
Kejar mengejar pun terjadi.
Sampai Gege tersadar, dia tak punya maksud dan tujuan lain selain hanyalah kasihan pada bocah perempuan belasan tahun itu.
Karena lelah dan membawa tas berat dan juga koper troli yang berisi botol-botol minuman isotonik yang masih penuh, gadis imut itu lalu melambaikan tangan mengisyaratkan menyerah kalah.
Ia ngos-ngosan sembari duduk sembarang di atas trotoar jalan taman.
"Ampun, ampun...! Nyerah, Mas!" katanya dengan suara terputus-putus karena lelah berlari lumayan jauh.
Tanpa sadar Gege tertawa.
"Siapa suruh kamu lari? Aku jadi ikutan lari, karena memang niatku ke taman ini adalah untuk jogging lari pagi! Hahaha..."
"Haish! Kejamnya Mas Ganteng! Hiks... huaaa! Padahal ini hari pertamaku kerja free lance di hari libur! Niatku cari tambahan uang sekolah!"
Gege ikut duduk lesehan mendengar celotehan gadis imut itu.
"Hei, dudukmu yang rapi! Kau khan pakai rok! Jangan sampai dagang minuman disangka orang dagang kacang juga!"
"Hiyaaa! Mas Ganteng ngomongnya mes*m!"
Gadis itu merapatkan duduknya yang tadi agak terbuka karena ia tak menyadarinya.
"Yassalam! Aku ni mengingatkanmu, bocah bau kencur! Bukan juga mau mes*m seperti perkiraanmu! Ish!"
"Iya, Mas...maaf ya?! Terima kasih sudah mengingatkanku! Rasanya berasa abangku sendiri yang sedang menasehati! Hehehe...! Tapi kalau benar abangku tahu aku jadi SPG keliling dagang minuman, bisa ditabok bolak-balik kali' ya, aku!?"
Gege tersenyum mendengar ucapan ngasal khasnya gadis-gadis baru gede.
"Eh, berapa kau jual minuman itu sebotol?" tanya Gege berusaha mengalihkan obrolan agar gadis imut itu tidak lagi lari darinya.
"Murah, Mas! Lima belas ribu dua botol! Ini, penglaris dari Mas Ganteng!"
"Okelah, buat penglaris daganganmu! Tapi satu syarat!"
"Eh? Mau beli tapi ada syarat? Bentar-bentar..., jangan bilang syaratnya minta cium!"
Gadis imut itu segera berdiri dan berjalan mundur, wajahnya seperti orang yang ketakutan.
"Hadeh! Ya kali' aku mau berbuat tak senonoh di jalan umum! Gila emangnya! Bukan!!"
Dia tersenyum mendengar elakan Gege yang terdengar nge-gas.
"Hehehe...! Habisnya pake syarat-syarat segala!"
"Hapus make up mu itu! Jijik aku lihat bocil ingusan bermake up tebal!"
"Hahaha..., ini tuntutan pekerjaan, Mas! Malahan kata supervisorku, ini masih terlalu minim. Kurang alis sama eyes shadownya!"
"OMG... Ck ck ck! Memangnya kamu ini dagang apa mau ngelenong?"
Gadis imut itu tertawa. Manis sekali. Membuat Gege merasa sangat rileks berbincang dengannya.
"Namamu siapa? Berapa umurmu?"
__ADS_1
"Mas ini lagi sensus kependudukan ya? Tanya melulu kek tamu! Hihihi..."
"Ya ampun, susah ya ngobrol sama ABG!" gerutu Gege bercanda.
"Hahaha..., maaf Mas! Namaku Akila, jangan bilang-bilang ya...aku emang masih kelas 3 SMP. Umurku, 15 tahun lebih."
"Benar khan dugaanku! Hhh...! Oiya, namaku Gege!"
"Hah? Gegep?"
"Ish ni bocah! Belum pernah kena jitak cowok ganteng ya?"
"Mana cowok gantengnya?"
"Haish! Tadi kamu bilang aku ini Mas Ganteng!"
"Hahaha...! Mas Gantengnya punya penyakit darah tinggi! Gampang hipertensi ya?"
Gege seperti mengobrol dengan teman lama. Yang begitu santai, menyebalkan sekaligus menyenangkan.
"Kenapa kamu kerja freelance di waktu libur? Padahal temen-temen seusiamu pasti lagi sibuk cari bahan untuk belajar menjelang ujian!"
"Hhh... Panjang Mas, kalo diceritain!"
"Berapa episode?"
"Percuma! Gak menarik juga ceritanya. Intinya aku nih lagi cari uang buat perpisahan nanti ke Bali!"
"Wuih, Bali! Anak sekolah sekarang mainnya jauh-jauh ya? Jamanku dulu, paling cuma keliling Taman Mini Indonesia Indah sama laut Ancol dan Monas!"
"Bisa jadi juga sih! Betewe emang ortumu ngizinin kamu kerja parttime gini?" tanya Gege semakin santai. Terlihat dari bahasa gaul yang ia lontarkan pada Akila.
"Sebenernya Bunda gak tahu, Mas! Makanya aku ambilnya seminggu dua hari. Hari Sabtu sama hari Minggu, pas libur sekolah aja selama 10 jam. Lumayan, Mas! Sehari seratus ribu. Apalagi kalo pas semua daganganku habis, aku dapat bonus tambahan 20 ribu!"
"Hm, gitu ya? Emang kamu harus dagang berapa krat?"
"Sepuluh krat!"
Gege salut sekali pada bocah perempuan itu. Mendorong koper berisi minuman bukanlah pekerjaan ringan. Ditambah lagi ia juga harus pintar menginterprestasikan dagangannya pada orang-orang supaya tertarik membelinya.
"Tapi dagang minuman gak harus ber-make up tebal khan? Kesannya koq ya kayak dagang diri," kata Gege jujur.
"Ya mau gimana lagi, Mas! Perintah atasan, tuntutan pekerjaan. Kata supervisorku, cari peluang walau sekecil apapun. Orang dagang itu banyak dan dimana-mana. Dan teknik pemasarannya juga beragam. Mungkin dari make up orang jadi tertarik!"
Gege tersenyum. Akila menjawabnya diplomasi sekali.
"Apaan? Aku tadi bukannya tertarik, malah kaget. Kukira ondel-ondel mau joget!"
"Ish, jaharaaa! Aku kira Mas itu satpol PP, tau! Main tegrep orang, bawa naik mobil tahanan ke dinas sosial. Hik hiks...! Bisa-bisa Bunda Anne shock dengar kabar aku kena razia!"
"Hahaha..."
Tertawa puas sekali, baru Gege rasakan kali ini. Sampai tiba-tiba, kepalanya pusing dan...
Ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Akila yang terkejut hanya bisa menjerit histeris.
Setelah berteriak minta tolong, akhirnya ada juga beberapa orang yang datang mengerumuninya.
Gege dibawa ke rumah sakit dan pihak rumah sakit menghubunginya setelah melihat kartu tanda pengenalnya.
Sayangnya pertemuan Georgino dengan Akila terputus sampai di situ. Akila tak lagi menghubunginya seiring dengan raibnya handphone mahal milik Gege.
Ketika tersadar di rumah sakit, Gege seperti terlahir kembali dengan mengingat masa lalu serta identitas dirinya yang adalah bernama Satria.
Disitulah fikiran Gege gamang. Pendiriannya goyang. Ia minta izin pada Indra dan Nani untuk melepas semuanya termasuk identitas barunya sebagai Georgino Gunawan.
Indra dan Nani mencoba menjelaskan bahwa semua ini mungkin sudah Tuhan atur sedemikian rupa untuk hidup mereka bertiga.
Indra menceritakan kisah hidupnya di masa lalu.
Ia jatuh cinta pada Nani yang seorang gadis dari kalangan biasa. Bukan dengan gadis golongan atas yang selama ini selalu Papanya harapkan.
Gunawan Wicaksono, keturunan bangsawan berdarah biru. Semua anaknya sudah ia tetapkan harus berjodoh dan berpasangan dengan pilihannya yang dianggap paling tepat.
Fifie, Ellie dan Lisa juga ia jodohkan dengan putra-putra bangsawan yang dianggapnya sekelas. Baginya harta serta tahta adalah bibit, bebet dan juga bobot yang wajib dijaga untuk membuat regenerasi keturunannya menjadi orang terpandang.
Gunawan tak menyetujui pilihan Indra. Hingga akhirnya Indra tetap pada pendirian dan menikahi Nani tanpa izin juga restu Gunawan.
Nani adalah perempuan miskin yang tak pantas bersanding dengan putra pertamanya itu. Hingga Gunawan memberikan ultimatum pada Indra. Pilih putus hubungan dengan Nani atau pilih tinggalkan rumah besarnya.
Indra mengambil jalan terakhir. Ia hengkang dari istana Gunawan tanpa membawa embel-embel kebesarannya bahkan tanpa sepeserpun uang milik sang Ayah.
Dengan bantuan Nani yang benar-benar mencintai Indra, perlahan bisnis percetakan yang ia bangun mulai menampakkan hasil.
Rumah tangga mereka dibangun diatas pondasi kokoh atas nama cinta sejati. Bahkan setahun kemudian seorang anak tampan menghiasi rumah mungil mereka dipinggiran kota D.
Sayangnya, cobaan hidup masih harus mereka terima kembali. Putra mereka, Georgino Gunawan meninggal dunia karena penyakit Demam Berdarah diumurnya yang kelima.
Nyaris hancur kembali karena depresi ditinggal pergi orang terkasih, Indra dan Nani kemudian pindah ke kota A. Kembali memulai hidup baru.
Setahun, dua tahun bahkan sampai tahun kelima tinggal di kota itu, Nani tak kunjung hamil lagi. Kehidupan mereka yang tenang namun hampa tanpa keceriaan buah hati membuat mereka semakin kesepian.
Harta perhiasan uang bisa dicari. Tetapi harta kasih sayang dari buah hati, sepertinya mereka masih harus berusaha lebih keras lagi.
Hingga suatu ketika, Tuhan pertemukan mereka bertiga.
Gege yang menderita transient global amnesia, akhirnya ikut Indra dan Nani pulang ke rumah mungil mereka.
Pada saat bersamaan, Gunawan menyuruh Indra pulang lewat bantuan ajudannya yang mengabarkan kalau Papanya itu sedang sakit dan stres karena masalah perusahaan yang oleng diambang kebangkrutan.
Dari situlah, Indra mempunyai pemikiran mengganti status Satria dengan identitas almarhum putranya yang memang belum pernah diketahui pihak keluarganya.
Tujuan awalnya memang untuk mendapatkan harta warisan dimasa depan lewat putranya.
Indra yang sudah mengetahui semua tabiat adik serta para suaminya akhirnya bersekongkol dengan Nani juga Satria yang pada saat itu masih belum tahu jati diri aslinya.
Dengan bantuan uang tentunya, Indra mengubah semua surat-surat keterangan. Ia juga membuat Kartu Keluarga yang baru, yang menyatakan kalau Georgino Gunawan putra kandungnya itu masih hidup.
Begitulah awal mulanya terjadinya kebohongan publik yang Indra lakukan.
__ADS_1
๐TO BE CONTINUE