
"Uuffh! Akhirnya mereka pergi juga!"
Devana memandang wajah Georgino yang terlihat lega.
Rupanya perlakuan manisnya padaku hanyalah sandiwara. Hahaha, bisa-bisanya aku sempat nge-blush hanya karena sikap manisnya. Ck ck ck! Nyaris tertipu! Hiks... Padahal aku sudah tahu kalau pria tampan dihadapanku ini adalah gay. Pria yang lebih suka main anggar ketimbang menikmati kue apem. Hadeh!!! Lupa aku, kalau dia ini jeruk makan jeruk! Tapi baguslah, aku tak perlu baper atau takut diperkaos jika tidur kebablasan!
Devana menepuk-nepuk dahinya.
"Kenapa, Deva? Kepalanya pusing?" tanya Gege terdengar manis sekali. Namun kali ini Deva tak akan tertipu lagi. Itu hanya casing semata.
"Dengar ya, Tuan Muda Georgino Gunawan! Aku, Devana Wandira. Aku akan pergi dari rumah ini segera, jika kamu tidak bisa menghargaiku juga Ericko!"
"Aku menghargaimu dan Ericko! Itu pasti!"
"Sekali lagi kulihat kau bertingkah tengil padaku juga putraku, aku benar-benar akan angkat kaki dari rumah ini!"
"Aku tidak ada maksud menyakiti hatimu, Dev! Sumpah!"
"Terserah apa katamu! Tapi sekali lagi kau bilang sesuatu yang buruk mengenai diriku dimasa lalu, aku tidak akan mentolerirnya lagi!"
Georgino hanya bisa menelan salivanya.
Ia menatap tubuh Devana yang berjalan keluar kamar. Tujuannya kini adalah untuk melihat Ericko, sang buah hati.
"Mau kemana, Dev?"
"Kamar Ericko!"
"Jangan tidur di sana! Nanti Kakek Nenek curiga pada kita!"
Hanya helaan nafas yang Dev hembuskan akan rasa lelah di hatinya.
Gege mengekor Devana. Mereka kini berdua berjalan menuju kamar Ericko di sebelah.
Devana terkejut, ternyata di kamar Ericko telah ada Surya Abdi.
Pria berusia 26 tahun itu sedang bercanda dengan Ericko di atas ranjang tidur anak.
"Surya, awas jebol itu ranjang putraku! Itu khan ranjang bayi!" omel Gege sontak membuat Devana hanya bisa terdiam.
Lagi-lagi kata-kata Gege terdengar begitu manis. Menyebut Ericko dengan kata 'putraku'. Hhh... Entah kenapa, justru sikap manis Gege membuat Deva muak kali ini.
Surya Abdi tertawa-tawa.
__ADS_1
"Rupanya kamu belum pernah tidur di atas ranjang Ericko, ya? Hanya bisa tidur di atas ranjang Devana. Hahaha..."
"Garing candaanmu!" umpat Gege ketus.
Ia menarik kaki Surya Abdi agar sepupunya itu segera bangkit angkat kaki dari ranjang Ericko.
"Tenang Gege! Tubuhku ini seringan kapas. Tak akan membuat ranjang tidur Ericko patah. Dan kalaupun patah, aku ganti yang lebih bagus lagi!"
"Ck! Sombongnya Tuan Muda!"
"Hehehe...! Lupa aku! Lusa Gege dilantik jadi CEO ya?! Otomatis lebih kaya raya dibanding aku yang cuma menjabat sebagai manajer khusus saja!"
"Hilih! Merendah kau ya! Uangmu dimana-mana, sampai bisa punya tempat hiburan sendiri! Aku ini justru gak punya apa-apa. Hanya jabatan saja calon CEO!"
"Hehehe... CEO Baik Hati Dan Tidak Sombong!"
Devana sangat tidak menyukai bincang-bincang ringan antara kedua pria ekslusif itu.
Diam-diam dia mengambil Ericko di atas kasur, lalu berjalan pelan meninggalkan Gege dan Surya.
"Dev!"
Gege hanya bisa menatap punggung Devana yang keluar dari kamar.
"Kau sih! Makanya jangan buat salah sama perempuan! Ya begitu deh! Emang enak dicuekin! Hehehe..."
"Itu namanya baby blues. Kamu harus bisa jadi suami yang baik untuk membuat Devana kembali nyaman bersamamu!"
"Kau tahu banyak soal perempuan ya!? Sampai bisa faham apa itu baby blues!"
"Hahaha...! Aku ini khan pernah kuliah jurusan keperawatan maternitas meskipun hanya satu semester saja!"
"Apa itu keperawatan maternitas? Jurusan kuliah apaan? Khusus perawat?"
"Hm, intinya perawat khusus mempelajari kehidupan wanita lah! Udah, ah...! Aku gak mau bahas lagi masa lalu!"
"Hehehe...! Aku mencium aroma-aroma kebucinan sepupuku soal wanita!"
"Hehehe...! Whatever! Anggaplah aku seperti itu!"
Surya pergi meninggalkan Gege sendirian di kamar Ericko. Ia malas melanjutkan obrolan yang mengarah ke masa lalu. Masa dimana ia bukanlah pria yang seperti sekarang ini.
Ck ck ck...! Pantas saja Surya Abdi digandrungi banyak wanita. Ternyata ia pernah kuliah mengambil jurusan yang membuatnya mengetahui seluk beluk wanita! Apa dia juga sedang memasang Devana sebagai target buruannya kali ini? Hei, hei! Masa' iya Surya maupun Demian bernyali untuk menyalipku mengambil hati Devana! Apa... ini adalah permainan para orangtua mereka yang memang sedang berusaha menyelidiki kehidupanku dengan Devana? Hm... Aku mulai menyadarinya.
Merasa keadaannya mulai terancam, Gege baru tersadar.
__ADS_1
Tindak-tanduknya juga sikapnya pada Dev serta Ericko sudah pasti akan selalu dipantau di istana ini.
Mengaku telah menikah dan punya anak bukan berarti permasalahan selesai sampai disini. Tidak.
Justru itu semakin membuat semua orang mulai kasak-kusuk dan bersiap diri dengan yang Gunawan Wicaksono akan lalukan.
Lusa Georgino akan masuk kantor, dan langsung dilantik sang Kakek sebagai penggantinya.
Demian dan Surya Abdi yang memang sudah mendapatkan jabatan sendiri sebagai manager ekslusif atau manajer khusus saja yang kerjanya tidak stabil dan tak harus masuk kantor setiap waktu.
Sementara itu Devana keluar membawa Ericko. Berkeliling mencari ibu asuh putranya. Namun Bi Fani sedang membantu Nenek membuka bungkusan paket yang dibelinya, yaitu berisi pakaian dan juga mainan untuk sang Cucu.
"Devana! Sini, sini!"
Ellie melambaikan tangannya dari balkon paviliunnya. Ia belum pernah menggendong putra keponakannya itu secara pribadi. Selain belum ada waktu, ternyata bocah cilik itu kini menjadi orang paling sibuk di paviliun ini untuk membahagiakan semua orang tua terlebih Gunawan Wicaksono dan Widia Hapsari. Sehingga tak bisa sembarang mengajak Ericko kecuali seperti saat ini.
"Ericko gak tidur siang? Hm? Sini, sini... biar Oma cantik gendong Ericko! Aduuuh..., aku koq berasa tuwir banget ya, jadi oma-oma! Hehehe, padahal usia Demian dan Danira lebih tua dari kamu, Dev! Andaikan mereka cepat nikah, pasti ya aku sudah punya cucu juga seperti Mas Indra dan Nani!"
Devana tersenyum menanggapi ucapan Ellie yang menggemaskan.
"Ericko baru bangun, Oma cantik!"
"Hehehe... terganggu tidurnya ya? Mama Papa kalian kenapa tadi, Ericko? Hehehe..."
Seketika Devana teringat masalah yang barusan membuatnya oleng, tak berfikir masak-masak tentang tingkahnya yang sempat main kejar-kejaran.
Merona langsung pipi kiri dan kanannya, membuat Ellie tertawa makin besar.
"Lucu ya, ribut-ribut di awal rumah tangga itu! Kadang nyebelin, tapi koq bikin jeboh padahal kalau ditelusuri masalahnya biasa aja!" celetuk Ellie membuat Deva mengangguk membenarkan.
"Kamu melahirkan normal, Dev? Apa Gege menungguimu ketika lahiran?"
Pertanyaan Ellie membuat Devana termangu sesaat. Matanya sedikit berkabut, mengingat memori masa lalu yang ia rindu.
"Lahiran normal, Tante! Waktu itu, suami saya selalu setia mendampingi. Sampai Ericko lahir, ia juga yang memotongkan tali pusat Ericko!"
Ellie hanya diam. Ada sesuatu yang mulai ia sambungkan dari cerita Deva dan cerita Gege dua hari lalu di pendopo paviliun Papanya.
"Devana melahirkan sendirian! Aku..., bersalah telah menelantarkannya, Tante! Makanya aku sadar, dan melangsungkan pernikahan resmi setelah Ericko empat bulan!" Begitu tutur Gege tempo hari.
"Kalian menikah ketika Ericko umur berapa bulan?" tanya Ellie dengan tenang, namun hatinya justru seperti ingin mengorek terus kisah diantara Devana dan Gege yang misterius.
"Hmm... Sewaktu Ericko empat bulan!" jawab Devana setelah mengingat kesepakatannya dengan Gege dalam urusan nikah kontraknya itu.
Hm... untuk kali ini jawaban Deva dan Gege sama. Tapi jawaban yang pertama, membuatku jadi berfikir...kenapa bisa berbeda?
__ADS_1
Ellie hanya tersenyum melirik sekilas wajah Devana. Ia sudah mendapat clue seperti yang Glen curigakan tempo hari, sepertinya rumah tangga Devana dan Gege memang bermasalah.
💌BERSAMBUNG