
"Hallo, Akila? Besok kamu bisa datang ke Ibukota ya? Minggu siang, langsung hubungi Nenek setelah sampai gedung Wisma PT MAKMUR SENTOSA. Kamu bisa langsung tempati mess karyawan, Akila!"
...[Iyakah, Bu Widia? Waah, terima kasih banyak untuk bantuannya! Akila sangat berterima kasih sekali!]...
"Iya, Akila! Jangan lupa CV lamaran kerjamu. Senin pagi kamu masuk kantor ya!? Tanya ruang CEO Georgino Gunawan di lantai lima. Atau Wakilnya Demian atau Surya Abdi. Tapi Ibu sudah bicarakan dengan Gege langsung. Jadi kamu bisa langsung temui dia! Bilang saja, kamu adalah orangnya Ibu Widia. Ya?"
...[Iya, Bu Widia! Terima kasih banyak!]...
"Besok pagi kamu berangkat. Jadi siang sudah sampai di mess! Nanti orang HRD Personalia akan memberi kamu akses masuk dan tinggal disana. Saya sudah siapkan semuanya! Jadi Akila bisa masuk kerja di hari Senin!"
...[Iya. Baik, Bu!]...
"Ya sudah, Akila bersiap-siap dulu merapikan berkas-berkas dan pakaian yang mau dibawa! Salam ya buat bunda Anne!"
...[Baik, Bu Wid! Akila akan sampaikan salamnya. Terima kasih banyak!]...
"Sampai ketemu, besok ya Akila!"
...Klik...
Widia mematikan handphonenya. Kini ia bisa bernafas lega. Pelan-pelan ia bisa kembali masuk ke dalam lingkungan keluarga asuh Anne. Berharap suatu hari bisa melihat langsung keadaan putri suaminya yang pernah ia sembunyikan.
"Kenapa, Sayang? Kamu terlihat senang hari ini?"
Widia terkejut, sang suami ternyata telah berdiri dihadapannya membukakan pintu kamar untuknya.
Semakin tua, Gunawan semakin romantis padanya. Walau jalannya kini agak tertatih karena tungkai kakinya terserang osteoarthritis, atau pengapuran sendi yang memang umum dirasakan para manula.
Jemari Gunawan meraih dagu Widia yang kincup. Tentu saja membuat wanita yang tak lagi muda lagi itu berdesir dadanya.
Kamu semakin manis, Mas Gun! Kamu semakin membuatku seperti gadis belasan tahun. Apa kamu masih akan begini padaku jika mengetahui kalau kau juga memiliki anak dari hubungan gelapmu dengan ponakanku, Claudia?
Widia menundukkan kepalanya. Merasa malu pada sang suami karena telah merahasiakan keadaan Claudia pada Gunawan selama ini.
"Mas..."
"Ya, Sayangku!?"
"Apa yang akan kau lakukan jika mengetahui kalau aku pernah menyembunyikan rahasia yang tidak kamu ketahui?"
"Hm? Pertanyaan apa itu?"
Gunawan tersenyum. Ia mengec*p pucuk kepala sang istri yang nyaris telah memutih semua rambutnya.
"Widia! Kalaupun kau menyimpan rahasia itu pasti karena yang terbaik untuk kita, menurutmu! Dan aku, pasti akan mencoba menilainya dari sisi hatimu juga!"
Jawaban yang adem.
Tapi Widia masih saja ragu. Kemungkinan besar Gunawan marah, itu sudah pasti akan terjadi. Apalagi ini bukan urusan kecil. Ini adalah urusan nyawa manusia yang lahir dari hasil perbuatannya dengan Claudia.
Disaat usianya hendak menginjak kepala lima, Gunawan justru berselingkuh bermain api dengan Claudia, putri adik Widia sendiri.
Mengingat kejahatan yang Gunawan yang lalu itu, Widia merasa perbuatannya juga seimbang.
Cuma masalahnya, terlalu kejam jika dia juga menghancurkan masa depan seorang anak yang tak tahu apa-apa. Seorang anak yang terlahir akibat kesalahan dan dosa kedua orangtuanya.
__ADS_1
Widia kini menyadari kalau kelakuannya memang cukup jahat sampai bisa sejauh ini.
Beruntung kini ia mengetahui kalau putri Gunawan telah menikah dan hidup bahagia bersama keluarga barunya.
Tetapi Widia belum tahu kenyataan yang sebenarnya itu adalah...
"Sayang! Apa kamu mau membuat pengakuan padaku?" tanya Gunawan menggoda istrinya.
"Tidak untuk saat ini, Mas! Aku masih belum siap. Dan aku masih belum bisa membeberkan segalanya padamu!"
"Tentang apa? Bolehkah aku meminta clue?"
"Tidak ada clue! Dan tidak untuk saat ini!"
"Ck! Teguhnya pendirianmu! Bagaimana kalau Tuhan memerintahkan malaikat pencabut nyawa untuk mengambilku malam ini? Tidakkah kamu takut aku mati dalam rasa penasaran?"
"Sayang! Maafkan aku! Masih ada yang harus aku pastikan dahulu. Jika semuanya telah Tuhan buka, aku pasti akan ceritakan padamu!"
"Tentang Claudia kah?"
Widia menatap nanar bola mata Gunawan yang berwarna hitam.
"Kau masih selalu mengingatnya? Meskipun perempuan itu sudah tidak ada disisimu selama belasan tahun? Begitu cintakah kau padanya?"
"Maaf Widia! Bukan maksudku seperti itu! Bukan! Aku ini sudah tua. Kamu lihat sendiri keadaanku yang renta dan lanjut usia! Apalagi yang bisa kubanggakan selain rasa sayang dan tanggung jawabku sebagai seorang pria serta seorang kepala keluarga. Sejak muda dulu, yang ada diotakku hanyalah kerja dan kerja. Untuk membahagiakan istri dan anak-anakku! Kamu yang paling tahu aku! Bukankah seperti itu?"
"Tapi kamu mencintai perempuan muda itu! Kamu mencintainya tanpa syarat!"
Widia sedih. Ia cemburu pada Claudia. Selalu cemburu walaupun perempuan itu sudah tiada lagi di dunia.
"Widia! Maafkan perbuatan burukku dimasa lalu! Sungguh, aku khilaf Widia! Aku terlena dengan kefanaan dunia ini yang hanya sesaat saja. Claudia hanyalah sedikit dari cobaan hidupku. Tapi kamu, kamu adalah bidadari penolong seumur hidupku dan mungkin sampai akhirat nanti!"
Widia terisak di pelukan Gunawan.
Umur mereka telah uzur. Sudah tak lagi pantas mencemburui dan meributkan masa lalu yang seperti pepesan kosong itu.
Tinggal mengikuti alur yang Tuhan beri. Menunggu sampai waktunya tiba, yaitu mati. Begitu isi hati Gunawan kini.
...π²π²π²π²...
Pagi-pagi sekali Akila telah berkemas. Ia akan pergi ke Ibukota dengan buskota yang sudah ia beli tiketnya secara online.
Anne sudah memberinya banyak nasehat sejak semalam.
Wanita paruh baya itu selalu berhasil dalam mendidik putra-putri asuhnya dalam urusan kejujuran dan kebaikan.
Sama seperti ketika Devana masih muda dahulu, Anne selalu memberinya wejangan hidup untuk menjadi pegangan di dunia nyata yang sebenarnya. Dunia kehidupan yang kejam, yang bisa merubah sifat, sikap dan karakter seseorang dari baik menjadi buruk.
Akila adalah adik panti Devana. Mereka berbeda usia sekitar 4 tahun. Berbeda dengan Devana yang diasuh Anne sedari bayi merah, Akila datang bersama ibunya ia setelah berumur lima tahun.
Kisah hidup Akila dan Ibunya lebih miris lagi.
Lima tahun lamanya mereka berdua hidup dalam penjara. Ibunya menjadi pesakitan atas tuduhan pembunuhan Ayah kandungnya.
Akila yang masih bayi terpaksa ikut merasakan hidup dan tinggal di dalam sel tahanan lembaga pemasyarakatan.
__ADS_1
Itulah kisah Akila yang selalu Anne tutupi dari siapapun termasuk Devana.
Akan tetapi Akila ternyata memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia selalu menyimpan memori kenangan buruknya dalam ingatan.
Bahkan Akila selalu merubah kesedihan hidupnya dengan mengingat cerita-cerita Ibunya yang indah. Yang selalu mengatakan bahwa Akila memiliki kakak laki-laki yang paling tampan di dunia bernama Satria.
Kakak laki-laki yang pernah menjaga dan mengurusnya selama hampir satu tahun ketika Ibunya mulai sering sakit-sakitan.
Sayangnya Ayah telah menjual Kakak terbaiknya itu pada orang kaya. Itu sebabnya Sang Ibu sampai berani melakukan pembunuhan pada pria yang disebutnya suami dajjal.
"Bunda! Akila berangkat ya?" pamit gadis berumur 18 tahun itu dengan semangat muda membara.
Ia sangat exited untuk segera melihat indahnya Ibukota yang hanya dilihatnya dari tayangan berita dan sinetron Indonesia di televisi.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang! Juga hati-hati dalam membawa diri di Ibukota nanti! Ingat selalu, jangan bergaul dengan orang yang salah ditempat yang salah pula. Jaga diri, jaga attitude dan prilakumu, Akila! Jaga kepercayaan Bu Widia yang sudah ia berikan padamu. Jangan membuat beliau kecewa. Kalau ada yang mengganjal atau kurang jelas kurang faham, sebaiknya langsung hubungi Bu Widia. Ya, Nak!"
"Iya, Bunda! Bun... doakan Akila bisa bekerja dengan baik dan bisa menjadi harapan serta kebanggaan Bunda, ya?"
"Pasti, Sayang! Bunda selalu mendoakanmu dan anak-anak Bunda dengan segala kebaikan!"
Akila memeluk Bunda Asuhnya yang selalu menjaga dan merawatnya sejak usia lima tahun.
Akila pamit dengan berurai airmata. Menciumi pipi Anne serta adik-adik manisnya yang begitu ia sayang.
Akila teringat pada masa lalunya...
Ia dan Ibunya yang baru keluar dari penjara, diajak tinggal bersama Anne di rumah yayasannya.
Anne merawat Akila dan juga Malika yang memiliki riwayat penyakit TBC dari sebelum ia masuk penjara. Kesehatan Malika kian buruk.
Setelah enam bulan tinggal di yayasan Anne, Malika meninggal dunia. Tinggalkan Akila seorang diri.
Beruntung, Malika selalu memberi Akila nasehat dari kata-kata yang menguatkannya sedari kecil.
"Kamu punya kakak laki-laki yang sangat tampan, Akila! Satria namanya! Suatu saat jika kau besar nanti, carilah kakakmu itu! Dialah yang merawat dan mengurusmu dari lahir. Satria menjagamu sampai satu tahun usiamu. Tapi Bapakmu telah menjualnya! Ibu harap, Kalian berdua bisa kembali bersama suatu hari nanti. Saling dukung, saling bantu dan saling support. Hati Ibu akan tenang jika kalian sudah Tuhan pertemukan!"
Malika memberikan Akila beberapa lembar foto lamanya bersama Satria, Sang Kakak.
Hanya itu clue dan juga bukti yang Akila miliki untuk dapat bertemu kembali Kakak Tercinta.
"Ibu! Doakan Akila bisa bertemu kak Satria di Ibukota sana. Tolong sampaikan pada Tuhan Yang Maha Pemurah, pertemukanlah kami dalam keadaan yang baik! Akila pamit ya, Bu?"
Gadis muda itu menziarahi makam ibunya dahulu sebelum lanjutkan perjalanannya menuju terminal bus yang akan membawanya ke Ibukota.
Dua lembar foto lama yang ia laminating agar tak kotor dan cepat pudar gambar serta warnanya menjadi saksi bisu ungkapan perasaannya yang penuh dengan tekad.
"Kakak Satria! Semoga kita cepat dipertemukan Tuhan!" doanya pelan penuh kekhusu'an.
Akila berdiri. Ia mantap melangkah. Tas ransel serta satu dus bekas wadah mie menjadi barang bawaan berharganya menuju Ibukota.
πTO BE CONTINUE
__ADS_1