
"Apa???"
Georgino Satria kaget mendengar pengakuan Demian sebelum sepupunya itu berangkat ke kota L menyusul Rendy dan Fifie yang sudah pulang sejak kemarin.
Demian menceritakan semua kisahnya dengan Nabila juga Zahira. Termasuk tentang Jonathan yang adalah anak kandungnya yang lahir dari rahim Zahira.
Demian benar-benar amat sangat terkejut. Tidak pernah terfikirkan diotaknya, kalau ternyata Demian sudah menyandang gelar sebagai seorang ayah diusia muda. Sekitar sembilan belas tahunan.
Devana juga tak dapat berkata-kata.
Apalagi gadis yang Demian ceritakan adalah Mbak Zahira, MUA-nya yang dikenal lewat pertemanan online.
Devana dan Gege hanya bisa saling berpandangan. Bingung sekaligus kaget. Tak bisa berkata apa-apa.
"Kak, apa tidak sebaiknya kakak menikah saja dengan Mbak Zahira?"
Demian menggeleng. Saran Devana sempat ada dalam fikirannya. Namun... Ternyata tak seindah khayalan.
"Tidak ada tempat untukku dihati mereka, Dev!" jawab Demian pelan.
Setelah pertemuannya yang terakhir kali dengan Zahira di pernikahan Deva dan Gege, membuatnya urungkan niat.
Zahira dan Jo sudah sangat benci pada dirinya. Demian pernah berkata-kata yang menyakiti hati keduanya dihadapan Nabila.
Kini ia sangat menyesal.
Dan memang bukanlah salah Zahira serta Jonathan jika sekarang benci dirinya. Demian mengerti.
Kini ia hanya bisa menitipkan putra biologisnya itu lewat Gege serta Devana. Mama dan Papanya juga mengetahui bahkan sempat ingin menyatukan Dem dengan Zahira. Tapi apalah daya. Nasi telah menjadi bubur. Demian harus menerima semua suratan nasibnya kini.
Dengan langkah yang berusaha Demian tegakkan, ia berjalan ke depan.
Berharap kehidupannya di tempat baru akan jauh lebih baik lagi.
Bersama lingkungan yang baru dan suasana hatinya yang baru.
Telah ia tutup lembaran pahit kisah hidupnya kini. Setidaknya ia telah mendatangi kediaman Zahira serta Jonathan sebelum dirinya pergi meninggalkan ibukota.
"Jonathan...! Aku minta maaf! Aku meminta maaf atas segala kesalahanku dimasa lalu. Maaf!"
"Kenapa? Apa kamu mau mati?" tutur Jonathan dengan pertanyaan yang membuat Zahira menggeleng padanya.
__ADS_1
"Jangan begitu, Jo!" tegur Zahira lembut.
"Zahira! Aku pamit. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Aku percaya, kamu sangat mampu menjaga dan merawat Jonathan sampai besar. Aku..., aku hanya, seperti duri dalam kehidupan kalian. Maaf!"
Zahira mengangguk pelan. Hanya diam dan menatap Demian yang melangkah keluar setelah keduanya bersalaman.
Hatinya sebenarnya ikut sedih. Ikut sakit karena sampai kapanpun kisah hidupnya yang pahit tak kan bisa ia kubur dalam-dalam. Jonathan akan selalu mengingatkannya pada Demian.
Zahira juga tak mendendam Demian. Pria itu tidak salah. Dia juga korban sama seperti dirinya. Zahira hanya bisa mendoakan kebaikan untuk dirinya juga Demian di masa depan.
Nasib yang buruk, semoga berubah menjadi baik di akhirnya. Itu harapannya. Aamiin...
.............
Gege dan Devana hidup bahagia. Damai, tenteram dan penuh warna.
Meskipun Gege menikahi Devana dengan bonus satu anak dari pernikahan istrinya terdahulu, namun dirinya menyayangi Ericko Putra sepenuh hati.
Gege adalah ayah sambung tapi rasa ayah kandung bagi Coco. Karena cinta dan perhatian Gege padanya yang begitu besar membuat Coco tumbuh besar dengan jiwa raga sehat.
Gege bersyukur sekali, Tuhan mempertemukannya pertama kali di atas KRL yang sedang melaju kencang.
Dari istri kontrak, kini menjadi istri sah yang resmi dengan cinta yang bertaut di hati keduanya.
Surya Abdi masih setia menunggu Akila sampai berusia dua puluh tahun.
Benar kata orang, cinta yang tepat mampu membuat sifat, karakter dan sikap seseorang berubah drastis. Bahkan sampai berubah menjadi 180 derajat dari kehidupannya yang lalu.
Surya kini tumbuh dengan fikiran yang jauh lebih dewasa karena terkontaminasi jalan fikiran Akila. Gadis itu meskipun muda belia, tetapi jiwanya penuh dengan pertimbangan yang matang.
Kehidupan Akila yang penuh derita, kesedihan serta kisah suram di masa lalu telah mendewasakan dirinya.
Semakin membuat Surya Abdi jatuh cinta dan juga Lisa serta Tio terpesona.
Bahkan perusahaan kecil mereka pun kini semakin menanjak grafik kemajuannya berkat saran dan juga ide pemikiran Akila pada Surya.
Mereka berharap, setelah keduanya menikah nanti, Akila bisa ikut masuk menjalankan perusahaan keluarga mereka bersama Surya serta Tiara.
Perlahan para keturunan Gunawan semakin mengerti arti hidup yang sering digaungkan orangtua mereka itu.
Bahwa segala sesuatu, yang dihasilkan lewat kerja keras dan tetesan keringat akan menghasilkan sesuatu yang lebih berharga.
__ADS_1
Harta, tahta dan kejayaan hanyalah bonus kehidupan dari Tuhan.
Semuanya bisa hilang dalam sekejap jika Tuhan berhekendak.
Tetapi, aliran darah, kasih sayang dan dukungan keluarga adalah yang paling utama. Meski hantaman cobaan dan juga musibah kesedihan yang silih berganti datang menghampiri, berkah tali kasih keluarga lah semua bisa teratasi.
Darah lebih kental daripada air.
Sebenci apapun kita pada saudara sendiri, pada akhirnya tetaplah saudara pula lah yang menjadi penguat kita untuk kembali tegar, tegak untuk melangkah.
Seperti keluarga besar Gunawan Wicaksono. Kini semua berjuang di atas kaki masing-masing. Tetapi doa, support dan dukungan satu sama lain, mampu menguatkan mereka semua. Menyakini bahwa mereka masih dalam formasi lengkap, di satu kesatuan sebagai keturunan Gunawan Wicaksono.
Sama seperti keluarga-keluarga lain pada umumnya. Yang terkadang masih sesekali Tuhan uji dengan cobaan persaudaraan, kisah lama dan percintaan.
Seperti Elli juga Glen, yang kini hanya bisa memantau sang putra lewat sambungan telepon kepada adiknya Lisa dan suaminya. Demian lebih memilih tinggal di kota lain bersama adiknya ketimbang mereka. Menjadi kecemburuan yang nyata sebab darah dagingnya lebih menyayangi om serta tantenya ketimbang menyayangi orangtua kandungnya.
"Dem! Mama sakit, Dem! Kapan kamu pulang ke Jakarta? Mama rindu kamu, Dem!"
"Maaf, Ma! Dem sedang sibuk. Ada peluncuran bangunan baru di perusahaan kami. Dem sudah transfer sejumlah uang ke rekening Mama. Cepat sembuh ya, Ma?"
Hanya itu saja interaksi putra pertamanya pada Elli. Tentu saja membuatnya sedih dan menangis tersedu sedan.
Menyesal ia dahulu terlalu keras dalam merawat dan mendidik Demian. Bahkan kini Elli hanya bisa menatap telapak tangannya yang masih terasa pedas mengingat tamparan dan pukulan yang pernah ia layangkan pada putranya itu.
"Dem...! Maafkan Mama, Nak! Mama... Sangat menyesal...pernah begitu jahat dan kasar padamu, Nak!" gumamnya seorang diri.
Elli yang kini terbaring di ranjang rumah sakit hanya bisa merutuki kelakuannya dimasa lalu.
Dan kini hanya bisa membayangi wajah putra putrinya yang tinggal jauh dari dirinya, karena kelakuannya juga. Pastinya.
Penyesalan hanya tinggal penyesalan. Hanya meminta pengampunan pada Tuhan, untuk semua dosa dan tindakan dimasa lalu yang bagaikan kesetanan.
"Papa...Mama! Ternyata seperti ini jadi orangtua yang sebenarnya! Elli kini sadar... Elli juga akhirnya mengerti, mengapa Papa menginginkan kami menjadi manusia yang berbobot dan lebih baik lagi. Karena seperti ini! Semua balasan atas perbuatan diri sendiri!"
Inilah hidup.
Semua orang berjuang untuk kehidupannya. Mencari jalan untuk mendapatkan yang terbaik.
Berlomba-lomba menuju suatu kehidupan yang dipandang orang lain sebagai manusia sukses. Sampai lupa kalau semuanya adalah campur tangan Tuhan jua yang lebih mulia.
Sesukses apa kita dimata manusia lain, apakah sama suksesnya juga dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua tergantung pilihan masing-masing.
__ADS_1
...🌻🌻🌻THE END🌻🌻🌻...