
"Kamu, kenapa bisa pulang bersama Demian?" tanya Gege dengan wajah bingung sedikit cemas.
Gak salah khan tebakanku! Mata Gege lebih awas dari mata burung hantu!
Devana mencoba menjawab seadanya, kalau mereka bertemu di minimarket depan kompleks perumahan.
Tetapi hati Gege gugup dan tak tenang. Entah mengapa, kegalauan menerpa hatinya yang gamang.
"Kenapa ke minimarket gak bilang sama aku? Aku khan bisa antar?" kilah Gege merasa tak senang.
"Kakak sedang sedih. Aku gak mau mengganggu untuk sementara waktu. Cuma beli ini, tapi Demian yang membayarkan semua!" tutur Deva jujur walau ada satu kisah kepergian mereka ke sebuah taman bermain yang ia tutupi dari Gege.
"Kamu gak cerita macam-macam sama Demian khan?" tanyanya menyelidiki.
"Cerita apa? Haruskah aku menceritakan hal-hal yang gak guna untuk Demian?"
Gege hanya bisa menelan saliva. Ada setitik kecewa di hati kecilnya.
Pikirannya melanglang buana.
Gege menghampiri kamar Demian di paviliun Ellie dan Glen.
Tok tok tok
"Gege? Ada apa?"
"Cuma mau ganti uang susu Ericko yang kamu bayarkan tadi. Nih! Terima kasih sudah membantu istri dan anakku, Dem!"
"Sama-sama. Tidak usah, Ge... Toh Ericko juga keponakanku. Lagipula belanjaan Devana dibawah seratus ribu rupiah saja. Tak sampai membuat kantongku bolong mentraktirnya belanja susu Ericko!"
Gege justru merasa seperti ada yang mangkel di hatinya.
"Dem...! Jangan hiraukan perkataan Deva yang kadang suka asal, ya?"
"Perkataan yang mana?"
Kini Gege yang bingung dan serba salah dengan pertanyaan balikan dari Demian.
"Maksudku, tentang obrolan kalian tadi soal apapun itu. Deva, gak bermaksud curhat juga! Dia, lagi datang bulan. Jadi agak sedikit sensitif dan perasa'!"
"Kamu ngomongin apaan sih?"
Gege menghela nafas. Ia menepiskan jemarinya, memberi kode kalau omongannya hanyalah angin lalu saja.
__ADS_1
"Dengar, Ge! Istrimu gak cerita apapun padaku. Apalagi soal rumah tangga kalian. Dan aku juga gak kepo-kepo amat ingin mengetahui kedalaman hubungan kalian! Tapi satu hal yang ingin aku tekankan padamu,... jangan selalu menaruh curiga pada pasanganmu jika kau tak ingin kehilangannya! Seburuk apapun ia, pasanganmu adalah cerminan dirimu. Kau memandang rendah dirinya, berarti serendah itu pula dirimu sebenarnya!"
Klik
Demian menutup pintu kamarnya tanpa basa-basi lagi. Tentu saja membuat kesal hati Gege semakin meninggi.
Tapi ucapan sepupunya itu ada benarnya.
Dan ia terlihat sekali ketakutan kalau rahasia pernikahan kontraknya dengan Devana ketahuan Demian dan saudaranya yang lain.
Gege kembali ke kamarnya. Tapi tak di dapati Devana di sana. Baru ia ingat, perempuan itu pasti ada di kamar Ericko Putra.
Gege ingin memberitahukan kalau designer tetapnya itu telah mengantarkan semua pakaian yang dijahitnya khusus untuk dikenakan Deva setiap hari nanti setelah ia resmi menjabat CEO PT MAKMUR SENTOSA.
Deva mau tak mau harus sering-sering juga ke kantor menyambanginya. Akan ada banyak acara setiap minggunya bersama rekanan dan klien kantor pastinya. Dan istri kontraknya itu harus bisa mengimbangi Gege di setiap kesempatan seperti acara launching atau sekedar jamuan makan siang, makan malam dan lain-lain.
Menjadi pemimpin suatu perusahaan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Butuh skill serta ketahanan otak, tubuh serta mental untuk bisa melakukan semua secara baik dan benar. Tentunya untuk kemajuan perusahaan.
"Dev..."
Gege masuk perlahan ke dalam kamar Ericko.
Gege hanya bisa mematung dengan wajah menatap lekat ke arah mereka berdua.
Sama-sama polos dan terlihat tenang ketika tertidur pulas. Benar-benar ibu anak yang kompak.
Gege mengambil selimut bulu yang ada di samping ranjang. Ditutupinya tubuh Devana serta Ericko hingga setengah badan. Ia hanya bisa menarik nafas lega. Berharap dalam hati perjanjian nikah kontraknya sampai pada batas tanpa ada kendala.
Kini Gege kembali ke kamarnya.
Hari menjelang sore, paviliun perlahan menampakkan kembali para penghuninya yang satu persatu telah pulang.
Begitulah kondisi keadaan istana Gunawan. Meskipun disatukan seluruh putra putri serta menantu anak cucu, tetap saja istana besar yang terdiri dari beberapa paviliun luas itu terlihat dingin dan sepi.
Para penghuninya lebih suka berada diluar bangunan kokoh itu. Dan kembali kesana setelah hari menjelang malam. Bahkan Gunawan serta Widia sendiri, walaupun sudah sepuh dan pensiun dari rutinitas kantor, tetap saja mereka keluar rumah untuk kegiatan amal dan beberapa urusan sosial lainnya yang sudah terjadwalkan jauh-jauh hari.
Hanya Gege dan Devana yang terlihat masih bisa wara-wiri di rumah karena belum sibuk dengan aktivitas.
Kecuali dalam keadaan tertentu, baru para penghuninya bisa disatukan.
Esok adalah hari bersejarah dalam klan Gunawan Wicaksono.
__ADS_1
Hari yang sangat ditunggu para keturunannya pula, karena sang Ayah resmi mengganti nama beliau menjadi nama putra-putri mereka dengan memecah saham menjadi beberapa lembaran sertifikat atas nama masing-masing bagian warisannya.
Gunawan sudah menentukan, CEO berikutnya adalah Georgino Gunawan. Putra tunggal Indra Gunawan dan Nani Wijaya Kusuma. Secara gamblang harta warisan putra pertamanya itu mendapat bagian paling besar, yakni separuh dari perusahaan intinya yang ada di pusat ibukota.
Sementara putri-putrinya yang lain sudah ditetapkan akan mendapatkan anak perusahaan di beberapa wilayah bagian kota lainnya. Termasuk para cucunya yang lain.
Sebenarnya Gunawan sudah berlaku adil pada semuanya. Ia bahkan telah mengkalkulasi harta kekayaan yang diwariskan pada keempat anaknya sama rata. Tak ada yang lebih besar ataupun paling besar.
Cuma bedanya, Indra mendapatkan tempat lebih enak. Yaitu perusahaan utama. Perusahaan induk yang memiliki peran penting dalam meng-acc setiap pengeluaran sekecil apapun di perusahaan anak cabang.
Jadi Indra adalah seorang induktor keputusan dari semua anak cabang dalam pengelolaan keuangan.
Gunawan telah mengenal semua anak dan menantunya. Lebih dari lima puluh tahun bergelut dalam bisnis, jatuh bangun bahkan sampai berjalan ditempat terseok-seok, sudah pernah ia alami.
Ia mengetahui siapa saja anaknya yang bisa dipercaya untuk mengurus dan mengelola semua dengan baik.
Indra Nani sudah terbukti. Dengan pemikiran serta inovasi keduanya, membuat perusahaan keluar dari masalah kehancuran sebelas tahun lalu. Dan kembali berjaya berkat tangan dingin Indra serta Nani dalam me-manag semua pemasukan juga pengeluaran perusahaan.
Fifie, Ellie juga Lisa tentu saja memprotes tata cara Indra dalam pengelolaannya. Secara mereka bertiga kini tidak dapat mengakses keuangan serta menariknya semudah dahulu hingga perusahaan diambang kehancuran, nyaris bangkrut.
Setelah Gunawan menjelaskan kalau keuangan PT MAKMUR SENTOSA dalam keadaan pailit, barulah mereka mulai menyadarinya. Terlebih setelah Indra dan Nani mengcopy semua bukti tranferan pengeluaran yang mereka lakukan dalam jumlah besar. Semua bukti membuat mereka khirnya diam, tak berkutik.
Indra memang sengaja membuka semua kedok para adik iparnya. Setidaknya adik-adiknya sadar kalau pasangan mereka selama ini hanya bergantung dari uang perusahaan. Tak ingin bekerja keras untuk membangunnya lebih maju. Hanya inginkan uang, uang dan uang untuk menunjang gaya hidup mereka yang kebarat-baratan.
Travelling, hang out, shopping, juga bertemu dengan para sosialita kelas atas yang hanya menunjukkan pencapaian tanpa tahu usaha yang sebenarnya.
Bagi mereka perusahaan Gunawan ibarat pohon uang yang selalu berbuah dan siap mereka panen, tanpa berfikir bagaimana caranya agar pohon itu tetap tumbuh subur, berbunga dan berbuah banyak.
Itulah yang Indra sesalkan pada mentalitas para adik serta iparnya.
Untuk itu, ia sengaja mengajak Satria alias Gege untuk bekerja sama menyadarkan mereka termasuk para putra serta putri mereka kalau harta bisa saja habis jika tidak bisa mengatur pengeluaran serta cara mengelolanya dengan baik.
Semua butuh tenaga dan usaha, serta doa dan kekuatan bersama. Bukan saling sikut dalam diam, tetapi bergerak seperti macan.
Kini Gege alias Satria telah mengerti maksud dan tujuan Papa Mama angkatnya, hingga akhirnya ia mau kembali mengikuti arahan dan rencana awal.
Gege menyayangi Indra dan Nani, seperti halnya kedua pasangan itu menyayanginya tulus.
Gege tak mau melihat kehancuran perusahaan kakek Gunawan karena kelakuan para keturunannya yang kemaruk dan takut tak kebagian harta.
Ia juga ingin agar para sepupunya mulai memahami, betapa kebersamaan dan kekuatan mereka begitu dibutuhkan. Untuk kelangsungan hidup mereka juga kedepannya.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1