
Di tempat yang berbeda, akhirnya Devana bangun juga dari pingsan.
Ia terkejut mendapati tubuhnya dalam keadaan terikat tali tambang besar dan melilit erat pada sebuah kursi kayu yang jadi tumpuannya.
"Kak Deva!!!"
Akila akhirnya bisa melihat Devana yang bangun dengan mata terbelalak.
"Kila???"
Suara mereka samar-samar karena terganjal sumpalan di mulut masing-masing.
"Kenapa kita ada di sini?" teriak Devana panik.
Ia mulai menghentak-hentakkan tubuhnya. Berharap tali tambang mengendur dan Deva bisa segera lepas.
Duk duk duk
Duk duk duk
"Kakak! Kakak, tenang! Jangan berbuat seperti itu! Bahaya untuk kita, karena sepertinya mereka terdiri dari banyak orang dan bersenjata!" pekik Akila.
"Hah?!? Apa katamu, Kila? Aku tak faham!"
"Jangan berisik! Kita cari akal dulu. Cari cara melawan mereka!"
"Hah? Iya! Iya, betul!"
Devana agak tenang. Kini ia diam. Nafasnya turun naik karena lumayan menguras tenaga juga mencoba melepaskan tali yang melilit di tubuhnya.
Suasana gudang yang luas tapi kosong melompong membuat Deva dan Akila saling berpandangan.
"Sepi ya!?"
"Iya. Sepertinya kita ditinggalkan mereka begitu saja!"
"Hiks, tasku diambil para penjahat sial*n itu!"
"Iya, Kak! Tasku juga! Hape, dompet semua di situ!"
Keduanya menghela nafas berbarengan. Saling berpandangan dengan wajah suram.
Akila sesekali bereaksi seperti hendak muntah. Ia sangat tak tahan dengan bau sumpalan pengikat mulutnya.
"Siapa kira-kira dalang yang melakukan ini sama kita ya kak?" ujar Akila kesal. Devana hanya diam. Tetapi otaknya berfikir sangat keras.
Sementara di pemakaman kembali terjadi hal yang menyedihkan.
Widia juga telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah selang satu hari kepergian sang suami.
Hari itu klan Gunawan memakamkan dua orang sekaligus. Gunawan Wicaksono dan juga Widia Hapsari.
__ADS_1
Kata orang mereka adalah jodoh sejati. Jodoh yang dikirim Tuhan sehidup semati. Membuat semua keturunannya menangis tanpa terkecuali. Termasuk Rendy juga. Yang hatinya sangat sakit dan ingin sekali agar Fifie tak sampai hati menggugat cerai dirinya.
Rendy, putra dari pengusaha kenamaan di masa lalu.
Seperti juga putri-putri Gunawan yang lainnya, yang menikah dengan jalan perjodohan antar sesama bangsawan serta pengusaha.
Keluarga Rendy memiliki pabrik perhiasan terbesar di Ibukota, pada masa itu.
Sayangnya, keluarga yang terlampau menyayangi hingga lupa cara mendidik yang benar membuat Rendy tumbuh dibawah asupan orangtua sampai usia dewasa.
Selalu disuapi dan dijejali kebutuhan hidupnya membuat Rendy seperti manusia minim kemampuan.
Baginya harta kekayaan keluarga dan juga harta istrinya sudah lebih dari cukup untuk dirinya berfoya-foya setiap saat.
Pergi dugem sana-sini, berpindah-pindah hotel dan resort dengan alasan healing serta menikmati hidup. Bahkan tak segan ikut perjalanan mewah kapal pesiar setiap tahun bersama para pengusaha yang menjadi bagian kaum sosialitanya.
Berbeda dengan sang istri, Fifie.
Alasannya menerima perjodohan kedua orangtua karena rasa baktinya saja. Demi kebahagiaan orangtua.
Dua puluh lima tahun yang lalu, Fifie memiliki seorang kekasih yang berasal dari kasta biasa. Reza, seorang putra tukang las ketok dipinggir jalan yang sedang berjuang menuntut ilmu lewat jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa full dari kampus ternama di Ibukota.
Sayangnya, cinta mereka harus kandas hanya karena status kedua orangtua yang berbeda.
Fifie menyadari, dia anak perempuan Gunawan. Ia melihat sendiri bagaimana sang Papa dengan teganya mengusir Indra hanya karena berani menikahi Nani.
Sehingga ia tak berani untuk mengikuti jejak langkah sang Kakak untuk keluar dari semua fasilitas kedua orangtuanya. Dan memilih memutus tali kasihnya dengan Reza.
Tetapi justru tindakan itu adalah tindakan yang paling Fifie sesali.
Pertemuan mereka setahun yang lalu membuat keduanya menjalin kembali komunikasi yang terputus.
Reza masih bujangan dan belum menikah walaupun usianya mau lima puluh tahun. Itu yang membuat Fifie merasa sangat tersanjung.
Reza masih berharap, jodohnya dihari tua nanti adalah Fifie.
Rendy terkejut ketika Fifie mengatakan ingin bercerai dengannya.
Fifie tidak pernah seperti itu sebelumnya. Walaupun ia seringkali memergoki Rendy sedang bersama para gadis malam di diskotik-diskotik langganannya, Fifie nyaris cuek bahkan tak pernah menegurnya.
Rendy mulai resah. Apalagi setelah perusahaan keluarganya bangkrut dan kedua orangtuanya tiada.
Andalannya hanyalah Fifie seorang.
Kekurangan rumah tangga mereka adalah tidak dikaruniainya seorang anak laki-laki. Tak seperti Indra, Glen dan Tio, yang memiliki satu penerus laki-laki yang bisa masuk ke perusahaan keluarga.
Sebenarnya seiring waktu perjalanan pernikahan mereka, Rendy perlahan mulai berubah dan mencintai Fifie yang tak banyak menuntut.
Bahkan Rendy mulai menyadari Fifie yang tak memiliki cinta padanya, dari sikap cuek serta rasa yang ada dalam dirinya.
Setiap kali mereka bercinta, Fifie selalu mematikan lampu kamar. Seolah tak ingin melihat wajah Rendy sang suami yang telah menyet*buhinya.
__ADS_1
Dua puluh lima tahun pernikahan, bukan waktu yang sebentar.
Dari permainan demi permainan serta berpindah-pindah cinta dari satu wanita ke wanita lain, semakin menyadarkan Rendy pada hakikat pernikahan.
Dia shock, ternyata Fifie mulai berani mengambil langkah. Bahkan sepuluh langkah jauh kedepan. Langkah yang tak pernah ia prediksikan.
"Aku minta cerai!"
"Fifie?!?"
"Aku minta cerai, Mas!"
"Setan mana yang merasukimu?"
"Inilah diriku sendiri yang mengatakan keinginan ini! Dua puluh lima tahun, kurasa sudah cukup baktiku pada kedua orangtua dan kamu sebagai suami!"
"Gila!"
"Ya. Aku memang sudah gila! Oleh karena itu, mari kita cerai tanpa ribut-ribut!"
"Papa Mamamu bisa shock mendengar keinginanmu itu! Sadarlah! Usiamu sudah tak muda lagi! Dan kalaupun kau minta cerai dariku, kenapa tidak kau lakukan sedari masih muda usiamu?!"
"Aku tidak menyesal minta cerai diusia setua ini!"
"Fifie!"
"Mari kita bercerai, Mas! Jangan khawatir, anak-anak akan ikut denganku! Kau bebas! Tak perlu memikirkan mereka dan semua masa depannya! Cukup tunggu sampai mereka datang memintamu menjadi wali nikah nanti!"
"Fifie!!!"
"Aku sudah bulatkan tekad! Aku ingin bercerai!"
"Siapa yang sudah mempengaruhimu? Hah??? Indra kah?"
"Tidak ada yang mempengaruhiku! Ini semua murni fikiranku sendiri!"
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Tidak akan pernah! TITIK!!!"
"Bukankah kamu seharusnya senang, Mas? Kamu bebas menikah lagi dengan gadis lain yang bisa memuaskan hasratmu?! Kamu bebas berkencan dengan wanita manapun yang mampu membuatmu bergairah!"
"Aku tidak inginkan semuanya! Aku hanya butuh kamu, kamu seorang, Fie!"
Mata Rendy merebak.
Ini pertama kalinya pernikahan mereka diguncang prahara.
"Kau inginkan pesta besar-besaran di anniversary pernikahan perak kita, Sayang? Ayo, ayo! Aku akan panggil anak-anak kita!"
"Tidak perlu! Tidak ada yang bisa kita banggakan di dua puluh lima tahun kebersamaan kita, selain Zara dan Fiona! Aku bersyukur memiliki mereka berdua. Dan aku tak pernah menyesali pernikahan ini!"
Rendy lemas seketika.
__ADS_1
Baru pertama kalinya Fifie begitu kekeuh menginginkan perceraian.
...๐TO BE CONTINUE...