
Surya tersentak, di tengah jalan raya ia melihat kerudung brukat hitam milik Akila. Ia ingat betul kalau kerudung itu benar-benar kepunyaan adik kandung Satria.
"Gege! Sepertinya ada yang tidak beres!"
Surya berlari menghampiri Gege yang tampak tegang.
"Iya. Aku sudah mencium aroma-aroma busuk itu!"
Surya menelan ludahnya. Ia mengkhawatirkan keadaan Akila. Dan juga mengingat ucapan demi ucapan sang Papa bersama Om Glen, Papanya Demian.
Apakah mereka yang merencanakan ini semua? Kemana mereka membawa Devana dan Akila?
Hati Surya berdebar kencang.
Ia segera menelpon hape Sang Papa, tetapi hanya tulisan memanggil saja. Pertanda ponselnya sedang tidak aktif.
Semoga saja mereka tidak bertindak kejauhan sampai menghilangkan nyawa orang! Doa Surya dalam hati.
Iring-iringan mobil pelayat satu persatu kembali perlahan meninggalkan tempat pemakaman.
Prosesi pemakaman telah selesai dilakukan. Kini tinggal keluarga inti dan beberapa sahabat yang masih berada di area pemakaman.
Widia yang duduk kaku di atas kursi rodanya kini terlihat semakin mengkhawatirkan.
Hingga tiba-tiba,...
"Mama? Mama!?! Mamaaa!!!"
Entah apalagi yang terjadi kini. Semua kembali panik melihat Widia dalam keadaan yang,
"Mama! Mama, please Mama! Jangan buat kami semua tambah sedih, Ma! Papa sudah bahagia! Papa sudah tenang di alam baka! Ma! Ikhlaskan Papa, Ma! Ikhlaskanlah, Ma! Hik hiks!"
Indra panik. Ia mencoba memeluk tubuh ringkih sang Mama. Teringat akan masa kecilnya yang sangat bahagia.
Ketika umurnya empat tahun dan masih jadi anak pertama pasangan Gunawan-Widia.
__ADS_1
"Mama, Mama! Mama... itu apa?" tanyanya dengan suara polosnya.
"Itu kudanil, Sayang!"
"Kudanil galak, Pa?"
"Hahaha..., lebih galakan Mama deh kayaknya!"
"Ish, Papa! Apa iya Mama galak?" saat itu Mamanya mencubit pelan pinggang Papanya.
"Hehehe, tapi galakmu membuatku makin cinta dan sayang!"
"Tapi Mama baik, Pa! Mama gak makan daging mentah seperti harimau itu!" ujar Indra kecil membuat Gunawan dan Widia tergelak penuh tawa canda.
Hari yang indah di Taman Safari. Duduk diapit Papa dan Mama yang begitu menyayanginya setulus hati. Dan saat itu Mamanya sedang mengandung Fifie, adiknya yang merupakan anak kedua.
"Lihat, lihat... orang utan itu melindungi saudara-saudaranya, Indra! Hei, betapa hewan juga memiliki rasa kasih dan sayang seperti manusia! Nanti, Indra juga harus sayang dengan saudara-saudaramu nanti ya, Nak?!"
"Memangnya Indra punya saudara, Pa?"
Indra menangis. Melihat wajah Widia yang pucat dan berkeringat.
Mereka membawa Widia ke villa yang tak jauh dari area makam sang Papa.
Tubuh Widia diletakkan dengan hati-hati di atas springbed king size.
Fifie, Ellie juga Lisa mengerubungi tubuh sang Mama yang tak sadarkan diri.
Air mata tumpah ruah, bahkan Indra, Gege dan Surya juga sampai shock dan berlinang air mata..Sesekali mereka mengusap butiran yang meluncur satu persatu dari kelopak matanya karena melihat keadaan Widia yang mengkhawatirkan.
"Dev..., Dev...!"
Suara Widia terdengar jelas meskipun matanya terpejam.
"Deva! Devana, mana Deva?" tanya Indra. Ia mengedarkan pandangannya mencari menantu yang ternyata adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Tidak tahu. Aku tidak melihatnya!"
"Kemana anak itu pergi?"
"Dari tadi dia tak kelihatan!"
Suara-suara sumbang justru terdengar bukan jawaban yang memuaskan.
"Jaga Deva...! Sayangi Deva! Lindungi dia! Dia... adik kalian! Dia amanat Pa-pa! Mama mo-hon! Ma-ma ti-tip De-va,"
Widia seperti tercekik kerongkongannya. Matanya agak membulat besar untuk beberapa saat. Dan kemudian melemah lalu terkulai.
"Mama! Mama!!! Mama!!!"
"Mama!!!"
"Mamaaa!!!"
"Mama jangan pergi, Ma! Jangan tinggalkan Fifie sendiri, Ma! Mama! Mama bangun! Mama bangun!!! Fifie akan mengurus Mama dengan baik walaupun Papa telah tiada! Mama! Mama bangun! Fifie akan jadi anak berbakti, Ma! Mama! Maaa!!! Ma, Fifie sudah memasukkan berkas perceraian dengan Mas Rendy! Fifie akan cerai dan bisa mengurus Mama dengan baik, nantinya! Ma! Maaa!!!"
"Mama! Bangun, Ma!!! Bangun!"
"Hik hiks, Mamaaa!!! Mamaaa!!!"
Suasana semakin kelam.
Widia telah dijemput malaikat maut. Roh Sang suami tercinta juga sudah menunggunya dengan lambaian tangan yang semangat mengajaknya untuk pergi ke alam nirwana.
Roh Widia menoleh pada jasad dirinya yang kini terkulai dan perlahan dingin.
Ditatapnya satu persatu wajah putra-putrinya dengan penuh cinta. Juga para cucunya yang penuh duka. Widia juga memandang sekilas para menantunya.
Tapi matanya tajam menatap wajah Rendy yang tampak menunduk dalam.
Tuhan! Tolong bantu aku menyatukan keluarga kecilku seperti harapan mas Gunawan! Kami inginkan keluarga kami rukun dan damai. Kami ingin anak, menantu dan cucu kami tak lagi mengagungkan harta, tahta dan jabatan diatas segalanya. Hanya kasih sayang, cinta tulus suci sesama saudara yang saling menolong dan melindungi satu dengan yang lain, itu yang utama.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...