SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Ketakutan Dan Kecemasan Devana


__ADS_3

Devana kembali ke kamar Gege dengan wajah pucat dan nafas ngos-ngosan.


Ia memang berlari secepat mungkin menghindari konflik dengan Anton Lee. Devana takut kalau pria itu mengikuti dan mengejarnya sampai ruang inap Gege, suami kontraknya.


Sebelum masuk dan membuka pintu kamar Gege, Deva berusaha merapikan dulu penampilannya yang tadi acak-acakan.


Hampir sepuluh menit, ia berdiri lama di depan pintu. Dengan mata menatap sekeliling, kanan dan kiri. Khawatir juga kalau tiba-tiba Anton Lee muncul dan melihatnya dengan Georgino Gunawan.


Kreeek...


Wajah tampan Gege tersenyum melihat kedatangan istri kontraknya itu.


"Sudah selesai makannya?"


"Sudah!"


Gege mengangguk sembari mengerjapkan dua bola matanya.


"Sini! Istirahat! Tidurlah di sini!"


Mendapati perlakuan Gege yang lembut dan tulus, seketika hati gundah Devana kembali membuncah.


Tangisnya pecah, kepalanya ia telungkupkan dan wajahnya tenggelam di kasur samping Gege.


"Hei, hei... kenapa?" tanya Gege bingung.


Pria itu agak kesulitan mengangkat wajah Devana karena selang infusan masih terpasang di urat nadi tangan kirinya.


"Devana! Dev...! Kenapa?" tanyanya sembari mengusap-usap rambut Deva lembut.


Devana tak tahu harus berkata apa. Ia ingin sekali menumpahkan semuanya, tapi tak bisa. Devana tak mampu bercerita. Hanya dengan isak tangis saja, berharap hatinya yang resah perlahan akan membaik dan kembali kuat seperti harapannya.


Setelah agak tenang, Devana mengangkat wajahnya. Terlihat kedua kelopak matanya yang sembab.


Jemari Gege mengusap lembut pipinya. Kini ia hanya memberikan tatapan tanpa sepatah kata kalimat tanya dari bibirnya.


"Kangen Ericko, ya?" tanya Gege setelah cukup lama diam dan hanya memberikan perlakuan istimewa menghapus air mata Devana.


"Mau pulang? Pulanglah! Aku gak apa-apa koq disini sendirian! Pulanglah, Dev! Tidurlah bersama Coco! Mungkin Coco menangis juga karena rindu kamu! Ada yang bilang, chemistry ibu dan anak itu sulit dimengerti. Tapi aku mengerti, beberapa hari ini pasti Coco kangen sama kamu. Pulanglah, Dev!"


Deva menelan salivanya.


Ia menatap tajam mata Gege.


Hubungan kita ini sebenarnya apa? Sepasang suami istri? Itu hanyalah perjanjian kontrak saja! Sepasang kekasih? Tidak. Karena tidak ada ungkapan yang terucap darimu juga dariku! Sepasang sahabat? Mungkinkah kita ini bisa dikategorikan sebagai sepasang sahabat? Tapi aku merasa, kita ini hanyalah rekan kerja saja. Hhh...! Tapi kenapa hatiku merasa senang mendapat perlakuan manis darimu, Kak Satria?

__ADS_1


Devana menunduk. Ia mengangguk.


Devana pun memutuskan pulang ke paviliun Gunawan Wicaksono, malam ini juga. Ada kekhawatiran Anton masih berkeliaran di sekitar rumah sakit dan mencoba mencari-cari keterangan tentang dirinya.


Ancaman Anton tadi terdengar sungguh-sungguh. Devana harus membuat strategi untuk melawan pria yang barusan membuatnya berteriak kalap di ruang kantin rumah sakit yang sedang ramai.


Hampir saja Deva menceritakan soal Anton pada Gege yang baru saja siuman tadi siang karena kecelakaan yang dialaminya.


Gege belum begitu sehat kondisinya. Deva harus bisa menahan diri untuk tidak minta pendapat Gege perihal permasalahannya.


Apa yang Devana khawatirkan memang tak salah.


Anton masih terbengong di halaman rumah sakit yang luas. Orang-orang lalu lalang, hilir mudik menjadi perhatiannya. Berharap ada perempuan yang membuat emosinya naik tadi itu lewat.


Benar saja.


Devana lewat dengan tergesa-gesa.


Wanita itu memilih naik ojek online agar bisa cepat sampai tujuan.


Anton yang melihatnya, tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan.


Ia segera berlari masuk kedalam kendaraannya. Menarik gas pedalnya dan meluncur mengikuti Devana secara diam-diam.


Terlihat agak sulit memang untuk mengejar. Tapi Anton memiliki alat radar pelacak yang cukup canggih sehingga ia bisa menemukan target meski sempat kehilangan jejak.


"Benar saja dugaanku! Ck ck ck...! Ternyata kau simpanan pejabat kaya rupanya!" gumam Anton pada dirinya sendiri.


Devana terlihat turun di depan rumah yang sangat besar. Anton mengamatinya dari kejauhan. Khawatir juga ia kalau sampai diketahui sedang menguntit dan mengintai.


Otaknya berfikir keras mencari jalan agar ia bisa masuk ke dalam rumah itu juga dan mempermalukan Devana.


Anton melihat jam tangannya. Pukul sembilan malam.


Setelah diam beberapa saat, Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan memikirkannya di tempat tinggal sementaranya di sebuah penginapan di daerah Selatan Ibukota.


.............


"Sayang, belum bobo'?"


Devana langsung merengkuh tubuh putranya yang basah penuh keringat dan air mata.


"Entah ada apa hari ini. Coco menangis terus sepanjang hari, Dev!"


Devana menghela nafas. Keterangan bi Fani padanya sudah ia fahami. Kontak batinnya dengan Ericko benar-benar erat seperti yang Gege bilang.

__ADS_1


Kini ia hanya bisa memeluk erat Ericko dan menenangkan kegundahan hatinya yang kemungkinan besar sama dengan kecemasan hati Devana.


Anton Lee, sepupu Papanya Coco. Tiba-tiba mengatakan kata-kata yang menyeramkan bagi Devana. Apalagi itu semua menyangkut kehidupannya dan Ericko.


Empat bulan lagi, ia sudahi perjanjian nikah kontraknya. Tinggal empat bulan lagi. Tapi kenapa harus bertemu Anton Lee dengan suasana emosi hati panas tak terkendali.


Devana mengingat sorot mata Anton. Jauh berbeda dengan Anton yang dahulu ia kenal. Walau sikap Anton jutek dan dingin di awal jumpa, tapi Anton tak segahar tadi.


"Ini nih, bini lo Chand?" tanyanya ketika Chandra mengenalkan Devana pertama kali di rumah besarnya.


"Iya, Ton! Devana Wandira! Istri gur tercinta!"


"Yaelaaah...! Baru nikah sebulan tapi terdeteksi bucin parah! Hadeh..."


Waktu itu Deva hanya tersipu. Chandra merapatnya erat. Bahkan ketika jemarinya dan jemari Anton berjabatan, Chandra langsung menariknya sambil berkata, "Jangan lama-lama! Bisa jatuh cinta lo liatin bini gue!"


Chandra menyemprot Anton dengan kata-kata gaulnya yang terdengar songong. Mereka sepupuan, tapi tinggal bersama sedari kecil. Itu sebabnya kedekatan diantara keduanya sudah terjalin sangat erat.


Hari demi hari Devana bisa melihat sendiri betapa mereka layaknya kakak dan adik. Bahkan untuk urusan kemeja sampai cel*na d*l*m pun seringkali mereka bertukar pakai.


"Chand, mana semp*k gue yang lo pinjem dua minggu lalu?"


"Woi, dodol Garut! Bisa gak sih ketok pintu kamar gue dulu sebelum masuk? Sekarang ada bini gue nih!!! Anj*ir!!! Maen slonong boy otak mafia! Sengaja lo ya mau ngintip kita lagi senam SKJ 88?"


"Eh buset, gue lupa! Hahaha...! Anak set*n!!! Emangnya gue mau liat bodi lo yang polos tanpa sehelai bulu pun goyang Karawang model anak s*kau kebanyakan nyedot lem A'ibon!?"


Brak bruk brak


Mereka pun terlibat perkelahian bohongan ala bocah. Begitulah mereka. Sampai setengah tahun Devana melihat pemandangan aneh tapi nyata, karena usia mereka bukan lagi remaja melainkan sudah 22 tahun dan 24 tahun kala itu.


"Dev, makan Dev!"


"Lo kira bini gue itu emak lo!!! Seenaknya minta makan sama bini gue!"


"Ck! Tibang gitu doang, medit bin merki lo! Awas lo! Kalo gue punya bini, jangan minta ini itu sama bini gue!"


"Ya. Gue ga akan minta apapun sama bini lo! Dan gak akan juga gue nyaksiin pernikahan lo nanti!"


Deg.


Jantung Devana berdenyut sakit.


Ucapan Chandra kala itu memang jadi kenyataan. Kini dia telah tiada. Dan memang tak akan pernah merepotkan Anton dan istrinya. Hhh...


Devana memeluk tubuh Ericko yang perlahan tenang dan tertidur di bahunya.

__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2