SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Mulai Ada Persekongkolan


__ADS_3

Pada kesempatan yang lain, malam hari setelah pengangkatan Georgino sebagai CEO, Keluarga kecil Ellie dan Glen sengaja mengumpulkan putra putrinya dalam satu meja.


"Ada apa ini? Konferensi Meja Bundar? Konferensi Tingkat Tinggi?" ujar Demian berkelakar.


"Seriuslah sedikit, Demian! Ini untuk masa depanmu juga!" kilah Glen menyemprot putra sulungnya yang bertingkah kekanakan.


Demian hanya memonyongkan bibirnya. Ia pun ikut duduk bersama adiknya, Danira.


"Ada berita apa, Danira?" tanya Glen serius.


"Ericko bukan darah daging Gege!"


"What??? Kabar darimana itu Dan?"


"Diam dulu, Dem!!!" bentak Ellie pada anaknya.


"Apa kata dokter Ilham?"


"Mereka berbeda genetik." Danira memandang wajah Papa dan Mamanya bergantian.


Sementara Demian melongo mendengar penuturan sang adik yang mengagetkan.


"Apa ucapanmu bisa dipertanggungjawabkan, Danira?" tanyanya penuh rasa penasaran yang tinggi.


Danira memperlihatkan selembar kertas fotokopi sebagai bukti bahwa gen Gege dan gen Ericko berbeda.


"Darimana sumber ini kamu dapat?" tanya Demian lagi, ingin memastikan meskipun sudah sangat jelas nama Georgino dan Ericko yang tertera di lembaran keterangan yang Danira tunjukkan.


"Aku mengambil sampel dari air liur Ericko dan rambut Gege yang tersisa di alat pencukur rambutnya!"


"Dapat dari kamar Gege langsung? Kamu ambil sendiri, Dan?"


"Aku punya orang dalam! Suster Titi adalah orang suruhan Mama!"

__ADS_1


"Ck ck ck...! Kalian benar-benar keluarga psikopat yang sangat hebat!"


"Apa sih, Kak? Kau ini..., tak pernah dewasa dalam menyikapi semua masalah!" ujar Danira kesal pada cibiran Demian.


"Masalah apa? Masalah harta? Pembagian warisan yang tak sama rata? Hei, dengar! Kakek dan Nenek kita masih hidup! Kenapa kalian sangat takut terancam tak dapat apapun dari Kakek Nenek? Mama..., Mama khan anak kandung Kakek Nenek, jangan berfikiran sempit dan picik. Kalian dengar sendiri tadi siang khan, apa yang kakek ucapkan? Kita semua dapat bagian! Jadi jangan takut kalau Om Indra dan Gege akan ambil semuanya!"


Demian tak habis fikir pada ketakutan-ketakutan Mama, Papa serta adiknya Danira.


"Kamu ini terlalu cuek atau bodoh, Kak?" tanya Danira membuat Damian melonjak kesal.


"Apa maksudmu, Danira?"


"Tandatangan Gege kini memonopoli usaha kita semua! Anak perusahaan tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan CEO Georgino Gunawan, meski sekecil apapun pergerakannya. Georgino adalah ujung tombak setiap langkah anak-anak perusahaan. Secara tidak langsung, Gege memiliki separuh kekuasaan juga di anak perusahaan yang kita miliki otomatis dia juga terhubung dan memiliki separuh saham perusahaan. Faham maksudku? Kakek sengaja membuat perencanaan itu dengan om Indra dan tante Nani agar kita semua tetap terhubung dengan perusahaan pusat. Jadi buat apa nama kita tercantum sebagai pemilik resmi dari anak perusahaan yang kakek berikan tetapi masih harus melakukan lobi teken kontrak tender melalui si Gege dan om Indra? Apa gunanya kita semua? Hanya nama untuk pemanis saja? Untuk apa? Sedangkan kita tetap saja tak bisa berkutik mengembangkan anak perusahaan dengan mencoba alokasikan dana ke tempat lain?"


Demian menatap mata Danira erat.


Sebenarnya ia sudah tahu rencana Kakeknya. Ini semua demi kelangsungan hidup mereka juga. Karena Papa dan Mamanya yang suka mengambil tindakan tanpa banyak fikir panjang demi untuk gaya hidup glamour mereka. Danira juga sama. Lebih suka foya-foya ketimbang belajar banyak di perusahaan keluarga. Padahal kesempatan Danira sangat banyak jika ia mau mengambil pelajaran hidup sukses ala Kakek Gunawan.


Demian sendiri tak punya ketertarikan pada usaha yang sudah digeluti sang Kakek sedari muda.


Demian memimpikan memiliki cafe sekelas Sturbuck yang juga menampung muda mudi penyuka musik bergabung berkolaborasi membuat pentas seni. Agak mirip night club tapi lebih dipandang banyak positifnya ketimbang negatifnya.


Itu khayalan Demian. Dan semua bisa terealisasi ketika usianya 30 tahun nanti, rencana jangka pendeknya.


"Mungkin maksud Kakek gak seperti itu!" tukas Demian.


"Jelas-jelas Kakek sengaja melambungkan kita, lalu menjatuhkannya dari ketinggian. Yang sangat diuntungkan disini adalah Gege pastinya. Lihat sendiri khan, hasilnya tadi siang?"


Danira benar-benar orator hebat.


Ia mampu membuat Ellie dan Glen resah dalam waktu sekejap saja.


"Seperti dugaanku, Ellie! Papamu memang lebih menyayangi putra sulung dan cucu tertuanya ketimbang kita!" Glen mulai melancarkan serangan mencuci otak sang istri.

__ADS_1


"Tadi sore aku dan Lisa sudah menemui Papa di paviliunnya! Tapi jawabannya benar-benar membuatku kesal! Dia tak akan pernah merubah keputusannya walaupun kita semua mendemonya!" kata Ellie membuat Glen makin bersemangat lagi memprovokasi.


"Lihat sendiri apa sikap Kakek khan?"


"Aku sebenarnya tidak keberatan juga. Justru yang paling sibuk saat ini adalah Gege dan Om Indra pastinya karena harus memikirkan langkah anak perusahaan juga. Mereka harus meneliti lebih dulu kerjasama anak perusahaan dengan perusahaan lain dalam hal menandatangani kontrak hingga kas keuangan perusahaan aman terkendali. Jadi, meminimalisir terjadinya kerugian besar-besaran jika salah langkah dalam mengambil proyek kerja. Begitu khan maksud kakek?"


"Kamu ini sebenarnya ada di pihak siapa sih, Dem? Kamu gak fikirkan kesulitanmu dalam mencairkan dana besar untuk keperluan rutinitasmu juga?"


"Hah? Keperluan rutinitas khan memang setiap bulan di jatah kakek lewat divisi keuangan perusahaan khan?"


"Ya Tuhaaan! Lemotnya anak ini berfikir! Ya kali, masa' kit ini adalah pengusaha yang tak bisa mencairkan uang kita sendiri meskipun di rekening tabungan perusahaan totalnya bermiliar-miliar!" umpat Danira pada sang kakak.


Ellie dan Glen menggebrak meja. Nyaris saja seperti biasa, kepala Demian kena pukul tangan ringan Papanya.


"Kembali pada Gege dan Ericko! Apa rencana kalian sampai berani melakukan test DNA tanpa izin dan sepengetahuan mereka? Itu tindakan illegal, Danira! Kamu bisa dituntut dan masuk penjara jika Gege tidak terima!"


"Justru sekarang aku sedang mengumpulkan bukti untuk kuberikan pada Kakek Nenek jika sudah waktunya."


"Maksudmu?"


"Gege tak sebaik dan tak setulus yang Kakek kira! Gege terlihat tidak berambisi menjadi CEO beberapa tahun lalu. Tapi ternyata Gege malah melakukan gebrakan yang tak disangka-sangka. Bahkan sampai membohongi kita semua terlebih Kakek Nenek dengan mengaku telah menikah dan memiliki anak! Apa kita sudah lupa kalau selama ini Gege memiliki gangguan mental? Mungkinkah kepergiannya tiga tahun dari rumah ini untuk berobat dan diperjalanan dia menemukan perempuan cantik yang sedang dalam pelarian?"


Demian melamun. Ia setuju dengan perkataan Danira kali ini.


Ia juga bingung, untuk apa Gege sampai sejauh itu demi melancarkan aksinya menduduki jabatan CEO yang memang sudah ditujukan padanya dengan satu syarat jabatan itu diberikan setelah Gege menikah.


Ada rencana apa dengan Gege dan juga Om Indra. Apa mereka kini mulai berfikir untuk mengambil semua harta Kakek karena kesal selama ini hanya merekalah yang diandalkan Kakek dalam mengurus perusahaan? Itu yang ada dalam fikiran Demian.


Papa Mamanya, selama ini ogah-ogahan membantu Om Indra dan Tante Nani mengurus perusahaan. Begitu juga anak-anak kakek Gunawan yang lainnya. Lebih senang dengan urusan pribadi masing-masing, wara-wiri kongkow sana-sini dengan mengatasnamakan anak keluarga bangsawan dan konglomerat ternama sambil foya-foya menghamburkan uang.


Mungkinkah mereka kesal dan kini berfikir untuk menguasai sendiri harta Kakek yang telah mereka jaga serta kelola sendiri?


Lalu siapakah Devana? Benarkah perempuan cantik namun sederhana itu adalah perempuan bayaran seperti yang Danira sangkakan? Tapi Demian cukup mengerti jika Danira sampai berasumsi seperti itu.

__ADS_1


Rumah tangga Georgino dan Devana terlihat seperti sebuah perjanjian politik saja dimatanya. Namun masih dalam tahap penyelidikan Demian juga.


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2