SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Akhirnya Gege Bercerita Kisah Hidupnya Yang Kelam


__ADS_3

Devana menatap rumah masa kecilnya dengan binaran keharuan.


Kakinya agak gemetar mengingat kelakuannya yang telah pergi jauh tak mau mengabari keadaan diri pada Bunda tercinta.


Ericko seperti merasakan kegundahan hati Mamanya. Kontak batin keduanya begitu erat hingga Ericko turut menangis dalam gendongan Devana.


Gege yang berjalan mengikuti langkah Devana di belakang, segera mengambil alih Ericko. Gege mengambilnya dari gendongan Devana.


"Devana!?!"


Bunda Anne yang terkejut mendengar suara tangisan bayi di depan pintu, terperanjat melihat putri angkat pertamanya berdiri tegak dengan linangan air mata.


Mereka saling berangkulan. Tangisan keduanya pecah penuh luapan emosi.


Anne merasakan sekali kesedihan hati Devana yang penuh luka dan derita.


Hanya derai air mata yang bisa mewakili Deva bercerita dari hati ke hati pada sang ibunda.


"Bun! Ini Ericko Putra, anak Dev, Bun!"


Anne mengusap sisa air matanya sembari meraih jari imut Ericko.


Geoergino masih diam berdiri dengan pangkal lengan menumpu tubuh mungil putra Devana.


"Mas ini," tanya Anne pada Gege.


"Ini Kak Georgino Gunawan, Bun! Beliau-lah yang telah menolong dan membantu Deva selama hampir dua bulan ini!" tutur Deva, memperkenalkan Gege pada Anne.


"Kalian,... tinggal bersama?" tanya Anne agak tergagap.


"Tapi tidak ada apa-apa diantara kami, Bun!" elak Deva mencoba menerangkan. Ia tahu, Bundanya panik dengan keadaan situasinya saat ini.


"Jadi selama ini kamu berada di Ibukota, Dev?"


"Iya, Bun!"


"Hhh...! Syukurlah, akhirnya doa Bunda dikabul Tuhan! Akhirnya kamu pulang, dan bunda kini tenang!"


"Dev belum bisa pulang dan tinggal sama-sama Bunda dulu kurang lebih empat bulan lagi. Maaf..."


"Kenapa?"


"Panjang ceritanya, Bun!"


"Boleh saya menceritakan awal ceritanya, Bunda?" timpal Gege membuat Anne serta Devana fokus menatap padanya.


Anne mempersilakan Gege duduk di ruang tengah mereka yang lebih luas dari ruang tamu.


Disanalah Gege menceritakan semua jati dirinya. Perihal aslinya yang sebenarnya bukan putra kandung Indra dan Nani. Tentang dia yang hanyalah seorang anak pungut saja.

__ADS_1


Devana yang turut mendengar kisah hidup Gege ikut terkaget-kaget.


Selama ini ia hanya mengetahui keadaan Gege diluar saja. Ternyata pria dewasa itu memiliki kisah yang tak kalah sedih dibanding hidupnya.


"Saya,...adalah anak pungut Papa Indra dan Mama Nani. Georgino Gunawan memang putra kandung mereka, tapi itu bukanlah saya. Karena nama asli saya adalah Satria. Anak dari keluarga miskin di kota K. Saya bersama Papa dan Mama memang merencanakan sesuatu hal yang besar, yakni mendapatkan harta warisan. Tapi sebenarnya bukan itu tujuan Papa. Beliau sedih melihat adik-adiknya dan para suami mereka lebih berambisi mendapatkan bagian perusahaan tapi tak mau andil bahu membahu membangun menjadi lebih maju lagi. Mereka bahkan cenderung mengeruk semua keuntungan demi diri sendiri. Perusahaan pernah oleng bahkan nyaris bangkrut jika Papa Indra tak turun tangan. Saya menyaksikan sendiri perjuangan mereka selama 15 tahun membesarkan perusahaan Kakek!"


Anne termangu mendengar cerita Satria alias Georgino palsu.


"Jadi, sekarang kalian bertiga sekongkol untuk mengelabui kakek nenek serta anggota keluarga yang lain?"


"Iya. Kami ingin menguasai dahulu semua aset Kakek. Kami juga ingin memberi mereka semua pelajaran dan pengalaman berharga. Dan itu adalah rencana terbesar Papa. Saya sendiri tidak tahu, apa yang Papa Indra fikirkan jangka panjangnya!"


"Itu sebabnya kamu mengajak Devana untuk nikah kontrak dengan uang konvensasi 100 juta rupiah?"


"Ya, Bu! Di perjalanan saya akan pulang mengunjungi Mereka, saya bertemu Devana. Saya mendengar pembicaraan Devana lewat ponsel dan kisah hidupnya yang juga sedang dalam keadaan goncang. Saya, menawarinya kerjasama. Itu awal mulanya!"


Kini Anne dan Devana mengerti rencana Indra-Nani juga Gege mengelabui Klan Gunawan Wicaksono.


Mereka bersandiwara untuk sesuatu hal yang buruk, memang. Tapi mereka memiliki alasan untuk melakukan semua itu.


"Kak Gege! Sebaiknya aku tetap memanggilmu seperti itu, boleh khan?" ujar Deva di tengah hari, ketika mereka sedang menunggu jam makan siang.


Gege meminta tolong Deni dan Afdal untuk membeli masakan matang di rumah makan sederhana, tak jauh dari rumah yayasan.


Ia tak ingin Bunda Anne kerepotan karena harus menjamunya seperti tamu.


Bunda sendiri sedang menidurkan Ericko yang langsung akrab dengannya.


"Kak!... Mau jalan-jalan melihat pemandangan alam perkampungan?" ajak Devana, berusaha mencairkan suasana.


"Boleh! Aku selalu rindu suasana pedesaan yang indah dan sejuk!"


"Kita main-main di sawah! Duduk di saung tempat istirahat para petani yang sederhana!"


"Ayo!"


Mereka berjalan kaki menelusuri jalanan aspal sepi yang cukup lebar.


Kemajuan negara cukup membawa dampak yang sangat baik bagi desanya. Jalanan yang dulu becek ketika hujan dan berdebu saat musim kemarau, kini sudah beraspal.


Sawah-sawah pun kini lebih tertata rapi meskipun luasnya tak lagi seperti dulu. Sebagian lahan persawahan telah berganti menjadi perumahan dan juga pemukiman penduduk setempat.


"Kak Gege! Apa sudah berhasil menemukan keluarga asli kakak?"


Gege hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku pun sama! Aku bahkan sudah sangat pesimis karena sama sekali tak memiliki petunjuk! Kakak masih jauh lebih baik, pernah merasakan kasih sayang orangtua kandung. Aku, orang bilang aku anak haram yang tidak diinginkan kedua orangtuaku hingga mereka dengan tega membuang tubuh mungilku di depan rumah bunda Anne!"


Sebuah sepeda motor tiba-tiba melintas di tengah jalan membuat Gege menarik pinggang Devana hingga tubuh mereka merapat.

__ADS_1


"Maaf!"


Hanya satu kata itu yang Gege ucapkan. Wajahnya juga wajah Devana terlihat bersemu merona.


"Kamu masih lebih beruntung, Deva! Kamu dibesarkan bunda Anne yang baik hati walaupun bukan orangtua kandungmu sendiri. Aku,... sampai kini, masih trauma bila mengingat itu. Kedua orangtuaku, entah bagaimana awalnya. Mereka menikah diusia sangat muda. Ibuku 15 tahun dan Bapakku hanya lebih tua dua tahun dari Ibu. Akhirnya mereka tak mampu mempertahankan rumahtangga. Mereka cerai, Bapak pergi tanpa kabar berita. Ketika usia ibu 20 tahun, ia menikah lagi. Semula aku berharap mereka


akan hidup bersama selamanya. Tapi ternyata, membangun rumah tangga tak seindah yang dibayangkan. Suami keduanya ternyata pemalas. Dan yang parahnya lagi, Bapak Tiriku itu juga mulai candu berjudi."


Gege menghentikan ceritanya sebentar. Ia menarik nafas panjang. Mengambil jeda waktu untuknya mengurai kepedihan hati yang terasa.


"Adikku lahir, bayi perempuan mungil. Tapi Ibuku justru sakit-sakitan setelah itu. Saat itu usiaku sepuluh tahun. Dan aku sudah harus mengurus bayi merah yang baru saja puput puser. Hhh..."


"Itu sebabnya kamu benci iler, pup juga ompol Ericko?!"


"Bukan benci. Tapi aku merasa muak dan mual mau muntah bila melihat semua itu kini! Dulu aku tak begitu. Aku justru bisa memakaikan popok dan juga gurita dengan baik pada adikku. Aku yang memandikan pagi dan sore. Aku juga yang mencuci pakaian setelah pulang sekolah. Walaupun aku sudah berbuat banyak, tapi Bapak tiriku tetap membenciku! Apalagi ketika pulang dan minta uang pada Ibu, tapi tak Ibu beri, akulah pelampiasannya. Bukannya berterima kasih karena aku telah mengurus darah dagingnya, tapi dia malah seringkali memukuliku! Jika dia ada di rumah, kerjaannya hanya tidur, makan dan tidur lagi. Kalau Ibu memarahinya, ia balik memaki dan menggebukku seenak hatinya. Hhh..."


Entah, rasanya Deva ingin menghentikan cerita Gege yang cukup menguras emosinya.


Tetapi melihat Gege yang justru seolah seperti ingin mengeluarkan semua uneg-uneg kesedihan di hatinya, ceritanya mengalir sangat lancar. Tak seperti biasanya, ia yang selalu menyembunyikan kisah hidupnya.


Devana meraih jemari Gege. Terasa dingin tangan besarnya itu. Deva ingin sekali menyalurkan hawa hangat telapak tangannya dengan menggenggam kepalan tangan Georgino.


Ada seuntai kalimat dalam hatinya, kalau ia senang menjadi orang yang Gege percayakan untuk mendengar kisah hidupnya di masa lalu.


"Deva!"


"Kak Gege!"


Deva tersenyum melihat tatapan Gege yang syahdu.


Gege menarik tubuh Deva kedalam pelukannya. Menangis ia dengan wajah tenggelam dibahu Devana.


"Maaf, Devana! Aku pinjam bahumu! Aku ini laki-laki rapuh. Aku tak punya keberanian dan juga jiwa yang kuat seperti dirimu! Hik hik hiks..."


"Kakak! Aku mengerti perasaanmu! Sangat mengerti, Kak!"


Airmata Devana turun juga. Ia yang pernah berjanji dalam hati tak akan mudah menangis lagi, kini terpaksa ingkar janji.


"Aku harus kuat, demi putraku, Kak! Aku harus bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Itulah aku sekarang! Itu sebabnya aku harus kuat. Harus tegar menerima kenyataan. Karena ada Ericko yang harus aku rawat dan aku besarkan. Ericko adalah hartaku paling berharga. Setelah Kak Chandra tiada, hanya Ericko-lah harapanku satu-satunya!"


Gege mengusap airmata di pipi Deva. Begitu juga sebaliknya.


"Kamu hebat, Devana! Kamu perempuan paling hebat yang pernah kutemui selama ini! Aku, aku benar-benar salut padamu!"


Devana tersenyum. Ia menundukkan kepala. Lalu mereka saling berpegangan tangan berjalan menyusuri trotoar.


Hamparan sawah yang menguning dikiri kanan jalan, membuat segar mata memandang. Gege dan Deva berusaha melangkah dengan harapan serta asa menjelang kebahagiaan di depan sana.


Setelah puas memanjakan mata dan saling bercerita tentang diri masing-masing, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah bunda Anne. Benar-benar membuat perasaan keduanya menghangat dan memuncah bahagia.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2