
"Sungguh tak kusangka kalau Pak Hadi akan berkata seperti itu!" decak Gege ketus.
"Beliau orang baik! Beliau juga sering memberiku uang jajan tambahan kalau kebetulan sedang main ke yayasan!" ujar Deva mencoba meluruskan perkataan Gege yang terdengar kurang suka pada pria setengah baya yang selama ini selalu membantu keuangan bunda Anne walaupun tak terlalu banyak juga.
"Hhh...! Aku khawatir, dia tak bisa jaga rahasia! Apa... haruskah aku membuatnya gentar ketakutan dengan memberinya sedikit ancaman lewat orang-orangku?"
"Jangan!!! Jangan lakukan apapun pada Beliau!"
Devana menelan saliva dengan mata menatap tajam Gege.
"Aku tak ingin rencanaku dengan Papa menjadi hancur berantakan!"
"Tapi kita sudah berjanji tadi, kalau hubungan kita ini murni profesional kerja! Jadi, tak akan terjadi apa-apa di antara kita. Apalagi jika sampai bablas jauh dari perjanjian kontrak! Kita sudah menjamin itu pada Pak Hadi!"
"Memangnya ada apa sampai ia meminta kita berjanji seperti itu? Apa salahnya jika diantara kita pada akhirnya ada hubungan pun?! Apakah salah, sedang statusku dan statusmu kini adalah single!?"
"Mungkin karena statusku, Kak! Secara hukum, kamu telah salah besar menikahi perempuan yang baru janda seminggu! Ada hukum agama dan negara yang kita langgar. Itu mungkin maksud pak Hadi!"
"Memang benar, tadinya kupikir hal itu tidak akan jadi masalah!"
"Awalnya memang tak masalah jika hanya palsu belaka. Dan hanya nikah mainan. Tapi bukankah kita resmi terdaftar sebagai suami istri di KUA setempat dan punya buku nikah asli, bukan palsu!"
"Khan kamu yang minta pernikahan itu dibuat nyata? Katamu pernikahan bukan mainan, dan ijab kabul adalah sakral, tak bisa sembarang ditulis dibuku nikah seperti bocah cilik yang main rumah-rumahan!"
Kini Devana yang terdiam tak lagi berkata.
Berdebat dengan Gege sudah pasti ia tak kan pernah menang.
Selain pendidikan Georgino Gunawan yang seorang magister, sedangkan ia hanyalah tamatan SMA saja. Juga dari segi emosi dan harga diri Gege, jauh lebih tinggi di atas Deva.
Kini keduanya dalam keadaan membisu, saling gengsi untuk mengajak bicara terlebih dahulu.
Bahkan sampai mereka pulang ke istana besar Gunawan Wicaksono.
Dan masing-masing terlihat menjaga jarak tanpa pedulikan lagi keadaan sekitar yang kini diawasi beberapa pasang mata seperti CCTV yang memantau 24 jam.
☘Tiga jam sebelum Gege dan Deva pulang☘
"Papa! Apakah kami harus pergi ke luar kota mengurus anak perusahaan yang Papa limpahkan pada kami?" tanya Ellie diikuti Lisa yang mengekor sang Kakak dari belakang.
"Lho? Bukankah seharusnya kalian senang? Kini kalian pemilik aset-aset itu secara resmi? Apa ada yang salah dengan keputusan Papa?" Gunawan balik tanya. Gemas ia melihat kelakuan ketiga putri dan para suaminya yang ketar-ketir karena harus pergi meninggalkan kenyamanan hidup di ibukota. Pergi dari ketiak Sang Papa yang selama ini memenuhi semua kebutuhan mereka sampai hal yang terkecil sekalipun.
"Papa! Hik hiks..."
"Kenapa, Lisa? Di sana pun kalian memiliki tempat tinggal yang besar sebesar paviliun kalian yang di sini! Apalagi yang kurang?"
"Mas Tio tidak tahan cuaca dingin di kota M, Pa!"
__ADS_1
"Itu tidak mungkin! Disini AC kamar kalian selalu nonstop dengan suhu 16 derajat Celcius! Suhu kota M kurang lebih sekitar itu jika malam hari. Jadi, bisa menghemat biaya listrik dengan meniadakan AC di ruangan rumah besar kalian!"
"Papa! Ish, Pa..."
"Gak salah khan omongan Papa, Ma?" tanya Gunawan pada Widia yang baru saja turun dari lantai atas kamarnya.
Widia terlihat menyunggingkan senyuman manisnya. Membuat Gunawan bergegas menghampiri sang istri yang terlihat sedang bahagia itu.
"Ini sudah waktunya kalian mandiri, lepas dari kami, Ellie, Lisa!" tambah Widia membuat Gunawan mengacungkan dua jempolnya.
"Nah, khan!? Papa dan Mama memang kompak ingin mengusir kita semua dari sini!"
"Bukan hanya kalian. Indra dan Nani juga! Jadi, sebaiknya batalkan protes kalian padaku! Beri pengertian pada suami-suami kalian untuk berjuang bersama di kota tujuan masing-masing!"
"Pa, Ma! Anak-anak Ellie bagaimana? Nanti mereka tak ada yang urus!"
"Ck ck ck...! Mereka sudah dewasa semua! Untuk apa Kau khawatirkan mereka? Dan mereka berada di paviliun ini bersama Kakek dan Neneknya! Jangan kalian khawatirkan!"
Ellie dan Lisa hanya bisa saling pandang. Kesal juga sebel, bercampur jadi satu.
Akhirnya keduanya berlalu meninggalkan Gunawan dan Widia.
"Hhh...! Entah apakah mereka akan bisa bertahan di kehidupan baru mereka disana, Mas?"
"Kita harus bisa bertahan dengan komitmen ini, demi mereka juga, Widia! Aku tak mau, mati membawa beban dosa yang sangat berat, karena tak mampu mendidik putra-putriku dengan benar dalam bertahan di kehidupan yang keras ini! Entah apa jadinya mereka jika tanpa harta kita! Apakah mereka akan mampu berjuang ketika kita tak lagi menyokong mereka secara harfiah?"
Ucapan Gunawan seperti sindiran baginya.
Puluhan tahun lalu, ia mengusir Claudia yang terang-terangan mengakui perselingkuhannya dengan Gunawan. Bahkan Claudia ternyata hamil dua bulan dari hubungan terlarang mereka.
Bagaimana mungkin Claudia yang seharusnya berterima kasih pada Widia karena menampung dan menerimanya tinggal di istana besarnya, justru seolah tak punya hati dengan berani berhubungan intim dengan Gunawan.
"Widia! Widia!!!"
"Ah, apa Mas? Maaf..., aku tak mendengar perkataanmu!"
Gunawan hanya bisa menggerutu melihat sikap Widia yang sedikit lain dari biasanya.
.......
.......
Devana merasakan perutnya lapar. Baru teringat kalau ia belum makan malam karena langsung tidur pulas di kamar Ericko.
Ditengoknya jam besar di dinding lorong kamar paviliun Gunawan. Sudah pukul sepuluh malam lebih. Tapi rasa lapar tak mampu ia atasi dan membuat Devana sulit melanjutkan tidurnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk turun ke dapur, di lantai dasar.
__ADS_1
Agak terkejut Deva melihat lampu dapur yang terang benderang sementara suasana sunyi sepi tak ada seorangpun terlihat.
Siapa yang menyalakan lampu dapur? Mungkinkah kakek tadi turun dan kembali ke atas tanpa mematikan lampunya lagi? Kemungkinan besar seperti itu!
Devana berusaha mengatasi ketakutannya yang agak berlebihan.
Klotrak
Deva nyaris menjerit tatkala melihat sepasang tangan dengan kuku-kuku agak runcing memanjang, menempel di dinding tembok pembatas dapur.
"Aaaggh!!!"
"Deva?"
Kepala Surya menyembul membuat Deva nyaris meloncat dan terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Awas, hati-hati!"
Seperti adegan dalam film, Surya meraih pinggang Devana yang nyaris kayang hingga 90 derajat posisinya.
Merah padam wajah Devana yang malu sampai ke ubun-ubun.
Untung saja tangan Surya dengan sigap menarik pinggangnya sehingga ia tak sampai jatuh terlentang di atas lantai marmer yang dingin dan keras.
"Hehehe..., maaf! Sepertinya aku menakutimu ya, Dev?" kata Surya berusaha mengubah suasana yang kikuk karena kejadian tadi.
"Iya, nih! Surya sedang apa malam-malam di dapur? Sendirian pula!"
"Aku kelaparan, Dev! Cari havermout, ternyata dicari sana-sini gak kutemukan juga!"
"Hm..., apa kamu hanya bisa makan sereal saja?"
Surya mengangguk lemas.
"Mau kubuatkan sesuatu?" tawaran Deva membuat Surya kembali mengingat rasa nasi goreng buatan Deva yang luar biasa.
"Deva mau buatkan aku sesuatu?" Surya balik bertanya.
"Mmm..., sebentar! Deva coba cari sesuatu di lemari es. Mungkin ada bahan makanan yang bisa dimasak secara simpel!"
Surya duduk di depan meja bar, tak jauh dari dapur kotor. Dengan mata menatap penuh pada Deva dan kegiatan memasaknya.
"Kamu membuatku jatuh cinta, Devana!"
Devana hanya tertawa mendengar pernyataan Surya Abdi yang tak terlalu mengagetkannya. Gege maupun Demian sudah beberapa kali memberitahu Deva soal perangai Surya yang mudah jatuh cinta.
💌TO BE CONTINUE
__ADS_1