
Devana yang sudah bersiap menunggu Gege di depan garasi paviliun Gunawan.
Sebelumnya ia mendatangi kamar buah hatinya, sekedar kecup kening dan titip sayang pada Fani Pengasuh Ericko.
Ia harus ke rumah sakit, menjenguk Akila yang kabarnya dirawat di rumah sakit.
Gege turun dari mobil.
Ia menghampiri Devana dan segera membimbingnya masuk duduk disampingnya.
"Akila di rawat di rumah sakit mana, Kak?"
"Rumah Sakit Blossom Internusa!"
Deva hanya bisa menelan saliva. Diliriknya Gege yang terlihat gugup dan cemas.
"Semoga Akila tidak terlalu mengkhawatirkan kondisinya."
"Aamiin! Syukurnya ada Surya Abdi yang langsung bergerak menangani keadaan Akila. Tapi aku belum tenang kalau belum melihat Akila langsung!"
"Iya."
"Aku akan sangat menyesal jika Akila sampai,..."
Devana mencoba menenangkan Gege dengan memegang pergelangannya.
"Jangan berfikir yang bukan-bukan! Sebaiknya kita berdoa yang baik-baik saja!"
Gege menghela nafas, kemudian mengangguk pelan.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu dingin dan sepi.
Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.
Devana mengingat pertemuan awalnya dengan Akila.
Gadis kecil yang mungil namun begitu aktif dan lincah bergerak kesana-kemari membuat pusing kepalanya.
"Diam coba! Jangan lari-lari dan duduk berpindah-pindah begitu!" hardiknya kala itu.
Tetapi bocah berumur enam tahunan itu justru tersenyum memamerkan dua gigi depannya yang ompong, sehingga Devana spontan tertawa melihat jendelanya.
Akila kemudian menawarkan sepotong coklat mahal yang bungkusnya warna biru itu pada Devana.
"Wah, jajanan sultan!" ujar Deva terperangah.
"Ini hadiah dari ibu Sipir, Kak! Katanya hari ini Kila dan Mama bebas. Kila dikasih ini tiga bungkus. Yang duanya dipegang Mama, khawatir Kila makan semuanya! Hehehe..."
Ibu Sipir? Ada ya orang namanya Sipir?
Kala itu Devana juga masih kanak-kanak. Baru sepuluh tahun usianya, belum begitu faham tentang dunia luas dan seisinya.
Akila masuk panti sejak saat itu, bersama Mama Malika yang sering membantu Bunda Anne.
Devana mengingat semua hal itu setiap detilnya. Bagaimana kemanjaan Akila padanya seperti layaknya kakak dan adik. Seringkali mengusik jika Deva tenang tak mau banyak gerak.
Akila, membantu dirinya secara tanpa sadar. Mengembangkan kepribadiannya yang kadang terlalu individualis karena kesulitan bergaul.
Devana tersentak. Kendaraan yang Gege kemudi berhenti. Ternyata mereka sudah berada di parkiran Rumah Sakit yang lengang dan sunyi.
....
"Permisi! Ruang rawat pasien keracunan makanan bernama Akila Salsabila, di sebelah mana ya Sus?" tanya Gege tegas.
"Pasien keracunan makanan? Sebentar ya, Pak... Saya cari datanya dulu!"
Cukup lama Gege dan Devana berdiri di depan ruang informasi.
__ADS_1
Ternyata sang perawat jaga mengatakan tidak ada pasien bernama Akila Salsabila.
Kini Gege dan Deva duduk di bangsal ruang tunggu dengan wajah tegang.
Berkali-kali keduanya mencoba menelpon Akila dan Surya Abdi, ternyata nomor yang dituju sedang dalam keadaan tidak aktif.
"Hadeeuh! Kenapa ini bocah!? Bikin panik saja!" gumam Gege geram.
"Tadi bilangnya di RS ini khan?" tanya Devana memastikan.
"Iya. Bilangnya sih gitu! Ga tahu ini sekarang mereka ada di mana!"
Gege kemudian memberi kode Akila untuk segera beranjak ke ruang ICCU dan IGD RS setempat.
Fikiran Gege langsung tertuju pada kesehatan Akila yang dikiranya makin memburuk. Dan Surya belum sempat ke ruang administrasi untuk mendaftarkan nama pasien.
Tiba-tiba seseorang menegur Gege.
"Boss Gege!"
"Anda...,"
"Saya diperintahkan boss Surya untuk mengantar Boss Gege ke suatu tempat!"
"Kemana? Oiya, dimana adik saya dan Surya berada?"
"Saya akan mengantarkan Boss sekarang juga!"
"Adik saya bagaimana keadaannya?" tanya Gege gemas dengan tangan menarik pangkal lengan ajudan yang dikirim Surya.
"Nona Akila baik-baik saja. Mari, ikuti kendaraan saya, Boss!"
"Haish! Dasar dua bocah itu!"
Gege mulai curiga, kalau Akila dan Surya sengaja mengerjainya.
"Kita ini mau dibawa kemana?"
"Kita ikuti saja dulu kemauan dua bocah itu!"
Mobil ajudan Surya tiba-tiba memasuki sebuah halaman rumah panggung sederhana. Rumah terpencil jauh dari rumah-rumah lainnya.
Gege menghentikan mesin mobilnya.
"Permisi, Boss! Ini ada titipan surat dari boss Surya!"
Surya, apa maksudmu ini, hhh...!!!
Gege, Akila ada di tanganku. Dia sedang dalam perawatanku dan keadaannya baik-baik saja. Oiya. Akila akan pulang segera setelah kau dan Deva menyelesaikan misi tantangan. Dan satu hal yang perlu kalian ingat. Jika kalian tidak mengikuti semua aturan main dan mengabaikan misi lalu pulang tanpa menyelesaikannya, Ericko juga Akila tidak akan bisa kalian lihat lagi!
Deva dan Gege sama-sama tersentak kaget membaca selembar HVS bertuliskan kalimat-kalimat buatan tangan Surya.
Ada nada ancaman walau terkesan santai.
"Apa, Surya bermaksud menculik Akila dan Ericko?" pekik Devana histeris.
"Tenang Deva! Jangan panik dulu! Aku tahu, ini pasti akal-akalan Surya dan Akila!"
"Maksudmu apa, Kak? Coco tidak bisa kulihat lagi, ini adalah ancaman serius! Kamu khan tahu, ketika pemakaman Kakek tempo hari...aku dan Akila sempat juga diculik orang-orang tak kukenal bahkan sampai saat ini! Apa, Surya juga yang menjadi dalang semua itu?"
Gege menghela nafas.
Mereka semakin bingung dan kesal ketika salah seorang dari ajudan Surya meminta kunci mobil Georgino Gunawan.
"Kenapa aku harus menyerahkan kunci mobilku pada kalian? Enak saja!"
"Ini perintah boss Surya, Boss! Dan ini adalah misi tugas yang wajib dikerjakan Boss Gege dan Nona Devana!"
__ADS_1
Gege dan Devana saling berpandangan. Terlebih ketika mereka membaca Alinea pertama yang membuat keduanya berdecak kesal.
...Handphonemu dan Deva harus diserahkan juga pada anak buahku! Jangan coba-coba melawan! Akila dan Ericko ada ditanganku! Dan ingat, keselamatan nyawa keduanya berada di tangan kalian juga!...
Mau tak mau Gege dan Devana menurut. Ponsel mereka kini harus berpindah tangan dengan wajah lesu dan tegang penuh emosi.
Dua orang ajudan Surya pergi begitu saja. Meninggalkan Deva dan Gege yang kini termangu tak bisa berkata-kata.
...Tidurlah di rumah panggung ini! Tenang, kalian jangan khawatir apalagi panik! Aku cuma meminta kalian untuk bekerja sama merapikan dan mendekor ulang seluruh isi rumah panggung itu! Aku kasih waktu tiga hari untuk kalian bisa bekerja sama dengan baik! Silakan kalian berunding! Selamat bekerja, sampai jumpa tiga hari kedepan!...
"Aaarrggh! Apa maksud anak itu! Sh*iit! Benar-benar menyebalkan!"
Devana melihat sekeliling rumah panggung yang cukup rapi dan terlihat nyaman itu.
"Masuk dulu, Kak! Kita lihat ada apa di dalamnya!"
Gege menurut.
Ia lebih dulu berkeliling mengitari rumah panggung itu. Mengamati bagian sisi dan belakang rumah, khawatir ada hal-hal yang membahayakan.
"Hati-hati, Kak! Sekitar rumah gelap. Sepertinya aliran listriknya sudah padam sejak lama!" tukas Devana mengingatkan Gege.
"Iya, Dev!"
Prak!
"Kakak!!! Ada apa?" teriak Deva mendengar suara patahan kayu yang keras.
"Aku menginjak ranting kayu kering, Dev! Tidak apa-apa! Disini ada kamar mandi dan sumur saja! Kamu tetap waspada juga!" kata Gege dengan suara keras. Ia masih berada dibagian belakang rumah panggung.
"Kak!"
"Ayo masuk! Semua di sekitar terlihat aman!"
Kreeek...
Ternyata pintu kayunya tidak terkunci. Gege mengambil korek gasnya, lalu menjentik agar menghasilkan percikan api.
"Ada lampu tempel! Aku akan coba nyalakan supaya ada pencahayaan di rumah ini!"
"Kak! Seperti... ada aroma-aroma bunga ya?"
Deva merapatkan tubuhnya pada Georgino. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ternyata ukuran rumah panggung ini hanya sekitar tujuh kali lima meter, menurut pengamatan Gege. Hanya ada satu ruangan kamar tidur saja.
Sebuah lampu pelita kecil kini telah menyala. Menerangi setiap sudut ruangan rumah yang tampak begitu sederhana bahkan nyaris tanpa perabotan.
"Rumah siapa ini? Kenapa Surya bisa-bisanya menyuruh kita mendekor rumah panggung yang sangat jauh terpencil dari pemukiman penduduk!" tutur Gege dengan wajah geram.
"Sudah malam, Kak! Sudah pukul dua belas malam, sekarang!"
"Aku coba buka pintu kamar itu. Siapa tahu ada bantal dan selimut yang bisa kita pakai malam ini!"
"Kak...! Hati-hati! Aku takut kalau ternyata di dalam kamar ada hewan melata!" ujar Deva membuat Gege lebih waspada.
"Kuharap si Surya tidak sesadis itu!" timpal Gege berusaha meyakinkan dirinya dari fikiran buruk.
Gege terlihat agak tenang. Ternyata di dalam ruang kamar itu ada kasur lantai, dua bantal dan satu selimut tebal.
"Dev, sini masuk! Ternyata di kamar ini ada kasur lantai lengkap bantal dan selimut!" seru Gege.
Gege berusaha mencari pelita lain di setiap dinding bilik ruangan. Ternyata perkiraannya tepat. Ada dua lampu pelita minyak tanah yang menggantung di kamar dan ruang dapur yang menjolok ke tanah.
Ternyata dapurnya cukup unik dan luas. Agak terpisah turun kebagian bawah tanah. Tidak beralaskan panggung belahan bambu seperti ruang utama.
Yang membuat Gege makin lega, ternyata dapurnya walaupun masih tanah tetapi keadaannya sangat bersih dan rapi. Sehingga ia tak terlalu khawatir jika harus tinggal beberapa hari di rumah sederhana ini.
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1