
"Kakak, tehnya sudah jadi!"
Gege menoleh pada Devana. Matanya menatap tak berkedip. Hatinya merekah indah sambil berkata, alangkah cantiknya wanita ini. Bahkan meskipun wajahnya polos tanpa make up sekalipun, Devana terlihat sangat menawan hati.
"Terima kasih, Dev! Tapi aku mau mandi dulu!"
Gege melihat Devana yang sibuk sendirian di dapur. Ia tersenyum dan bangga dalam hati. Devana adalah wanita yang cepat tanggap menerima pelajaran memasak dengan tungku kayu bakar hanya sekali penjelasan.
Walaupun tangan dan pakaian Devana menjadi kotor serta menghitam, tetapi singkong rebus serta teh manis panas telah terhidang dengan cepatnya.
Entah bagaimana ceritanya, ketika membuka pintu dapur, Gege dan Devana menemukan lagi kardus bungkusan di depannya.
Pasti kiriman Surya!
Ada sekotak teh celup, sekilo gula pasir, beras mentah, beberapa bungkus mie instan, cemilan-cemilan dan juga singkong serta minyak sayur beserta penyedap rasa berikut bumbu-bumbunya.
Ck ck ck...! Surya dan Alika benar-benar niat sekali mengerjaiku! Gumam Gege dalam hati.
Gege mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum pada Deva sebelum keluar dari pintu dapur menuju kamar mandi.
Ternyata ide gila si Surya dan Akila boleh juga! Hehehe..., ternyata ini maksudnya. Mendekatkan aku dan Devana agar bisa fighting berduaan gitu? Disuruh kerja sama pula dalam merapikan dan mencat rumah panggung ini dalam waktu singkat. Kenapa tak sekalian dinikahkan dan tinggal di sini selamanya biar kami jadi pasutri abadi!? Hhh...
"Dev, Deva...! Tolong, Dev!"
Devana yang mendengar teriakan Gege langsung berlari keluar.
"Ada apa, Kak?"
Tapi segera tangannya spontan menutupi sepasang matanya. Malu sekali melihat dada Gege yang terbuka dan bersinar kena pantulan matahari langsung karena toilet yang memang tak beratap itu. Kepala Gege masih penuh shampo.
"A-ada apa?" tanyanya tergagap.
__ADS_1
"Itu..., ada... Ulat. Maaf, tolong, tolong,"
Hampir Devana tergelak. Gege rupanya phobia ulat. Dan hampir semaput setelah melihat ulat bergerak-gerak berjalan di pinggiran ember kamar mandi.
"Kakak keluarlah dulu! Kamar mandinya sempit."
Untung saja Gege sudah menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya, sehingga Devana bisa leluasa mengambil ulat dengan memakai ranting kayu kering dan melemparnya ke arah lain.
"Sudah?" tanya Gege dengan malu-malu.
"Sudah, hehehe...! Ayo lanjut mandi!"
"Dev,... Coba lihat sekeliling tembok. Masih ada ga ulat-ulat yang bergentayangan?"
"Hahaha..., sudah aman, Kak! Guyur dulu kepalanya, nanti matanya perih kena sabun! Hehehe...!"
"Ya kalau diguyur sekarang, handuknya harus dicopot dulu. Kalau diguyur pakai handuk, hamduknya basah, Dev!"
"I-iya maksud Deva pintu kamar mandinya di tutup dulu, baru copot handuk. Gitu lho, ish!"
"Ish, si Kakak! Aku khan semalam itu pukul dua malam. Wajar kamar mandinya gak kututup. Nah ini, siang begini kamar mandi masih juga gak mau ditutup pintunya karena takut ulat. Hahaha..."
"Deva songong ya? Awas kamu ya? Sini, sini... Mandi lagi!"
Gege memercikkan air dari dalam ember ke wajah Deva. Mereka tertawa terbahak-bahak saling melempar canda, sampai lupa pada keadaan dan masalah mereka berdua.
"Kak, tugas kita masih banyak ini! Belum ngecat, belum bersih-bersih bilik dindingnya! Ayo, kak!"
"Siap, Nyonya Besar! Hehehe...!"
Mereka kembali melanjutkan aktifitas masing-masing.
.............
Setelah mandi dan sarapan bersama, Gege dan Deva bekerja sama membersihkan sekeliling tembok bilik. Mereka mulai mengerjakan perintah Surya Abdi yang sebenarnya sudah mereka prediksi ini hanyalah prank saja.
__ADS_1
Tetapi baik Gege maupun Deva justru menjadi sangat antusias dan seolah lupa pada niat asal mereka menjenguk Akila yang kabarnya sedang sakit.
Mereka malah terlihat makin akrab dan saling canda memoleskan sedikit cat di tangan dan juga wajah sebagai bukti keisengan.
"Eit sebentar, sebentar! Dev,... berhubung di rumah ini tidak ada aliran listrik, kita harus gerak cepat. Jam empat harus kita bereskan, lalu masak, mandi dan makan serta nyalakan pelita. Jadi, posisi kita tidur malam dalam keadaan nyaman!"
"Yap, betul kak! Hm..., kayaknya dinding bilik ruang depan bisa kita selesaikan hari ini!"
"Oke! Kamu cat bagian tengah sampai bawah. Aku yang bagian atas dan langit-langit."
"Siap, Boss! Hehehe...!"
Sempat berhenti dan rehat nge-teh dan makan sejam di pukul 12 siang, akhirnya mereka kembali melanjutkan aktivitas demi menyelesaikan tugas.
"Deva mandi duluan! Mumpung hari belum gelap! Aku yang masak air dan goreng singkong!"
"Beneran? Emang kakak bisa?"
"Ya ampun, kamu selalu meremehkanku deh!"
"Hehehe..., maaf! Bukan begitu maksudnya, Kak! Ya udah, aku mandi duluan ya, Kak?"
"Iya. Oiya, maaf...kalau ada ulat di dinding kamar mandi, tolong disingkirkan semuanya ya, hehehe..."
Gege tersenyum malu dan Devana tertawa ceria sambil mengangguk mengiyakan.
Semoga Dewa Amor segera menancapkan cupid panah asmaranya pada Gege dan Deva yang terkesan lambat.
Jauh lebih maju pesat perkembangannya dengan Surya Abdi yang kini tengah berbahagia di villanya bersama Akila, Ericko serta bi Fani.
Sementara Demian bekerja sendiri. Dengan otaknya yang terasa diperas habis dalam mengurus perusahaan warisan kakeknya.
"Aaarrrggghhh!!! Suryaaa!!! Ini anak benar-benar menyebalkan!!!"
Surya Abdi memang me-non aktiv-kan handphonenya demi bersenang-senang mengerjai Gege serta Deva dan asyik pacaran dengan Akila.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...