SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
KEHANCURAN KLAN GUNAWAN


__ADS_3

PT MAKMUR SENTOSA kini benar-benar diujung tanduk.


Semua klannya seolah tak ada niatan mengangkat kembali perusahaan warisan mendiang Ayah mereka.


Semua sibuk berkemas dan membawa harta masing-masing. Miris.


Tak ada yang peduli tetesan keringat, airmata serta doa almarhum Gunawan di masa mudanya membangun perusahaan retail itu hingga memiliki beberapa pabrik yang kini di miliki putri-putri serta menantu dan cucu mereka.


Dimata mereka, PT MAKMUR SENTOSA hanyalah perusahaan yang mencaplok keuntungan dari pabrik-pabrik yang mereka kelola. Tak difikirkan niat awal Sang Papa yang justru niat membangun pabrik lain sebagai bukti kedigjayaan dan keperkasaannya dalam mengelola perusahaan.


Nobody perfec! Tak ada manusia yang sempurna.


Otak jenius Gunawan mampu membangun perusahaan dan makin berkembang pesat dalam waktu singkat dimasa mudanya yang produktif. Tetapi Gunawan lemah dalam urusan cinta.


Akhirnya kejayaannya hancur oleh kelemahan yang juga dilakukannya sendiri.


Bahkan sampai akhir menutup matapun, Gunawan tak bisa menjadi panutan bagi keturunannya.


Ia belum sempat memberi nasehat. Bahkan kini putra dan putrinya bertebaran kemana-mana tak lagi satu tempat.


Semua telah hengkang. Paviliun telah dilelang.


Yang lebih miris adalah keluarga Elli-Glen. Demian sakit jiwanya. Danira pergi melanjutkan S2nya ke negeri Kangguru, Australia. Tak mau peduli pada kekerasan hati serta keegoisan Papa Mamanya.


Pabrik yang mereka kelola juga beberapa kali ada masalah hukum. Bahkan Glen nyaris masuk penjara karena pabriknya kedapatan pihak Dinas DepKes menggunakan bahan-bahan yang sudah lewat masanya alias kadaluarsa.


Untunglah, saat itu keuangan mereka baru saja disatukan sehingga mampu menyewa lawyer kelas kakap yang bayarannya 1 M hingga tuntas. Dan Glen bebas dari tuduhan dengan banyaknya manipulasi data serta cocok sana-sini.


Tapi justru modal perusahaan yang jadi oleng.


Demian juga harus rutin berobat ke RS Spesialis Jiwa dan konsultasi psikiatri.


Mereka keluarga yang paling hancur diantara yang lain.


Tio dan Lisa masih jauh lebih beruntung walaupun juga tak se-flamboyan dulu.


Surya Abdi dan Tiara masih sedikit lebih baik. Kedua anak mereka masih bisa diandalkan walaupun harus bertumpu pada saran dari Indra serta Georgino.


Surya berhubungan jarak jauh dengan Akila. Karena Akila kini kembali ke yayasan Bunda Anne. Membangun usaha rumah makan dan pabrik camilan bersama Devana.


Yayasan direnovasi oleh Devana dengan uang warisan dari Gunawan serta Mertuanya (kakek-neneknya Ericko)


Gege masih tinggal dengan Indra dan Nani sementara waktu sampai pernikahan resmi mereka digelar bulan depan bertepatan dengan setahun usianya Ericko.


Untuk sementara pasangan suami istri yang baru menikah itu terpaksa LDR.


Beruntung teknologi telah canggih dan mereka masih bisa chattingan via internet. Video call dan sambungan telepon nyaris setiap dua jam sekali demi untuk memperlancar komunikasi keduanya.


Sementara Fifie dan Rendy, kini membuka lembaran baru. Mereka mengikuti saran dua putri mereka untuk pindah ke kota lain dan mencoba peruntungan bisnis disana.


Rendy telah berubah total. Ia sadar, umurnya tak lagi muda. Seiring perjalanan hidup yang mendewasakan sifat kenakalan dan kekanakkannya, Rendy tidak ingin kehilangan Fifie.


Ia benar-benar telah sadar akan semua kesalahannya dimasa lalu. Bahkan demi Fifie, ia rela mengikuti apapun saran anak dan istrinya itu. Pria itu kini menjadi pria rumahan yang hanya sibuk mengurus kebun dan taman properti yang jadi bisnisnya kini.


.................

__ADS_1


Jonathan dan Zahira kini menjadi pemilik tunggal rumah besar yang letaknya didepan taman perumahan elit.


Wanita beranak satu itu sekarang menjadi seorang jutawan dengan memiliki pendapatan bersih perbulan sekitar seratus juta dari butik dan juga perusahaan konveksi milik almarhumah Nabila.


Keduanya hidup tenang walaupun tak ada pria dewasa yang mendampingi.


Hingga suatu ketika, Glen dan Elli mendengar kabar kisah cinta Demian Nabila dengan Zahira dari rekan bisnis mereka yang ternyata masih kerabat dari Tuan Yeon, Papa Nabila.


Sebenarnya pasangan itu dulu mengenal baik Papa Nabila karena putri Yeon itu sering bermain di paviliun mereka. Tetapi sejak istri Yeon meninggal dunia dan pria misterius itu sering bisnis pergi keluar negeri, mereka mulai jauh. Apalagi ketika Nabila mulai jarang bermain bersama putranya lagi, mereka lost contac.


Glen menatap wajah Jonathan dengan mata membulat.


Mirip Demian ketika masih kecil! Bahkan gaya dan juga pembawaannya sangar persis. Angkuh serta dingin pada orang yang baru dikenalnya. Benar-benar seperti Demian!



"Jonathan?!"


"Ya?"


"Kamu adalah cucuku! Saya ini adalah Kakekmu, Nak!"


Tetapi bocah tanggung itu hanya menatapnya tanpa perasaan. Membuat Glen dan Elli saling bertatapan.


"Benar-benar mirip Demian!" tukas keduanya berbarengan.


Jonathan baru mengerti kini. Sepertinya Kakek dan Neneknya sedang mengambil hatinya. Seketika Jonathan tersenyum. Senyuman menyirat kebencian.


"Ada apa kalian mendatangi kami?" tanya Jo dengan nada datar.


Zahira menyentuh tangan putra tunggalnya dan mengerjapkan mata.


"Kamu cantik! Sangat cantik! Pantas saja, putraku memiliki anak yang sangat tampan! Namamu Zahira, khan?" ujar Elli penuh sandiwara.


Elli dan Glen memang memiliki niat lain dengan menyambangi Zahira serta Jonathan. Demi harta, demi kesembuhan Demian, mereka rela menjilat Zahira dan ingin menukarkannya dengan identitas resmi Jonathan yang tak lain adalah cucu mereka.


Sungguh harta membuat kedua orangtua Demian itu gelap mata.


Kerabat Tuan Yeon menceritakan detail, kalau Zahira mendapatkan warisan perusahaan konveksi dari Nabila dan rumah besar Tuan Yeon. Otomatis perempuan yang pernah ditiduri Demian kini bukanlah wanita sembarangan.


Zahira duduk dengan tenang. Mendengarkan celotehan Elli yang meminta maaf atas perbuatan putranya dimasa lalu karena pernah berbuat hal yang buruk sampai Zahira melahirkan Jonathan.


"Saya tidak punya penyesalan sedikit pun karena melahirkan Jo, Bu! Jo adalah anugerah terindah Tuhan untuk saya. Jo adalah harta berharga saya yang Tuhan hadiahkan dalam hidup Saya. Saya sudah lupakan masa lalu!"


"Tapi..., Demian kini hidup dalam penyesalan, Zahira! Demian... Juga...tidak bersalah dalam hal ini. Kondisinya saat ini, benar-benar membuat kami prihatin! Saya tahu, kamu perempuan yang baik. Kamu bahkan adalah Ibu yang baik. Pasti kamu mengerti maksud Saya, Zahira! Ibu mana yang tak sedih melihat penderitaan serta keadaan putranya yang kini sedang labil fikirannya! Saya mohon, Zahira dan Jo mau menjenguk Demian sekali saja."


"Jangan Mama!" sela Jo membuat Zahira menatap putranya dengan wajah serius.


"Demian sekarang ada dimana, Bu?"


"Ada di rumah, Zahira! Saya tak tega menitipkannya di rumah sakit jiwa. Putra Saya tidak gila. Dia hanya sedang terguncang jiwanya! Hik hik hiks..."


Elli menangis.


Untuk cerita yang ini, ia benar memakai hati dan perasaannya. Hatinya ikut terluka melihat Demian yang memprihatinkan.

__ADS_1


Elli memegang kedua tangan Zahira.


"Saya mohon, tolong lihat putra saya! Kami bingung harus bagaimana lagi menghadapinya. Setiap hari keadaannya semakin menyedihkan. Bahkan Demian pernah melakukan hal yang menakutkan kami.Demian ingin gantung diri!"


Glen ikut berbicara. Nada bicaranya yang cepat membuat Jonathan menatap Papa Demian itu sambil berkata, "Itu tidak ada urusannya dengan kami! Dan bukan salah kami juga!"


"Jo!!!"


Zahira kembali menarap wajah Jonathan dengan tatapan sendu.


Putranya bangkit dari duduknya. Ia mendengus dan pergi masuk kamarnya tanpa kata.


"Maaf...! Jonathan tidak bermaksud,"


"Saya faham, sangat mengerti! Karena Demian kecil pun dulu seperti itu!" timpal Elli membuat Zahira tersenyum tipis.


"Ibu,... Saya tidak berani janji! Tapi saya akan coba mengajak Jonathan agar mau pergi menjenguk putra Ibu Bapak! Maaf, putra saya masih terlalu kecil. Belum faham masalah orang dewasa!"


"Jo adalah cucu kami. Putra dari Demian Alkatiri, anak kami. Pastilah kami sangat mengerti dirinya! Terima kasih Zahira! Kamu sangat lembut dan baik hati. Ini kartu nama Papa. Tolong hubungi Papa dan kabari kapan kalian mau datang ke rumah kami. Nanti supir kami akan menjemput!"


Glen berusaha mengambil hati Zahira. Bahkan ia menyebut dirinya 'Papa' supaya Zahira ikut memanggilnya 'Papa' juga.


"Terima kasih, Pak Bu! Maaf... Saya ada pertemuan setengah jam lagi! Mohon maaf... Saya akan hubungi Bapak Ibu nanti!"


Glen dan Elli mengangguk lesu.


Harapannya tinggal Zahira serta Jonathan saja.


Harta serta perusahaan mereka butuh suntikan dana serta dukungan moril Zahira agar bersedia membantu pengobatan Demian juga.


............


"Mama...! Apa Mama mau saja menuruti perintah mereka?"


Jonathan meradang ketika tahu Glen dan Elli telah beranjak pergi.



Zahira tersenyum sembari mengelus lembut pucuk rambut putranya.


"Tidak semudah itu mereka ingin mengatur kita, Sayang!"


"Mama...! Jo tak mau menjenguk pria itu!!!" pekiknya kesal.


"Sayang! Kita telah berjuang hidup sampai detik ini! Tuhan menyayangi kita! Tuhan tidak akan membiarkan kita hidup sengsara terus menerus, Nak! Tetapi..., bukan berarti kita juga harus jadi orang jahat karena hidup kita dahulu selalu susah. Orang jahat pasti Tuhan beri hukuman, Nak! Tak perlu kita yang menghukumnya!"


"Tapi buat apa kita ikut campur urusan mereka! Mereka sendiri yang susah karena jadi orang jahat! Kenapa kita juga harus menanggung kesusahan mereka?"


"Menengok orang sakit itu perbuatan baik, Nak! Tuhan pasti akan berikan pahala. Dan pahala itu bisa berupa apa saja. Seperti kesehatan juga kebaikan. Harta ini, juga adalah pahala dari kesabaran kita menjaga Kakek dan Mami. Walaupun kenyataan Mami telah membuat hidup kita jadi seperti ini, tapi... Kita kini menjadi orang yang memiliki semua ini khan? Rumah, pabrik, butik, itu milik Jo. Dan bisa jadi modal hidup kita kedepannya, Sayang!"


Jonathan menatap netra Sang Mama.


Dimatanya, Sang Mama sudah seperti Malaikat yang selalu berkata lembut penuh kasih sayang. Tapi mengapa hidupnya penuh kesedihan dan penderitaan. Dan Jo sering sekali mengintip Mamanya menangis di tengah malam, saat Mami Nabila masih hidup.


Jo tak habis fikir, mengapa sang Mama begitu kuat bertahan hanya dengan kalimat yang sering ia dengar.

__ADS_1


"Demi dirimu, Nak! Demi masa depanmu kelak! Mama rela menerima takdir ini!"


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2