SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Akhirnya, Anton Lee Tersadar Juga


__ADS_3

Sementara Anton Lee mengingat cerita Bunda Anne akan bi Asih, PRT keluarga Xian Lee dan Lalita yang menjadi saksi kunci.


Ia menuju kediaman wanita paruh baya yang berada dibelakang rumah besar Om dan Tantenya.


Sayang, pencariannya terputus. Rumah kecil itu telah kosong melompong. Bahkan kusam dan tak terurus. Rumput liar serta ilalang tumbuh disekitar halaman.


Sepertinya rumah itu sudah cukup lama tak dihuni bi Asih lagi.


Tetapi Anton memberanikan diri mencongkel gemboknya dengan kemampuannya yang tak banyak diketahui orang.


Gembok terbuka.


Rumah dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi itu benar-benar kosong. Tak ada satu barangpun. Anton tak bisa mencari keterangan soal Devana begitu juga Bi Asih sang penghuni.


Ia hanya bisa menghela nafas, kesal sekagus kecewa. Mungkin pelacakannya harus sampai disini. Begitu isi hatinya.


Hingga tiba-tiba hapenya berdering.


Ternyata Leon, asisten pribadinya kembali menelpon.


...[Boss! Ternyata, nama Devana dan Georgino Gunawan sama sekali tidak terdaftar di KUA manapun juga! Itu akal-akalan mereka demi untuk mengelabui Gunawan Wicaksono dan mendapat separuh harta warisannya!]...


"Telat! Aku sudah tahu lebih dulu kabar itu! Hei, cari keterangan soal bi Asih! ART rumah Omku yang dahulu. Dia kunci dari semua keruwetan yang dilakukan Devana! Cepat cari infonya sekarang juga!"


...[Siap, Boss! Laksanakan!]...


"Jangan salah orang lagi! Kalau kau salah beri keterangan, kupecat kau dari pekerjaanmu sebagai asisten pribadiku!"


...[Hehehe, tenang Boss! Aku otewe cari info mazeh!]...


Klik.


Anton menghela nafasnya. Dipijatnya pelipis kirinya yang nyut-nyutan pusing.


Ia ingin mencari bi Asih dan menanyakan kisah sebenarnya sebelum menanyakan kembali pada Om serta Tantenya.


Anton Lee merasa seperti orang yang bodoh. Yang tak tahu apa-apa dan malah terlalu berlebihan menyerang Devana.


Teringat kembali wajah pucat perempuan itu dengan kalimat kasarnya yang menohok pada pertemuan pertama mereka setelah belasan bulan tak pernah bertemu. Bahwa Devana akan melawan dirinya meskipun harus mati mempertahankan Ericko Putra.


Haruskah aku mencari Devana dan mengajaknya ketemuan lebih dahulu sampai aku bertemu bi Asih?


Anton nyaris terjungkal ketika seekor kucing menerjangnya ketika hendak menutup pintu rumah bi Asih yang kosong.


"Hei! Jenggo! Jenggo!!! Kau ternyata masih hidup! Tinggal dimana kamu sekarang? Diurus oleh siapa?"

__ADS_1


Anton berteriak melihat kucing Anggora Turki yang dulu adalah hewan kesayangan Chandra dan dia.


Anton bergegas mengejar Jenggo, nama kucing peliharaan mereka tiga tahun lalu.


Kucing itu masih lincah walaupun tubuhnya lebih ramping dari tiga tahun yang lalu. Jenggo membuat Anton sedikit kerepotan karena harus melewati celah-celah gang yang sempit ke belakang rumah kosong bi Asih.


Hingga matanya menangkap sesosok tubuh bocah kecil bertelanjang dada dengan celana basah.


Tu-tuyul?!?


Hampir saja ia berteriak kaget melihat penampakan bocah tersebut sampai ada ibu-ibu keluar dari dalam rumah sambil membawa sapu lidi.


"Indaah!!! Lihat anakmu iniii! Main air terus niih!!!"


"Bi Asih???"


Wanita itu menengadahkan wajahnya. Matanya membelalak sama kaget seperti Anton juga responnya.


"Den... Anton???"


"Bibi tinggal di sini? Kenapa pindah dari rumah lama? Kenapa juga keluar dari pekerjaan di rumah Uncle dan Ontie?"


Bi Asih tak bisa menjawab. Ia hanya menengok ke kanan dan ke kiri. Lalu segera menggendong bocil yang disinyalir adalah cucunya itu sambil bertanya pelan pada Anton.


"Aden tahu rumah Bibi dari mana?"


Bi Asih segera menarik Anton masuk kedalam rumah kecilnya yang terlihat kumuh.


"Kenapa memilih tinggal di rumah ini daripada di rumah yang Kakek berikan untuk Bibi?" tanya Anton, merasa miris dengan kondisi sang PRT nya kini.


"Panjang ceritanya, Den!"


"Maksud Bibi?"


"Sebenarnya Bibi harus pergi dari kota ini untuk selamanya. Bibi juga tidak boleh bertemu dengan Aden Anton!"


"Siapa yang larang?" tanya Anton.


"Tuan dan Nyonya! Mereka khawatir Bibi buka suara sama Aden!"


"Soal Devana khan?"


Asih mengangguk lesu. Ia memegang tangan Anton seraya berkata, "Maaf, Den! Bibi tak bisa menjaga Nona Devana dan juga Tuan Cilik Coco! Mereka...,"


"Apa yang terjadi pada mereka, Bi? Apa benar Uncle dan Untie mengusir Devana dan hanya mwmberi uang lima juta saja?"

__ADS_1


Asih terperangah.


"Aden tahu darimana? Apa Aden berhasil menemukan Nona Deva?"


Anton menatap Asih dengan serius.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi! Mengapa Uncle dan Untie bisa sampai setega itu? Pasti Devana buat kesalahan khan? Selingkuh?"


"Aden salah besar! Nona Devana sangat mencintai Aden Chandra. Bahkan setelah melahirkan, dialah yang paling lelah bolak-balik mengurus Den Chandra keluar masuk rumah sakit. Kondisi Den Chandra sangat memprihatinkan, Den!"


"Lalu kenapa Uncle juga Untie seperti begitu benci pada Devana?"


"Sedari awal mereka memang tidak suka, Den! Bahkan ketika Non Deva hamil muda, mereka sering menyuruh Asih memberikan jamu racikan mereka. Untung Asih selalu menukarnya sebelum diberikan pada Nona Deva. Mereka tak ingin Den Chandra memiliki keturunan dari perempuan yang tak jelas asal-usul serta bibit, bebet, bobotnya."


"Sampai seperti itu? Dulu sewaktu aku tinggal disana, mereka tak pernah terlihat jahat pada Devana. Walau memang terkesan cuek! Tapi..., aku sungguh tak menyangka kalau Uncle dan Untie bisa sekejam itu! Biar bagaimanapun, Ericko adalah darah daging Chandra! Kenapa setega itu!"


Anton Lee sekali lagi tak percaya.


Tak habis fikir kenapa kedua orangtua Chandra memiliki sifat sejahat itu. Demi harkat dan martabat darah biru mereka agar tetap murni suci, sampai menggeser sisi-sisi moralitas dan kemanusiawian mereka sendiri. Jahatnya!


"Aden sudah bertemu Nona Deva? Bagaimana keadaannya? Bagaimana juga dengan Ericko?"


"Bibi tidak pernah kontak dengan Devana?"


Anton malah balik tanya.


"Tidak, Den! Hape Nona Devana dijual dulu. Katanya untuk biaya hidup tinggal di kota! Nona takut pulang ke yayasan Bunda Anne! Nona tak mau Bunda Asuhnya ikut kesal dan sakit hati. Nona juga tak mau kejahatan Tuan dan Nyonya diketahui banyak orang. Nona juga diancam, sama seperti saya!"


"Bibi diancam juga?"


"Tuan bilang, menantu saya bisa saja diketahui jadi mayat kalau sampai saya membocorkan kisah Nona Devana pada orang lain. Mereka juga menjelek-jelekkan nama Nona pada rekan bisnis dan juga teman-teman Den Chandra!"


"Ya Tuhan! Kenapa Uncle bisa seperti itu?!"


Anton merasa pusing kepalanya. Ia malu hati juga mengingat ancamannya tempo hari pada Devana.


"Aku harus menemui Devana! Harus meluruskan masalah ini!!!"


Anton pamit pada Asih.


Ia langsung pergi menuju kediaman Gunawan Wicaksono, tempat dimana Devana tinggal saat ini.


Ia ingin minta maaf pada Devana secara jantan.


Selama ini tuduhannya salah. Otaknya telah terkontaminasi cerita-cerita fiktif yang bohong belaka.

__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2