SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
MULAI ADA MASALAH


__ADS_3

"Indra! Ada yang ingin kudiskusikan padamu! Datanglah nanti malam pukul 8 dan langsung temui aku di ruang perpustakaan!"


"Papa? Tentu. Indra akan datang nanti bersama Nani. Boleh ya?"


"Baiklah!"


Indra termenung. Gunawan memintanya untuk datang ke paviliunnya malam pukul delapan.


Hatinya was-was. Papanya sepertinya telah mengetahui rahasia yang dijaganya selama ini. Tapi ia akan tetap pada pendirian, tak akan mengatakan hal yang sudah ia janji dan tak ingin ia ingkari.


"Nani, Papa memintaku menemuinya nanti malam! Siapkan mentalmu. Kita tetap jalankan sesuai rencana!"


Nani hanya bisa mengangguk. Mengiyakan ucapan sang suami yang terlihat tegang raut wajahnya.


Gege telah kembali ke kantor. Banyak kerjaan yang terhambat karena kecelakaan yang menimpanya.


"Ge, apa kabar? Maaf..., aku tidak menjengukmu di rumah sakit."


Surya Abdi menyambut kedatangannya setelah empat hari tak masuk kerja.


"It's Okay, bro! Keadaanku baik-baik saja kini!"


"Bagaimana keadaan pak Andi?"


"Masih dirawat di RS Serang. Kemungkinan lusa bisa pulang. Oiya, mesin yang lama sudah dikirim ke pabrik yang ada di Cikupa Tangerang khan, Sur?"


"Apaan? Mesin? Yang mana?"


"Yang dari Serang. Khan sudah kukatakan, tolong kirim ke Cikupa saja! Setidaknya mesin itu masih bisa digunakan di pabrik Cikupa sebagai mesin tambahan!"


"Lha? Bukannya sudah dibawa ke gudang penyimpanan ya? Khan sudah tak terpakai? Mesin lama khan itu?"


"Aduh! Kenapa ditaruh digudang? Itu masih bisa dipakai, Bro! Di Cikupa masih bisa diberdayakan untuk menaikkan produksi barang. Khan mesin itu sama fungsinya dengan yang dipakai di pabrik Cikupa? Kalau ditaruh di gudang, cuma jadi barang rongsokan. Sayang itu! Tolong kamu atur lagi, Sur! Maaf..."


"Apa sih, pagi-pagi sudah ribut sekali?" tegur Demian yang baru saja tiba.


"Masalah mesin!" jawab Surya agak ketus.


"Mesin sudah kubuang ke tempat limbah pengolahan besi-besi tua!" tukas Demian membuat Gege dan Surya terbelalak.


"Yang benar, Dem?"


"Iya. Kenapa?"


"Aduh...! Kacau!"

__ADS_1


"Kenapa? Jangan khawatir, ada cuannya koq! Nih, laporannya!"


"Ck! Itu bukan barang rongsok, Dem! Masih bisa digunakan di pabrik Cikupa. Berapa ratus juta itu harga barangnya!? Hadeuh..."


"Hah? Apa sih? Barang yang kau keluarkan dari pabrik Serang itu khan? Yang sudah diganti mesin baru itu khan?"


"Iya. Tapi bukan berarti main jual sembarang, Dem! Disimpan di gudang masih mending, tapi kau buang ke pengolahan besi tua... Koq bisa seceroboh itu! Tunggu sampai akhir bulan dan rapat para pemegang saham. Baru bisa kau kotak-katik setelah proses serah terima, semua acc barang inventaris hangus dan sebagainya sampai laporan pembukuannya rapi kembali. Hhh...!"


"Mana kutahu proses barang bekas pun serumit itu!"


"Kau khan sering keluar masuk perusahaan! Pasti tahu dong bagaimana itu kinerjanya. Pembukuan perusahaan tiga tahun saja masih tersimpan rapi itu di dokumen lama dan tidak boleh dihilangkan begitu saja. Ya ini, untuk menelusuri atau melihat perbandingan pemasukannya di masa depan!"


Demian dan Surya Abdi hanya diam.


Mereka memang tak faham tata cara mengurus perusahaan.


Bukan otak pengusaha yang benar-benar kompeten memiliki niat mengembangkan usaha. Hanya cuan dan cuan yang jadi acuan hidup ke depan bagi mereka. Tapi tak faham pengelolaannya.


Kini Gege harus segera merapikan pembukuan dan juga laporan modal awal modal akhir karena langkah Demian yang salah dalam mengambil keputusan.


"Tolong, kalau ada tindakan yang ingin kalian lakukan dalam perusahaan, kita diskusikan dahulu dan jangan ceroboh!" kata Gege membuat Surya dan Demian hanya bisa menghela nafas.


Terlihat sekali kesenjangan kemampuan yang mereka miliki kini.


Betapa Gege sangat menguasai prinsip-prinsip dasar perusahaan walaupun tak pernah masuk ke dalamnya.


Si*lan! Si Gege bisa-bisanya mempermalukan aku dihadapan si Surya! Ck! Hhh... Menyebalkan!


Sisi-sisi sikap kekanakan kedua pria yang usianya dua tahun lebih muda itu pun menggelepar. Kesal dibuat CEO utama yang dipandangnya arogan dan sok berkuasa.


"Gege! Itu anak yang masuk jalur khusus lewat Nenek mau kau taruh di divisi mana?" tanya Surya setelah agak lama.


"Oiya, aku lupa, Sur! Gimana kinerjanya? Ditempatkan dimana anak baru itu? Siapa namanya ya, aku lupa!"


"Lha? Masa' kamu lupa? Khan Nenek yang pesan sama kamu? Bahkan sampai telepon Demian buat memastikan gadis imut itu ditempatkan di bagian yang layak menurut Nenek."


Gege mengeryitkan dahinya. Surya Abdi sengaja mengorek-ngorek keterangan baru dari Gege. Sementara Demian pura-pura sibuk dan tak bergeming mendengar obrolan sepupu-sepupunya itu.


Demian masih sakit hati kena tegur Gege. Tetapi otak dan telinganya memasang full untuk mengintai sang CEO.


Pantas Papaku waktu itu sampai bilang, semoga CEO ini koma cukup lama. Ternyata, cih... tingkahnya memang menyebalkan! Ufffh lihat saja nanti, kau Gege! Aku akan ambil semua yang kau punya termasuk istri sandiwaramu itu!


Rutuk Demian dalam hati. Kini ia mulai termakan omongan kedua orangtuanya serta sanak familinya yang lain. Dan dia pun mulai menguatkan tekad, akan menjatuhkan kepemimpinan Gege seperti ide Papa, Mama dan saudara-saudaranya yang lain. Apalagi kini Nenek dalam keadaan sakit. Dan sepertinya sakitnya Nenek pun berasal dari kabar buruk soal Georgino Gunawan.


Begitu sangkaan Demian.

__ADS_1


"Hallo? Pak Teguh? Bisa minta tolong anak baru itu datang ke ruangan saya sekarang?" ujar Gege di telepon kantor. Ia menghubungi pak Teguh, HRD Personalia yang mengurus Akila dan pekerjaannya.


...[Baik, Pak!]...


Kini Gege, Surya dan Demian sibuk di mejanya masing-masing yang masih satu ruangan.


Tok tok tok


"Permisi, Pak! Selamat pagi! Pak Teguh menyuruh saya untuk menghadap Pak CEO Georgino Gunawan!"


Suara Akila menggema dari balik pintu ruangan CEO.


"Masuk!!!"


Sesosok gadis mungil nan imut terlihat membuka pintu dan masuk perlahan.


Akila gugup melirik kiri dan kanan meja Surya serta Demian.


Matanya kini tertuju pada name tag berwarna keemasan yang berdiri tegak di atas meja sang penguasa. CEO GEORGINO GUNAWAN.


"Pagi, Pak! Lha? Mas Ganteng?"


Akila segera mendekap mulutnya yang menganga lebar.


"Eh? Si tukang minuman?"


Akila dan Gege sama-sama terkejut.


"Jadi, kamu Akila yang Nenek rekomendasikan itu?" ujar Gege lagi.


Surya Abdi terkekeh melihat interaksi lucu antara keduanya.


Ini dua orang ini lagi main sinetron kali ya? Begitu tebak hati Surya.


"Kalian memang gak saling kenal?" tanya Surya penasaran.


"Dia ini, tukang minuman berenergi yang kutemui tiga tahun lalu! Hei, nona pocari sweat! Kamu ambil handphoneku ya waktu itu?"


"Hah?!? Apa-apaan, Mas Ganteng nuduh saya mencuri? Ya ampun! Biarpun saya miskin, anak yatim dan tinggal dipanti asuhan, pantang buat saya ambil barang orang! Haram hukumnya, Mas! Ga berkah buat hidup saya!" jawaban Akila yang spontan dan ceplas-ceplos membuat Surya tertawa terbahak-bahak.


Ini adiknya si Gege, bisa-bisanya lawak parah! Jangan-jangan, dia temenan sama si Arafah. Cewek stand up komedi yang gokil parah.


Surya benar-benar merasa hatinya plong dengan mentertawakan Akila yang makin cute dengan tampilan nyablak dan apa adanya itu.


__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2