
Widia mencoba menyuruh Gunawan untuk mengumpulkan semua anggota keluarganya tanpa terkecuali melalui translate bahasa isyaratnya pada Utami suster perawatnya.
Gunawan sendiri sebenarnya ogah-ogahan untuk memanggil Hadi Yuslan, orang kepercayaannya 23 tahun yang lalu.
Gunawan hanya bisa mengenang masa lalu percintaannya yang dramatis dengan Claudia.
Dari hangout hingga pergi ke luar kota diam-diam bersama dengan saksi hidup seorang Hadi Yuslan.
Entah mengapa, sejak Claudia menghilang... Hadi malah dipindahkan tugas oleh Widia mengurus anak perusahaan yang dibawah pengawasan sang istri kala itu.
Gunawan hanya bisa menghela nafas.
Satu jam sebelum pertemuan keluarga besarnya ditetapkan, Devana dan Georgino lebih dahulu mendatangi kamar pribadi Kakek Neneknya.
Kini Widia terlihat lebih tegar dan tak berontak melihat kedatangan Gege beserta Devana juga Ericko.
Bahkan kini Ericko duduk tenang disamping Widia yang berurai air mata.
Isakannya membuat Gege dan Devana merasa begitu bersalah.
"Nenek, maaf! Jika ternyata kenyataan yang Nenek dengar jadi membuat shock! Maafkan Gege juga Deva, Nek! Maaf...! Kami tak bermaksud jahat serta kurang ajar pada Kakek dan Nenek!"
"Nek, Kami akan bercerai siang ini juga!"
Gege dan Deva mencoba membuka komunikasi pada Widia.
Agak hati-hati karena khawatir kesehatan Widia makin drop.
Tetapi respon Widia justru membuat Devana dan Gege bingung. Ia mengerjapkan mata tanda setuju, dan mencoba menggapai Devana dengan tangan kirinya yang mulai bisa digerakkan.
Devana maju perlahan. Mendekati ranjang tidur Widia.
"Ma-ap! Ma-ap!!!"
Satu kata itu, diulangnya sampai dua kali dengan jelas.
"Kami akan bercerai, Nek! Hik hiks, maafkan kami, ya Nek!" bisik Devana ditelinga kanan Widia.
Widia menyentuh punggung Ericko dengan tangan kirinya. Terlihat lembut walau agak bergetar.
"Maaf..."
Lagi-lagi kata maaf yang terucap.
Gunawan lalu mendekat.
"Jangan bercerai, Deva! Pertahankan rumah tangga kalian! Ini hanya ujian kesabaran dan ketabahan kalian! Nenek hanya sedang kurang sehat saja!"
Widia membelalakkan mata. Ia menatap Gunawan seperti orang yang marah.
"Ce-rre!!!" bentaknya pada Gunawan.
Semua yang berada di sana bingung dengan tingkah Widia.
Utami yang menjadi penengah, berusaha mengatasinya. Ia mendekat pada Widia lalu bergumam menanyakan apa maksud Nyonya Besarnya.
"Hars cer..."
"Maksudnya Nyonya, harus cerai?" tanya Utami.
__ADS_1
Widia mengerjapkan dua kelopak matanya. Ia menoleh lagi pada Gunawan. Menetes satu persatu linangannya.
"Tuh-gu Ha-ddih!"
"Maksud Nyonya, tunggu pak Hadi?" ujar Utami lagi memastikan perkataan Widia.
"Ya!"
Kini Gunawan, Gege dan Devana hanya bisa terdiam mematuhi perintah Widia yang ambigu itu.
Satu persatu putri dan menantu Gunawan Widia berdatangan. Begitu pula para cucu mereka. Indra dan Nani datang paling belakangan. Mereka hanya cipika-cipiki tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya senyum tipis dan helaan nafas, tegang mengapa mereka dikumpulkan diruang kamar pribadi Gunawan.
Tidak seperti biasanya!
Begitu isi hati mereka.
Sebenarnya, mereka telah menerka-nerka. Indra sang Kakak pasti telah buat masalah dan Mama mereka murka. Sebab mereka melihat betapa Mamanya tak mau dijenguk Devana dan Gege beberapa hari yang lalu setelah pulang dari rumah sakit.
Tetapi kini Devana dan Georgino ada di antara mereka. Begitupun Ericko, duduk diranjang bersama Mama mereka.
Hadi Yuslan pucat pias wajahnya.
Rendy langsung memperkenalkannya pada semua anggota keluarga. Mereka pernah kenal Hadi dulu. Dulu sekali, bahkan dikala mereka masih muda.
"Pak Hadi, supir pribadi Papa 23 tahun lalu! Silakan Pak!"
"Hadi! Apa kabarmu?" tanya Gunawan setelah Hadi lebih dulu menyalaminya. Hadi mengangguk lebih dalam. Suaranya terbata menjawab dengan kalimat singkat.
"Nyonya!"
Hadi juga menyalami Widia. Ia nampak terkejut melihat Widia yang kondisinya memprihatinkan.
Dada Gunawan berdebar kencang.
Ada rona kecemburuan yang tiba-tiba muncul dari hati terdalamnya.
Ada apa, Widia menatap Hadi sampai seperti itu? Apa...diantara mereka pernah terjadi sesuatu?
Gunawan mencoba menekan perasaannya. Nafasnya yang tadi memburu kini perlahan normal kembali.
Ia tak mau terlalu jauh berfikir kearah yang buruk. Gunawan sangat mempercayai istrinya yang sudah puluhan tahun mendampinginya setia, seiya sekata.
"Ha-di! Ceh-tah!"
Hadi menatap bingung wajah Widia. Ia lebih kaget lagi, setelah mengedarkan pandangannya. Ada sosok Devana berdiri disamping Gege dan Nani.
Hadi gugup. Ia meremas jemarinya yang terlihat basah.
Kamar Widia seperti panas membakar tubuhnya. Sehingga perlahan keringatnya keluar dari pori-pori dahi serta pelipisnya.
"Hadi! Ada apa antara kau dan istriku? Apa maksudmu Widia? Mengumpulkan kami dengan memanggil Hadi? Ada apa? Tolong, sudahi semua ini! Aku salah, Widia! Aku salah! Tetapi,... apakah anak-anak dan cucu-cucu kita perlu tahu juga?" kata Gunawan dengan suara bergetar.
Hadi makin gelisah.
Tetapi Widia semakin mengintimidasinya dengan tatapan seram.
"Ka-ta-kan, Ha-dih! Dev-nah..., kah-tah-...kan soh-hal di-yah!"
Utami ikut deg-degan. Ia kembali mentranslate ucapan sang Nyonya Besar.
__ADS_1
Kali ini, Gunawan mendekat dan duduk disamping Widia dengan cemas.
Hancur sudah reputasiku dimata anak-anak, menantu dan para cucuku! Habis sudah kini riwayatku! Sepertinya Widia ingin semua anaknya tahu kebejadanku dulu yang pernah menyelingkuhinya dengan putri adik kandungnya itu! Hiks, Widia! Apakah otakmu sudah tak lagi waras, Widia?
Hati Gunawan merasa cenat-cenut. Seperti ada rasa yang tak enak bergerinjal bergejolak dalam dadanya.
"Nyonya ingin aku mengatakan yang sesungguhnya soal Devana?" tanya Hadi Yuslan.
Tentu saja semua menjadi bingung termasuk Gunawan.
Devana? Kenapa masalah jadi mengarah ke Devana? Gumam hati kecil Gunawan.
Seketika berpasang-pasang mata langsung menatap wajah Devana yang nampak gugup dan gemetar.
Ia langsung menundukkan kepalanya kearah lantai. Takut juga bingung. Mengapa kini dia seolah menjadi terdakwa? Begitu fikirnya.
"Bukan Devana yang salah, tapi Gege, Nek! Bukan Dev,"
Widia langsung menatap Gege. Memberinya kode agar diam dahulu, karena masih ada yang harus ia dengarkan. Dan ini sangatlah penting bagi hidupnya kelak.
"Devana Wandira adalah putri dari Claudia dengan...,"
Hadi diam sesaat. Tetapi wajah Gunawan langsung pucat.
"Claudia???" gumamnya tak percaya.
"Tuan Gunawan Wicaksono!" lanjut Hadi Yuslan.
Seketika suasana yang panas semakin tegang dan makin membuat semua yang berada di kamar luas itu terasa sesak.
Gunawan melotot. Matanya merah dan berair menatap Hadi. Mulutnya ternganga lebar.
"Claudia? Putri Om Alex itu?" pekik Indra.
Fifie, Ellie dan Lisa sama terkejutnya dengan Indra. Mereka cukup mengenal putri Omnya itu karena pernah tinggal bersama dimasa remaja.
Semua shock, terlebih Devana. Ia bahkan seperti merasakan kalau apa yang dikatakan Hadi adalah sebuah lelucon.
Deva tertawa.
"Bohong! Pak Hadi bohong khan? Pak Hadi dibayar berapa untuk bermain drama percintaan bodoh ini? Apa pak Hadi sama seperti saya? Demi uang seratus juta saya rela menandatangani nikah kontrak dengan tuan muda Georgino Gunawan!"
Kini semua makin tercengang dengan pengakuan Devana.
"Saya bukanlah istri dari CEO Gege. Dan Ericko Putra bukanlah anak Gege! Tapi murni anak saya dengan almarhum suami saya, Chandra Putra Sukoharjo! Itu nama Papanya putra Saya!"
Devana makin panas dan beringas membeberkan semua fakta berurai air mata.
"Georgino Gunawan mengajak saya untuk berkongsi melakukan kerjasama demi harta warisan!"
Yang lain seperti merasakan kilat dan petir menyambar sampai di atas kepala.
"Dan pak Hadi sepertinya melakukan hal yang sama seperti Saya! Tapi saya ingin tahu, siapa yang tega membayar pak Hadi sampai tega membawa-bawa nama saya sebagai putri dari selingkuhan Tuan Besar Gunawan Wicaksono!"
"Maaf, Dev! Itu semua kenyataannya! Karena, Sayalah yang mengurusmu sejak kau lahir. Dan Saya pula yang menaruh tubuhmu didepan teras rumah Anne, 22 tahun lalu setelah Claudia meninggal dunia karena pendarahan hebat sehabis melahirkanmu! Saya, punya semua bukti! Dan Saya, adalah orang yang Nyonya Widia percaya untuk menyembunyikan Claudia yang sudah hamil dua bulan karena perbuatan Tuan Gunawan!"
Gubrak!!!
Tubuh Devana jatuh ke lantai marmer kamar Gunawan Wicaksono. Devana seketika Pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...