SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
POV DEVANA WANDIRA


__ADS_3

Namaku, Devana Wandira. Kini berusia, 22 tahun mau 23 tahun.


Kisah hidupku yang kupikir B aja, ternyata cukup luar biasa.


Kukira hanyalah sebagai anak terbuang yang lahir karena kecelakaan. Lalu hidup terasing sebatang kara tak punya siapa-siapa, dan tak diakui orang tua.


Ternyata tidak semudah itu.


Tidak sesimpel yang kubayangkan selama ini.


Hidupku ternyata teramat rumit. Rumit sekali.


Andai saja aku tidak melakukan perjanjian nikah kontrak dengan pria bernama Georgino Gunawan, mungkin hidupku tidak akan seperti ini.


Kisah hidupmu tak akan terbongkar sampai kapanpun itu.


Tapi rupanya inilah jalan Tuhan yang ditunjukkan padaku.


Sehingga akhirnya aku mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku dimasa lalu.


Aku, seorang anak yang dibuang orangtuanya sendiri. Dan ditaruh dalam kardus bekas mie dengan sehelai kain batik yang lusuh sebagai hamparannya.


Aku beruntung, pemilik rumah yang bernama Bunda Anne merawatku dengan penuh kasih sayang. Satu bulan hidupku terombang-ambing, karena pihak Kepolisian yang berusaha menyibak misteri siapa orangtuaku yang tega membuangku begitu saja.


Tapi sampai aku remaja dan dewasa, semua tak terpecahkan juga.


Aku bersyukur, dirawat serta diasuh seorang perempuan berbudi luhur. Bunda Anne namanya. Beliau bahkan sampai kini mendedikasikan hidupnya demi untuk merawat anak-anak yatim piatu yang tak jelas hidupnya.


Bahkan beliau sampai mengenyampingkan kehidupan pribadinya yang juga miris menurutku. Gagal menikah karena calon suami dan keluarga besarnya mengalami kecelakaan lalu lintas dihari mereka akan menjadi sepasang suami istri, membuat Bunda Anne menyepi dan bertekad menutup hati selamanya.


Beliau benar-benar perempuan tangguh yang luar biasa.


Dengan segenap kekuatan dijiwa, Beliau memutuskan membuka yayasan panti asuhan setelah mengadopsiku 22 tahun yang lalu.


Bunda Anne bahkan terus menambah anak asuhnya dari tahun ketahun setelah mengangkatku.


Hidup kami sederhana. Mungkin bisa dikatakan pas-pasan.


Aku, anak tertua di yayasan. Otomatis Bunda memberiku banyak tanggung jawab, salah satunya perihal pengertian.


Kami harus legowo berbagi dalam segala hal dan apapun itu.


Sedari SD terbiasa menjaga adik-adik panti, membuatku seringkali mengabaikan diri sendiri.


Aku sering makan paling belakangan. Khawatir nasi dan lauknya kurang, aku lebih tak tega jika ada adik-adikku yang tak kebagian jatah.


Sekolahpun seperti itu.


Aku lebih terakhir mendapatkan sisa-sisa uang saku. Yang penting cukup untuk ongkosku naik bis pelajar. Berabenya kalau kesiangan, mau tak mau terpaksa naik angkutan bemo yang tarifnya jauh lebih mahal daripada biskota.


Begitulah.


Tapi aku menikmatinya. Karena Bunda Anne sangat bisa memberiku penjelasan yang mengena. Sehingga tidak ada kesedihan apalagi fikiran buruk betapa nasibku begitu nista.

__ADS_1


Yang seringkali aku lamunkan adalah, bisakah aku bertemu dengan kedua orangtuaku pada akhirnya. Itu saja.


Bukan apa-apa. Dalam pelajaran Agama, pak Guru seringkali menyenggol tentang wali nikah seorang wanita. Aku, wanita yang tak tahu siapa nama Ayah dan Ibunya. Aku, suatu saat pasti punya keinginan berumah tangga. Dan berharap ada pria baik yang mau mengajakku membangun mahligai itu suatu hari nanti.


Aku hanya memikirkan, bagaimana nanti jika aku menikah. Siapa yang bisa menjadi wali nikahku dan sah dalam hukum agama.


Skip cerita sedih itu.


Aku tak mau berlarut-larut memikirkannya terlalu dalam. Aku beruntung, diasuh dan dibesarkan seorang wanita baik yang welas asih.


Aku banyak belajar dari sikap dan sifat bunda Anne selama hidupku.


Beliau tak pernah sekalipun mengeluhkan keadaannya yang menurutku sungguh ironi dan menyedihkan kisah hidupnya. Tapi Bunda justru mengembangkan sisi positifnya dalam mengubah hidup.


Bunda kata, hidup ini indah jika kita membuatnya mudah. Hidup akan pahit bila kita selalu merasa sulit.


Kita yang harus mengatasi kesulitan hidup dengan fikiran yang positif. Tuhan menciptakan dunia dengan maksud dan tujuan jelas, agar kita umat manusia bisa mempelajari semua isi ciptaan-Nya. Mengambil sikap dan bagaimana bersikap untuk suatu hal yang baik.


Semua lengkap. Andaikan kita mau berusaha mencari. Begitu kata Bunda.


Aku enjoy, malam terkadang sering kesal juga menerima kenyataan diriku yang miskin dan hina ini harus kalah dengan keadaan.


Aku suka jengkel melihat teman yang memiliki orangtua lengkap, berlimpah materi, tapi ogah-ogahan menjalani hidupnya yang amat nikmat ini. Mereka malas sekolah, suka cari masalah di kelas, sok jagoan dan lain sebagainya.


Dulu sewaktu SMP aku bahkan sering dibully karena masuk sekolah favorit dengan jalur prestasi.


Aku terlalu cupu kala itu, sehingga lebih sering diam memendam semua kepedihan batin dan menerima hinaan demi hinaan.


Tetapi seiring waktu, aku mulai berfikir aku harus berubah.


Seiring perjalanan waktu, serta usia yang kian dewasa. Aku perlahan mulai berubah. Lebih tepatnya ketika aku masuk SMA.


Aku mencari banyak peluang untuk mencari uang. Di otakku hanyalah uang dan uang. Yang halal tentunya, bukan uang sembarang apalagi hasil jual diri.


Apapun aku lakukan selama itu pekerjaan halal demi uang untuk keperluan sekolahku dan juga tambahan jajan adik-adik.


Banyak pekerjaanku, serabutan. Dari satu event ke event yang lain. Bahkan di kelas pun aku sering memanfaatkan kemampuan menulis rapiku pada teman-teman yang banyak uang tapi malas mencatat.


Bahkan aku pernah menjual PR-ku kalau ada yang ingin menyontek walaupun hanya dibayar teh botol saja.


Rugilah otakku! Sudah capek-capek mikir, mereka seenaknya mengestafetkan buku PR ku keliling kelas! Makanya sebelum bukuku menjelajah seperti para host My Trip My Adventure, lebih baik aku tarik setoran dulu walau hanya seribu dua ribu rupiah saja.


Aku selalu ingat nasehat Bunda. "Kita ini miskin harta, tapi kaya hati. Kita ini hidup susah, tapi bukan berarti uang diatas segalanya. Harga diri dan martabat hidup adalah yang utama. Dan dua pedoman itulah yang harus kita jaga dimanapun kita berada."


Bunda tidak suka kita mencuri. Bunda juga melarang kita menjual air mata. Jika ada orang yang memang sayang sama kita, itu adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi bukan berarti kita bisa mengemis meminta-minta demi mendapatkan uang sedekah.


Ternyata jodohku lumayan dekat.


Selepas SMA, aku bekerja serabutan. Dari satu departement store satu ke department store lainnya. Untuk mencari pengalaman dan juga batu loncatan pastinya.


Berharap dapat kerjaan yang lebih baik nantinya.


Hingga seorang teman memberiku surat undangan reuni SMA, padahal baru dua tahun saja lewatnya.

__ADS_1


Diacara reuni itulah, aku bertemu kakak kelasku dulu yang sangat jauh berbeda.


Dulu penampilannya biasa saja. Kurus, tinggi dan terkesan tak terurus.


Entah mengapa kini semuanya sangat berubah. Bahkan dia berani menyapaku dan terus mengikutiku sampai acara reuni usai.


Aku juga kaget, ketika Kak Chandra Putra mengatakan ketertarikannya yang mau berteman tulus denganku.


Ingin berteman, tentu saja aku terima. Selama dia baik dan menjaga hal-hal yang tidak melewati batas sebagai seorang teman, bagiku itu bukan alasan untuk tidak menerima ajakan pertemanannya.


Hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan pun bertukar. Kak Chandra seolah makin berani memperlihatkan dirinya yang peduli padaku.


Setiap hari dia menyambangiku di tempat kerja. Setiap malam tepatnya. Dan dia pulalah yang menjadi ojek online dadakanku kala itu.


Semula aku tak enak hati. Sekali dua kali masih tak masalah. Tapi jika setiap hari sampai berminggu-minggu, kurasa itu bikin resah.


Aku khawatir pacarnya marah dan menuduhku seenaknya menjadikannya tukang ojek gratisan karena Kak Chandra tak pernah mau kubayar. Kalaupun mampir ke tukang bakso, justru akulah yang ditraktirnya. Bukan aku yang mentraktir sebagai ganti ongkos bensin motornya.


Ternyata, dia ada rasa padaku. Kak Chandra menembakku dengan kesederhanaannya yang manis namun romantis.


Kami resmi berpacaran. Bahkan sebulan hubungan, Kak Chandra sudah mengatakan niatnya untuk memperistri aku. Padahal usia kami kala itu masih sangat muda. Aku 20 tahun dan dia 22 tahun.


Tapi ternyata ucapan janjinya bukan sekedar rayuan gombal.


Tepat di ulang tahunku yang ke-20 tahun, Chandra datang melamar. Tapi, tanpa kedua orangtua. Katanya kedua orangtuanya sedang sakit dan tinggal di luar kota.


Pengakuannya tentang pekerjaannya yang hanya karyawan biasa membuatku kukuh menerima pinangannya.


Cinta yang besar menutup mata dan hatiku akan rahasia yang selama ini dipendamnya.


Aku tak pedulikan sisi gelapnya yang tak kuketahui. Bagiku, cinta dan tanggung jawabnya yang besar padaku jauh lebih penting daripada semuanya.


Seminggu setelah menikah, aku diboyong ke kota tempat kedua orangtuanya tinggal.


Satu persatu kejanggalan yang selama ini ia tutupi perlahan terbongkar. Ternyata Chandra Putra adalah anak orang kaya. Almarhum Kakeknya salah satu konglomerat ternama di kota K.


Tetapi cintanya padaku semakin terpampang nyata. Chandra benar-benar menjagaku lahir dan batin.


Ia adalah suami terbaik di dunia, menurutku. Walaupun kedua orangtuanya terlihat sangat tidak suka padaku ketika Chandra sedang pergi bekerja atau dinas keluar kota.


Tetapi aku selalu menjaga rahasia itu baik pada Chandra juga pada sepupunya yang juga tinggal bersama mereka.


Bulan berganti bulan, rupanya kehidupan kami semakin Tuhan anugerahi kesempurnaan.


Aku hamil, Chandra sangat bahagia.


Dia menjagaku bagaikan tuan putri dan Nyonya Besar. Aku tak diperkenankan memegang semua pekerjaan rumah tangga. Bahkan sekedar memasakkan nasi goreng favorit kesukaannya. Chandra rela tak makan masakan buatanku selama aku hamil.


Hhh...


Mengenang masa-masa itu, jatuh berlinang kembali air mataku.


Kak Chandra! Aku rindu masa-masa kita yang dahulu. Yang selalu mesra dan penuh cinta. Yang tak pernah pedulikan besarnya kesenjangan diantara kita. Aku rindu kamu, Kak Chandra! Putra kita kini sudah sepuluh bulan usianya. Makin besar, tambah pintar dan menggemaskan.

__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2