SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Percikan-Percikan Keributan Gege Dan Deva


__ADS_3

Surya duduk manis di depan meja makan. Matanya berbinar indah, menatap ke arah mangkuk berisi sup ayam yang menggugah selera harumnya.


"Nasinya sengaja Dev beri hanya sedikit. Mengingat Surya seorang anoreksia dan penderita asam lambung, ditambah ini sudah hampir pukul sebelas malam. Jadi, kita sruput sayur sop aja ya!?"


Surya mengangguk dengan wajah riang. Mirip anak TK yang antusias ingin cepat-cepat mencicipi hidangan yang tersaji di depan mata.


"Itadakimasu!" kata Surya perlahan menyendok sejumput sayuran sop dari mangkuk saji.


Ia adalah orang yang sangat lambat dalam mencerna makanan. Mungkin karena mengidap penyakit susah makan, sehingga sangat hati-hati sekali mengunyah dan menelan makanan yang ia masukkan kedalam mulut.


Tetapi..., Surya benar-benar merasa sangat terbantu oleh keajaiban tangan Deva dalam meracik makanan yang tanpa perlawanan, bisa masuk dengan mulus ke dalam kerongkongan dan usus besarnya.


Bahkan, Surya mengambil nasi sesendok demi sesendok walau dengan sangat lama. Tetapi Deva yang ikut makan bersama turut memperhatikan diam-diam.


"Nasinya berserat!" puji Surya pelan.


"Sengaja Dev kasih bubuk agar-agar untuk memudahkan pencernaannya!" jawab Deva lengkap dengan senyuman.


"Bo-boleh... minta tambah sayurnya lagi?" Surya malu-malu menyodorkan mangkuk sayur miliknya yang telah kosong.


"Boleh dong!"


Deva tersenyum seraya mengisi kembali mangkuk sup Surya.


"Terima kasih!"


Malam itu, Surya seperti merasakan sedang candle light dinner bersama Deva.


Dalam khayalannya, Devana adalah bidadari cantik yang selama ini ia cari-cari.


Perempuan sederhana, paket lengkap yang memikat hati Surya dengan menjadi juru rawat penyakit yang sudah lima tahun ini begitu menyiksa diri. Cantik, manis, dan bisa mengimbangi dirinya yang seringkali meluap-luap emosinya karena belum ada yang sanggup meredamnya.


Devana, ia tatap dengan tatapan super lembut. Namun seketika lamunannya buyar. Pancaran matanya meredup. Teringat seketika wajah garang Gege yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari perempuan yang berhasil memenangkan hatinya.


"Hhh..."


"Ada apa? Apa..., makanannya tidak enak? Apa Surya berasa mau muntah?"


Deva yang melihat Surya menghela nafas segera menanyakan keadaannya.


"Gak koq, Dev! Justru kebalikannya! Rasanya, membuat Surya ingin mempersunting Dev jika masih sendiri. Sayangnya Dev milik Gege! Itu yang membuatku menghela nafas!"


Dev menundukkan kepala dengan tersenyum tipis.


"Jangan ngomong gitu ah! Surya bikin Dev terbang melayang ke angkasa! Dev ini ibu rumah tangga satu anak. Surya pasti punya gadis ideal yang jauh lebih tinggi seleranya dibandingkan dengan Deva! Hehehe..."


"Deva justru adalah perempuan yang selama ini kucari! Paket lengkap, nyaris sempurna! Kekurangannya, hanyalah soal pertemuan kita yang terlambat. Andaikan Aku bertemu kamu dua tahun sebelum bersama Gege, mungkin saat ini... Ericko adalah putraku ya!"


"Hehehe...! Udah ah becandanya! Dev pamit. Surya juga, segera tidur."


"See you tomorrow, Deva. Sweet dream! Boleh khan Surya sering-sering minta tolong Deva untuk buatkan makanan kalau lapar?"


Deva tertawa kecil.

__ADS_1


"Kalau sempat, pasti akan Deva buatkan!"


"Terima kasih! Terima kasih banyak, Devana!"


Surya hanya bisa memandangi punggung Deva yang perlahan menaiki anak tangga dan menghilang.


Hatinya merasakan denyut yang lain. Ada perasaan kosong, hampa juga sedikit rasa sakit.


Ia pernah merasa hal seperti ini sebelumnya. Lima tahun lalu, Surya memiliki seorang kekasih yang sangat ia cinta. Wulan namanya. Cinta pertama sekaligus kekasih pertama pula yang membuatnya jadi seperti sekarang ini.


Wulan juga adalah anak seorang pengusaha kaya raya. Kehidupan Surya nyaris sama dengan Wulan. Hingga suatu ketika, keadaan membuat situasi percintaan mereka berubah.


Perusahaan Orangtua Wulan mengalami resesi. Papa Mamanya memutuskan untuk bercerai karena konflik rumah tangga yang tak berkesudahan ditambah ekonomi anjlok sampai memiliki hutang miliaran di Bank Negara.


Wulan depresi. Kekasihnya itu shock mengetahui keadaan keluarganya yang hancur tiba-tiba karena tak sanggup melawan kejamnya dunia.


Untuk menyembuhkan Wulan, Surya sampai mengambil kuliah jurusan keperawatan maternitas. Itu semua ia lakukan demi Wulan. Bahkan sampai tak peduli pada diri sendiri, serta pada kesehatan diri pribadi.


Surya bertahan selama enam bulan dalam ketidakpastian Wulan yang labil.


Namun kenyataan pahit menyiksa harga dirinya, hingga nyaris dirinyalah yang hancur seperti orang gila.


Wulan yang sembuh, justru menerima pinangan seorang duda pengusaha di tanah Borneo. Tentunya demi masa depan yang telah pasti dengan pria mapan itu.


Tidak seperti dirinya, yang masih Wulan anggap bagaikan pengusaha setengah matang. Yang masih gantung karena belum memiliki perusahaan.


Status Surya Abdi kala itu hanyalah putra dan cucu pengusaha terkenal saja. Tetapi terlepas dari embel-embel Papa serta Kakeknya, Wulan hanya menganggapnya nothings.


Tanpa sadar Surya Abdi melempar mangkuk sup kosongnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping remahan beling porselennya.


Perutnya mual ingin muntah, tapi ia tahan mengingat makanan yang barusan masuk perutnya adalah hasil buah karya Devana yang penuh ketulusan.


Merah wajah Surya menahan rasa sakit di pencernaannya. Bahkan sampai menetes bulir-bulir air matanya. Berusaha menjaga supaya tidak sampai muntah.


Surya mengingat kembali wajah polos Devana yang semangat ketika memasak tadi. Hampir menghabiskan waktu setengah jam lebih, jemari mungilnya yang cekatan mengiris wortel, memotong daging ayam filet, mengeprek bumbu-bumbu dengan cobek di tengah malam seperti ini, membuat rasa sakit yang Surya alami berangsur-angsur hilang.


Aku tidak boleh mengecewakan Devana! Jangan! Jangan sampai muntah karena emosiku yang naik kala mengingat kekejaman Wulan! Hiks...hiks! Devana sudah begitu baik mau memasakkanku sup pukul sebelas malam. Bahkan seorang istri sekalipun, akan sangat jarang kutemui jika dimintai waktu untuk memasak tengah malam begini!


Devana yang perlahan masuk kamar Gege, kini merebahkan tubuh ke atas sofa. Ia bergegas tidur dengan menarik selimutnya.


Perutnya sudah tak lagi lapar, setelah makan malam yang lewat bersama Surya Abdi sepupu Gege.


"Kukira kamu gak akan tidur di kamar ini! Bi Fani baru akan masuk kerja lusa, katanya! Bagaimana kinerja suster Ericko yang baru?"


Deva tersentak, Gege ternyata masih belum tidur dan bertanya juga padanya.


Kukira dia akan tetap diam dan gengsi menanyaiku lebih dulu! Fikir Deva.


"Iya. Suster Titi baik. Ericko juga nyaman seharian bersama suster Titi!"


"Syukurlah!"


Keduanya kembali terdiam. Suasana menjadi hening.

__ADS_1


"Devana,"


"Ya?!"


"Bisakah kita mengobrol tanpa emosi? Aku..., aku butuh teman mengobrol!"


Seketika Deva teringat poin-poin yang Gege tuliskan di balik surat perjanjian nikah kontrak mereka. Salah satunya adalah ia harus mengikuti peraturan tanpa banyak bantahan.


"Dev," panggil Gege lagi.


"Hm? Apa aku harus pindah ke ranjang untuk menemanimu mengobrol?" tanya Deva.


Namun pertanyaan Deva bagaikan sindiran sengit di pendengaran Gege.


"Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa aku harus meningkatkan uang konvensasi menjadi 200 juta? Baru kamu mau menurutiku? Kenapa kesannya aku ini seperti korban yang kena tekanan sana-sini? Maju kena, mundur kena!"


Gege marah. Ia meluapkan kekesalannya dengan banyak kata yang makin tak dimengerti Devana.


"Ternyata benar ya, orang semakin kaya akan semakin tengil! Contohnya adalah Tuan Muda Georgino Gunawan! Tuan CEO yang terhormat! Dan asal Tuan tahu, sebaiknya perjanjian nikah kontrak kita batalkan! Cukup sampai disini!"


Grep.


Seketika tubuh Gege meloncat menyergap Deva tanpa perempuan itu kira sebelumnya.


Wajah mereka kita terlihat sangat dekat.


"A_apa maumu?" tanya Deva panik.


"Sekali lagi kau ucapkan kata-kata itu, aku...,"


Tiba-tiba bibir Gege *****4* bib*r Devana.


Seketika melotot kedua bola matanya, kaget tak terkira.


Deva berusaha mendorong dada bidang Gege. Nafasnya tersengal, dadanya turun naik. Tak menyangka sifat crancy Gege justru memicunya berbuat diluar batas.


"Kurang ajar!"


Plak


Gege menunduk. Malu hatinya menerima tamparan pedas dari jemari mungil istri kontraknya itu.


"Aku tak tahu lagi, harus seperti apa dan bagaimana caranya memberimu pengertian agar kau mau tetap bertahan di sampingku sampai enam bulan ke depan! Aku harus bagaimana, Deva?!"


Deva terkejut. Pandangan mata Gege terlihat seperti orang yang frustasi. Bahkan ada riak-riak kabut kesedihan yang jelas sekali di mata Gege.


"Mengapa kau mau supaya aku bertahan mengikuti permainanmu mengecoh semua anggota keluargamu termasuk kedua orangtuamu? Apa yang kau dapatkan dengan penipuanmu ini, Georgino Gunawan? Hanya demi uang? Demi harta dan jabatan? Dan kau sampai bertingkah sejauh ini sedangkan kenyataannya semua anggota keluarga ini begitu baik dan menerimamu apapun kondisinya!"


"Kamu tidak tahu, Deva! Kamu belum tahu dan belum kenal semuanya!"


Dasar pria yang sangat tinggi halusinasinya! Harusnya kau jadi seorang penulis cerita atau pembuat naskah skenario film karena daya fikirmu yang kelewat melambung!


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2