gunawan, Anton sempat mengatakan kalau untuk urusan pendidikan dan asuransi jiwa Ericko, dialah yang akan mengaturnya.
Devana mengucapkan banyak terima kasih pada Anton.
Walau bagaimana pun, Anton sudah seperti kakaknya juga. Dan kebaikannya tak kan pernah Deva lupakan.
Demian berdiri di teras paviliun utama.
Ia senang melihat Devana pulang.
Dengan setengah berlari pria itu menyambut kedatangan sang Tuan Putri yang sehari semalam ia pikirkan selalu.
"Selamat datang kembali ke Indopasar!" candanya sengaja untuk menggoda.
Tetapi wanita yang diharapkan akan membalas candaannya itu hanya tersenyum tipis.
"Kak, maaf... Dev langsung ke kamar ya? Mau istirahat. Oiya, besok kita ketemu di kantor ya? Besok hari pertama Deva kerja khan ya?"
Demian hanya bengong mendengar perkataan Devana yang langsung menaiki anak tangga. Ericko Putra terlelap dalam pelukannya.
__ADS_1
Hari yang sore telah berganti senja. Hari yang melelahkan pastinya bagi Ericko dan Devana.
Tetapi menjadi hari paling mengecewakan bagi Demian yang seharian menunggunya.
Treeet... treeet... treeet...
"Hallo? Akila?"
...[Kakak..., hik hik hiks!]...
"Akila kenapa? Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Devana kaget sekali mendengar isak tangis Akila di seberang panggilan ponselnya di pukul sembilan malam.
"Akila?"
...[Hallo, Deva! Ini aku, Surya. Dev, Akila sekarang lagi ada di rumah sakit. Dia dirawat karena keracunan makanan! Oiya, sebentar lagi Gege jemput kamu. Ikut dia, untuk menjenguk Akila ya?]...
"I-iya."
...Klik....
Devana tercekat. Akila masuk rumah sakit.
Ia bersyukur, Surya Abdi sudah menangani adik pantinya itu dengan sangat baik. Sehingga ada sedikit kelegaan di hatinya.
Treeet... treeet...
...[Iya. Aku baru saja dapat kabar itu! Sekarang aku akan menjemputmu, Dev! Mungkin sekitar setengah jam lagi!]...
"Kakak jangan ngebut! Hati-hati di jalan! Aku siap-siap dulu!"
Klik.
Hari yang sibuk bagi Devana.
.............
Flasback On...
Tok tok tok
"Boss Surya? Pagi-pagi gini udah ada di kantor?"
Akila terkejut melihat Wakil CEO tempatnya bekerja kini tengah berdiri di depan pintu kamar mess-nya.
"Boleh masuk gak?"
__ADS_1
"Nanti ada gosip-gosip aneh, Boss!"
"Gosip aneh akan muncul kalau aku dibiarkan terus berdiri di teras mess mu tanpa diperbolehkan masuk!"
Akila baru tersadar. Ucapan Surya Abdi benar. Ia segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan orang nomor dua di perusahaannya kini masuk ke dalam mess nya.
Surya dengan cuek melangkah masuk. Lalu terus berjalan mengitari ruangan dan duduk di atas kasur busa mess Akila.
Yassalam, ini boss! Ck ck ck..., enak amat duduk manis di atas kasur gue! Hiks! Mentang-mentang Boss, ya! Hm...
"Ada apaan sih, Boss? Saya baru mau mandi dan siap-siap berangkat kerja! Bisa ga, minta tolong boss tunggu di kantor saja?"
"Lha? Kamu ngusir aku?"
"Bu-bukannya ngusir, Boss! Tapi...,"
"Kamu mandi saja sana! Aku cuma lagi sidak, ternyata kamar mess cukup enak juga ya? Dan..., walau agak kecil ruangannya. Tapi..., kayaknya kita bakalan jadi tetanggaan nih mulai besok!"
"What???"
"Jangan kaget gitu, Kila! Emang kenapa kalau Wakil CEO ingin merasakan kamar mess karyawan? Ada larangan? Hm?"
Serah elo dah, Boss! Suka-suka kau lah! ABSS, Asal Boss Senang Sajalah!
Akila mengurut dahinya.
Diliriknya jam di dinding. Pukul enam pagi.
Ekor matanya kembali melirik Surya Abdi. Terlihat pria tampan itu sedang mengamati seluruh ruangan mess Akila.
"Ga ada AC ya?" tanyanya seperti bergumam.
Akila hanya tersenyum kecut lalu menghela nafas pendek.
"Boss! Saya mau mandi!"
"Ya mandi saja! Memangnya mau aku mandiin!"
Seketika melotot biji mata Akila.
"Boss! Ish, si Boss lama-lama ngeselin!"
"Benar khan ucapanku?!? Salahnya dimana? Mau mandi ya tinggal masuk kamar mandi. Aku tunggu di sini, gak ikut masuk kamar mandi koq!"
Hhh... Kumat maning Boss Ganteng-Ganteng Sengklek!
Akila akhirnya kalah. Ia masuk kamar mandi sembari membawa pakaian kantornya serta ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Biasanya ia hanya membawa handuk. Dan berpakaian dengan santai di dalam kamar. Kini terpaksa agak sedikit ribet karena Bossnya yang tiba-tiba muncul di hari yang masih sangat pagi ini.
...๐TO BE CONTINUE...