SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Kunjungan Widia Ke Yayasan Anne


__ADS_3

Kedua wanita beda usia itu saling bertatapan.


"Apa Anne masih ingat Saya?"


Anne menggeleng pelan dengan kedua tangan dirapatkan.


"Maaf, saya lupa... Ibu siapa ya?"


"Saya, Widia Hapsari. Sekitar 16 tahun lalu, saya pernah menjadi donatur yayasan ini dalam beberapa tahun."


"Bu Wi-dia,... maaf, saya benar-benar lupa! Maaf, Ibu! Maklumlah, enam belas tahun lalu...saya sama sekali tak ingat! Maaf!"


"Tidak apa-apa. Hehehe...! Saya kebetulan lewat jalan ini. Lalu teringat pada yayasan panti asuhan Anne. Saya coba tengok, ternyata masih ada. Syukurlah!"


"Alhamdulillah, Bu Widia! Masih Tuhan kasih rezeki dan jalan untuk Saya merawat anak-anak yang Tuhan sayang."


"Aamiin..."


Widia tersenyum lega. Dia masih bisa menginjakkan kakinya kembali ke rumah yang penuh kenangan ini. Dimana dulu ia pernah hampir setiap bulan melihat tumbuh kembang putri Gunawan dari Claudia.


Kali ini ia pun berharap, Tuhan mempertemukannya lagi. Walau dalam diam, Widia ingin memastikan putri Claudia itu dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun sedah lebih dari 16 tahun yang lalu, ia tak lagi memantaunya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Seorang gadis muda mengucapkan salam dan menyalimi tangan Widia serta Anne.



Gadis itu tersenyum dengan kepala mengangguk.


"Ada tamu rupanya!" katanya bersuara lembut.


"Iya, Akila! Bu Widia ini adalah teman lama Bunda! Seperti mimpi rasanya Bunda kembali dipertemukan Tuhan setelah 16 tahun yang lalu! Hehehe..."


Widia ikut tersenyum mendengar celotehan Anne.


"Wah, senangnya!" tambah Akila ikut tertawa senang.


"Akila masih sekolah?" tanya Widia pada Akila.


"Baru saja Akila tamat SMA beberapa bulan lalu, Bu! Ini masih cari-cari pekerjaan. Coba cari lowongan di pabrik dan perusahaan sekitar sini!" jawab gadis muda itu.


"Berapa usiamu, Nak?" tanya Widia lagi.

__ADS_1


"Delapan belas tahun, Bu!"


"Usia yang masih muda. Dan pastinya usia produktif yang sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang. Akila, apa kamu mau kerja di ibukota? Disana Suami saya memiliki perkantoran yang mungkin membutuhkan tenaga kerja muda seperti Akila!"


Akila menatap penuh pada Anne. Bola matanya berbinar cerah. Impiannya seolah ada didepan mata. Jadi pekerja di Ibukota.


Anne hanya tersenyum mengangguk.


"Kerjaan disini kebanyakan pabrik dan buruk kasar. Akila sendiri tidak masalah bekerja dibagian manapun, asalkan halal dan menghasilkan uang. Tapi,... bekerja di ibukota adalah impian terbesar Akila, Bu Widia!"


Akila mencoba mengungkapkan semua keinginannya dengan jujur.


Widia tersenyum senang.


"Tapi,... di kota sana Akila tak punya teman atau kenalan. Nanti, tinggalnya dimana?"


Seketika binaran mata Akila meredup. Ada bayang kesedihan di sana.


"Jangan khawatir! Ibu bisa memberikan Akila tempat kalau mau!"


Baru sedetik lalu Widia berkata, tiba-tiba fikirannya kembali teringat Claudia.


Wajahnya seketika pucat pasi. Jemarinya tremor sembari berusaha membuka tas jinjingnya yang berharga ratusan juta itu dengan gemetar.


Akila dan Anne yang melihat perubahan Widia tersentak agak panik.


"To-tolong..., Tolong bukakan tas,...saya!"


Akila dengan sigap membuka tas milik Widia. Ada alat bantu pernafasan milik wanita tua itu di dalamnya. Dan Akila segera memberikannya.


"Ini, Bu!"


Widia yang tersengal segera menghisap tabung oksigen yang Akila berikan.


"Nyonya Besar, maaf... saya tak tahu kalau Nyonya... kolaps!" Utami masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Tidak apa-apa, Tami! Ada Anne juga Akila yang membantu saya!" ujar Widia, menenangkan perawatnya.


"Oiya, Anne! Perasaan dulu ada anak perempuan pertamamu yang bernama Ana, kemana ya?"


"Oh... putri saya yang itu sudah menikah, Bu Widia! Ya, ya... Akhirnya saya ingat. Ibu Widia dulu yang sering bawa kami pergi belanja di toserba alun-alun kota tiap bulan. Beli pakaian! Ya, saya ingat sekarang!"


Widia tersenyum.


Akhirnya Anne mengingat juga kenangan bersamaku! Gumam hatinya senang.

__ADS_1


"Ana tidak tinggal disini?" tanya Widia lagi.


"Tidak, Bu! Dia ikut keluarga suaminya di kota K!"


Anne berusaha menutupi keadaan Devana yang sebenarnya. Walau bagaimanapun, Bu Widia adalah orang lain. Jadi Anne berusaha menjaga privasi serta nama baik Deva dan keluarga suaminya.


"Syukurlah kalau begitu! Saya senang mendengarnya. Mungkin suatu saat nanti, saya bisa bertemu putri bu Anne yang paling besar itu."


"Aamiin...! Oiya, bagaimana kalau saya minta nomor kontak bu Widia?"


"Itu yang dari awal ingin saya tanyakan. Hehehe...! Setidaknya kita bisa jalin lagi tali silaturahmi yang sempat terputus."


"Iya, betul. Hehehe...! Nanti kalau Dev pulang, saya bisa kabari bu Widia. Atau mungkin kalau ada kesempatan saya dan Dev yang mengunjungi bu Widia ke ibukota!"


"Tepat sekali pemikiranmu, Anne! Dan..., sekalian kalian bisa ketemu Akila di kota! Ya, Akila?"


Akila yang sedari tadi hanya jadi pendengar, kini terlihat gugup dan menjawab terbata-bata.


"Tapi, Saya takut juga kalau tinggal sendirian Bu!"


"Sepertinya perusahaan menyediakan mess atau tempat tinggal semacam kostan untuk para karyawan yang dari luar kota, deh! Nanti Ibu kompromikan dengan para cucu Ibu! Oiya, nomor pribadi Akila juga sekalian! Biar Ibu simpan, jadi nanti Ibu kabari Akila. Agar bisa secepatnya datang ke Ibukota untuk interview bawa CV lamaran pekerjaannya lengkap."


"Terima kasih banyak, Bu Widia!"


"Terima kasih sekali, Bu! Sedari dulu Ibu selalu memperhatikan anak-anak saya!"


Anne mengangguk-angguk pada Widia. Ia sangat terbantu sekali, karena Akila bisa bekerja diperusahaan besar milik Widia. Setidaknya, putri ketiganya itu akan mendapatkan income yang lumayan baik dan bisa membantu ekonomi mereka juga pastinya.


Widia kini merasa tenang. Hatinya senang setelah mengetahui putri Gunawan dalam keadaan baik bersama keluarga kecilnya.


Mereka saling bertukar nomor pribadi dan berjanji akan saling menghubungi. Sepucuk amplop berisi uang donasi untuk putra-putri Anne, telah Widia berikan.


"Ibu! Saya sangat terbantu sekali dengan kebaikan ibu sedari dahulu! Tuhan yang akan membalas semuanya. Ibu sangat murah hati dan selalu loyal pada orang-orang yang membutuhkan!"


"Anne! Kamu itu adalah panutan saya! Walaupun usia saya jauh lebih tua darimu, tetapi saya sangat belajar banyak dari kamu. Sungguh, Anne! Kemurahan hatimu merawat dan membesarkan mereka seperti darah daging sendiri, membuat saya sangat mengagumi juga menghormatimu!"


Kata-kata Widia seperti embun penyejuk dipagi hari bagi Anne.


Airmatanya meleleh, ia merasa Widia bagaikan kakak kandung baginya. Di mata Anne, Widia adalah wanita yang sangat baik.


Tapi justru kebalikannya dengan perasaan Widia yang merasa sedih. Ia sedih telah membohongi Anne selama ini.


Justru selama ini Widia telah memanfaatkan kebaikan serta kepolosan Anne yang begitu lugu.


Secara tidak langsung, Widia seperti membayar Anne karena telah merawat Devana putri Gunawan.

__ADS_1


Namun hal itu sama sekali tak diketahui Anne. Hingga yang Anne pikir, Widia hanyalah wanita kaya raya yang berhati mulia tanpa ada udang di balik batu.


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2