
Sementara di kediaman Xian Lee Sukoharjo, Anton Lee sedang meradang pada Sang Paman.
Ia membeberkan fakta-fakta yang tak bisa Lalita bantah. Karena semua yang Anton ungkap nyata adanya.
Tentang Devana dan Ericko Putra yang ia usir dari rumah. Tentang kebohongan Uncle serta Untienya yang menyebutkan Deva melarikan uang tabungan Almarhum Chandra.
Semua adalah pernyataan palsu belaka.
Anton Lee teramat murka pada kedua orangtua Chandra yang telah bersilat lidah mengatakan cerita bohong padanya.
Bahkan nyaris saja Ia melukai hati dan juga perasaan Devana sebagai korban yang dituduhnya tersangka.
"Uncle! Untie! Kenapa kalian bisa berfikir sepicik itu? Tidakkah kalian menyadari, siapalagi yang nanti akan mengurus kalian dihari tua nanti? Deva dan Ericko! Mereka adalah menantu serta cucu kalian! Darah Chandra mengalir di tubuh Ericko! Apa kalian tidak pernah sedetikpun memikirkan kehidupan mereka diluar sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka?"
Kedua pasangan suami istri paruh usia itu hanya diam, tak berani menjawab.
Otak mereka terlalu picik hingga tumpul untuk berfikir jernih.
Ketakutan demi ketakutan menghantui sehingga seringkali mereka menuduh Devana hanya ingin memanfaatkan harta Chandra saja.
Selama berumah tangga dengan putra tunggalnya, Devana tidak pernah berkontribusi menghasilkan sepeser uang pun.
Bahkan Xian dan Lalita seringkali melihat bukti transferan lima juta rupiah yang Chandra kirimkan ke yayasan panti asuhan tempat menantunya berasal.
__ADS_1
Belum lagi fasilitas demi fasilitas yang Chandra berikan untuk putra ciliknya yang baru beberapa bulan, bahkan tabungan asuransi untuk lima tahun kedepan, Chandra telah menyiapkan.
Sungguh membuat Xian serta Lalita jadi gelap mata.
Putranya begitu mencintai wanita yang sangat jauh dari harapan mereka. Tak ada satu pun kriteria standart yang telah Xian dan Lalita targetkan. Devana hanya punya wajah cantik dan hati baik saja. Selebihnya, minus semua.
"Apakah perempuan yang memiliki kasta, tahta dan harta seperti yang kalian mau akan sesuai espektasi kalian nanti? Huh! Uncle, Untie! Kalian itu harusnya bersyukur, Devana tidak melaporkan kalian karena tindakan melebihi batas sampai melanggar peraturan pemerintah dengan mengganti semua identitas Ericko Putra Sukoharjo. Devana diam, walau haknya kalian rampas dan kalian singkirkan! Kalian tahu, siapa itu Devana? Kalian tidak tahu khan?"
Anton Lee menghela nafasnya sesaat.
Pikirannya kembali menerawang pada ucapan lawyernya kemarin, hampir membuatnya pingsan.
"Devana adalah keturunan terakhir dari Gunawan Wicaksono! Dan berhak memiliki sebagian harta konglomerat nomor wahid di ibukota itu!"
"Hah?!?"
"Pak Putu yang mengatakan semuanya. Apa kalian masih tak percaya? Pak Putu adalah salah satu lawyer Pak Gunawan juga. Dan sekarang beliau sedang mengurus semua surat-surat dokumen penting keluarga mereka."
"Pak Gunawan meninggal kemarin! Apa, Devana dan Ericko mengetahuinya?" tanya Lalita panik.
"Mereka malah sekarang sudah berada ditengah-tengah keluarga kaya raya itu! Dan saat ini aku sedang bernego untuk melakukan kerja sama dengan CEO baru yang tak lain adalah cucu pertama Gunawan Wicaksono."
"Anton! Kamu hebat, kamu bisa menjadi penengah diantara kami. Perusahaan kita bisa kembali bangkit ke atas seperti perusahaan Gunawan! Dulu kakekmu dan Pak Gunawan adalah kawan karib yang memiliki kekayaan perusahaan selevel!"
__ADS_1
"Mereka kini jauh di atas kekayaan Sukoharjo karena kalian selalu picik dalam berfikir! Kalian justru membuat perusahaan semakin mundur teratur dan perlahan hancur! Itu karena Uncle juga Untie telah berdosa besar pada istri juga anak Chandra! Kalian itu kena kutukan anak kalian sendiri! Bahkan aku pernah bermimpi, kalian mati dalam kesengsaraan dan kesepian kalau kalian tidak segera tersadar dari sifat sikap buruk yang menjerumuskan!"
Anton Lee semakin gencar menakut-nakuti Paman dan Bibinya yang makin gemetar.
Mereka pengusaha bodoh. Selalu memilah-milah pergaulan yang salah. Akhirnya, justru seringkali gagal dalam mengambil keputusan perusahaan orangtua mereka.
Sedangkan kedua orangtua Anton sama sekali tak tertarik dengan usaha bisnis. Mereka lebih suka mengembangkan bisnis travel yang memberinya kesenangan pribadi keliling dunia.
Terkadang Anton pusing sendiri memikirkan keluarganya yang sedikit tetapi kurang berbobot. Begitu pandangannya.
Anton sadar, bahwa umur bukanlah jaminan seseorang menjadi dewasa secara keseluruhan. Mental dan juga tindakan kedua orangtuanya serta Uncle Untienya adalah salah satu dari orang dewasa yang kekanak-kanakan menurutnya.
Dan kini ia seperti sedang menggoda dua bocah yang ketakutan atas kelakuan kekanak-kanakan mereka.
"Kita harus merubah kembali surat akta kelahiran Ericko, Mas!" bisik Lalita pada suaminya.
"Kalian tidak takut masuk penjara apa? Berani sekali mengubah dan mengganti akta seenaknya? Negara kita negara hukum, Uncle! Cepat diurus kembali semuanya! Sebelum Devana sadar karena kini ia sudah banyak uang dan melaporkan kalian segera!"
"Ya, ya! Uncle akan segera ke dinas kependudukan untuk meluruskan semuanya!"
Anton Lee tersenyum puas dalam hatinya.
Ada setitik kelegaan jika semua yang memang seharusnya kembali diluruskan.
__ADS_1
Chandra! Aku akan kembali membawa putramu ke rumah ini! Semoga Devana juga bisa ikut bersamaku!
...๐TO BE CONTINUE...