
Widia sudah pulang dari rumah sakit tempat ia dirawat. Hanya butuh waktu sehari semalam saja, karena Widia menolak tinggal disana lebih lama. Ia memang tak pernah betah bau rumah sakit. Dan Gunawan memahami itu sedari muda dulu.
Gege juga sudah pulang ke rumah.
Kini posisi mereka kembali satu atap.
Akan tetapi, Widia menolak mendapatkan kunjungan dari Gege maupun Devana untuk masuk ke kamar pribadinya. Itu sangat membingungkan semua anggota keluarganya termasuk Gege dan Deva sendiri.
"Ada apa Nenek menolak dijenguk Gege dan Deva? Bukankah mereka berdua adalah cucu kesayangan Nenek, ya?"
"Aneh! Ada apa dengan Nenek?"
"Apa..., mungkinkah Nenek mengetahui rahasia antara Gege dan Devana?"
"Hah?!? Rahasia? Rahasia apa?"
"Rahasia kalau Ericko itu bukan putra kandung Gege!"
Kasak-kusuk antara para cucu pun terjadi. Mereka menerka-nerka sebab musabab Nenek jadi seperti itu.
Nenek mereka saat ini memang kondisinya sedang tidak kondusif. Selain tidak bisa bicara, Widia juga tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya seperti dulu.
Dulu hanya kakinya saja yang sakit dan tak mampu digunakan. Kini bahkan tangan serta tubuhnya juga sehingga Widia hanya bisa berbaring saja di atas ranjang.
Indra dan Nani makin cemas dengan keadaan Mamanya.
"Jangan khawatir, dan jangan diambil hati! Mungkin hormon Mamamu belum stabil, jadi masih sulit dimengerti apa maunya!" ujar Gunawan pada putra dan menantunya itu.
Ia berusaha menenangkan keadaan para cucunya juga. Bahwa Widia bukan tak mau dijenguk Gege maupun Devana. Tapi takut keduanya menjadi sedih berkepanjangan melihat keadaannya sekarang. Secara Gege juga baru saja sembuh dan pulang dari rumah sakit akibat kecelakaan tempo hari.
Akhirnya para cucunya hanya bisa saling pandang dan mengangguk mengiyakan perkataan Sang Kakek yang kini terlihat lebih tua dari minggu lalu.
Devana yang cemas, berusaha menyelinap masuk kamar Widia. Ia sangat ingin menemui wanita baik hati yang selama ini mendukungnya.
Ia juga ingin mendukung Widia dan mendoakannya agar segera sembuh, pulih kembali.
Widia sedang tidur ketika Devana berada dihadapannya.
Melihat wajah Widia yang pucat dan kulitnya yang makin bergurat, Devana diam-diam terisak menangis. Ia berharap keadaannya bisa sampai akhir di paviliun ini.
Devana ingin menyelesaikan perjanjian kontraknya nikah dengan Gege tanpa huru-hara.
Papa Indra sudah memberinya jaminan, mungkin sekitar tiga bulan lagi semua rencananya bisa dijalankan.
Tetapi melihat kondisi wanita lanjut usia yang sedang sakit itu, hati Devana merapuh juga.
Tak tega rasanya jika ia harus meneruskan sandiwaranya menjadi istri Gege sampai 4 bulan kedepan.
Ia ingin jujur pada Widia. Tetapi Widia justru seolah tak ingin melihat wajah Devana dan melarang untuk masuk ke dalam kamarnya seperti yang lain. Ada apa? Devana tak tahu.
Widia kaget, Devana sedang bersimpuh di samping ranjangnya.
Ia menatap wajah putri Claudia dengan suaminya itu. Cukup lama, sampai ia bisa melihat gurat-gurat wajah Gunawan tergambar jelas di wajah Devana.
"Aaa...!!!"
__ADS_1
Widia menjerit. Ia histeris berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku.
"Aaa...!!!"
"Nenek! Nenek, ini aku Nek! Devana! Aku Devana, Nek!"
"Aaa...!!!"
Widia semakin keraskan suaranya. Ia menghentak-hentakkan kakinya hingga akhirnya bisa merubah sedikit posisinya.
Utami masuk kamar tergopoh-gopoh sambil mendekap erat tubuh Widia.
"Aaa, aaa, aaa!!!"
Widia menatap mata perawatnya. Ia memberi kode seolah memintanya agar menyuruh Deva keluar dari kamar.
Tentu saja Deva bisa membaca gerakan mata Widia yang seolah menghardiknya.
Ia semakin bingung. Dan mulai berfikir, kalau Nenek Gege itu telah mengetahui sandiwaranya yang menikah kontrak dengan sang Cucu.
"Kak Gege! Apakah mungkin Nenek tahu kalau kita ini,"
"Sst...!!!"
Gege lebih faham. Ia sepertinya sudah berfikir ke arah itu.
Dan yang lebih menjadi masalah saat ini adalah, seorang tamu yang datang ke istana besar mereka.
Tamu itu sedang duduk mengobrol bersama Gunawan di ruang tamu.
Hingga terdengar tawa Gunawan membahana.
"Tak kusangka aku masih bisa melihat kembali cucunya Sukoharjo. Hhh..., sekian lama aku cari-cari akhirnya malah Tuhan datangkan sendiri sampai ke rumah ini!"
"Iya, Pak Gunawan! Senang rasanya, saya masih bisa melihat Bapak dalam keadaan baik dan sehat wal'afiat!"
"Tapi tidak dengan istriku Widia! Hhh... Mungkin memang kami ini sudah tua. Rekan-rekan seumuran sudah berpulang semuanya! Tinggal kami berdua saja yang masih betah di dunia! Entah kapan Tuhan memanggil kami pulang!"
"Jangan begitu, Pak! Bapak bisa melihat putra-putri dan cucu-cucu tumbuh besar itu adalah anugerah yang orang lain tidak punya!"
"Hahaha, betul katamu Anak Muda! Aku bahkan bisa melihat wajah cicitku dari cucu pertama!"
"Waah, iyakah? Hebat! Entah bagaimana dengan saya. Sampai saat ini masih menjomblo belum punya pasangan! Hehehe..."
"Hm... Cucu perempuanku tiga, masih single juga. Mungkin bisa berkenalan dulu. Berteman maksudku! Hehehe..."
Gunawan seolah kumat penyakit lamanya. Selalu ingin menjodohkan keturunannya dengan orang yang dianggapnya mumpuni dalam bisnis. Apalagi tamu barunya itu tampan dan berkharisma dimatanya.
"Hehehe...! Boleh juga, Pak!"
"Bagaimana perusahaan pertambangan milik Sukoharjo? Dilanjutkan siapa sekarang?"
"Uncle saya Bapak Xian Lee sekarang yang mengurusnya! Saya lebih tertarik buka usaha sendiri, Pak! Walaupun kecil-kecilan, tapi rasa bangganya sangat besar dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!"
"Betul, betul! Anak muda yang luar biasa! Oya, Saya lupa namamu Anak Muda. Siapa tadi?"
__ADS_1
"Anton Lee, Pak Gunawan!"
"Iya. Anton Lee, nama yang gagah keren seperti orangnya. Tampan berwibawa!"
"Hehehe, pak Gunawan sudah buat saya jadi berbunga-bunga ini! Bahaya ini kalau tidak dapat jodoh di sini! Hehehe..."
"Oalaa...Hahaha...! Nanti saya kenalkan dengan cucu-cucu cantik saya!"
"Pasti cantik, kakeknya saja masih tampan walaupun sudah matang!"
"Hahaha matang itu tua khan maksudnya? Haduh, kamu ini omongannya mirip istriku saja! Hehehe..."
"Bagaimana keadaan Ibu, Pak?"
"Baru keluar dari rumah sakit tadi pagi. Sekarang sedang istirahat!"
"Dirawat di Rumah Sakit Siloam kah?"
"Bukan. Di Hospital Karya Bakti Pusat. Yang dirawat di RS Siloam itu cucu saya! Gege juga sudah pulang pagi tadi. Hhh... Kecelakaan lalu lintas di Serang empat hari lalu!"
"Cucu Bapak?"
"Iya, Gege, Georgino Gunawan. Yang sekarang CEO PT MAKMUR SENTOSA!"
"Oh, iya iya! Maaf, waktu pelantikan saya tak bisa hadir. Hari meninggalnya sepupu saya 40 hari."
"Oiya? Siapa?"
"Chandra Putra Sukoharjo. Anaknya Uncle Xian Lee Sukoharjo."
"Berapa usianya?"
"24 tahun, Pak!"
"Hhh...! Masih sangat muda ya? Sakitkah?"
"Iya. Leukimia sedari kecil!"
Anton Lee menatap sekitar ruang tamu Gunawan yang besar.
"Sepi sekali!"
"Seperti itulah! Hehehe...! Semua di ruang kamar masing-masing!"
"Biasanya kalau punya bayi suasana ramai sekali!"
"Cicit saya ruangannya di lantai atas. Dan kebetulan Ericko juga bukan anak yang rusuh petakilan! Dia lebih suka bermain di ruang bermain. Ericko kalem seperti Gege, Papanya!"
"Ericko? Putranya Gege?"
"Ya, mereka memang terlambat menikah. Tapi tak apalah! Toh cucu saya sudah berubah menjadi pria yang bertanggung jawab kini! Gege sangat menyayangi istri dan anaknya. Semoga saja mereka bisa memberiku cicit perempuan juga sebelum aku mati. Hehehe..."
Anton terdiam membisu.
Devana, keren sekali permainanmu! Ck ck ck... Begitu fikirannya.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...