SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Masih Dalam Keadaan Kurang Nyaman


__ADS_3

Devana tergelak melihat Ericko berjalan seperti robot di hamparan rumput hijau yang tertata rapi.


Demian mengikuti langkah Ericko dengan penuh perhatian.


Mereka bertiga sedang duduk di tengah taman yang tak terlalu ramai itu. Maklum, kompleks perumahan elit. Rata-rata penghuni istana jarang keluar rumah. Apalagi hanya untuk sekedar nongkrong-nongkrong di taman kompleks yang bagi mereka terlihat sederhana.


Berbeda dengan Demian. Ia mengenal putra pengelola taman bermain itu sedari kecil. Mereka dulu bersahabat dan sering saling curhat.


Namanya Nabila. Sayangnya, saat ini perempuan itu sedang kuliah di Perth, Australia jurusan desain interior.


Nabila inilah cinta pertama Demian. Dan sampai kini masih juga belum kembali.


Demian sering sekali mengajak gadis kenalannya untuk nongkrong sekedar mengobrol di taman ini dengan satu alasan. Nabila melihat, dan seketika cemburu. Itu tujuan Demian yang sudah disetting sedari usia mudanya dulu.


Taman ini letaknya di halaman belakang istana Nabila. Bahkan pintu dapur rumah Nabila nampak terlihat jelas dari seluruh penjuru taman yang luas dan banyak permainan.


Jadi, jika si pemilik rumah membuka pintu dapurnya, maka terlihat jelas orang-orang yang sedang berada di taman.


Dan taman ini sebenarnya rancangan Demian dan Nabila di kelas satu SMP. Papi Nabila akhirnya merealisasikan impian putri tunggal mereka. Hingga saat ini taman itu dibuka bebas untuk siapa saja menikmati. Tepatnya sejak Nabila memilih kuliah di Perth Australia ketika Demian mengutarakan cintanya.


Pahitnya cinta langsung terasa, padahal Demian belum mereguk nikmat madunya.


Getir dan menyakitkan.


Cinta yang gantung karena belum mendapatkan jawaban langsung, tentu saja membuat Demian frustasi.


Sepertinya Nabila menolak cinta Demian. Namun enggan menjawab karena merasa tak enak. Begitu perkiraan Demian.


Setelah itu, Demian berubah total. Mulai dari penampilan hingga kelakuan.


Bahkan Demian rela melepas tong-tongnya dengan gadis bayaran seharga satu juta booking semalaman. Itu terjadi saat usianya 18 tahun. Hingga kini Demian lupa, gadis yang beruntung menikmati keperjakaannya itu karena dalam kondisi mabuk berat.


Kadang ia sangat menyesal, dan ingin sekali mencari gadis bayaran itu untuk dimintai ganti rugi. Tetapi, sampai kini sepertinya ia belum pernah jumpa lagi.


"Kak Dem?"


Demian tersentak. Ia tersadar dari lamunan panjangnya.


Segera dipeluknya Ericko yang tengah berjalan ke arah dirinya. Bocah imut itu memang sedang belajar memperlancar jalannya yang masih selangkah-selangkah.


"Anak pintar! Sini, sini sama Papa Demian!"


Demian menuntun Ericko. Mereka sangat akrab satu sama lain.


Devana tahu, Demian memang kebapakan. Tidak seperti Gege yang terlihat agak canggung ketika menggendong Ericko.


Dev mendengus, mengingat Gege di otaknya.


Pria itu benar-benar sombong sekarang! Pikir Dev kesal.


Bagaimana tidak, tiga hari pindah dari istana Kakek Gunawan. Tak sekalipun ia menchat Deva walau hanya sekedar menanyakan kabar.


Haruskah Deva yang menchat-nya duluan. Rasanya malu jika dirinya lebih dulu memulai.


Dasar memang Tuan Angkuh itu ya! Sedari awal jumpa ya memang begitu sikapnya! Walaupun kini telah berbeda cerita dan kita bukan lagi sepasang suami istri kontrak, tapi apakah harus seperti ini? Hhh...


Devana mengeratkan gigi atas dan gigi bawahnya.

__ADS_1


"Kenapa, Deva? Koq kayak orang kesal?" tanya Demian lembut.


Deva tersenyum kecut. Malu hati juga karena Demian memperhatikan. Akhirnya hanya gelengan kepala yang terlihat membuat Deva makin manis dimata Demian.


"Devana! Apakah..., aku boleh mencintaimu?"


Kaget sekali Devana mendengar ucapan Demian.


"Kak Dem?"


"Aku..., jatuh cinta padamu! Dan aku, sungguh-sungguh mencintaimu. Mencintai seseorang bukanlah perbuatan dosa, bukan? Jadi, jangan larang aku untuk terus mencintaimu lebih dan lebih lagi!"


Devana termangu.


Membisu dan membatu.


Lidahnya terasa kelu.


Tak tahu harus berbuat apa dan berkata apa. Karena Demian benar-benar membuatnya bingung tak percaya.


Gege saja belum pernah bilang suka selama Deva menjadi istri kontraknya, tetapi Demian... Devana hanya bisa menatap kosong wajah merona milik Demian.



"Kita ini bersaudara, Kak Dem! Dan...,"


"Stop! Jangan diteruskan perkataanmu! Maaf, kalau ucapanku tadi membuatmu makin tidak nyaman kala bersamaku!" tukas Demian, berusaha mencairkan suasana yang sempat kaku.


Ini karena kesalahannya. Terlalu cepat mengungkapkan rasa di hati tanpa banyak fikir lagi.


Ericko tiba-tiba menggelendot di bahu Demian.


"Jangan ya? Coco sedang bapil!" tolak Devana halus.


Tetapi Ericko tetap mengiba. Bahkan kini putra almarhum Chandra itu sampai merengek dan berlinang air mata memohon pada Demian.


"Es Om, es kim! Mama, es kim!" celotehnya berkali-kali.



Demian akhirnya tak tega juga melihat Ericko merajuk terus-terusan.


"Boleh ya Dev? Kasihan, Coco!" pintanya dengan suara lembut.


"Coco sedang batuk pilek, Kak! Khawatir tambah parah nanti kalau makan es krim."


"Tapi sedikit gak akan bikin Coco tambah sakit. Please!"


Devana luluh ketika dua bola mata Demian yang coklat menatapnya dengan pancaran redup. Dan senyum tipis namun terlihat manis.



"Haish! Kenapa kalian bisa berakting semanis itu?" tutur Deva membuat Demian tertawa.


Tangannya mengusap anak rambut Devana. Sontak Dev mendelik dan mundur. Ia tak mau sampai bisa lupa diri kalau Demian itu adalah keponakannya karena tingkah yang kelewat manis.


Mereka membeli se-cup kecil es krim rasa vanila kesukaan Ericko.

__ADS_1


Bocah itu berjingkrak kegirangan.


"Papa yang suapi ya? Tidak boleh dimakan sendirian!"


Devana tersenyum melihat interaksi Demian dan Coco. Tak lama kemudian Demian menyuapi Deva, tetapi ditolak halus.


Jujur, Demian kecewa sekali. Terlalu sulit untuk mendekat pada wanita cantik yang satu ini.


"Kenapa kamu menghindariku?"


"Kita tidak boleh memiliki perasaan itu, Kak! Secara kita ini adalah Tante dan keponakan. Jangan sampai kisah yang salah terulang lagi. Kumohon, Kak... mengertilah!"


"Kisah yang salah? Apakah mencinta itu perbuatan dosa?"


"Bukan begitu maksudku, Kak! Kurasa andaikan Kakek dan Nenek masih ada, mereka pasti akan menentang. Seperti dulu Nenek menyuruh Kak Gege bercerai denganku. Apakah Kak Dem tidak mengingat itu?"


Demian diam. Kepalanya menunduk kebawah.


Ucapan Devana mengingatkannya pada Gege.


"Gege bukan saudaramu. Apa..., kalian ada kemungkinan bersama-sama lagi?"


Pertanyaan yang membuat senyum Devana yang tadi mengembang langsung hilang.


"Kami bertemu tanpa sengaja di atas KRL yang berjalan menuju Ibukota. Kak Gege duduk disampingku. Hhh...! Rupanya dia mendengar percakapanku via handphone kala itu. Setelah itu, Kak Gege menawarkan kerjasama yang mengagetkan!"


"Lalu kamu langsung bersedia?"


"Kisah hidupku dan Coco tidak semulus yang orang bayangkan. Kami, baru saja mendapat musibah dan bencana!"


"Kenapa? Apakah bencana yang membuat Papa kandung Coco meninggal dunia? Lalu, siapa itu Anton Lee? Kenapa sepertinya orang itu terlihat seperti ingin mendekatimu? Apa urusannya denganmu, Deva?"


"Kak Anton...," Deva menghentikan ucapannya.


Ia tak mau sesumbar tentang kesedihan hatinya di masa lalu. Cintanya pada Chandra begitu besar. Nasib buruk inipun Deva terima bukan untuk menyalahkan pertemuan serta kisah kasihnya yang indah bersama pria yang memberinya hadiah terindah dalam hidup yaitu Ericko Putra.


"Pulang yuk? Sepertinya Coco mulai bosan dan lelah!" Devana mengalihkan pembicaraan.


Demian mengalah.


Ia menggendong tubuh Ericko yang mulai lemah karena mengantuk.


Devana lalu menunjuk pada kran air yang ada di sudut taman.


"Sini Coco! Mama bersihkan dulu mulut dan wajahnya bekas makan es krim!"


Demian membiarkan Deva mengambil Coco dari gendongannya. Mereka berjalan kearah wastafel portable untuk mencuci tangan, wajah dan mulut Ericko Putra bersama-sama. Hingga terdengar kicauan celoteh bocah itu yang kesenangan.


"Ayo kita pulang!" seru Demian. Ia kembali mengambil Ericko kedalam pelukannya.


Mendekati putranya lebih dahulu adalah taktik yang harus ia kuasai.


Mereka kembali ke istana besar Kakek Gunawan.


Baru saja Demian membuka gerbang rumah dengan remote control yang juga ada dalam mobilnya, tiba-tiba terdengar klakson mobil yang keras dari arah kanan. Seperti sengaja mengkodenya untuk berhenti sejenak.


Wajah Anton Lee tampak jelas setelah kaca mobilnya ia turunkan dan mereka bertiga saling pandang.

__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2