SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Akhirnya, Kebahagiaan Itu Dijelang Devana


__ADS_3

Devana hanya bisa termangu.


Nyonya Lalita duduk di atas kursi roda dengan kaki kiri terbungkus gips dan perban putih.


Sementara sang suami juga tak lebih baik keadaannya. Nyaris sama. Dan bahkan lehernya memakai cervical collar atau alat penyangga yang terbuat dari karet khusus dari ahli medis.


"Kami kemarin kecelakaan!" tutur Lalita sebelum Devana tanya.


Hhh...! Mirisnya melihat kalian berdua! Punya anak semata wayang, tapi telah dipanggil Tuhan lebih dulu. Tetapi tetap sombong dan menolak mengakui putraku sebagai garis keturunan terakhirnya dengan alasan bibit, bebet, bobotku tidak sesuai espektasi mereka. Tapi kini mereka justru terlihat suram dan menyedihkan.


"Devana!... Maafkan Papa dan Mama! Maaf, kami ini dua orangtua yang tak tahu diri!"


Devana menunduk. Ia tak pernah menyangka kalau kehidupannya benar-benar keras selepas Chandra Putra meninggal dunia.


Usia muda dan baru memiliki satu anak yang masih bayi tetapi ditinggal mati suami, membuat Deva bingung.


Ia semakin oleng, ketika kedua mertua justru memperlakukannya seperti orang asing yang seolah seperti benalu dimata mereka.


Setelah mengusir Deva mentah-mentah, mereka kini menangis sesegukan menyesali perbuatan nistanya hanya karena dirinya kini ternyata salah satu keturunan orang terkaya di Ibukota.


Sedih campur kecewa pastinya. Semua itu mengaduk perasaan Devana hingga ia tak goyah pendirian meski Lalita menangis sesegukan.


Yang membuatnya jatuh dan down adalah melihat foto besar gambar diri sang suami di dinding ruang tamu.


Devana tahu, orang tua mana yang tak menyayangi anaknya. Nyonya Lalita dan Tuan Xian Lee adalah suami istri yang sebenarnya memiliki rasa cinta kasih yang tinggi. Bahkan ia merawat putra saudaranya pun seperti anak kandung sendiri.


Dengan Devana pun, mereka hanya menyesali kenapa putranya menikahi perempuan tak jelas asal-usulnya. Bukan benci pribadinya dan tak pernah sekalipun menyakiti secara nyata seperti melakukan tindak kekerasan. Tidak pernah.


Luluh lantah seketika airmata Deva. Bahkan terisak sedih dengan tangan memeluk tubuh Ericko erat sampai sang putra pun ikut menangis keras.


"Sini, Sayang! Biar Om Anton gendong!" kata Anton mencoba mendekati kami. Tapi rupanya Ericko sudah mulai bisa memperhatikan orang-orang sekitar. Mana yang ia kenal, mana yang tak terlihat familiar.


Tentu saja Ericko menolak, karena tidak mengenal Anton.


Devana hanya bisa mengusap lembut figura foto suami tercinta. Jatuh perlahan air mata di pipi. Mengenang kisah kasih yang tak kan pernah hilang dari ingatan.


Kakak...! Andaikan aku bisa memohon pada Tuhan, aku ingin mengulang kembali kisah cintaku bersamamu. Bersama lagi kita seperti dahulu. Aku akan setia mendampingimu, berobat lebih awal dan menyemangatimu untuk sembuh. Aku tidak akan lelah berjuang mengobatimu, Kak! Aku menyesal pada diammu yang kau kira 'emas'. Andaikan sejak awal kamu terbuka tentang penyakitmu, mungkin saat ini kita masih bersama! Aku akan ikut berjuang demi umur panjangmu, Kak! Dan tak akan kubiarkan kau sendirian menahan kesakitanmu! Hik hik hiks...


Devana berkali-kali menyusut lelehan airmatanya yang mengalir deras tanpa suara.

__ADS_1


Kak Chandra! Anak kita sudah besar. Sudah mau satu tahun di bulan depan. Aku tak tahu, apakah aku ini sudah menjadi ibu yang baik untuk putra kita. Aku tak faham cara mendidik anak yang benar seperti halnya para orangtua diluar sana. Aku merasa timpang tanpa dirimu, Kak! Hik hik hiks...


Deva tak dipedulikan lambaian tangan Nyonya Lalita yang ingin memeluknya. Matanya hanya terpaku pada wajah Chandra Putra Lee Sukoharjo yang telah tiada.


Lagi-lagi mental Deva ambruk bahkan sampai mulai bertingkah lebih dengan menciumi kaca figura foto Chandra tanpa sadar.


Tangisannya pun makin besar, membuat Anton sedikit kewalahan menuntun Deva yang menolak dan masih ingin melepas kangen pada sang suami.


"Deva, tenangkan dirimu! Ericko kaget dan ketakutan melihatmu seperti ini!" ujar Anton membuat Deva tersadar dan menatap lembut wajah Ericko.


Anton mencoba menuntun Deva agar duduk di sofa yang tersedia.


Beberapa ART menghampiri mereka, mengatakan kalau makan siang telah siap.


"Ayo, kita makan dulu!" kata Lalita.


"Tidak, terima kasih, Nyonya!"


"Tolong jangan panggil Mama 'Nyonya', Deva! Maafkanlah semua kesalahan Mama dan Papa yang dahulu. Kami, benar-benar menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk sekali. Karma ini membuat pikiran kami jadi terbuka segalanya! Papa,... mana Akta Kelahiran Ericko cucu kita?"


Xian Lee menyodorkan berkas berwarna coklat dengan wajah sumringah pada sang istri.


Anton Lee hanya diam menyimak interaksi Uncle serta Untienya yang berusaha mengambil hati kembali sang menantunya itu.


Bukan sedang menjilat atau berpura-pura mendekati Devana lagi.


"Papa sadar, kesalahan Papa teramat besar. Papa telah jahat pada kalian berdua. Papa..., melepaskan perusahaan atas nama Ericko Putra Lee. Kami, akan menjual rumah ini dan pindah ke Taiwan!"


Devana baru sadar, kalau kedua orangtua mendiang Chandra benar-benar akan pergi meninggalkan Ibukota.


Terlebih setelah membuka isi berkas yang isinya adalah Akta Kelahiran Ericko Putra Lee Sukoharjo yang lama dan dua lembar surat berharga lainnya. Yaitu surat pelimpahan kuasa dan juga keterangan resmi dari notaris yang isinya sertifikat saham-saham milik Xian Lee dan Lalita sepenuhnya akan diberikan pada Ericko Putra ketika sudah berumur 18 tahun.


Devana hanya termangu tak percaya.


"Papa, Mama...! Apa maksud kalian ini?"


"Kami sudah memutuskan semuanya baik-baik dengan fikiran yang matang, Deva! Kedua orangtua Anton sudah menetap di sana. Mereka memiliki perkebunan serta peternakan luas yang dikelola sendiri. Kami tertarik sekali untuk mengikuti jejak mereka. Harta tak akan dibawa mati. Tapi kebahagiaan hidup, akan terus tertanam di dalam diri serta jiwa meskipun kita sudah tiada!"


Devana kembali berlinang airmata.

__ADS_1


"Deva, boleh Mama minta pelukanmu? Terima kasih, sudah memberikan kami keturunan. Chandra sangat bahagia di akhir hidupnya yang memang telah Tuhan gariskan! Terima kasih banyak, Devana! Kamu telah memberi kami pelajaran hidup!"


Lalita terisak. Tangannya mengusap-usap punggung Deva dan sesekali membelai Ericko Putra.


"Ericko semakin mirip Chandra ya, Pa?" tambahnya disela isak pada sang Suami yang hanya bisa memandangi.


"Ya, Lili! Ericko persis Chandra!"


Devana senang. Hatinya kini tenang. Keluarga suami telah kembali menerimanya bahkan melakukan lebih dari yang ia inginkan.


Deva tak terlalu fikirkan harta apalagi warisan. Ia hanya inginkan kasih sayang.


Sedari kecil memori kenangannya tentang cinta dan kasih sayang tulus hanyalah sebuah khayalan.


Beruntung dirinya diadopsi dan dirawat oleh seorang wanita baik hati yang bisa memberinya pengertian. Sehingga Deva tidak sampai terjerumus pada pergaulan yang salsh dan membuat hidupnya makin kelam.


Tetapi ada ruang kosong dalam hatinya yang mendamba cinta. Karena merasa dirinya kurang kasih sayang dan memiliki kelemahan.


Deva merasa kotor, buruk dan tak memiliki harga. Hingga ia dibuang serta ditelantarkan oleh orangtua sendiri.


Itu sebabnya, ia selalu ingin melakukan yang terbaik. Supaya bisa mendapatkan cinta tulus itu. Termasuk ketika Chandra datang dan mengungkapkan perasaannya.


Devana sangat bahagia. Ia sembahkan jiwa raga, kasih sayang dan perhatiannya pada Chandra seorang. Walau secara naluri, Deva tahu ada yang disembunyikan pria baik itu. Tapi demi mendapatkan kasih sayang cinta sejati, Devana mengabaikan firasat itu.


Kini usianya mau menginjak 23 tahun.


Bukan waktunya lagi memikirkan cinta yang dulu selalu ia harapkan dan khayalkan.


Bahkan Tuhan memberinya banyak sekali.


Cinta dari sang putra semata wayang, juga jati diri serta identitasnya yang terungkap.


Dia sendiri kaget mendapati asal-usulnya yang sungguh sangat luar biasa.


Seperti drama-drama yang mengharu biru, seperti kisah klasik di novel dan komik, bahkan sampai saat ini pun ia masih tak tercaya pada kenyataan yang ada.


Tuhan Maha Baik. Benar kata bunda Anne. Kini Devana begitu merindu pada orangtua asuhnya itu. Ingin segera pulang ke kampung halaman dan membagikan kebahagiaannya itu pada bunda yang selalu ada untuknya.


Tekadnya dalam hati, ia ingin pulang ke yayasan setelah acara seratus hari Chandra esok hari selesai. Memeluk erat tubuh wanita yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh cinta serta petuah-petuah hebat.

__ADS_1


Hidup bukanlah untuk disesali. Tetapi hidup ini adalah ujian dan cobaan yang harus kita lewati. Sedih tak akan selamanya. Karena bahagia itu pasti kelak kau jelang jua. Percaya pada Kebesaran Tuhan. Yakin akan Kebaikan-Nya. Cukup berdoa dan jangan lelah berbuat baik. Semua pasti akan indah pada waktunya. Begitu kata Bunda Anne.


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2