SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
RAPAT PANAS


__ADS_3

Devana dan Akila kini duduk diantara anggota keluarga klan Gunawan. Keduanya tampak kikuk. Terutama Devana yang hanya menunduk sedari tadi.


Beban batinnya benar-benar membuat mental ibu anak satu itu anjlok.


Padahal perutnya tadi sangat lapar. Tapi Dev hanya mengambil beberapa sendok kecil saja nasi di piringnya sebagai pengganjal.


Akila agak cuek. Mungkin karena masih masa pertumbuhan juga, Akila makan agak lahap karena menunya yang istimewa.


Surya yang sedari tadi menatap Akila langsung mengambilkannya potongan daging rendang yang agak besar lalu menaruhnya dipiring Akila.


Jujur Akila senang, tapi ia malu juga. Karena di meja marmer besar itu ada para orangtua yang tak lain adalah komisaris serta petinggi perusahaan tempatnya bekerja. Sehingga wajahnya agak bersemu merah.


Setelah selesai makan mereka menuju ke ruang tengah. Akila duduk disamping Bi Fani yang mendorong stroller Ericko sedangkan Ericko tertidur lelap dipangkuan Deva.


"Aku mulai saja ya?" ucap Indra mencoba menjadi pengatur lagi.


"Tunggu! Selama ini Mas Indra terbiasa memimpin kami. Sekarang, izinkan Ellie membuka percakapan lebih dulu! Harusnya Fifie, tapi... kali ini biar Ellie yang memulai!"


Semua menoleh kepada Ellie. Putri ketiga Gunawan Widia itu memang paling berambisi dalam mendapatkan kekuasaan setelah Indra dan Gege diperkirakan lengser nanti.


"Silakan, Ellie!" jawab Indra.


Putra sulung Gunawan itu duduk kembali. Hatinya sudah bisa menebak, apa yang akan adiknya lontarkan di forum keluarga ini.


"Mas Indra adalah anak tertua. Laki-laki pula. Sedari dulu Papa Mama mendidik kita dengan penuh ketegasan dalam hal apapun itu termasuk soal kejujuran. Masih ingat peristiwa Papa mengusir Mas Indra 29 tahun lalu? Ketika Mas lebih memilih menikah dengan Nani?"


"Cukup Ellie! Kumohon, Papa Mama sudah tiada. Ceritakan yang baik-baik saja tentang mereka!" sela Indra dengan rahang mengeras.


"Ini fakta. Tolong biarkan dulu Ellie bicara! Sekalipun dia anak perempuan, tetapi untuk mengungkap semua kebenaran... aku adalah orang yang paling mendukungnya!" tukas Glen mulai bermanuver.


Indra diam. Ia hanya menatap adik dan adik iparnya itu dengan kecewa.


"Berapa banyak cerita bohong yang Mas Indra suguhkan pada kami selama ini?" kata Ellie lagi.


"Mas Indra terlalu! Berani sekali menipu kita bahkan Papa Mama!" Kini Lisa juga ikut angkat bicara.


"Untuk hal itu, aku akui aku salah! Tapi aku melakukan itu demi kita semua!"


"Huh! Demi kita semua? Bukannya demi dirimu sendiri dan Nani pastinya? Dan satu hal..., putra kalian Georgino Gunawan sudah wafat 24 tahun yang lalu! Dan kau dengan otak licik serta akan bulus memasukkan anak tak jelas ini menggantikan identitas putramu itu!"

__ADS_1


Nani menutup mulutnya. Ia tercekat, kini saudara-saudara Indra telah mengetahuinya.


"Dan satu lagi kesalahan keji kalian sampai berimbas pada kesehatan Mama! Kalian berkongkalikong untuk menipu Mama Papa dan membuat si anak tak jelas ini mendapatkan harta berlimpah dan duduk di kursi tahta emas! Hebatnya, Kau Mas!"


"Bangkai yang kalian sembunyikan tak dapat menghilangkan baunya! Kalian mau berkata apa sekarang?"


"Tunggu!!! Kalian boleh menyerangku. Boleh mengataiku anak tak jelas! Tapi jangan pernah sekali-kali menjelekkan Papa Indra dan Mama Nani dihadapanku!!! Aku tidak bisa tinggal diam!" Gege meradang. Ia berdiri dengan tubuh tegak dan wajah tegang.


"Cuih! Si anak pungut ini ceritanya mau balas budi!" ujar Glen membuat Indra ikut berdiri, tapi segera di tarik Nani.


"Tak bisa kah kalian semua bicara baik-baik? Apa seperti ini caranya supaya kalian bisa mendapat apa yang kalian mau?" tukas Indra dengan suara lantang.


"Mas Indra yang memulai semua ini! Mas Indra yang membuat kami semua meradang dengan begitu banyaknya tipuan demi tipuan demi mendapatkan harta Papa Mama!"


"Ya aku salah! Fifie, Ellie, Lisa... Aku minta maaf pada kalian bertiga. Aku memang melakukan kesalahan! Tapi ini kulakukan demi kalian semua!"


"Hahaha..., Mas Indra ini ingin mengambil hati adik-adiknya!"


"Diam kau, Glen! Kau tak punya kapasitas dalam hal ini!!!" bentak Indra.


"Demian punya kapasitas, Om Indra! Tolong, mari kita semua duduk! Selesaikan dengan kepala dingin!" Kini Demian ikut bicara.


Gege yang sudah sangat muak dan kesal pun mencoba mengambil lagi perhatian dengan menyilangkan kedua tangannya ke arah atas.


Semua diam. Tak ada yang menjawab.


"Terima kasih! Papa Indra, saya... Satria. Hari ini, detik ini juga, mengundurkan diri dari jabatan CEO PT MAKMUR SENTOSA. Dan juga beberapa anak perusahaan atas nama Georgino Gunawan, saya kembalikan pada Papa Indra."


"Bagus itu! Memang sudah seharusnya itu!" timpal Tio dengan senyum menyeringai.


"Tunggu! Aku belum memutuskan semuanya! Tunggu Gege!" imbuh Indra, berusaha menenangkan hati Gege putranya yang semakin panas tak karuan.


Gege atau Satria sejak semula memang tak punya keinginan merampas semua harta Georgino Gunawan yang asli.


Justru tiga tahun lalu ia membangun kerajaan bisnisnya sendiri di kota K dengan modal awal dari Indra. Dan tentunya dengan nama aslinya sendiri, PT SATRIA ANGKASA.


"Sudahlah, Pa! Kita ini terlalu berusaha keras, tetapi hasil penerimaan mereka justru tidak sesuai harapan! Marilah kita lepaskan saja semua!" ujar Gege pada Indra.


"Aku setuju dengan Gege, Mas!" Nani mendekati putra angkat dan suami tercintanya.

__ADS_1


"Nani?... Kau pun mulai melemah?"


"Itu lebih baik daripada kita jadi hancur dan menyesal pada akhirnya!"


Indra menatap wajah Nani dan Gege bergantian.


"Setelah bertahun-tahun kalian berdiri disampingku mendukungku? Lalu sekarang kalian menyerah begitu saja? Lalu bagaimana amanat Papa Mamaku, Nani?"


"Mas! Sudahlah! Dunia terus berputar. Adik-adik Mas bisa menghandle semuanya tanpa perlu aturan dari Mas!" jawab Nani pelan.


"Justru kehancuran perusahaan akan semakin dekat!" ucap Indra pada sang istri.


"Perusahaan akan hancur karena ketakutan-ketakutan Mas sendiri!" sela Ellie mendekat pada Kakaknya.


"Mas masih ingin lanjutkan sandiwara? Mas tidak lelah terus-terusan seperti ini? Apa memang fikiranmu kini sudah mati dan tak punya rasa lagi sama sekali?" Lisa ikut mendekat.


"Ellie, Lisa... biarkan Mas Indra mengatakan dahulu alasannya!" sela Fifie menambahkan.


"Kak Fifie, berbohong itu adalah tindakan salah! Bukan seperti itu seharusnya, dan aku rasa... tidak salah jika kita menegur mengingatkan Mas Indra!"


"Cukup, sudah! Terima kasih, untuk kalian adik-adikku semuanya. Juga adik-adik iparku, para keponakanku! Betul, aku terlalu mengkhawatirkan kehidupan kalian semua. Aku takut terlalu berlebihan karena kalian terbiasa disuapi Papa Mama sejak lahir bahkan sampai kini! Sekarang, sudah waktunya aku melepas semua saham-sahamku di perusahaan yang dibangun Papa dengan susah payah ini!"


"Please, Mas! Jangan lebay! Jangan sok-sokan mengkhawatirkan kami padahal kamu lebih prioritaskan diri serta keluargamu sendiri! Lantas kenapa kamu justru berani memberikan jabatan pada orang yang sama sekali tak punya darah setetespun dengan Papa Mama. Bukannya memberikannya pada ponakanmu yang justru jauh lebih berhak!" seloroh Ellie semakin panas.


"Itu adalah alasan palsu, Ellie!" Glen terus memanas-manasi istri dan keluarga yang lain.


"Masalah ini kalau diusut tuntas dengan melibatkan pihak berwajib, Mas Indra dan Gege bisa masuk penjara! Apalagi kalau Fifie, Ellie dan Lisa membuat laporan pengaduan pasal penipuan. Bahkan Nani bisa ikut masuk sel juga!"


Rendy yang sedari tadi hanya jadi pengamat, ikut bicara juga.


Ia memang manusia yang sebenarnya paling berbahaya. Seperti ular berbisa. Diam, merayap lalu mematuk tanpa banyak cakap.


"Mas Rendy! Jangan ikut campur kedalam urusan keluargaku!" tegur Fifie.


"Assyiap, Fifie-ku sayang!" jawabnya dengan wajah cengengesan.


Indra kemudian meminta semua saudaranya duduk.


"Sekarang mau kalian semua bagaimana? Silakan ungkapkan satu persatu keinginan kalian. Dimulai dari Fifie, Ellie... terakhir Lisa. Dan jangan lupa, ada amanat baru dari Papa Mama! Adik bungsu kita, Devana! Biar bagaimana pun, Devana adalah keturunan kuat terakhir dari Papa!"

__ADS_1


Semua kembali terkesiap. Tersadar akan kehadiran Devana yang selama ini hanyalah bayangan Gege. Kini posisi Devana justru setengah menyerang, jika dikondisikan dalam sebuah pertandingan catur.


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2